
Nadira menscroll foto-foto yang Adit kirim saat Kenand masih berada diluar negri.
"Kamu bener-bener konyol ya, Ken! Kenapa harus memintanya setiap hari, fotonya juga tidak ada yang penting!"
"Aku kasihan loh sama Adit, pasti kamu menjadikannya penguntit." celoteh Nadira.
Makanya jangan asal main pergi saja, belum berperang, eh sudah mundur duluan!" Nadira cekikikan.
"Kenapa kamu jadi cerewet sekarang?" Kenand mengusap pucuk kepala Nadira.
"Habis ... Kamunya aneh-aneh, masak hampir setiap waktu kamu meminta Adit mengirimi fotoku, kan kasihan dia." ujar Nadira.
"Semuanya tidak gratis loh, aku membayarnya dengan harga tinghiuntuk pekerjaannya."
"Nad, foto bareng yuk?" Ajak Kenand, kebetulan ada pelayan yang sedang membereskan tempat makan mereka.
"Boleh!" Kenand meminta pelayan tadi mengambil foto kami berdua.
"Terimakasih ya, mbak?" ucap Kenand, lalu pelayan tersebut menyerahkan ponsel milik Kenand.
"Sebagai perayaan hari jadi kita!" ujar Kenand.
"Memangnya kita sudah jadian?" goda Nadira.
"Sebentar!" Kenand mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Menikahlah denganku? Akan aku jadikan kamu rau dihidupku, Nad." Kenand mengulurkan sebuah kotak berwarna maroon kearah Nadira, lalu membukanya.
"Menikah?"
"Iya, menikah Nad! Aku tidak ingin menunda niat baikku, untuk apa berpacaran, kita bukan anak ABG lagi, pacarannya nanti saja setelah menikah."
"Maukah kamu menikah denganku?" ulang Kenand sekali lagi.
"Apa aku pantas? Kamu terlalu sempurna untukku, ken?" Nadira tertunduk, Kenand tahu semua kisahku dimasa lalu.
"Yang menilai pantas atau tidak itu hanya aku Nad, menurutku kamu wanita yang paling pantas untuk mendampingiku." Kenand mengangkat dagu Nadira untuk menatapnya.
"Izinkan aku mewujudkan impianku untuk membahagiakan kamu bersama Davina, Nad?" pinta Kenand.
"Aku takut, Ken! Aku takut gagal lagi?" tubuh Nadira gemetar.
Kenand berusaha menenangkan Nadira, sepertinya Nadira masih trauma dengan sebuah pernikahan.
"Maaf, jika aku terburu-buru?" Kenand membawa Nadira kepelukannya.
__ADS_1
"Aku akan menunggu kesiapan kamu, Nad! Kamu pasti bisa melewati traumamu, aku akan selalu mendampingi kamu, jangan pernah berfikir kamu sendiri?" Tepukan dibahunya membuat Nadira jauh sedikit lebih tenang.
Entah kenapa mendengar kata menikah, ketakutan langsung menghinggapi hati Nadira, dengan sekuat hati Nadira meyakinkan hatinya.
"Apa kamu ingin kehilangan cinta kamu lagi, Nad? Bukankah kamu sudah lama menantinya, kenapa sekarang kamu malah membuatnya kecewa, hati kecil Nadira seperti ingin menyadarkan Nadira dari traumanya.
"Tidak ... Aku tidak ingin kehilangan cintaku lagi, rindu itu sangat menyiksa," bathin Nadira.
"Ken ... Aku mau! Aku mau menikah denganmu? Bantu aku melupakan masa laluku, aku harap kamu tidak membohongiku seperti mas Davin." Ujar Nadira, masih terlihat jelas ketakutan Nadira karena kebohongan Davin, kejadian itu sangat melukai hati wanita ini.
"Terimakasih ya, Nad? Terimakasih sudah mau menerimaku, kita lewati ini bersama-sama." Kenand melepas pelukanya lalu mengeluarkan sebuah cincin dari kotak tersebut.
Kenand meraih jemari Nadira, lalu memasangkan cincin tersebut kejari manis wanita itu, senyum bahagia terpancar dari wajahnya, perjuangan yang telah dia lakukan selama ini akhirnya berbuah manis.
"Kamu suka?" tanya Kenand setelah cincin tersebut melingkar dijari manis Nadira.
"Suka ..." Nadira tersenyum menatap cincin yang melingkar dijarinya.
"Aku sudah menyiapkannya sejak lama! sejak kamu memberikanku izin untuk membuatmu jatuh cinta." timpal Kenand
"Terimakasih sudah menungguku selama ini?" Nadira menggenggam jemari pria yang telah membuatnya jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.
"Terimakasih juga karena kamu sudah mau menerimaku? Kita balik yuk?" Ajak Kenand.
****
"Kum alam! Eh, papa." Davina berlari kearah papanya dan langsung mintak digendong.
"Lagi apa?" Davin mencium pipi putrinya.
"dedek asak pa." tunjuk Davina kearah mainannya.
"Oh, putri papa lagi main masak-masakan ya?" Davin mencuil hidung mancung putrinya.
"Iya ..." ujar Davina sambil tertawa karens merasa geli saat papanya memegang hidungnya.
"Tapi kok sendirian? Mommy kerja?"
"Oma mana?" tanya Davin kepada putri kecilnya.
"Mama lagi bikinin susu buat Davina." aku beralih menatap mama yang tengah berjalam kearah kami.
"Kamu tidak kekantor? tanya mama, mengingat sekarang hari masih siang.
"Sudah pulang, ma! rencananya aku mau ajak Davina kerumah omanya."
__ADS_1
"Omanya lagi demam, jadi minta jemput Davina, katanya kangen." ujar Davin.
"Ya sudah ... Bentar mama ambil barang-barangnya Davina dulu?" mama masuk kembali kedalam rumah.
"Davina ikut papa kerumah oma, ya?" Davin mendudukkan putrinya diatas pangkuannya, sambil menatap wajah cantik putrinya yang sedang minum susu melalu tabung dot.
Putri Davin itu hanya menganggukkan kepalanya, tidak berapa lama mama sudah membawa tas Davina dan menyerahkannya ketanganku.
"Titip salam buat omanya Davina?" ujar Mama.
"Iya ma, nanti Davin sampaikan." Davin pamit setelah Davina menghabiskan susunya.
Menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, akhirnha kami sampai dikediaman mamaku.
"Ma, bukannya mama sakit? Kenapa duduk diluar?" mama mengambil alih menggendong cucu perempuannya.
"Salim omanya dulu, nak?" pinta Davin.
Davina langsung menyalami omanya, dengan mencium punggung tangan omanya.
"Cuma demam biasa, Vin! Mama sangat merindukan Davina?" mama menciumi pipi cucunya, andai aku dan Nadira bisa rujuk kembali pasti mama akan banyak menghabiskan waktunya dengan Davina.
"Kita masuk ya sayang?"
"Iya oma." Davina mintak diturunkan saat melihat kedua kakaknya tengah bermain mobil-mobilan.
"Tatak ... Tatak! Ujar Davina memanggil kakaknya.
"Eh ... ada adek! Ujar raffa memeluk adik kecilnya, lalu mendudukkannya diatas pangkuannya.
"Adek mau main mobil-mobilan juga?" Raffi mengulurkan mainan kearah Adiknya.
Aku sangat bahagia menyaksikan kedekatan anak-anakku, jika Nadira mau kembali tentunya kebahagiaan ini akan lebih sempurna.
Davin tertunduk, dia masih menginggat kejadian dimana Nadira mengatakan jika dia jatuh cinta dengan pria lain dan pria itu tidak lain Kenand sahabatku sendiri.
Rasanya duniaku runtuh saat itu juga, tapi aku tidak akan berhenti untuk membuat Nadira kembali lagi padaku.
Sore hari aku kembali mengantar putriku pulang, saat memasuki rumah Nadira sayup kudengar suara orang yang tengah berbincang, sepertinya mereka tengah kedatangan tamu.
"Assalamualaikum?" ucapku lirih.
Tatapanku terarah kearah pria yang juga sedang menatapku.
TITIK LELAHKU
__ADS_1
BY : MIKHAYLA92