TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
pesan dari orang misterius


__ADS_3

Satu bulan kemudian ...


"Za, aku deg-degan banget!" tutur Kenand.


"Tarik nafas pelan-pelan, Bro!" ujar Reza menepuk pundak sahabatnya.


"Palingan deg-degannya sebelum ijab ajah lepas itu kamu pasti tidak akan berhenti tersenyum." timpal Reza.


"Yang bener ajah, masak aku tersenyum terus." jawab Kenand.


"Lah ... Enggak percaya! Lihat ajah entar, biasanya kalau udah ijab nih apalagi kalau manten perempuannya udah didepan mata senyum si pengantin pria akan terus mengembang, awas ajah loh nanti sampai ileran." goda Reza.


"Kek udah pernah nikah ajah kamu! Pacar ajah nggak punya." ledek Kenand.


Reza melototkan matanya kearah Kenand, dan membuat Kenand tidak bisa menahan tawanya.


"Aku nggak nyangka jika kalian akhirnya akan menikah! Padahal lama juga kamu menghindari Nadira , memberikan kesempatan untuk Davin."


"Bak kata pepatah, biar satu sembunyi didasar lautan dan satunya lagi diatas langit kalau sudah jodoh didepan penghulu kan bertemu juga." ujar Reza.


"Eh busyet ... Kek lagu?" alis Kenand terangkat.


Hehe ... Kok tau!" Reza nyengir, Kenand hanya geleng kepala menanggapi guyonan sahabatnya.


Dan saat yang bersamaan Davin menghampiri mereka yang tengah asyik berbincang membawa Davina bersamanya.


"Selamat Ken!" Davin mengulurkan tangannya.


"Terimakasih Dav!" Kenand menerima uluran tangan tersebut.


"Hai, Za!" sapa Davin.


Reza merangkul kedua sahabatnya, karena momen seperti inilah yang sangat dirinduknnya, hal yang sudah sangat lama tidak mereka lakukan.


Jika saja tidak ada Reza, mereka berdua seperti orang asing dan tidak akan berbicara satu sama lain kalau bukan Reza yang memulai duluan.


Sedangkan didalam kamar, Nadira ditemani Lisa, dia juga tidak kalah deg-degannya dari Kenand, padahal ini pernikahan kedua untuknya.


"Masya allah ... Cantik sekali! Pantasan saja para pria itu tergila-gila dengan kamu, Nad."


"Ciptaan tuhan yang terpahat diwajahmu sungguh sangat sempurna." puji Lisa setelah Nadira selesai dimake up.


"Kamu tu berlebihan banget, Lis." balas Nadira.


"Berlebihan apanya, aku yang perempuan saja terpesona dengan kecantikanmu, apalagi para pria." Lisa mengedipkan matanya, Nadira hanya tersenyum melihat kecerewetan sahabatnya.


"Nad, rileks dong! ruangannya ber-ac loh, tapi kamu keringatan gitu." ujar Lisa.


"Aku deg-degan, Lis! Kenapa perasaanku nggak enak ya?" tanya Nadira, dia merasakan ada yang mengganjal dihatinya.


"Semuanya baik-baik saja! Kamu hanya grogi saja." Lisa menenangkan Nadira, karena sedari tadi Nadira seperti tidak nyaman.

__ADS_1


Lisa mengambil tisu untuk mengeringkan Keringat dikening Nadira.


"Untung make-upnya tidak luntur!" gerutu Lisa.


"Mbak, aku keluar sebentar ya?" ujar MUA yang merias Nadira.


"Ah ... Iya mbak silahkan." Nadira mempersilahkan perias tersebut.


"Nad, aku tinggal sebentar ya! Mau lihat apa ijabnya sudah dimulai apa belum."


"Nggak apa-apakan aku tinggal sebentar?" tanya Lisa.


"nggak apa-apa, kek anak kecil saja! Sudah sana, tapi jangan lama-lama ya?" pinta Nadira.


Setelah kepergian Lisa, Nadira memainkan ponselnya, satu notif dari nomor yang tidak dikenal masuk ke ponsel Nadira.


"Batalkan pernikahan kalian sekarang juga." isi pesan tersebut.


Degh ... apa-apaan nih." geram Nadira, belum sempat Nadira membalas pesan nomor yang tidak dikenal tersebut memanggil.


"Siapa kamu?" tanya Nadira setelah dia mengangkat panggilan tersebut.


Tawa menyebalkan terdengar diseberang sana, "Kamu tidak perlu tahu siapa aku." ujar orang tersebut.


"Aku tidak akan membatalkan pernikahan kami, apa hak kamu memintaku untuk membatalkannya." Kesal Nadira.


"Oh ya ... Silahkan lanjutkan jika kamu ingin semua nyawa yang berada diruangan ini, TAMAT." ucap orang itu santai.


Nadira berusaha menelpon kembali nomor tersebut tapi tidak ada jawaban, dan beberapa pesan masuk kembali keponsel Nadira.


"Batalkan sekarang juga atau akan aku ledakkan seluruh ruangan ini." isi pesan dari nomor tersebut.


Ancaman orang tersebut tidak main-main, beberapa foto yang dia kirimkan membuat tangis Nadira pecah.


Orang tersebut mengirimkan bukti bahwa dia telah memasang bom bunuh diri ditubuhnya, hanya foto dari leher kebawah orang tersebut memotong foto bagian wajahnya.


"Aku tidak main-main, sebentar lagi ijab qabul akan dilaksanakan jika itu terjadi akan aku pastikan bom ini akan meledak sebentar lagi." orang tersebut mengirimkan pesan suara.


Aku menghubungi kembali nomor tersebut,


"Aku mohon jangan sakiti mereka! A-aku akan melakukannya." isak Nadira, tubuhnya merosot kelantai.


"baiklah ... orangku ada disana, ganti pakaianmu sekarang juga." perintahnya.


Aku beralih menatap kepintu seseorang wanita masuk dengan memakai pakaian sama dengan keluargaku, picik sekali orang ini.


"Keluarlah, lewat pintu belakang, disana sudah ada mobil yang menunggumu, tapi ingat jangan sampai ketahuan nyawa mereka semua yang jadi taruhannya." gertak orang tersebut.


Dengan penuh hati-hati, akhirnya Nadira berhasil keluar dan masuk kemobil yang dikatakan oleh orang tersebut, dengan posisi sambungnan telpon masih terhubung.


Sang sopir melajukan kendaraan, aku sangat ketakutan disini entah kemana orang ini akan membawaku tapi aku berusaha menepiskannya banyak nyawa yang dipertaruhkan disana.

__ADS_1


"Hubungi calon suami kamu, batalkan pernikahan itu sekarang juga." lalu orang tersebut mematikan ponselnya.


Aku mencari nomor Kenand lalu menekan tombol hijau.


"Hallo, sayang! Kok nelpon? Ijabnya belum dimulai, kamu sabar menunggu disana ya?" Nadira berusaha menahan isak tangisnya.


"Mas, ma-maaf! Maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini." ucap Nadira terbata.


"Sayang! Jangan bercanda." ujar Kenand tidak percaya, dia masih mengira jika Nadira mengerjainya.


"A-aku serius mas! Aku harus pergi, maaf jika sudah mempermalukan kamu dan keluargamu, mas." Nadira langsung mematikan ponselnya.


"Nad, Nadira!" Pekik Kenand, semua orang menatap kearahku.


"Nak, ada apa?" tanya papanya Nadira, aku tidak menghiraukan pertanyaan om hendrawan.


"Lis, dikamar mana Nadira dirias?" tanyaku menarik tangan Lisa untuk membawaku kesana.


Saat pintu terbuka, ternyata tak kutemukan Nadira disana yang kami temukan hanya pakaian Nadira diatas tempat tidur.


"Ada apa ini? Dimana Nadira?" tanya mama Kenand.


"Nadira kabur?" teriak mama.


Kenand hanya tertunduk, tanpa mengucapkan sepatah katapun, hancur ... Hati ini benar-benar hancur, bahkan untuk menangispun aku tidak sanggup, aku meraup kasar wajahku.


Nadira membangunkan kembali luka lamaku, ini yang kedua kalinya aku ditinggalkan dihari pernikahan oleh wanita yang aku cintai, tapi kali ini lebih sakit, cintaku sangat besar untuk Nadira.


"Kenapa? Kenapa Nadira melakukan ini kepada putraku." teriak mama, bahkan untuk menghentikan mama aku tidak sanggup, duniaku seakan berhenti berputar.


"Dia tahu bagaimana penderitaan Kenand selama ini, tapi kenapa dia masih juga menorehkan luka sedalam ini." mamaku histeris.


"Jika ... Jika Nadira menolak lamaran Kenand, sejak awal, Kenand tidak akan memaksa! Tapi kenapa Nadira malah kabur dihari pernikahan." tubuh mamaku merosot.


"Buk indah, Nadira tidak mungkin melakukan ini tanpa alasan! aku yakin putriku bukan wanita seperti itu, dia sangat mencintai Kenand." Jawab papanya Nadira, disampingnya mama Nadira sudah terisak.


Davin membawa Davina putrinya menjauh dari kamar, karena Davina menangis karena teriakan Indah mamanya Kenand.


"Mari pulang nak, mama fikir Nadira berbeda tapi dia sama saja dengan wanita yang yang telah melukaimu." Mama membantuku berdiri.


"Buk, kita tunggu penjelasan dari Nadira setelah dia kembali." mohon papanya Nadira.


"Tidak perlu, Nadira benar-benar telah mencoreng wajah kami didepan banyak orang." ujar Indah.


"Ken, apa kamu tidak percaya, kamu pasti mengenal Nadira dengan baik, melukai semutpun dia tidak sanggup apalagi menyakiti pria yang dicintainya?" timpal Lisa.


"Apa kamu tidak merasa ada yang janggal disini, Nadira tidak mungkin membatalkan pernikahan kalian tanpa alasan, kamu pasti tahu bagaimana besarnya cinta Nadira untuk kamu." aku menghentikan langkahku sesaat, setelahnya aku kembali melanjutkan langkahku.


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92

__ADS_1


__ADS_2