TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
obsesi davin


__ADS_3

"Kamu mabuk, mas?" Dari jarak beberapa centi aku sudah mencium aroma alkohol dari arah mas Davin.


"Hanya sedikit!" mas Davin nyengir kearahku.


Jika mabuk begini, aku akan menunda terlebih dahulu untuk memberitahukan mas Davin soal Davina.


"Lebih baik kamu pulang, mas! Nadira menghidupkan kembali mesin motor matiknya.


Davin langsung mematikan motor yang dinaiki Nadira dan langsung meraih kunci dari kontaknya.


"Jangan bercanda, mas!" Nadira menatap tajam kearah Davin.


"Kita belum bicara, Nad! Dan kamu sudah ingin pergi."


"Kita akan bicara jika kamu tidak mabuk." Nadira menengadahkan tangannya meminta kembali kunci motornya.


"Kembalikan kuncinya, mas."


"Mas tidak mabuk, Nad! Serius." dari cara bicara dan jalannya yang sempoyongan saja Nadira bisa menebak jika Davin sedang mabuk.


"Jika kamu tidak ingin memberikan kuncinya, ya sudah! Aku jalan kaki saja." Nadira turun dari motornya berniat ingin meninggalkan motornya disana.


"Sebenci itukah kamu terhadap mas, Nadira?" langkahku terhenti, lalu berbalik menatap kearah mas Davin.


"Aku tidak pernah membencimu, mas! Itu hanya pemikiran kamu saja."


"Tapi kamu seperti ingin menghindari mas setiap kita bertemu."


"Mas tahu kesalahan mas sulit untuk dimaafkan! Tapi tidak bisakah kamu memberikan mas kesempatan untuk memperbaikinya?"


Sepertinya tidak akan selesai jika berbicara dengan kondisi mas Davin yang seperti ini, menjelaskanpun tidak akan ada hasilnya.


"Nanti kita bicara, mas! saat kamu tidak mabuk lagi. Kembalikan kunci motorku?"


"Aku janji tidak akan menghindar jika mas mengajak bertemu." aku mencoba berbicara baik-baik dengan mas Davin.


"Pasti semuanya karena Kenand, kan? Apa kamu mencintai lelaki itu, Nad?" Nadira mengkerutkan keningnya.


"Kenapa mas mengaitkannya dengan Kenand? Ini masalah kita! Jangan pernah membawa orang lain kedalamnya."


"Percuma menjelaskan panjang lebar dengan keadaan mas yang mabuk seperti ini."


Nadira mulai jengkel dengan sikap Davin.


Mas Davin mencekal pergelangan tanganku saat aku akan meninggalkannya.


"Selama kamu menghilang pasti Kenand yang menyembunyikan kamu dari mas! Iyakan Nad?"

__ADS_1


Walaupun tebakan kamu benar aku tidak akan mengatakanya mas, kenapa mas Davin bertingkah seperti orang yang tidak waras sekarang. Bathin Nadira.


"Lepasin mas! Aku mencoba menarik tanganku melepaskan dari cekalan mas Davin.


"Kamu hanya milik mas, nadira! Tidak ada laki-laki manapun yang bisa memiliki selain Davin Pratama." mas Davin menekankan namanya disana.


Mas Davin memaksaku masuk kedalam mobilnya, sempat aku memberontak tapi tenagaku kalah kuat dari tenaga mas Davin.


"Buka pintunya, mas!" Ini bukan seperti mas Davin yang kukenal, dia menjadi seorang yang tempramen sekarang.


"Kamu mau ngapain, mas?" Nadira memundurkan tubuhnya sampai membentur pintu mobil, Davin menarik pinggang Nadira hingga tidak menyisakan jarak diantara mereka.


Bisa kurasakan Nafas hangat Nadira menerpa wajahku, karena tidak adanya jarak antara kami.


"Lepas, Mas! Nadira mendorong tubuh Davin, tapi Davin semakin mengeratkan pelukannya.


Davin mencium bibir Nadira kasar sampai membuat bibir Nadira sedikit membengkak.


"Sudah mas katakan, tidak ada yang bisa memiliki kamu selain mas, Nadira! apalagi Kenand, mas tidak akan membiarkan kenand memiliki kamu."


Davin membuka paksa pakaian Nadira, lalu menciumnya dengan kasar menjamah setiap jengkal tubuhnya, Nadira terus saja memberontak.


"Jangan, mas! Kamu lupa kita bukan pasangan suami istri." Nadira memukul dada bidang Davin, tapi davin tidak peduli sedikitpun dengan ucapan Nadira, api cemburu telah membakar fikiran jernihnya saat ini.


"Mas ... Jangan lakukan itu, mas?" Nadira terisak dibawah kungkungan Davin.


"Kamu ingin aku membencimu seumur hidupku, mas? Jika iya ... Maka lakukanlah!" Airmata Nadira akhirnya tumpah juga, Nadira tidak menyangka jika Davin bisa berbuat nekad seperti sekarang.


Davin turun dari atas tubuh Nadira, lalu mengancingkan kembali piyama yang dipakai Nadira yang berantakan oleh ulahnya, lalu mengusap bibir Nadira yang membengkak akibat ulahnya.


"Maaf ... Maafkan mas menyakitimu, Nad?"


Davin tertunduk dihadapan Nadira, airmatanya seketika meluncur begitu saja.


"mas tidak berniat untuk menyakitimu, mas hanya cemburu dengan kedekatanmu dengan Kenand, Nad!"


"Mas mohon, kembalilah!" ucap Davin terisak.


Ada perasaan sedih saat melihat keterpurukan mas Davin seperti ini, apa aku sudah sangat keterlaluan dengan meninggalkan mas Davin tanpa memberinya kesempatan kedua, bukankah setiap manusia pernah salah.


"A-aku harus pergi, mas! Davin membetulkan rambut Nadira yang berantakan lalu memberikan kunci motornya, gegas Nadira keluar dari mobil.


Davin juga ikut keluar dengan menatap kepergian Nadira, dia baru sadar jika telah bertindak jauh terhadap Nadira. Davin menjambak rambutnya, dan pastinya tindakanku tadi membuat Nadira takut.


Aahhhh ... teriak Davin prustasi.


Davin meninju kaca mobil miliknya melampiaskan rasa kekesalan dan rasa bersalahnya disana, darah segar mengalir dari jemari Davin tapi dia tidak menghiraukan itu, luka dihatinya lebih sakit dari luka tengah dia alami saat ini.

__ADS_1


"Dengan cara apalagi mas menebus kesalahan mas, Nadira ..." mas Davin berteriak kencang, tubuhnya merosot disamping mobil.


Nadira melihat orangtuanya masih berada disana, mama menimang Davina didalam gendongannya.


"Nad, bibir kamu kenapa bengkak begitu? Terus kamu habis nangis ya?" mama menatap kearahku.


"Eh ... Be-bengkak ya ma?" ujarku sedikit gugup.


"Tadikan aku pakek motor ma, mungkin mataku merah karena angin malam." ucapku meyakinkan mereka.


"Lalu bibir kamu kenapa?" mama mengelus bibirku yang sedikit membengkak karena ulah mas Davin.


"Ini ... Tadi digigit ta ...


"Tawon? Kok bisa, Nad!" ujar mama, belum sampai ucapanku mama langsung menyebutnya.


"Tidak tahu juga ma, saat dikonter tadi banyak tawon disana." dan semoga saja mereka percaya.


"Ada-ada saja kamu, Nad!" Aku hanya menangapi dengan tersenyum.


"Berikan Davina padaku ma, aku akan menidurkannya dikamar." mama menyerahkan Davina kepadaku.


"Aku kekamar dulu ya, ma, pa?"


Kami menatap Nadira yang menaiki tangga menuju kamarnya.


"Nadira kenapa ya, pa? Mama masih belum puas mendengar jawaban dari Nadira."


Papa Nadira hanya mengangkat kedua bahunya.


"Papa juga tidak tahu ma, tapi Nadira sepertinya tidak kenapa-kenapa!"


"Mama saja yang terlalu berlebihan memikirkannya."


"Ya sudah ... Lebih baik kita beristirahat saja, papa besok ada rapat pagi, jadi harus tidur lebih awal.


"Iya pa." lalu mereka berjalan kearah kamar mereka yang berada tidak jauh dari ruang tamu.


Sedangkan Nadira masih menggendong Davina menatap keluar melalu jendela kamarnya.


Mobil mas Davin masih disana, tapi aku tidak melihat keberadaannya, apa mungkin mas Davin tengah berada didalam mobil. gumam Nadira.


Kenapa kamu jadi seperti itu mas, kamu bukan lagi mas Davin yang aku kenal dahulu, apa karena perpisahan kita yang merubahmu mas, ada rasa bersalah menghinggapi hatiku.


Maafin mama ya, sayang. Mama belum bisa mempertemukanmu dengan papa kamu, jika papamu tempramen seperti itu mama khawatir papamu nantinya akan merebut kamu dari mama.


TITIK LELAHKU

__ADS_1


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2