TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
kembalinya Kenand


__ADS_3

Wanita yang tengah duduk dipangkuan pria itu langsung bangkit.


"Maaf ... aku cuma mengantar berkas ini!" ujar Nadira.


Aku langsung meletakkan berkas tersebut diatas meja, dan langsung berbalik dan langsung airmataku lolos begitu saja, padahal aku sudah menyiapkan hati ini jika benar dia telah memiliki pasangan, tapi kenapa hati ini masih saja sakit.


Nadira menghapus airmatanya, dan berlari keluar ruangan menuju ruangan kerjanya.


"Kamu kenapa, Nad? Kamu nangis?" Adit langsung khawatir, bukankah tadi dia baik-baik saja.


"Tidak apa-apa, dit! Aku kurang enak badan saja." ujar Nadira, lalu mengambil tas kerjanya yang berada diatas meja.


"Dit, aku izin pulang ya? kepalaku pusing." tanpa menunggu jawaban dari Adit, Nadira langsung berlari keluar ruangan.


Telpon diatas meja berdering, mengalihkan atensi Adit yang masih bingung dengan sikap Nadira.


"Hallo, sela ..." ucapan Adit terhenti kala seseorang diujung telpon langsung berbicara.


"minta Nadira keruanganku sekarang juga!"


"Maaf, pak! Nadiranya baru saja izin pulang." jawab Adit.


"Pulang." teriak pria diseberang sana.


"Katanya dia ku-kurang enak badan pak." ucap Adit gugup.


Sambungan telpon langsung dimatikan sepihak oleh sang penelpon.


"Kenapa Nadira nangis ya?" Adit masih bingung dengan apa yang terjadi dengan Nadira.


****


"Ada apa dengan wanita itu, Ken?" tanya Adele, dia heran kenapa wanita itu langsung pergi tanpa mengucapkan kata permisi, itu terkesan tidak sopan menurutnya.


"Dia Nadira!" jawab Kenand.


"Oh, my good! Kenapa kamu diam saja! Pasti dia salahpaham, Ken?" Adele membekap mulutnya.


"Aku juga kaget! Aku coba hubungi asistenku dulu?" ujar Kenand


"Dia sudah pulang!" Kenand mulai gelisah.


"Tuhkan, dia pasti salahpaham! Lebih baik kamu susul kerumahnya." pinta Adele.


"Oke ... Aku pergi dulu." Kenand langsung meraih kunci mobilnya dan langsung berlari keluar ruangan.


"Kenapa kesan pertama pertemuan kami seperti ini?" gumam Kenand.


Kenand melajukan kendaraannya menuju rumah Nadira dengan kencang, hanya beberapa menit Kenand sampai dikediaman Nadira.


Ting tong ...


Beberapa kali Kenand menekan bel, dan akhirnya pintu dibuka.


"Nak Kenand?"


"Tante ..." Kenand mencium punggung tangan mamanya Nadira.


"Masya allah, ini kamu nak? kapan kamu kembali?"


"iya tante, ini aku! Aku baru saja kembali!" ujar Kenand.

__ADS_1


Tatapan Kenand teralihkan dengan anak kecil yang sedang menggenggam tangan omanya, dia mengerjabkan matanya beberapa kali, seperti memikirkan sesuatu.


"Ini Davina, tante?" tanya Kenand sambil menatap anak kecil tersebut.


"Iya, ini Davina, Ken!"


"Sayang, kamu ingat ini siapa?" mamanya Nadira ada-ada saja, mana mungkin anak sekecil ini bisa mengingat siapa aku, aku pergi sudah cukup lama, dan usia Davina waktu itu belum genap satu tahun.


"Daddy ..." ujar anak tersebut sambil memeluk kakiku.


Aku langsung menggendong putri kecilku yang sudah lama aku rindukan, aku menghapus sudut mataku yang berair, lalu menatap kearah tante.


"Kenapa Davina bisa ingat, tante? Bukankah Usianya waktu itu masih sangat kecil, tidak mungkin anak yang belum genap berusia satu tahun bisa mengingatnya." Kening Kenand mengkerut.


"Masuk dulu, nak! Kita mengobrol didalam." ajak mamanya Nadira.


"Ken, kami tidak akan membiarkan Davina melupakan Daddynya? Kamu orang pertama yang menyambutnya kedunia ini, orang pertama yang dilihatnya."


"Dan kamu juga orang pertama yang selalu ada dimasa kehamilan Nadira." ujar mamanya Nadira saat sudah duduk diruang tamu.


"Nadira selalu menunjukkan foto-foto kamu dan menceritakan tentang siapa kamu dengan Davina, dia mengatakan jika kamu adalah Daddy nya?" mamanya Nadira menjelaskan.


Rasa penyesalan langsung menyusup, bodohnya aku selama ini menyia-nyiakan kesempatan yang telah Nadira berikan.


"Daddy!" panggil anak yang baru berusia dua tahun tersebut.


"Iya sayang, ini Daddy! Ujar Kenand mencium pucuk kepala Davina, anak tersebut tersenyum kearahku.


"Tante, Nadira dimana?" aku tidak melihat Nadira sedari tadi.


"Dikamar, katanya lagi kurang enak badan." jawab mamanya Nadira.


"Sebentar ya? tante panggilin dulu!"


Cukup lama aku bermain dengan Davina, tatapanku teralihkan dengan wanita yang tengah menuruni anak tangga.


Wanita yang sangat aku rindukan selama ini, inhin rasanya aku menghambur kepelukan wanita itu, tapi aku tidak melihat sedikitpun senyum diwajah Nadira.


"Mommy!" Davina berlari kearah Nadira lalu mengulurkan tangannya, Nadira langsung menggendong putri kecilnya.


"Daddy, itu daddy ya my?" tanya Davina dengan suara khas anak kecil.


"Iya sayang ... Itu daddy! Apa kamu senang bertemu dengannya?" Davina langsung mengangukkan kepalanya.


Nadira mendudukkan Davina dipangkuannya, duduk berhadapan dengan Kenand.


"Oma, my ... oma!" rengek Davina.


"Sepertinya Davina ngantuk, Nad?" mama meraih Davina dari pangkuanku.


"Cucu oma ngantuk?" tanya mama.


Davina mengangguk, lalu meletakkan kepalanya dibahu Omanya.


"Pamit dulu sama Mommy, sama Daddy juga."


"Dada, mommy! Dada Daddy ..." Davina melambaikan tangan kecilnya dengan kepala yang masih menempel dibahu omanya, kami semua tersenyum melihat tingkah Davina.


Suasana kembali hening.


"Kamu apa kabar, Nad?" Akhirnya Kenand memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat!" ujar Nadira dengan wajah datarnya.


"Ehm ... Nad! Soal dikantor tadi ..."


"A-aku minta maaf ya?" jawab Kenand kikuk.


"Seharusnya aku yang minta maaf, karena telah mengganggu waktu berdua kalian." jawaban Nadira terdengar ketus.


"Dan kalian pasangan yang sangat serasi!" timpal Nadira.


"Nad ... Kami bukan sepasang kekasih?"


"Oh ... Itu artinya kalian sepasang suami istri! Selamat ya pak? Kalian pasangan yang sangat serasi."


"Bukan seperti itu Nad! Kami ..."


Nadira langsung menyela ucapan Kenand.


Maaf ya pak Kenand yang terhormat, jika tidak ada kepentingan mendingan bapak pulang, aku ingin beristirahat." Dada Nadira bergemuruh menerima kenyataan jika Kenand kembali dengan membawa istrinya.


"Silahkan pak!" Nadira langsung berdiri, menunjuk kearah pintu utama.


Kenand langsung memeluk tubuh Nadira, walaupun wanita itu terus berontak, Kenand tetap tidak melepaskan dan dia semakin mempererat pelukannya.


"Apa kamu tidak merindukanku, Nad?" tanya Kenand disela pelukannya.


"Tidak, aku tidak akan merindukan suami orang!" Nadira masih terpaku dipelukan Kenand.


"Jika aku bukan suami orang apakah kamu akan merindukanku?" tanya Kenand mencium pucuk kepala Nadira.


Jantung Nadira berdegup kencang mendapatkan perlakuan seperti ini, jujur ... Nadira sangat merindukan pria ini, pria yang selalu dia nantikan, tapi Nadira berusaha untuk menutupi kerinduannya.


"Lepasin, Ken?" Nadira mencoba melepaskan pelukan Kenand.


"Aku tidak akan melepaskannya, sebelum kamu menjawab pertanyaanku?" Kenand tersenyum menatap lekat kewajah cantik Nadira.


"Jawaban apa? Aku sudah menjawabnya." ucap Nadira sambil mendorong tubuh Kenand, tapi usahanya gagal karena Kenand semakin mempererat pelukannya.


"Ihh ... Kamu apa-apaan sih, Ken! Nanti istri kamu marah loh!" Peringat Nadira.


"Istri yang mana?"


"Ya istri kamu yang dikantor tadi lah! Lalu siapa lagi." bibir mungil itu berceloteh, dan membuat Kenand semakin gemes melihatnya.


"Kamu cemburu?" goda Kenand.


"Cemburu? Ya enggaklah! Ge-er banget." Nadira memajukan bibirnya.


"Jangan memanyunkan bibirmu seperti itu?" Nadira menutup mulutnya.


"Kamu jangan berfikiran yang aneh-aneh ya, ken?" Nadira melotot kearah Kenand.


"Memangnya aku mikirin apa? Bukankah kamu yang mikirnya kearah sana."


"Udah ah! Capek ngomong sama kamu."


"Lepasin Kenand." Nadira terus saja mendorong tubuh Kenand.


"Iya ... Iya! Aku lepasin, tapi kamu harus janji dengerin penjelasanku ya?" Kenand mengacungkan jari kelingkingnya.


"Iya, janji!" balas Nadira dengn menautkan jari kelingking mereka.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2