TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
peringatan untuk Vania dari Kenand


__ADS_3

Saat sampai direstoran tempatku bertemu dengan salah satu rekan bisnisku, aku dikejutkan dengan kehadiran Vania disisi pria itu.


Seringaian tercetak dibibirku, tidak perlu jauh-jauh aku kembali kekota untuk memberikan Vania sedikit pelajaran.


"Perkenalkan, dia sekretarisku." aku mengikuti arah pandangan James. kami memang sudah saling mengenal, beberapa kali kami terlibat dalam sebuah kerjasama.


"Kenand." aku mengulurkan tanganku kearah Vania.


"Va-vania pak." Ucapku gugup, kenapa aku harus bertemu dengannya disini, bagaimana jika Kenand mengenali aku waktu itu.


"Kamu sendirian Ken?" James bertanya setelah memperkenalkan kami.


"Iya, aku datang sendiri."


"Dimana sekretarismu, tidak biasanya kamu datang sendirian." ujar james.


"Sekretarisku sedang dirawat dirumah sakit, ada seseorang yang ingin menabraknya kemarin." Aku melirik kearah Vania, kulihat ada kecemasan dari raut Vania.


"Benarkah? Apa orangnya sudah ditemukan?" ujar james.


"Sudah, sebentar lagi akan aku kasih pelajaran karena telah berani menyentuh orang-orangku."


ehem ... Tatapan kami tertuju kearah Vania, aku tahu Vania tengah gelisah sekarang, beberapakali kulihat dia meremas jemarinya.


"Pak James, aku permisi ketoilet sebentar." ujar Vania.


"Silahkan Vania." James mempersilahkan.


"Baguslah Ken jika pelakunya sudah ditemukan."


"Lalu bagaimana dengan kerjasama kita yang sebentar lagi akan habis, apakah aku masih bisa melanjutkan kerjasamanya?" ujar James.


"Tentu, kerjasama kita akan tetap berlanjut karena masih ada beberapa proyek yang belum dikerjakan."


Terhitung sudah beberapa menit kami berbincang, Vania juga belum kembali.


"Kalau begitu aku permisi sekarang James, Nanti kita akan bahas kontrak lanjutan kerjasamanya setelah sekretarisku sembuh."


"Baiklah Ken, senang bekerjasama denganmu."


"Sama-sama James, aku permisi dulu." Kami saling berjabat tangan.


Aku tidak langsung pergi, aku akan menyusul Vania ketoilet aku yakin dia masih disana.


Aku menyandarkan punggungku didinding yang tidak jauh dari toilet, lalu menghidupkan sebatang rokok.


Cukup lama aku disini, hingga orang yang sedari tadi aku tunggu akhirnya keluar dari toilet.


Aku mematikan rokokku lalu membuangnya ketempat sampah, lalu berjalan kearah Vania yang belum menyadari kedatanganku.


Aku menarik kasar lengan Vania lalu membawanya ketempat yang sedikit sepi.


"Ke-kenad, a-apa yang kamu lakukan." ucapku terbata, aku tersentak saat sebuah tarikan kasar dilenganku.

__ADS_1


"Aku peringatkan kamu Vania, jangan ulangi lagi perbuatanmu yang kemarin jika tidak ingin aku melakukan hal yang akan menyakitimu."


"Lepas Ken, kamu menyakitiku!" Kenad memegang pergelangan tanganku dengan kuat.


"Aku bisa saja melakukan hal lebih dari ini Vania jika kamu berani menyentuh Nadira lagi." aku semakin mengeratkan cengkramanku dipergelangan Vania.


"Sa-sakit Kenand." aku meringis menahan sakit.


"Kenapa kamu membela wanita itu?"


"Jadi kalian saling mengenal." ujarku disela usahaku ingin melepaskan tanganku dari Kenand.


"Kamu sudah dengarkan, tadi aku bilang jika Nadira adalah sekretarisku."


"Aku tidak akan membiarkan ada orang yang ingin menyakiti orang-orang terdekatku."


Aku melepaskan cengkramanku lalu sedikit mendorong Vania, tubuhnya terhuyung kebelakang.


"Aku peringatkan sekali lagi Vania, jika aku tahu kamu masih berani menyakiti Nadira, jangan salahkan aku berbuat hal yang lebih kejam lagi." lalu aku pergi meninggalkan Vania.


***


Aku masih syok dengan perlakuan Kenand, aku menatap pergelanganku tanganku tercetak bekas lima jari kenand disana, dia benar-benar menyakitiku.


Pasti mereka memiliki hubungan yang lebih, tidak mungkin Kenand membela sekretarisnya seperti ini, itu sudah sangat berlebihan.


Apakah Kenand menyukai istri sahabatnya sendiri? Seringaian tercetak dibibirku.


Jika benar aku akan memanfaatkan situasi ini untuk membalaskan dendamku terhadap mas Davin.


"Kenapa kamu lama sekali Vania?" ujar James setelah aku kembali dari toilet. aku tidak lagi melihat Kenad disini.


"Apa rekan bisnismu sudah kembali James?" aku melirik kearah James.


"Dia sudah pergi, kenapa kamu baru kembali?"


"Kenapa wajahmu pucat? Kamu sakit Vania?" Aku melihat wajah Vania samgat pucat dengan keringat mengucur dipelipisnya.


"Ti-tidak ... Aku sedikit kurang enak badan saja." aku menyembunyikan pergelangan tanganku, jika James tahu dia akan bertanya siapa pelakunya.


Aku tidak tahu alasan apa yang akan aku berikan, aku tidak mungkin mengatakan jika ini perbuatan Kenand, James tidak akan percaya.


"Kalau begitu aku antar kamu pulang."


"Baiklah James."


Saat dimobil aku menyenderkan kepalaku disandaran bangku mobil.


Aku masih syok dengan kejadian tadi, aku tidak menyangka sisi Lain dari Kenand, beberapa kali kami bertemu saat aku masih menjadi istrinya mas Davin, dia orangnya terlihat cuek tidak pernah mencampuri urusan orang lain, tapi perlakuannya terhadap Nadira sangat berbeda.


"James, kita jadi pulangkan?" aku menatap kearah James, aku masih dengan posisi yang sama tetap menyenderkan kepalaku dibangku mobil.


"Nanti sore kita akan pulang." ujar James.

__ADS_1


Akhirnya kami sampai diparkiran apartemen.


"Kamu beristirahatlah, aku masih ada keperluan." James mengecup bibirku.


"Ingat kamu harus menjaga kesehatanmu, jika kamu sakit bagaimana kamu akan melayaniku nanti?" ucap James.


"Baiklah James." Jika bukan karena uangmu dan pembalasan dendamku, aku tidak akan sudi menjadi pemuas nafsumu James. Bathinku.


Setelah James meninggalkan apartemen, aku membaringkan tubuhku diranjang.


Aku menatap pergelangan tangan yang memerah karena perbuatan Kenand, aku bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk kecil lalu mengompresnya dengan es batu yang ku masukan kedalam handuk.


Bukannya Nadira hamil, apa mas Davin mengetahuinya? Lalu kenapa tadi Kenand mengatakan jika Nadira tengah berada dirumah sakit, sepertinya aku telah melewatinya banyak hal.


Aku memutuskan untuk membaringkan tubuhku kembali keatas kasur, sepertinya aku harus menjalankan rencanaku secepatnya, aku harus menggunakan mas Davin untuk menghancurkan Nadira, tidak akan aku biarkan kamu bahagia Nadira, karena kamu aku menjadi seperti ini.


***


Setelah meninggalkan Vania, aku memutuskan akan kerumah sakit, tapi saat melewati pusat perbelanjaan aku baru ingat Nadira belum menyiapkan apa-apa untuk bayinya, Nadira pasti tidak menyangka jika dia akan melahirkan secepat ini.


"Ada yang bisa dibantu pak?" ujar pelayan tokoh saat aku kebingungan didepan tokoh.


"Ah ... Iya, aku ingin membeli perlengkapan untuk bayi dan ibunya." ujarku.


"Mari pak, bapak bisa memilih produk-produk terbaik ditokoh kami." pelayan itu mempersilahkanku untuk memilih.


"Aku tidak tahu apa yang dibutuhkan, jadi bisakah mbak membantuku?"


"baiklah, bapak duduk saja disini biar kami siapkan." ujar pelayan tokoh.


"Aku ingin produk yang paling bagus dtokoh kalian." ucapku kepada sang pelayan.


"Tentu pak."


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya semua yang dibutuhkan selesai, setelah membayat aku meminta pelayan tokoh mengantarkan sebagian barang kealamat yang sudah kuberikan, dan sebagian lagi aku bawa kerumah sakit


Aku melihat semua barang yang telah aku beli, apakah sebanyak ini keperluan bayi dan ibunya, tadi aku memang meminta kepada pelayan tokoh untuk menyiapkan semuanya tapa terkecuali.


Setelah meletakan semua barang dibagasi mobil, Aku melajukab mobilku kerumah sakit.


Saat sampai, lama aku menatap barang-barang tersebut, bagaimana aku akan membawanya? gumamku.


Dengan bersusah payah aku membawa sebagian, berjalanpun aku sangat kesusahan, menurutku semuanya penting jadi aku membawanya.


"Kenand ... Kenpa kamu membawa barang sebanyak ini?" ujar lisa, dia membantuku menurunkan barang yang aku bawa.


"Kamu memborong seisi tokoh?" ujar lisa.


"ini baru sebagian lis, masih ada didalam mobil dan sebagian aku minta pegawai tokoh mengantarkannya kerumah." Aku mengambil nafas setelah semua barang sudah kuturunkan.


"A-apa ... ujarku dan Nadira bersamaan.


TITIK LELAHKU

__ADS_1


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2