TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Kenand menjauh


__ADS_3

Saat keluar dari kamar, aku dikejutkan dengan kehadiran mas Davin.


Aku menatap pemilik rumah ini, mereka sepertinya saling mengenal


"Ah ... Iya, kita belum berkenalan?" pria itu mengulurkan tangannya kearahku.


"Reza ... Aku sahabatnya Kenand, dan juga sahabatnya Davin."


Jadi mereka semua berteman? aku melihat sekeliling rumah ini.


"Kamu mencari Kenand?" tanya Reza, sepertinya dia bisa membaca isi fikiranku.


"Dimana dia?" aku menatap pria yang bernama Reza tersebut.


"Kenand sudah pergi!" balas Reza.


Keningku mengkerut, maksud Kenand apa? Kenapa dia meninggalkanku disini? Dan kenapa juga mas Davin juga ada disini, hanya kebetulan saja atau Kenand yang sudah menghubunginya?


Beragam pertanyaan muncul dibenakku, lalu mengalihkan tatapanku kearah mas Davin yang sedari tadi hanya diam menatapku.


"Apa Kenand yang menghubungi kamu, mas?" tidak ingin bertanya-tanya aku langsung menanyakannya dengan mas Davin.


"Iya, Nad! Memangnya kenapa? Kamu tidak suka kalau mas yang jemput." alis mas Davin bertaut.


"Bukan masalah suka atau tidak, mas! Tapi ya sudahlah aku tidak perlu menjelaskannya."


"Aku akan meminta Lisa menjemputku." Mas Davin menghentikan tanganku yang akan meraih ponselku yang berada didalam tas yang aku jinjing.


"Kamu fikir mas Kemari untuk apa, Nad?"


"sebenci itukah kamu terhadap, mas?" Davin benar-benar telah kehilangan sosok Nadiranya.


Aku menatap kemata mas Davin yang menyendu, terlintas rasa iba dari dalam diri ini melihat keterpurukan mas Davin, kenapa kamu tidak melanjutkan hidupmu, mas! kenapa masih menetap dimasa lalu.


"Kalau begitu aku pamit ya, pak?" aku berpamitan dengan Reza.


"Silahkan ... jangan pangil bapak, panggil Reza saja!" ujar Reza.


"Baiklah, Reza ... Kalau begitu aku permisi." lalu Nadira menghentikan langkahnya dan melirik kearah Davin.


"Mas tidak ingin mengantarku?" lalu aku melanjutkan langkahku.


Senyuman terukir diwajah Davin, wajah yang lesu sedari tadi berubah dengan senyuman yang mengembang.


"Za, aku pamit ya?" Davin undur diri dengan senyuman yang masih terukir diwajahnya.

__ADS_1


Reza mengangguk lalu menepuk pundak Davin, "Semangat." Reza menyemangati.


Bukannya lebih memihak Davin dibandingkan Kenand, tapi hubungan mereka memang sudah terjalin jauh sebelum Kenand mengenal Nadira.


Reza hanya tidak ingin Kenand menjadipenghancur hubungan sahabatnya sendiri, dan jika mereka bersatu kembali suatu saat nanti pastinya Kenand juga yang akan terluka, Reza tidak ingin Kenand merasakan luka yang sama ditinggalkan oleh wanita yang sangat dicintainya, bathin Reza.


Davin hanya menanggapinya dengan senyuman, lalu berlari mengejar Nadira yang telah pergi terlebih dahulu.


Aku membukakan pintu mobil untuk Nadira, Lalu duduk disebelah Nadira tepat dibalik kemudi, perlahan mobil melaju membelah jalanan


"Nad, maafkan tindakan senonoh mas tempo hari, ya?" Davin membuka pembicaraan setelah beberapa saat mereka hanya terdiam.


"Aku sudah memaafkan kamu mas, jadi tidak perlu dibahas lagi." balas Nadira.


"Terimakasih ya, Nad! mas sempat berfikir kebencian kamu akan bertambah setelah kejadian itu."


"Stop mengatakan kalau aku membencimu mas! aku tidak pernah membenci kamu sama sekali."


"Aku hanya kecewa dan terluka karena telah dibohongi, tapi sekarang hal itu sudah berlalu Jadi tidak perlu kita bahas lagi." aku menatap lurus kedepan.


"Apa tidak pernah terfikirkan olehmu untuk memulai semuanya dari awal, Nad?" Davin meraih jemariku kedalam genggamannya.


Entah sejak kapan getaran didada ini mulai menghilang, aku tidak merasakannya lagi saat mas Davin memperlakukanku seperti ini.


Aku menarik kembali tanganku, fikiranku menerawang jauh, kenapa wajah Kenand yang terlintas dibenakku.


"Eh ... I-ya, Ken?" Aku membekap mulutku kenapa aku bisa memanggil nama Kenand dihadapan mas Davin.


"Maaf, mas?" aku mengalihkan tatapanku kearah jendela.


"Tidak apa-apa?" ucap Davin lirih.


Sejauh apa hubungan kalian, nad? disaat bersamaku pun kamu memikirkan Kenand, apa rasa cinta itu benar-benar sudah kamu kubur untuk mas, Nadira? Bathin Davin.


Sakit sekali mendengar wanita yang sangat aku cintai menyebut nama laki-laki lain dihadapanku.


Apa rasa sakit seperti ini yang kamu rasakan saat mengetahui kebenarannya waktu itu, Nad! mungkin bahkan jauh lebih sakit dari yang aku bayangkan.


Pantas saja kamu tidak bisa melupakannya, walau seribu kata maaf aku ucapkan, kebenaran menyakitkan itu tidak akan mungkin bisa menghapus kebohonganku waktu itu, walaupun kamu sudah memaafkannya.


Tapi aku mohon tuhan, bukakan pintu hati Nadira agar dia bisa memberikan aku kesempatan satu kali lagi untuk membahagiakannya, doa Davin dari lubuk hatinya yang terdalam.


Tidak ada pembicaraan lagi diantara kami, kami sama-sama bungkam dengan fikiran kami masing-masing.


Hingga kami sampai dihalaman rumah Nadira, saat aku ingin keluar membukakan pintu untuknya, Nadira menghentikanku.

__ADS_1


"Biarkan aku sendiri, Mas!" ujar Nadira.


Aku tidak menolaknya, tidak ingin memaksa, mungkin aku bisa memulai dengan hal-hal kecil seperti ini, jangan pernah memaksakan suatu kehendak yang akan menimbulkan perdebatan.


"Terimakasih ya, mas!" Nadira melambaikan tangannya lalu melangkah memasuki perkarangan rumahnya.


Setelah kepergian mobil mas Davin, aku melangkah masuk kedalam rumah, menuju kamar Davina putriku.


Semalaman aku tidak melihat wajah lucu putri kecilku, aku sangat merindukannya.


"Assalamualaikum?"


"Wa'alaikumsalam? Kamu sudah kembali, Nad?" mama melihat kearah belakangku.


"Kamu pulang diantar siapa?" tanya mama.


"Li-Lisa ma! ucapku terbata, tidak mungkin aku mengatakan jika mas Davin yang mengantarku pulang.


"Terus dia dimana?"


"Lisa sedang terburu-buru, katanya nanti dia akan main kemari." bohong Nadira.


"Ya sudah ... karena kamu sudah kembali jadi mama bisa pergi sekarang." mama memberikan Nadira ketanganku.


Davina tertawa riang saat sampai digendonganku, "Kamu pasti merindukan Mommy, ya?" Aku mencium setiap jengkal wajah putriku.


"Memangnya mama mau kemana?" Aku beralih menatap mama.


"Mama mau ngumpul dengan teman-teman Arisan mama! Ya sudah mama berangkat dulu ya, sudah telat nih." mama mencium kedua pipiku.


Aku membawa Davina kekamarku, lalu menatap wajah cantik putriku, waktu kecil wajah putriku sangat mirip dengan papanya, tapi seiring bertambahnya usia, perpaduan wajahku dan mas Davin tercetak diwajah Davina.


Sepertinya sudah waktunya aku mengatakan tentang keberadaan Davina dengan mas Davin, kali ini mama akan benar-benar mempertemukan kalian, Nak! Nadira membelai wajah cantik putrinya.


Aku meraih ponselku dari dalam tas, aku masih kefikiran soal Kenand yang meminta mas Davin untuk menjemputku.


Beberapa kali aku menghubungi nomornya tapi tidak Kenand angkat sama sekali, padahal sambungan telponnya tersambung.


Ada apa dengan kamu, Ken? Apa aku membuat suatu kesalahan yang tidak kusadari, perasaanku semakin gelisah.


Aku memutuskan bermain kembali dengan Davina, mungkin Kenand masih sibuk, aku masih berfikiran positif.


Dan tanpa Nadira sadari, ternyata Kenand masih berada disana saat mereka berdua masuk kedalam mobil yang sama.


Semoga kamu bahagia bersama Davin, Nadira! meskipun aku mengorbankan perasaanku sendiri, asalkan kamu tidak menderita lagi, itu sudah cukup untukku.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY: MIKHAYLA92


__ADS_2