TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Titik lelahku part2


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian ...


"Lis ... Kamu ingin tetap bekerja disini atau pindah kerja ke indo?" tanya Davin saat Lisa sampai diruangannya.


"Maksud bapak?" kening Lisa mengkerut.


"Aku akan kembali, Reza benar aku seperti lelaki pengecut yang lari dari masalah."


"Aku ingin menebus kesalahanku dan meminta maaf kepada mereka yang telah aku sakiti." ujar Davin.


"Dan aku sangat merindukan putriku." timpalnya kemudian.


"Aku akan memikirkannya, jika mamaku mengizinkanku kembali aku akan ikut bapak karena aku juga sangat membutuhkan pekerjaan ini." jawab Lisa.


"Kamu tetap bisa bekerja disini, aku hanya sekedar menanyakannya mana tahu kamu ingin pindah kerja dan akan mempermudah kepindahanmu keperusahaanku yang disana." jelas Davin.


"Iya pak ... Aku akan memberikan keputusan secepatnya." ujar Lisa kemudian, lalu keluar dari ruangan.


"Hai sayang?" satu notif masuk keponsel Lisa.


Senyuman langsung terbit dibibir kecil gadis itu, entah kenapa Lisa sangat menyukai gombalan-gombalan kecil yang terlontar dari pria itu.


"rinduuuu ...?" ponsel Lisa kembali berdenting menandakan satu pesan kembali masuk keponselnya.


"Dasar buaya tukang gombal!" balas Lisa sambil tersenyum.


"Gombalannya tulus, hanya untuk adindaku." Reza kembali mengirimi Lisa pesan.


"udah ah ... Aku mau ngelanjutin kerja! Entar dimarahin pak bos loh." balas Lisa, karena dia tahu Reza tidak akan berhenti menggodanya.


"bilangin sama abang kalau Davin berani marahin calon istrinya abang." balas Reza.


"Ihh ... pede! Siapa juga yang mau jadi calon istrinya kamu." Wajah Lisa langsung merona.


"Terus ... Tadi kamu bilang abang? Geli tau dengerinnya." timpal Lisa.


"Terus kamu maunya manggil mas ya? panggilan seperti itu juga lebih bagus." balas Reza.


"Dan aku akan membuat kamu mau menjadi calon istri aku." Balas Reza.


Lisa bingung mau membalas apa, jadi dia memutuskan untuk tidak membalas pesan Reza dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


****


Pertama sampai aku langsung menghubungi Nadira, sahabat sekaligus saudara bagiku.


Nadira langsung menjemputku dibandara, Davin jangan ditanya lagi, pria itu langsung pergi saat aku mengatakan jika Nadira akan menjemputku, aku tahu dia ingin menghindari untuk bertemu dengan Nadira.


"Maaf ya Lis? Kamu pasti menunggu lama." ujar Nadira saat dia sampai.


"Tidak lama kok! Beberapa bulan ditinggal Davina tambah besar ya?" Lisa mencubit pipi gemoy Davina yang sedang berada digendongan Kenand.


"Aunty ... Sakit?" rengek Davina karena Lisa benar-benar mencubit pipinya.


"Eeeh ... Maaf ya? Habisnya Davina makin gemoy ajah." goda Lisa.


"Aunty ngeselin." cibir Davina.


"Udah ... Mendingan kita kemobil, kamu pasti lelah." Nadira merangkul lengan Lisa lalu berjalan lebih dahulu didepan Kenand.


"Sayang ... Kamu bisakan bawa koper Lisa sambil gendong Davina?" tanya Nadira manja.


"Nad ... Biar aku saja yang bawa, kasian Kenand sambil gendong Davina." jawab Lisa, Nadira benar-benar ya, gumam Lisa.


"Biar aku yang bawa." jawab Kenand.


"Untuk kesayangan mas apa sih yang tidak." Kenand mengusap pucuk kepala Nadira.


Nadira benar-benar beruntung mendapatkan suami yang sangat tulus mencintainya, terpancar jelas betapa besarnya cinta Kenand untuk Nadira.


Nadira mengambil koper dari tangan Lisa lalu mendorongnya kearah Kenand, tanpa banyak protes Kenand langsung menyeret koper Lisa.


"Jadi sebentar lagi aku akan punya keponakan lagi nih." Lisa mengelus perut Nadira yang sudah membuncit.


"iya ... Baby boy." jawab Nadira.


"Waaahh ... Dapat cewek cowok dong." jawab Lisa antusias.


"Insya allah ... Doakan saja lancar sampai hari persalinan ya?" balas Nadira.


"Aku akan mendoakannya, Nad! jadi kapan nih aku bisa bertemu dengan keponakanku yang satu ini." tunjuk Lisa kearah perut Nadira.


"Kemungkinan sekitar dua bulan lagi." ujar Nadira.

__ADS_1


"Sehat-sehat ya sayangnya aunty." ujar Lisa berbicara sambil mengelus perut Nadira.


Nadira mengaminkan ucapan Lisa.


"Bagaimana kalau kamu tinggal dirumah kami saja?" tanya Nadira.


"Terimakasih Nad! Tapi aku sudah janji sama mama akan tetap tinggal dirumah lama kami." tolak Lisa sopan.


"Ya sudah ... tapi untuk hari ini kamu beristirahat dirumah kami ya? Aku masih kangen." manja Nadira sambil bergelayut dilengan Lisa.


"Iya ... manjanya tidak pernah berubah, udah mau punya baby lagi nih." Lisa mencubit pipi Nadira.


Akhirnya mereka sampai didekat parkiran mobil, Kenand memasukkan koper kebagasi lalu mendudukkan Davina tepat disamping kemudi, Kenand membiarkan Nadira duduk dikursi belakang bersama Lisa, karena dia sangat tahu jika istrinya sangat merindukan sahabatnya.


Dari kejauhan Davin menyaksikan kehangatan keluarga Nadira, tidak dipungkiri Davin masih sangat merindukan sosok wanita yang tidak pernah dia lupakan, bayangan-bayangan kebersamaan mereka kembali melintas, ingin rasanya dia berlari lalu mendekap erat wanita itu tapi sekarang hal seperti itu tidak bisa Davin lakukan lagi karena sudah ada Pria lain telah menggantikan posisinya.


"Davina ... Papa sangat merindukan kalian, gumam Davin, dada ini semakin sesak, aku fikir aku sudah siap menerima kenyataan ini tapi hati ini terlalu rapuh.


Davin memutuskan kembali kerumah orangtuanya, meminta sopir menjemputnya dibandara.


"Pak ... Berhenti disini saja." pinta Davin saat mereka hampir saja sampai didepan gerbang rumah orangtuanya lalu turun dari mobil.


"Biar saya bantu pak?" ujar sang sopir saat Davin mengeluarkan koper dari bagasi.


"Tidak usah pak, biar aku sendiri saja." tolak Davin.


"Bapak boleh kembali kekantor." pinta Davin.


"Baik pak." ujar sang sopir lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan bosnya tersebut.


Sebenarnya Davin sangat penasaran dengan sosok berjilbab yang sejak tadi berdiri didepan pintu gerbang, dia seperti mencari sesuatu.


"Permisi mbak, ada yang bisa aku bantu." tanya Davin saat dia sudah berada dibelakang orang tersebut.


Sosok tersebut berbalik, lalu tatapan mereka beradu.


"Kamu ..." Davin terkejut saat tahu siapa wanita tersebut.


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92

__ADS_1


__ADS_2