
Kenand mengantarku kembali kerumah, rutinitas yang tidak pernah Kenand lupakan sesibuk apapun dia pasti dia akan menyempatkan diri untuk menjenguk Davina.
Davina sangat beruntung disayangi lelaki sebaik Kenand, tapi sampai saat ini aku masih ragu dengan hatiku, apakah aku bisa benar-benar membuka hatiku untuk Kenand.
Sedangkan saat didekat mas Davin debaran itu masih sangat terasa. Bukannya aku tidak ingin mempertahankan keutuhan rumah tangga kami, tapi ini bentuk janjiku kepada mbak Vania waktu itu.
Aku sudah berjanji jika aku akan mengakhiri hubungan kami, jika aku mengingkarinya itu artinya aku benar-benar menjadikan diriku orang ketiga.
Dan untuk Kenand, rasa nyaman itu ada saat didekatnya tapi aku belum bisa mencintainya, sekarang aku menyerahkan semua takdirku ditangan sang pencipta hanya dia yang mampu membolak balikan hati manusia.
Lamunan ku tersentak saat mendengar celotehan Davina, ternyata Kenand tengah bermain dengannya.
Aku tersenyum melihat pemandangan ini, jika pernikahan kami tidak didasari oleh kebohongan pastinya momen seperti ini akan kunikmati setiap hari bersama mas Davin.
Ini pertama kalinya aku mendengar Davina berceloteh seperti itu. Sepertinya bukan aku saja yang gemas dengan celotehan putriku.
Kenand langsung menggendong tubuh kecil itu dengan tangan kekarnya, Kenand menciumi seluruh wajah putriku, Davina tersenyum diperlakukan seperti itu.
Apa kamu sudah begitu dekat nak dengan Kenand, sampai-sampai celotehan pertamamu kamu persembahkan untuknya.
Mama menghampiri kami yang tengah bermain dengan Davina.
"Bagimana mediasinya Nad? Mama duduk disisku.
"Tidak berjalan lancar ma, mas Davin tetap tidak ingin bercerai." mama menatapku.
"Jadi kamu bertemu dengan Davin?" mama menautkan alisnya.
"Apa dia menyakitimu?" mama terlihat sangat khawatir.
"Tidak ma, mas Davin tidak menyakitiku! Mama tidak usah khawatir.
"Mama hanya takut dia menyakitimu, kamu tahu terakhir kali dia mencarimu kerumah Davin mengamuk dia tidak bisa mengendalikan emosinya."
"Mas Davin sepertinya sudah berubah ma, dia lebih dewasa sekarang dia bisa mengendalikan emosinya dan dia tidak memaksaku seperti yang ia lakukan waktu itu." aku menggenggam tangan mama.
"Kamu membelanya? Jangan bilang kamu tersentuh dengan sedikit perubahannya?" mama menatap tidak suka dengan ucapanku.
"Bisa jadi itu hanya trik Davin untuk meluluhkan hatimu kembali, jangan pernah berfikir untuk kembali lagi dengannya?" mama menatap tajam kearahku.
Aku melirik kearah Nadira dan mamanya, aku sedikit terusik dengan pembahasan mereka.
Aku juga penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan Nadira.
"Ma, aku tidak akan mengubah keputusanku, mama tenang saja." Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku.
Senyum tercetak dibibir Kenand,, itu artinya aku masih memiliki kesempatan untuk memperjuangkan cintaku.
"Mama harap kamu tidak membohongi mama!"
"Mama bisa pegang omonganku." aku meletakkan kepalaku dipundak mama.
"Aku tidak akan membohongi mama, aku tahu bagaimana terlukanya kalian dulu."
__ADS_1
"Nad, sepertinya aku tidak bisa lama disini, James sedang berada dikantorku sekarang."
Aku menatap kearah Kenand yang tengah menggendong Davina, ternyata Davina tertidur dipangkuannya.
"Kenapa kamu tidak memberikannya padaku, Ken? Kamu pasti lelah menggendongnya!" Aku mengulurkan tanganku mengambil alih menggendong Nadira.
"Tidak apa-apa, Nad ... Kalau begitu permisi dulu ya?" Kenand mencium pipi Davina.
"Daddy pergi dulu ya nak, nanti kita main lagi." Aku hanya menanggapi dengan senyuman.
"ya sudah, terimakasih ya." Aku menidurkan Davina keatas tempat tidur.
"Iya Nad ... Tante, aku permisi." aku mencium punggung tangan mamanya Nadira.
"assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Ma, aku antar Kenand kedepan dulu ya?"
"Iya Nad, Davina biar mama yang jaga."
"Ken, aku akan kembali bekerja setelah perceraianku selesai, apa boleh?" kami berjalan beriringan menuju pintu depan.
"Boleh Nad, kamu tidak perlu memikirkan itu sekarang, kamu fokus saja dengan perceraian kalian."
"Kalau begitu aku pergi dulu ya Nad."
****
"Hai Ken, maaf mengganggu waktumu?" ujar James saat aku tiba dikantor.
"Tidak apa-apa, apa kita ada janji James?" aku mengerutkan keningku.
"Tidak ada, aku hanya berkunjung."
"Oh ... Kalau begitu kita cari tempat untuk bersantai saja, didekat sini ada cafe." Ujar Kenand.
Dengan memakai mobilku, kami menuju tempat tujuan.
"Jadi ... Apa ada yang bisa aku bantu, James?" Aku bertanya saat sampai dicafe.
"Sebenarnya ini masalah pribadi sih, aku sedikit tidak enak mengatakannya." ujar James.
"Tidak usah sungkan, James!"
"Baiklah ... Ini soal sekretarismu?" Aku menautkan alisku.
"Nadira ...?" Aku tahu, pasti James ingin mendekati Nadira.
"i-iya ..." James menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bisakah kamu membantuku untuk mendekatinya?" James langsung saja dengan tujuannya, sepertinya sainganku bertambah satu lagi.
__ADS_1
Ini tidak bisa aku biarkan, jika aku diam terus seperti ini James akan mendahuluiku, James sepertinya bukan tipe pria yang akan menyimpan perasaannya.
ekhm ...
"Bagaimana ya James, aku tidak punya hak untuk itu." Aku mencari-cari alasan agar James urung dengan niatnya.
"Setahuku dia sudah memiliki calon suami?" ucapku berbohong.
"Itu tidak jadi masalah, baru calonkan? Istri orangpun siap aku tikung." Aku ternganga mendengar ucapan frontal James.
Aku fikir kesalahanku sudah sangat fatal karena mencintai istri orang, tapi James? Dia terang-terangan siap menikung istri orang.
Meskipun aku mencintai Nadira, sebelum dia resmi berpisah aku tidak akan mengatakan tentang perasaanku terhadapnya.
Tapi jika seperti ini, aku tidak akan membiarkan James mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu, secepatnya aku akan mengatakan perasaanku terhadap Nadira.
"Yang benar saja kamu James." aku geleng-geleng kepala mendengar ucapannya.
"Kamu tidak tahu saja Ken, ini pertama kalinya aku benar-benar jatuh cinta dengan seorang wanita, biasanya aku tidak pernah menganggap serius suatu hubungan." ucapan James terlihat serius.
"Lalu wanita yang bersamamu tempo hari?" aku menautkan alisku.
"Maksudmu, Vania?" James langsung mengerti dengan wanita yang aku maksud.
"Iya ... Bukankah dia kekasihmu?" aku menatap kearah James.
"Kami bukan sepasang kekasih, dia hanya fartner ranjangku." ucap James sedikit berbisik kearahku.
Astaga ... Kasian sekali nasibmu Vania, gumamku.
"Dan sekarang sepertinya aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama." James tipe lelaki yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Jadi aku mohon bantuanmu Ken!"
"Jika Nadira mau denganku aku akan meninggalkan dunia gelapku." ungkap James penuh harap.
Kamu fikir aku akan menyerahkan Nadira dengan laki-laki sepertimu James, Nadira tidak pantas dengan laki-laki yang suka gonta-ganti pasangan, dan memiliki kehidupan gelap sepertimu. Bathin Kenand.
"Baiklah, James ... Aku akan coba membantumu!" aku melirik arloji ditanganku, ternyata hari sudah sore.
"Lebih baik kita kembali kekantor, James."
"Masih ada beberapa pekerjaan yang ingin aku kerjakan disana."
"Tapi kamu jangan lupa untuk membantuku mendapatkan Nadira?"
"Aku tidak janji ... Tapi nanti aku akan berusaha membantumu." padahal itu hanya alasanku saja, mana mungkin aku membiarkan wanita yang aku cinta dekat dengan pria lain.
Akhirnya kami kembali kekantor dan James langsung pamit pergi ...
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92
__ADS_1