TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
hari pertunangan


__ADS_3

Beberapa hari menjelang hari pertunangan, semua kerabat dari Papa maupun mama Nadira sudah berkumpul disana untuk membantu proses agar pertunangan bisa berjalan lancar.


Dan tibalah hari yang dinantikan oleh sepasang kekasih ini, hari dimana awal dari penyatuan cinta mereka dalam menuju mengarungi biduk rumah tangga.


Semuanya terlihat bahagia, bahkan disana juga ada Reza sahabatku, Sean yang aku ketahui juga pernah menaruh hati terhadap Nadira, dan bahkan Nadira mengundang tetangga se-kompleks dengan rumah kami dahulu


Acara pertunangan diadakan dihalaman rumah, tamu undangan sudah berdatangan, Senyum terbit dikedua pasangan yang tengah dimabuk asmara ini.


Tapi satu yang tidak mereka sadari, dari ratusan tamu undangan ada satu hati yang terluka yaitu Davin, hatinya semakin sakit saat melihat wanita tercintanya bertukar cincin didepan sana, senyum terpaksa dia tampilkan didepan khalayak banyak.


Davin juga ikut andil dalam mempersiapkan hari pertunangan mantan istrinya tersebut, walaupun dengan memendam luka teramat dalam.


Bisik-bisik para tamu undangan mulai terdengar ditelinga Davin, ada yang merasa iba, dan ada pula yang mengatakan jika ini adalah karma untuknya yang telah membohongi Nadira.


Karena ingin menjebak Vania, aku memutuskan untuk mempublikkan kedua putraku, dan pastinya orang-orang mulai mempertanyakannya karena yang orang ketahui selama ini Nadira lah istri dari Davin Pratama.


Lisa yang berada disampingku mengusap bahuku, tapi cacian dan cemoohan yang terlontar dari mulut-mulut orang yang suka menghakimi orang lain membuatku tak nyaman.


Sorak ramai tepuk tangan menggema diacara tersebut setelah pertukaran cincin berlangsung, ucapan selamat tak henti-hentinya terucap dari mulut para tamu undangan, aku hanya menatap dari jarak yang cukup jauh, Nadira terlihat berbeda hari ini, dia jauh lebih cantik dari hari-hari biasanya, bahkan senyum itu tidak luput sejak tadi.


Tiba-tiba rasa tidak ikhlas melepaskan Nadira muncul begitu saja, dada bergemuruh menyaksikan Nadira akan dimiliki oleh pria lain, tapi dengan cepat aku menepiskan rasa itu.


Aku melangkah kedepan, memberikan ucapan selamat untuk mereka berdua, walaupun berat untuk melangkahkan kaki ini tapi aku harua meyakinkan mereka jika aku benar-benar sudah mengikhlaskan Nadira.


"Semoga lancar sampai hari-H ya, Nad?" ucapku sambil mengulurkan tanganku kearah Nadira.


"Terimakasih atas doanya, mas." Nadira menerima uluran tanganku, lalu beralih menyalami Kenand.


"Tolong jaga Nadira?" Pintaku dengan wajah datar, sampai detik ini aku masih belum bisa berteman seperti dulu lagi dengan Kenand.


"Kamu tenang saja, Nadira akan bahagia bersamaku." jawab Kenand, aku sedikit tersinggung dengan ucapannya, memangnya waktu bersamaku Nadira tidak bahagia? Tapi ya sudahlah aku tidak ingin merusak hari bahagia Nadira.


"Sayang, main sama papa yuk?" aku mengajak Davina yang berada ditengah-tengah mereka untuk bermain bersamaku.


Putriku langsung berdiri dan tangan ini langsung membawanya kedalam gendonganku, Davina melambaikan tangannya kearah Nadira dan Kenand, mereka membalas lambaian tangan Davina dengan tersenyum.


Aku langsung membawa Davina dari hadapan Nadira tidak ingin berlama-lama didekat mereka, kulihat sebagian tamu undangan menatap kearah kami, pasti kami telah menjadi bahan perbincangan mereka terutama aku, kebanyakan dari mereka menatap remeh kearahku.

__ADS_1


Aku membawa Davina duduk satu meja dengan mama dan kedua putraku.


"Dekat oma sayang!" ujar mama, aku mengulurkan Davina kearahnya.


Mama mengusap pundakku, mataku sudah memerah sesak didada ini. hanya mama yang mengerti sebesar apa perasaan ini, karena saking besarnya aku menciptakan kebohongan yang begitu besar sehingga menghancurkan hidupku sendiri.


"Ikhlaskan, Nak! Mungkin jodoh kalian memang sampai disini." ujar mama.


"Biarkan Nadira bahagia, mama juga sedih kehilangan menantu seperti Nadira." timpal mama.


Aku hanya diam, tidak sanggup rasanya membalas ucapan mama.


"Ma, aku titip Davina?" aku bangkit dari duduk.


"Kamu mau kemana, Vin?" tanya mama.


"Cari angin ma." ucapku sekenanya.


"Pergilah! Kamu butuh waktu untuk menenangkan fikikan." jaqab mama, dia memang paling mengerti aku, tanpa aku jelaskan mama langsung tahu apa yang aku butuhkan saat ini.


"Main sama oma dulu ya, Nak?" ucapku kepada Davina, putriku hanya mengangguk lalu dia kembali melanjutkan bermain dengan kakak-kakaknya.


Duduk dibangku taman seorang diri, memejamkan mata ini.


"Kamu tidak apa-apa, Vin?" ujar seseorang.


Aku enggan membuka mata, tanpa membuka matapun aku sudah tahu pemilik suara itu, entah kenapa akhir-akhir ini kamiseting dipertemukan.


"Lis, aku ingin sendiri." pinta Davin.


Kudengar helaan nafas dari bibirnya.


"Akan aku temani." ujar Lisa, sambil menatap Davin, tidak ada jawaban dari pria itu.


Fokusku sedari tadi tidak teralih kearah Davin, dari mulainya acara sampai Davin mengucapkan selamat untuk Nadira dan Kenand, dan membawa Davina duduk didekat mamanys, aku masih tetap fokus menatapnya.


Walaupun dari jarak yang cukup jauh, aku tahu Davin sedang berusaha menutupi kesedihannya, apalagi saat mamanya mengusap pundaknya, raut wajah Davin langsung memerah.

__ADS_1


Lalu Davin membuka matanya, dan menatap kearahku.


"Aku tidak sanggup disana terlalu lama, Lis!" ujar Davin.


"Aku mengerti!" jawab Lisa, menepuk pundak Davin.


Cukup lama mereka berbincang, akhirnya mereka memutuskan kembali bergabung ditengah keramaian.


"Nad, foto bareng?" pinta Lisa.


"Sini ... Dari tadi dicariin! darimana saja?" tanya Nadira.


"Kamar mandi." ujar Lisa beralasan.


"Aku ingin ditengah." pinta Lisa nyengir kearah Nadira.


"Iya, bawel." Nadira mencubit pipi Lisa, kang fotogrhapy mengambil beberapa foto mereka.


Setelah selesai Nadira meminta Lisa memanggilkan Davin yang tengah menggendong Davina.


"Mas, foto bareng yuk!" ajak Nadira, sebenarnya tadi dia ingin berfoto dengan semua keluarga termasuk Davin, tapi yang dicari-cari tidak kelihatan, jadi hanya mantan mama mertuanya dan anak-anak mas Davin yang ikut berfoto.


Davin sudah menjadi bagian dari keluarganya, Nadira tidak mungkin melupakan ayah dari anaknya dimomen seperti ini.


"Boleh ..." jawab Davin, dengan Lisa yang berdiri disamping Kenand, dan Davin disamping Nadira sambil menggendong Davina.


Ehmm ...


"Ken, boleh izin kami berfoto bertiga?" ucap Davin.


"Oh ... Silahkan." balas Kenand, lalu mundur sedikit kesamping, Nadira menatap kearahnya, dibalas dengan anggukan oleh Kenand.


"Jangan salah paham, semenjak Davina lahir kami tidak memiliki foto bersama." ujar Davin.


"Tidak apa-apa." balas Kenand.


Davin meminta sang fotoghrapy mengirimkan foto-foto mereka bertiga keponselnya, lalu pamit bergabung ketengah-tengah para tamu undangan.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY MIKHAYLA92


__ADS_2