TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
titik lelahku part2


__ADS_3

hari berganti minggu, minggu berganti bulan, sikap Davin tetap masih sama dari hari kehari dia selalu menyiksa Vania dengan kata-kata kasarnya.


Hingga saat ini Vania masih setia melayani suaminya meskipun setiap apa yang dilakukan olehnya tidak dihargai sedikitpun.


dan sampai hari ini dimana titik lelahnya seorang istri, Vania menyerah dia benar-benar tidak sanggup lagi mendampingi suaminya, dengan uang yang dia kumpulkan hampir setahun ini dengan mengelola butik milik mertuanya Vania bertekad membawa kedua putranya, kali ini dia tidak akan tinggal diam, dia berhak atas anak-anaknya.


Masih terngiang di ingatannya kala Davin memukulinya saat Davina terjatuh dari sepeda karena waktu itu dia sedang mengajari putri sambungnya.


Entah setan apa yang merasuki Davin waktu itu, dia menarik paksa Vania menjauhi putrinya lalu memukuli tanpa ampun.


"Kamu ingin balas dendam dengan melukai putri, hah!" hardik Davin kala itu.


"Kamu pasti sangat membenci Nadira dan aku, kan? Sehingga kamu mengambil kesempatan untuk membalaskan dendammu melalui putri kami." ujar Davin menggebu.


Tidak ada kesempatan untuk Vania membela karena Davin terus menerus menyakitinya, hingga ketukan pintu menghentikan aksinya, ternyata Davina lah yang melakukan itu karena kehadirannya Davin menghentikan perbuatannya.


Semua itu masih terukir jelas di ingatan Vania, satu bulan Vania meninggalkan rumah dengan alasan mengunjungi tanah kelahiran nenek dari anak-anaknya, untung saja kedua putranya mengerti.


Vania hanya mengabari kedua anaknya melalui sambungan telpon, dia tidak ingin anak-anaknya melihat kondisinya yang seperti ini.


Satu bulan berlalu kini Vania sudah kembali, bukan kembali untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama Davin, tapi kembali untuk mendapatkan haknya membawa anak-anak bersamanya.

__ADS_1


Vania tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri meskipun Davin tidak pernah lagi berbicara terhadapnya, terkadang Davin tidak pulang kerumah, kesempatan itu tidak Vania sia-siakan.


Dengan sepucuk surat yang Vania tinggalkan diatas tempat tidur, Vania membawa kedua putranya pergi jauh dari peliknya hidup yang membelenggunya selama ini.


Dia akan pergi sejauh-jauhnya tanpa bisa Davin jangkau, biarlah dia terlihat egois asalkan dia bisa selalu bersama kedua anak-anaknya.


***


"Maafkan aku, mas! Jika aku berhenti sampai disini, maaf ... Jika aku tidak bisa menjadi pendamping yang sempurna untuk kamu, anak-anak kubawa bersamaku."


"Semoga setelah ini kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu yang sesungguhnya, Vania."


Davin meremas kuat surat tersebut digenggamannya, setelah kejadian dia memukuli Vania, terlintas rasa bersalah karena telah menyakiti wanita itu terlalu jauh, bukan kebahagiaan yang dia dapatkan setelah menyakiti Vania melainkan rasa bersalah yang teramat.


Davin melangkah gontai menyusuri ruangan, rumah yang biasanya ramai dengan tawa anak-anaknya kala bermain bersama Vania kini tampak sunyi.


Tidak ada makanan lagi diatas meja, tidak adalagi suara yang memanggilnya mengajak sarapan bersama, dan tidak ada lagi yang menyambutnya saat pulang kantor.


Sepi ... Rumah ini seperti kehilangan nyawanya.


"Apa aku sudah terbiasa hidup bersama kamu tanpa kusadari selama ini, Van?" gumam Davin sambil mendudukkan bokongnya dimeja makan.

__ADS_1


***


Sebuah ketukan mengalihkan perhatianku, lalu melangkahkan kaki ini dengan gontai.


Reza mengulurkan sebuah kartu undangan kearahku, sudah bisa kutebak, pasti mereka akan melanjutkan hubungan mereka kejenjang pernikahan.


Apa aku sedih? tidak ... mungkin selama ini aku hanya mengagumi sosok Lisa karena aku melihat sosok Nadira didalam dirinya.


Fikiran ini masih fokus dengan kepergian Vania bersama anak-anakku.


"Jangan lupa datang ya, Dav?" ujar Reza menyadarkanku dari lamunan.


"eh ... I-iya ... Selamat, Za? Akhinya kamu laku juga." ujar Davin terkekeh sambil menepuk pundak sahabatnya, bagaimanapun Reza sahabatnya sejak kecil meskipun hubungan mereka sempat merenggang karena perselisihannya dengan Kenand.


Reza merangkul sahabatnya, sudah lama dia tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini, Davin selalu menjaga jarak dengannya selama ini.


"Za ... Maaf aku buru-buru! Nanti akan aku hubungi?" Davin melepaskan pelukannya lalu berlari menuju mobil.


"Wah ... Parah nih anak, masak dia ninggalin gue sendirian disini." decak Reza sebal.


TITIK LELAHKU

__ADS_1


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2