TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
kemarahan Nadira


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya memyambutku didepan rumah terpencil ini.


Apa kamu ingin menyembunyikanku disini mas Davin? Licik sekali, bathin Nadira.


"Apa motif bapak membawaku kemari?" tanya Nadira saat pria itu membuka pintu mobil untukku.


"Aku hanya mengantar nona, nanti tuan akan menemui nona." ucap pria yang sepertinya seumuran dengan papaku.


"Mbok, tolong bawa nona ini kedalam?" pinta bapak teraebut.


"Mari non!" ujar wanita yang dipanggil mbok tadi, dia membawaku kesebuah kamar.


Setelah kepergian wanita itu, aku duduk disisi ranjang menunggu kedatangan mas Davin, karena terlalu lama menunggu akhirnya aku tertidur.


Aku terbangun karena merasakan perih diperutku, sedari pagi aku belum makan sama sekali, akhirnya aku memutuskan keluar dari kamar.


Aku melirik jam yang tergantung didinding, pukul 13:15. Cukup lama aku tertidur kenapa belum ada pergerakan sama sekali dari mas Davin, ini sangat membosankan.


"Dimana letak dapurnya? Gumamku.


"Mbok ... Mbok." panggil Nadira, wanita paruh baya itu setengah berlari mendekat kearah Nadira.


"Iya nona?" tanya wanita itu saat sampai dihadapanku.


"Apa tuan kalian belum datang juga?" tanyaku, aku sangat bosan disini, mas Davin kekanakan sekali, apa dia fikir aku akan mau hidup bersamanya disini, bathinku.


"Belum non!" jawab wanita tersebut.


"Mbok aku lapar!" ucapku sambil memegang perut.


"Mari non ikut mbok." aku mengikuti mbok dari belakang, aku melihat sekeliling rumah satu lantai ini, rumah yang tidak terlalu besar tapi tekesan unik.


"Nama mbok siapa?" tanyaku, saat wanita paruh baya itu mwnyusun beberapa menu makanan diatas meja.


"Panggil saja mbok ina." jawab wanita itu.


"makasih mbok." ucapku saat mbok ina telah selesai menata makanan dimeja.


"Mbok sudah makan? Kalau belum kita makan bareng saja." tanyaku.


"Sudah non! mbok tinggal dulu." pamit mbok ina.


Setelah makan aku memutuskan duduk diruang tamu sambil menunggu kedatangan mas Davin.


Tidak begitu lama langkah seseorang terdengar mendekat kearahku lalu tatapan kami bertemu.

__ADS_1


"Sudah kuduga, kamu lah dalang dari semua ini." ucapku saat Mas Davin duduk dihadapanku, tidak ada rasa hormat lagi dengan pria yang tengah berhadapan denganku saat ini.


Aku menumpu kakiku kananku diatas kaki kiri, dengan bersedekap dada, menatap pria egois yang tepat berada didepanku, tidak aku tunjukkan rasa takutku sama sekali.


"Nad, maaf! Aku sudah mencoba untuk merelakan kamu, tapi aku benar-benar tidak bisa." balas Davin.


"Kamu fikir dengan cara rendahan seperti ini aku akan kembali lagi padamu? Cih ... Dengan kamu berbuat seperti ini rasa simpatiku terhadap kamu hilang begitu saja." Nadira berdecih.


"Aku tidak meminta kamu kembali Nad! Aku hanya ingin kamu tidak menikah dengan lelaki manapun, jika aku tidak bisa memiliki kamu, maka tidak ada satu lelakipun yang bisa memiliki kamu." ujar Davin.


"Kamu aneh ya, Davin pratama! Kamu ingin aku jadi janda seumur hidup?" Nadira menatap tajam kearah Davin.


"Lebih baik melihat kamu menjanda dari pada kamu dimiliki laki-laki lain." Davin tetap keukeh dengan pendiriannya.


"Capek ya ngomong sama kamu!" Nadira bangkit dari kursi, saat kaki ini ingin melangkah Davin langsung mencekal pergelangan Nadira.


"Gila kamu! Lepaskan." sentak Nadira, tapi Davin mempererat cekalannya.


"Kamu fikir aku akan melepaskan kamu kali ini, Nad? Tidak akan, aku tidak akan mengalah kali ini."


"kamu hanya milikku, selamanya akan tetap jadi milikku." ujar Davin penuh penekanan.


"Kamu fikir aku sudi! Dan kamu harus ingat baik-baik, jikapun hanya ada satu laki-laki yang tersisa didunia ini dan itu kamu, aku lebih memilih hidup sendiri dibandingkan harus hidup dengan lelaki egois seperti kamu." ejek Nadira.


"Kenapa, Nad! Kenapa kamu tidak melihatku dari sisi bagaimana besarnya cintaku untukmu, kamu selalu melihat dari kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat."


"Karena yang kamu lakukan sekarang bukan tentang mencintai lagi, kamu hanya terobsesi memilikiku."


"Berhenti Davin, berhenti merusak kebahagiaanku, aku mencintai Kenand." ujar Nadira menatap kemanik Davin, meminta agar pria itu mengerti jika tidak ada sedikitpun tersisa cintaku untuknya.


"Berhenti mengatakan jika kamu mencintai Pria itu, Nad!" Davin berusaha memeluk tubuh Nadira.


"Aku mencintai Kenand, Davin! Aku sangat mencintainya." kamu mengerti, aku sangat sangat mencintainya." ulang Nadira berkali-kali sehingga membuat Davin prustasi.


"Stop, Nad! Aku bilang stop!" tanpa Davin sadari dia mempererat cekalan tangannya membuat Nadira meringis menahan sakit dipergelangan tangannya.


Satu tamparan yang cukup keras mendarat dipipi Davin, aku mengalihkan tatapanku kesamping.


"Ma-mama?" gumamku, pastinya wanita yang bergelar ibu ini sangat kecewa dengan prilaku putra semata wayangnya.


"Apa yang kamu fikirkan Davin! kenapa kamu bertindak sampai sejauh ini?" tubuh mantan mama mertuaku merosot, papa Davin berusaha menenangkan istrinya.


Ternyata diruangan ini semua orang sudah berkumpul, aku menatap kearah pintu melihat pria yang aku cintai sedikit berlari kearahku, aku langsung menghambur kepelukannya, terisak didekapan pria ini.


"Maaf jika aku terlambat?" sesal Kenand.

__ADS_1


"Kamu tidak terlambat, mas! perdebatanku dengan Davin belum berlangung lama." jelas Nadira.


Kenand meraih pergelangan tangan Nadira yang terdapat bekas jari Davin disana, lalu meniupnya.


"Ini pasti sangat sakit." khawatir Kenand, sebenarnya dialah yang membawa kedua orangtua Davin kemari, setelah anak buah yang mengikuti mobil yang membawa Nadira pergi melaporkan jika Nadira dibawa ketempat ini.


Kenand berfikir, dia akan menyelesaikan masalah Davin cukup dengan membawa kedua orangtuanya saja, tidak perlu berantam, pukul-pukulan, itu semua akan memperkeruh keadaan.


"Tidak apa-apa, mas! Yang penting sekarang kalian sudah datang." ujar Nadira menenangkan Kenand yang terlihat mencemaskan dirinya.


"Ini semua terjadi karena kamu Kenand!" teriak Davin, Nadira melepaskan pelukan mereka, lalu beralih menatap Davin.


"Jika kamu tidak ikut campur urusan rumah tanggaku sejak awal, pasti rumah tangga kami akan baik-baik saja sekarang, dan aku tidak akan melakukan tindakan sampai diluar batas seperti ini." Davin meraih kerah kemeja yang dipakai Kenand.


Nadira langsung mendorong tubuh Davin, lalu satu tamparan mendarat dipipi ayah dari anaknya tersebut.


"Berhenti menyalahkan orang lain atas perbuatan yang telah kamu lakukan, Davin! Meskipun Kenand tidak hadir dikehidupanku, aku juga tidak akan kembali kepadamu, luka yang kamu torehkan terlalu dalam, aku bisa memaafkan tapi tidak dengan melupakan."


"Ingat itu baik-baik, dan satu lagi aku tidak akan pernah mengizinkan kamu menemui putriku lagi."


"Kamu tidak bisa memisahkan aku dari putri kandungku Nadira, kenapa kamu sampai berfikiran sepicik itu." ujar Davin tidak terima.


"Kamu yang memaksaku berbuat seperti ini! Jika kamu benar-benar telah berubah, kita bisa bersama-sama membesarkan Davina."


"Tapi sepertinya Davina tidak membutuhkan ayah egois seperti kamu." timpal Nadira.


"Kamu tidak akan bisa memisahkan aku dari Davina, Nad! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." bentak Davin.


"Benarkah! Kamu lupa jika aku pernah menyembunyikan Davina bahkan sejak dia masih dalam kandungan, bukan hal yang sulit untukku menjauhkan kamu dengan putriku." balas Nadira menatap penuh kebencian kearah Davin.


Aahh ... Teriak Davin prustasi, dia menjambak rambutnya sendiri, yang dikatakan Nadira benar, Nadira sangat pandai menyembunyikan sesuatu, dan davin benar-benar takut akan kehilangan putri kesayangannya.


"Mas, ayo kita pergi! kita tidak akan menang mendebat dengan pria egois yang hanya mementingkan keinginannya saja, tanpa memikirkan orang-orang disekelilingnya bahagia atau tidak." Nadira menggandeng tangan Kenand, lalu melangkah kearah orangtua Davin yang hanya terdiam menyaksikan perbuatan anaknya.


"Ma, pa ... Maaf jika Nadira melakukan semua ini, aku tidak ingin berhubungan dengan mas Davin lagi, jika aku biarkan dia bebas menemui Davina aku takut dia akan berbuat nekat, bagaimana jika dia menculik Davina nantinya dan akan membawa jauh putriku, semua kemungkinan bisa saja terjadikan?"


Nadira menjelaskan kepada kedua orangtua Davin, agar mereka tidak salahpaham atas tindakan yang dia ambil, menjauhkan Davin dari putrinya, bukan menjauhkan untuk selama-lamanya setidaknya dengan sampai Davin benar-benar menyadari kesalahannya, jika waktu itu telah tiba aku akan membebaskan mas Davin menemui putrinya lagi.


Semoga dengan kejadian ini mas Davin bisa intropeksi diri, dan menurunkan sikap egoisnya, jujur ... Aku benar-benar lelah berhadapan dengan mas Davin.


"Kedua orangtua Davin memgangguk pasrah, lalu menahan Davin yang hendak mengejar kami.


Maaf mas, aku harus kejam, jika aku terus bersikap lembut dan memaafkan, sepertinya kamu tidak akan mau berubah, dan semoga setelah ini kamu bisa merenungkannya, bathin Nadira.


"Tidak ... Kamu tidak boleh memisahkan aku dari putriku Nadira." teriak Davin.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2