
"Assalamualaikum tante." kucium punggung tangannya mama Kenand.
"Wa'alaikumsalam Nadira." ujarku tersenyum.
"Kalian pasti lelahkan?"
"Ken ... Bawa Nadira kekamar tamu yang berada dilantai atas." mama memintaku mengajak Nadira untuk beristirahat.
"Mari Nad, kamu pasti sangat lelah."
"Tante, aku istirahat dulu ya?"
"Iya ... Silahkan."
"Kenand keatas ma." aku mengangguk menyetujuinya.
Saat sampai didepan kamar tamu aku mempersilahkan Nadira masuk.
"Malam ini kamu menginap disini saja Nad, besok kalau kamu mau mengunjungi orangtuamu aku akan mengantarnya."
"Iya Ken ... Aku masuk dulu."
Aku meninggalkan Nadira berjalan menuju kamarku yang berada dipaling ujung.
Apa keputusanku membawa Nadira kembali kekota ini sudah tepat, aku tidak ingin jika nanti Nadira bertemu Davin. Aku menghembuskan nafas kasar.
Aku memutuskan langsung beristirahat setelah membersihkan tubuhku.
Pagi hari saat melewati kamar Nadira, aku berniat mengajaknya turun bersama, tapi tidak ada sahutan sama sekali, aku memutuskan turun terlebih dahulu.
Saat sampai dimeja makan aku melihat pemandangan yang sangat menarik. Nadira tengah sibuk membantu mama menyiapkan makanan, mereka berbincang hangat.
Senyum terbit dibibirku, Nadira bisa merebut hati mamaku. Biasanya mama tidak bisa dekat dengan orang yang baru dia kenal.
Aku cukup lama menikmati pemandangan yang sangat asing bagiku, andai ini bisa kusaksikan setiap harinya.
"Ken, kemarilah, kok diam saja disana." panggilan mama menyentak lamunan
"I-iya ma." ucapku gugup. Aku melangkah mendekati mereka yang telah duduk dimeja makan.
__ADS_1
"Mama masak banyak ada acarakah?" aku menatap makanan yang tersaji dimeja makan sangat banyak.
"Tidak ... masakan ini untuk menyambut kedatangan kalian."
"Ini terlalu berlebihan ma, kita tidak akan sanggup menghabiskannya."
Mereka terkekeh mendengar ucapanku, alisku menukik, apa ada yang salah dengan ucapanku. Bathinku.
"Mama tidak meminta kita menghabiskan semua makanan, Nanti kita bisa bagi-bagi dengan pelayan yang bekerja disini.
"Kamu tahu Ken, ternyata Nadira sangat pandai memasak." mama mengedipkan sebelah matanya.
Mama nngapain lagi seperti itu, untung saja Nadira tidak menyadarinya.
"Dan semua masakan ini Nadira yang masak, mama cuma bantu-batntu sedikit saja."
"Terimakasih tante, semoga kalian menyukainya."
"Benarkah? Kenapa repot-repot masak segala Nad, jika terjadi apa-apa dengan kandunganmu bagaimana?"
Aku tersenyum mendengar ucapan Kenand, sekhawatir itukah dia terhadapku.
Aku menatap putraku, dia sangat protektif sekali terhadap Nadira, semoga saja cintamu tidak bertepuk sebelah tangan nak.
Kami memulai menikmati makanan yang tersaji.
"Ini benaran enak loh Nad, benarkan Ma?" aku meminta persetujuan Mama.
Masakan Nadira benar-benar memanjakan lidah, aku sampai nambah berkali-kali.
"Benar, mama sangat menyukainya."
"terimakasih tante, Ken." Ini juga yang disukai mas Davin, dia selalu menyukai makananku, aku menutupi kesedihanku dengan senyuman agar mereka tidak mengetahuinya.
Setelah selesai makan kami berpamitan dengan mamanya Kenand lalu kekantor.
Saat sampai disalah satu mall terbesar dikota ini, kami langsung menemui pemilik mall ini. Perusahaan Kenand sudah bekerjasama sejak lama dengan pemilik mall tersebut, kali ini kami akan membahas tentang pembukaan cabang berikutnya.
Kami memilih duduk disalah satu cafe didalam mall.
__ADS_1
Setelah selesai membahas tentang kerjasama pemilik mall undur diri.
"Ken, kita jalan-jalan keliling mall dulu ya?"
"Kamu yakin Nad?" aku sedikit khawatir jika Davin akan menemukan Nadira.
"Sebentar saja, aku merindukan tempat ini." aku sadar jika Kenand mengkhawatirkanku.
"Ya sudah ... Tapi aku ketoilet sebentar ya?"
"Baiklah."
"Ingat ... Jangan kemana-mana!"
"Iya Ken, aku tetap disini."
Disisi lain mall Davin tengah mengajak kedua putranya bermain, setelah perdebatan panjangku dengan ibu akhirnya disinilah aku berada.
Ibu memintaku meluangkan waktuku untuk mereka, sudah beberapa bulan ini aku mengabaikan putraku jangankan mengajak bermain menjenguk mereka saja aku tidak pernah. Bukan karena aku tidak menyayangi mereka tapi masalah ini tidak bisa membuatku berfikiran jernih.
Waktuku hanya kuhabiskan untuk memikirkan Nadira dan anak yang tengah dikandungnya.
Aku terpuruk dalam penyesalan.
Tapi kali ini ibu benar-benar marah, malas mendebat terlalu panjang akhirnya aku menyetujui permintaan ibu.
Saat aku sedang berkeliling bersama kedua putraku, aku seperti melihat sosok wanita yang sangat aku rindukan, jarak kami sangat jauh tapi aku tahu itu adalah Nadiraku.
Aku mendudukan kedua putraku disalah satu kursi meminta mereka menungguku.
Aku berlari kearah Nadira dan berteriak memanggilnya, takku hiraukan tatapan dari orang-orang disekelilingku.
"Nadiraaa ... "
Aku melirik kearah suara yang memanggil namaku.
"Ma-mas Davin." ucapku terbata.
TITIK LELAHKU
__ADS_1
BY : MIKHAYLA92