TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
pernah mengalami luka yang sama


__ADS_3

Aku meneruskan langkahku meninggalkan mas Davin. dari jauh aku melihat Lisa dan Kenand berdiri disisi mobil.


"Lis, biarkan Nadira kembali bersamaku." ujar Kenand menatap kearah Lisa.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya Nad." aku memeluk Nadira sahabatku.


"Terimakasih ya Lis, sudah meluangkan waktumu untuk menemaniku?" setelah melepaskan pelukanku dari Lisa.


Setelah kepergian Lisa, Kenand membukakan pintu mobil untukku.


"Kita mau kemana Ken?" aku melirik kearah Kenand yang sedang mengemudikan mobil kearah lain.


"Mama memintaku untuk membawamu kerumah!" Kenand menatapku sekilas lalu kembali menatap kedepan.


Keningku mengkerut, "Memangnya ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, mama cuma memintaku untuk membawamu mengunjunginya."


"Ken, kenapa kamu bisa berada disana?bukankah tadi kamu mengatakan akan menunggu dirumah saja."


"I-iya sebenarnya memang seperti itu, tadi kebetulan aku ada urusan didekat sini jadi sekalian mampir."


Kenand tidak banyak berbicara, dia kebanyakan diam saat ini, apa dia marah?


"Ken, kamu kenapa? Sariawan?" Aku mencoba mencairkan suasana.


"Tidak!"


"Terus kenapa sedari tadi kamu diam saja?" Aku menatap kearah Kenand, lama aku menunggu masih tidak ada jawaban darinya.


"Ken ... tuhkan diam lagi." aku mulai kesal.


"Apaan sih, Nad! perasaan aku biasa-biasa saja." Kenand masih menatap kearah depan mengemudi mobil dengan kecepatan sedang.


"Udah ah ... jika memang menurut kamu biasa saja ya sudah." aku mengalihkan tatapanku kearah samping jendela mobil.


Aku tahu pasti kamu marah soal kejadian dikantor persidangan tadi, sampai kapan kamu menyembunyikan perasaanmu terhadaku.


Aku menepikan mobilku, lalu memiringkan posisi dudukku mengarah kearah Nadira.


"Nad ..." aku mencoba menepiskan rasa cemburuku.


"hm ..." Aku masih menatap keluar jendela.


"Aku beneran biasa-biasa saja."


"A-aku hanya ce ..." Ucapanku terhenti, hampir saja aku keceplosan.


"Hanya apa Ke ... n?" Saat aku mengalihkan tatapanku kearah Kenand, ternyata posisinya lagi menghadap kearahku dan itu sangat dekat.


Sepersekian detik tatapan kami bertemu, tapi sejenak kemudian aku menundukkan kepalaku.


Perasaanku tidak karuan, jarak sedekat ini membuatku sangat gugup, bukan gugup karena aku jatuh cinta terhadap Kenand, tapi gugup saat berdekatan dengan pria yang jelas sudah aku ketahui perasaannya.


Apa hanya aku yang merasakan perasaan seperti ini, sampai saat ini rasa cintaku memang masih besar untuk mas Davin, tapi saat aku bersama Kenand aku merasa nyaman dan terlindungi.


Ekhm ... Suara deheman Kenand mengalihkan perhatianku kearahnya.

__ADS_1


"Kita lanjutkan perjalanannya lagi." ujar Kenand.


"I-iya ..." Kenand kembali melajukan mobilnya.


"Bagaimana mediasinya tadi, Nad?


"Sangat alot, Ken." Mas Davin tetap menolak untuk bercerai." ujar Nadira.


"Lalu ...?" aku menatap Nadira sekilas.


"Dua minggu lagi akan diadakan mediasi lanjutan." aku sudah meminta mas Davin untuk tidak mempersulit jalannya persidangan.


Aku cukup lega mendengarnya, ternyata Nadira benar-benar serius ingin berpisah dari Davin, tadinya aku sangat takut jika Nadia akan kembali bersama Davin tapi kecurigaanku ternyata terlalu berlebihan.


"Kamu pasti bisa melalui semua ini." aku menepuk pundak Nadira.


"Aku harap mas Davin bisa diajak kompromi, aku tidak ingin proses perceraian ini berlarut-larut."


Davin hanya mengangguk, lalu membelokkan mobilnya masuk keperkarangan rumahnya.


Saat kami keluar ternyata mamanya Davin sedang bersantai diteras rumahnya.


"Assalamualaikum, tante." aku mencium punggung tangan mamanya Kenand.


"Wa'alaikumsalam." Mamanya Kenand mencium pipi kanan dan kiriku.


"Mari masuk, Nak! Mama Kenand menggandengku masuk kedalam rumah.


"Mama lupa jika aku juga berada disini?" Kenamd mengerutkan keningnya.


"Kenapa kamu diam saja sejak tadi?" ujar mama.


Aku mencium punggung tangan mamaku, jika sudah bertemu Nadira mama pasti lupa siapa yang anak kandungnya.


Mama berjalan ditengah antara aku dan Nadira, karena sudah memasuki waktu makan siang, mama mengajak kami makan bersama.


"Anggap rumah sendiri?" ujar mama menatap Nadira.


"I-iya tante." mama memasukan makanan kepiring Nadira, kenapa mama sangat menyukainya.


"Tante, aku bisa mengambilnya sendiri!" aku merasa tidak enak dengan perlakuan mamanya Kenand.


"Memangnya kenapa, sayang?" tante sudah menganggapmu seperti anak tante sendiri.


"Bagaimana jika mulai sekarang kamu panggil tante, mama?"


Uhuk ... Aku tersedak mendengar permintaan mama Kenand.


Kenand cepat-cepat mengulurkan minuman kearahku, aku langsung mengambilnya dan meminumnya dengan sekali tegukan.


"Kamu tidak apa-apa, Nad?" aku menatap Nadira khawatir, kulihat wajahnya yang memerah.


"Tidak ... Aku tidak apa-apa." aku melotot kearah mama. Mama mengangkat kedua bahunya.


"Maafin mama aku?" Kenand berbisik diteligaku, jika lama-lama disini aku bisa terkena serangan jantung.


"Nad, apa kamu tidak mau memanggil tante, mama?" mama Kenand tertunduk.

__ADS_1


"Ma-mama ... ucapku terbata. Apa aku membuat mama Kenand sedih.


"Terimakasih ya, sayang!" mama Kenand menggenggam tanganku.


"Saat mama melihatmu, mama merasakan kehadiran putri mama yang sudah tiada."


"Jika dia masih hidup, dia seusia denganmu sekarang." mama Kenand menghapus sudut matanya.


"Mama bisa menganggapku seperti putri mama sendiri." aku mengusap punggung tangan mama Kenand.


Aku tersenyum menatap kearah mamaku, aku tahu ada luka yang berusaha mama sembunyikan. Dengan kehadiran Nadira sedikit demi sedikit luka itu mulai pulih.


Kemudian kami melanjutkan makan kami yang tertunda.


Setelah selesai makan, Kenand izin kekamarnya. Mamanya Kenand mengajakku bersantai ditaman belakang rumah.


"Nad, maukah kamu mendengarkan cerita mama tentang Kenand?" Aku mengerutkan keningku.


"Tentang Kenand, ma?"


"iya ... Sebenarnya dulu Kenand hampir saja menikah, tapi gagal karena wanita itu memilih meninggalkan Kenand tepat diacara ijabkabul akan dilangsungkan."


"Saat kamu pertama kali bertemu Kenand, apakah dia seoran lelaki yang dingin, dan angkuh?" mama menatapku.


"Iya ma, Kenand jarang sekali tersenyum, apalagi ucapannya itu sangat-sangat pedas."


Mama Kenand tersenyum kearahku.


"Dulu Kenand anak yang terbuka, apapun yang tengah ia rasakan pasti dia selalu menceritakan semuanya."


"Tapi setelah kejadian itu Kenand menutup diri, jangankan untuk memulai kehidupan yang baru, berdekatan dengan wanita saja dia tidak mau."


"Untuk sekretarisnya saja Kenand lebih memilih seorang pria daripada wanita, mama sempat khawatir takut Kenand punya penyakit menyimpang."


"Saat pertama mama melihatmu bersama Kenand dan dia bilang jika kamu adalah sekretarisnya, mama sangat terkejut."


"Dan mama bisa merasakannya, Kenand memiliki perasaan lebih terhadapmu!" mama Kenand menatapku.


"Maukah kamu membantu Kenand untuk melupakan masalalunya?"


"Ma ... Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, beri aku waktu?" aku tidak menduga ternyata Kenand pernah melewati masalah sepahit itu, kami memiliki persamaan dalam hal cinta, sama-sama disakiti oleh orang-orang yang kami cintai.


"Mama tidak akan memaksamu, mama cuma berharap kamu bisa membantunya."


Mama menggenggam erat tanganku.


****


Setelah pertemuanku dengan Nadira, semangat untuk melanjutkan hidupku stumbuh kembali.


Aku akan melepaskan Nadira, dan akan memulai kembali dari awal mengejar cinta pertamaku.


Mas akan membuat kamu jatuh cinta lagi terhadap mas Nadira, seperti awal-awal kita bertemu dulu.


Saat ini aku tengah berada disebuah salon ternama dikotaku, aku akan merubah penampilanku seperti dulu lagi, aku akan membuat Nadira mengingat kembali kenangan indah kami sebelum prahara dirumahtangga kami terjadi.


Mas akan menebus semua kesalahan mas terdahulu Nadira, mas berjanji ...

__ADS_1


__ADS_2