
"Aku yang menghubungi Lisa!" Kenand menyadari dari sirat mata Nadira menatapya.
"Nad ... bagaimana keadaanmu?" Lisa menghampiriku.
"Sudah tidak apa-apa, Lis." Lisa membawaku kepelukannya.
"Syukurlah ... Tadi aku juga sudah menghubungi mama kamu, mengatakan kalau kamu menginap dirumahku."
"Terimakasih banyak, Lis?"
"Sama-sama, Nad." ujar Lisa.
"Lis, aku titip Nadira ya, aku ada keperluan sebentar, nanti aku akan kembali lagi." aku dan lisa menoleh kearah Kenand.
"Kamu tidak perlu khawatir Ken, aku pasti akan menjaganya." jawab Lisa.
"Nad, aku pergi sebentar ya?" Kenand mengusap pucuk kepala Nadira lalu pergi meninggalkannya bersama Lisa.
"Za ... Ikut aku!" Kenand melemparkan kunci mobilnya kearah Reza.
"Kamu pasti sudah lama tidak bermain-mainkan?" Kenand menyeringai kearah Reza.
"Tentu, ototku sudah menegang akhir-akhir ini, sepertinya butuh pelampiasan." Reza menggerakkan otot-otot tangannya.
Reza melajukan kendaraannya sesuai intruksi yang diarahkan Kenand.
Sekarang mereka telah sampai ditempat tujuan, tempat yang sangat jauh dari pemukiman.
Dua orang berbadan kekar berjaga didepan pintu utama, mereka menundukkan kepala menatap Kenand.
"Dimana dia?" Ucap Kenand tegas.
"Didalam bos! pria bertubuh kekar itu langsung berjalan didepan menuntun Kenand ketempat mereka menyekap orang tersebut.
"Silahkan bos." Pria itu membukakan pintu untuk Kenand dan Reza.
"Semuanya sudah beres, pak?" Adit membungkukkan tubuhnya didepan Kenand.
"Kerja bagus! Kamu boleh pulang."
"Bagaimana dengan orang itu pak?" tanya Adit.
"Itu bagianku." Kenand menyeringai kearah orang yang masih belum sadarkan diri tersebut.
"Baiklah ... Kalau begitu aku permisi, pak." Adit meninggalkan Kenand dan Reza diruangan sempit itu.
"Ambilkan air, Za! Tambahkan perasan jeruk lemon dan garam" perintah Kenand.
Reza mengambil apa yang diperintahkan oleh Kenand.
"Siram!" titah Kenand.
Aaaaahhhh ... Teriak pria tersebut, pastinya itu sangat sakit saat air mengenai luka-luka ditubuhnya.
"Bagaimana James?" Kenand berdiri dihadapan James yang meringis kesakitan.
"Brengsek kau Kenand." Teriak James.
Kenand melirikkan matanya kearah Reza, dengan isyarat yang diperintahkan Kenand, Reza langsung mengambil satu buah jeruk lemon membelahnya menjadi dua bagian lalu menyiramkannya tepat diatas tubuhbJames yang terluka.
__ADS_1
Teriakan James mengema dipenjuru ruangan, Kenand membuka bajunya memperlihatkan otot kekar tubuhnya, dilengan sebelah Kiri terdapat tato Naga melingkar lengannya.
"Kamu salah bermain-main denganku, James! kamu pasti tahu apa arti dari tanda ini." Kenand memperlihatkan tatonya kearah James.
"Ka-kamu ... Tubuh James menegang, sebelumnya James belum pernah melihat siapa pemilik tanda itu, tapi dia sering mendengar jika pemilik tanda itu sangat disegani oleh banyak kalangan, terutama dari kalangan mafia dalam negri sampai kepenjuru dunia.
"Kamu sudah tahu! Aku tidak akan mengampuni orang yang telah mengusik ketenanganku." Kenand mencengkram kedua pipi James.
"A-ampun Ken, a-aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi."
"Ja-jangan bunuh aku, Ken?"
Tawa Kenand menggema memenuhi setiap sudut ruangan, "aku tidak akan membunuhmu, tapi aku akan membuatmu akan mengakhiri hidupmu sendiri."
"Kemarin aku diam karena aku fikir kamu akan bermain secara sehat, ternyata kamu merencanakan niat jahat terhadap Nadira."
"Aku tidak akan biarkan satu orangpun menyentuh milikku, Nadira adalah duniaku, menyentuhnya sama saja dengan menantangku." Kenand melepaskan tangannya dari pipi James secara kasar.
"Sebaiknya kita apakan dia, Za?"
"Apa kita potong saja adiknya?" Kenand menatap kearah celana James.
"Bukankah dia ingin melecehkan Nadira?"
"Waahh ... Boleh juga tu." seringai mereka berdua.
Jeritan kesakitan menggema diruangan sempit itu, sisi lain dari Kenand yang terkenal dingin dan angkuh ternyata tidak lain adalah ketua geng mafia yang terkenal kejam dengan lawannya.
Kenand hanya bisa bersikap lembut saat bersama orang terdekatnya saja, terutama dengan Nadira dan Davina dia menjadi sosok yang penyayang.
****
"Jadi rekan kerja Kenand yang ingin melecehkanmu, Nad?" tanya Lisa.
"Dan kamu pasti akan terkejut dengan siapa James bekerja sama." kening Lisa mengkerut.
"siapa?" tanya Lisa.
"Mbak Vania, mereka bekerja sama untuk melecehkanku."
"Wanita itu tidak ada hentinya mengganggu kamu, Nad! Kamu sudah melepaskan Davin tapi dia masih saja bersikap jahat terhadapmu." geram Lisa.
"Kamu jangan lemah, Nad! Ini sudah kesekian kalinya dia menyakitimu." Aku menatap Lisa penuh tanya, darimana dia tahu jika mbak Vania sudah beberapa kali menyakitiku.
Sepertinya aku tidak pernah menceritakan dengan siapapun kejadian saat mbak Vania mendorongku dari tangga, bahkan mas Davin pun tidak kuberitahu.
"Darimana kamu tahu Lis, jika mbak Vania pernah menyakitiku?"
"Davin menceritakan semuanya!"
"Jadi mas Davin mengetahui masalah itu, tapi kenapa dia diam saja?"
"Apa karena masalah itu mas Davin menceraikan mbak Vania?"
"Kalau itu penyebab mereka bercerai, pantas saja mbak Vania sangat membenciku."
"Pasti dia berfikir akulah penyebab mas Davin menceraikannya, padahal aku sudah meminta mas Davin mempertahankan rumah tangga mereka demi anak-anaknya."
"Sudah ... Jangan difikirkan lagi, masalah itu sudah berlalu."
__ADS_1
"Mulai sekarang kamu harus menata masa depan kamu, sudah cukup berlarut-larut dalam kesedihan dan lupakan masa lalumu."
"Oke ..." Lisa mengusap pundakku.
"Iya, Lis." aku tersenyum kearah sahabatku.
"Dan kamu tahu, Lis? Aku sangat tersentuh dengan perlakuan Kenand, dia bisa saja memanfaatkan kesempatan itu waktu aku dalam pengaruh obat, tapi dia mampu menahannya."
"Dia berusaha menggunakan segala cara untuk menghilangkan pengaruh obat dari tubuhku."
"Apa kamu sudah menaruh hati terhadapnya?" goda Lisa.
"Eh ... Si-siapa bilang? Aku cuma tersentuh dengan sikapnya saja." jawab Nadira gugup.
"Sebaiknya kamu memberikan Kenand kesempatan." dia pria yang baik.
"Apa aku pantas untuknya, Lis? Konflik dihidupku cukup rumit, dan aku tidak ingin dia terlibat dengan masalahku terus menerus.
"Mungkin Kenand jodoh titipan tuhan untukmu?"
Nadira hanya mampu mengangkat kedua bahunya, dia juga tidak tahu perasaannya terhadap Kenand, tapi saat bersama dengan pria itu ada rasa nyaman yang Nadira rasakan.
Obrolan kami terhenti saat bibik menghampiri kami.
"Non, tadi tuan Reza menitipkan obat ini?" bibik mengulurkan obat tersebut kearahku.
"Terimakasih ya bik?"
"iya non! Kalau begitu bibik permisi."
"Langsung diminum saja, setelah itu kamu tidur! Aku akan menjagamu."
"Baiklah ..." Nadira membaringkan tubuhnya, dan tidak lama akhirnya dia tertidur.
Aku harap masa sulitmu segera berlalu Nad? Dan aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu.
Aku mengalihkan tatapanku kearah pintu saat seseorang membukanya.
"Nadira baru saja tidur, Ken!" Kenand melangkahkan kakinya kearah tempat tidur.
"Kalau begitu aku pulang dulu, Ken! besok aku akan kembali lagi dan akan ikut mengantarnya pulang."
"Terimakasih sudah menjaga Nadira, Lis? Kamu memang sahabat terbaik untuk Nadira." Kenand sangat mengagumi persahabatan mereka.
"Nadira sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri, Ken! Jadi tidak perlu sungkan meminta bantuanku jika itu menyangkut hidup Nadira."
"Kalau begitu aku permisi, Ken! Titip nadira?"
"Kamu tenang saja, aku pasti akan menjaganya." Kenand mengantar Lisa sampai kemobil dan setelah mobil Lisa pergi dia kembali kekamar Nadira.
Kenand duduk disisi tempat tidur, menggenggam jemari Nadira lalu mengecupnya.
Jika kebahagiaan kamu bersama Davin, aku akan melepaskan kamu, Nadira.
Aku yakin jika kita berjodoh kita pasti akan dipertemukan lagi nanti.
Reza benar, hubungan yang didasari dengan merenggut kebahagiaan orang lain tidak akan membuat kita bahagia.
Kenand sudah bertekad akan melepaskan Nadira.
__ADS_1
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92