
Hari ini aku menemani James keluar kota.
"James bolehkah aku berkeliling dikota ini? Ucapku manja.
Pagi ini james akan bertemu dengan fartner kerjanya, dan pastinya aku akan suntuk sendirian diapartemen.
"Tentu boleh honey." James memberikan satu buah kartu blackcard ketanganku.
Senyumku merekah, sudah lama aku tidak memiliki kartu ini, terakhir aku memilikinya saat menjadi istrinya mas Davin.
"Kamu boleh menggunakannya sesukamu, ingat jangan lupa beli baju dinas untuk kita nanti malam." James memelukku lalu ******* bibirku dengan sedikit kasar.
"Jika tidak ada pekerjaan aku sudah melemparkanmu keranjang saat ini juga." James melepaskan pelukannya.
Lalu kembali mengecup sekilas bibir ini.
"Aku berangkat dulu, ingat ... Jangan lupa membelinya."
"Iya sayang ... Aku akan membeli bermacam-macam model nanti biar kamu tidak bosan."
Setelah kepergian james aku membersihkan tubuhku lalu berganti pakaian dan langsung berangkat menuju pusat perbelanjaan terbesar dikota ini.
James menyewa sebuah mobil untukku bepergian dikota ini.
Aku akan belanja sepuasnya disini, aku memilih pakaian dinas yang diminta james, aku akan membuatnya benar-benar kecanduan padaku.
Setelah puas berbelanja, aku memutuskan untukmencari tempat bersantai.
Didepan sebuah cafe yang ingin aku kunjungi aku seperti melihat wanita yang sangat mirip dengan Nadira.
Aku melajukan mobilku sedikit pelan dan benar wanita itu benar-benar Nadira, jadi kamu hamil Nad, pasti itu anaknya mas Davin.
Senyum jahat tercetak dibibirku, ternyata aku tidak perlu susah payah mencarimu Nad.
Aku akan buat kamu dan sekalian anak yang ada dikandunganmu lenyap dari dunia ini Nadira, aku menepikan mobilku menunggu waktu yang tepat.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi saat Nadira akan menyeberang jalan.
Tapi rencanaku gagal seseorang menarik Nadira kesisi jalan, sesaat aku menghentikan mobilku, aku melihat kesisi kaca spion mobilku, Kenand?
Lalu aku melajukan mobilku kembali, aku tidak ingin ketahuan telah melakukan tindakan yang melawan hukum, aku terlalu gegabah kali ini.
Sepanjang jalan aku masih memikirkan Kenand sahabatnya mas Davin yang menolong Nadira saat aku akan menabraknya tadi, apa ini hanya kebetulan saja atau mereka benar-benar sudah saling mengenal.
Akhirnya aku memutuskan kembali keapartemen milik james.
***
Nadira memilih keluar dari cafe terlebih dahulu saat aku sedang membayar tagihan. Kami memilih sebuah cafe yang berada tepat diseberang jalan tepat didepan perusahaanku hanya menghabiskan waktu istirahat siang.
Saat aku keluar aku melihat Nadira sedang menyeberangi jalan, situasi jalanan saat ini tidak terlalu ramai.
Aku melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi kearah Nadira, bukannya tadi tidak ada kendaraan yang lewat? lalu dari mana asal mobil tersebut.
"Nadiraaaaa ... Aku berlari dengan secepat mungkin lalu menarik Nadira dengan kencang kesisi jalan, sekilas aku melihat kearah mobil yang akan menabrak Nadira berhenti.
Jadi kamu pelakunya ...
Dengan cepat aku membalikan posisi Nadira agar tidak terjatuh membentur aspal, Nadira jatuh tepat diatasku, ada rasa perih dikedua sikuku saat menahan tubuh Nadira yang ada diatasku.
Kami saling bertatapan, sampai tatapan kami teralihkan dengan rintihan Nadira yang menahan sakit, Nadira bangkit dari atasku sambil memegang perutnya.
"Ken ... Pe-perutku sangat sakit Ken." aku memegang perutku yang teramat sakit.
Aku melihat darah mengalir dari sela-sela kakiku.
"Da-darah ... Kenand darah Ken, kenapa ada darah Kenand." aku diserang rasa panik.
"Kamu jangan panik Nad, kita kerumah sakit." aku langsung menghubungi sopirku yang tengah berada dikantor.
Aku langsung berfikiran buruk dengan kandunganku, apakah kamu sedang kesakitan nak?
Sakitnya semakin bertambah, aku kepalaku mulai pusing dan disekelilingku rasanya berputar-putar.
"anakku ken ... Selamatkan anakku." Suaraku mulai memelan dan akhirnya kesadaranku hilang.
Aku menggendong Nadira saat sopir kantorku tiba didepan kami, menidurkan Nadira dipangkuanku, mobil melesat kencang membawa kami kerumah sakit.
Aku tidak melepas sedikitpun pandanganku dari wajah Nadira, sambil mengenggam erat tangannya. Ini untuk yang kedua kalinya aku merasa ketakutan setelah kepergian adikku.
"Kalian pasti akan baik-baik saja Nad." aku menguatkan diriku sendiri.
"Lebih cepat pak" aku sangat cemas, takut terjadi sesuatu terhadap Nadira.
"Iya ... den."
Mobil sampai dipelataran rumah sakit, aku berlari membawa Nadira dalam gendonganku kedalam rumah sakit.
"dokter ... Tolong selamatkan dia!" Aku meletakkan Nadira keatas brangkar.
Nadira dilarikan keruang UGD, aku sangat gelisah saat Nadira didalam sana.
Aku masih mondar mandir diluar ruangan, hingga pintu ruangan terbuka.
Dokter menghampiriku, "bayinya harus segera dilahirkan?" kecemasan terlihat jelas diraut sang dokter.
"Usia kehamilannya baru tujuh bulan dok, apakah bisa?"
"insya allah bisa pak, bapak berdoa saja semoga ibu dan anaknya selamat." dokter meyakinkanku.
"Pasien mengalami pendarahan pak, jika bayinya tidak dilahirkan kemungkinan salah satu dari mereka tidak bisa diselamatkan."
"Kemungkinan terburuknya ibu dan anak tidak bisa diselamatkan jika kita terlambat menanganinya."
"Lakukan yang terbaik dok, aku penanggung jawabnya."
"Baiklah segera tandatangani berkas-berkas dan segera urus semua administrasinya.
"bawa pasien keruangan operasi segera." perintah dokter tersebut.
Setelah menandatangani semu berkas dan mengurusi semua biaya operasi, aku segera menghubungi kedua orangtua Nadira.
Tut ... Tut ...
"Assalamualaikum tante."
"Wa'alaikumsalam Ken?" ujar mamanya Nadira.
"Tante ... Bisa segera datang kesini? Nadira akan segera melahirkan."
"A-apa ... Bukannya usia kandungannya baru tujuh bulan?"
"Apa yang terjadi dengan putri tante Ken?"
"Nanti sampai disini akan aku ceritakan."
"Tante harus tenang, dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan mereka." aku menenangkan mamanya Nadira.
"Baiklah Ken, kirim alamat rumah sakitnya."
"Kami akan segera kesana."
Aku juga menghubungi Lisa sahabatnya Nadira. Pasti Nadira akan bahagia jika orang-orang yang dia sayangi berada disekelilingnya.
Entah berapa lama aku menunggu, aku melihat pintu ruangan terbuka suster mendorong sebuah inkubator yang didalamnya berada seorang bayi yang sangat kecil.
Aku mendekati bayi tersebut, "bagaimana kondisinya sus?"
"Karena bayinya terlahir prematur, beberapa waktu dia akan dirawat dirumah sakit dahulu pak." ujar suster tersebut.
"Lalu bagaimana kondisi ibunya? Aku sangat mengkhawatirkan Nadira.
"Pasien sedang ditangani oleh dokter didalam, saya permisi pak."
"Sus ... Anaknya lelaki apa perempuan?" aku menghentikan langkah suster tersebut yang hendak pergi.
"Perempuan, apa bapak tidak ingin men-iqomah putri bapak terlebih dahulu?"
"Eh ... Ap-apakah boleh?"
"Tentu ... Bapakkan ayahnya." ucap suster tersebut.
"I-iya ... " Suster membantu meletakan bayi Nadira dilenganku, aku mendekatkan mulutku kearah telinga sang bayi lalu membaca lafadz iqomah ditelinganya.
Allahu akbar, allahu akbar, asyhadu allaa ilaaha illallaah, asyhadu anna muhammadar rasuulullah, hayya 'alash shalaah, hayya 'alal falaah, Qad qaamatish shalaah, Qad qaamatish shalaah, allahu akbar, allahu akbar, laa ilaaha illallah.
__ADS_1
Aku mencium pucuk hidung bayi Nadira, ada perasaan hangat yang menjalar disekujur tubuhku.
"Bukan hanya ibumu yang mampu memporak-porandakan hati ini, tapi kamu yang baru saja terlahir didunia ini juga mampu mencuri perhatianku.
Aku memberikan bayi Nadira kembali, suster langsung meletakkannya kembali ke incubator, lalu membawa sang bayi keruang perawatan khusus.
Aku masih menunggu didepan ruang operasi, kenapa lama sekali? Aku semakin gelisah.
Sebuah tepukan mengejutkanku, ternyata orangtuanya Nadira, mereka datang bersama Lisa.
"Kami memilih duduk dikursi tunggu, tepat disisi ruang operasi.
"Ken ... Bagaimana keadaan mereka?" ujar mamanya Nadira.
"Anaknya baik-baik saja tante! Sedangkan Nadira masih ditangani dokter didalam sana." mereka mengikuti adah pandanganku.
"Aku sudah melihat bayinya Nadira, dia sangat cantik sama seperti ibunya."
"Jadi cucu tante perempuan? Lalu bagaimana dengan Nadira." aku terisak, kenapa penderitaan putriku tidak pernah berakhir.
"Tante jangan cemas, Nadira pasti akan baik-baik saja, dia adalah wanita yang kuat."
"Kenand benar tante, Nadira memang wanita yang kuat, dia pasti mampu melewati ini semua." timpal Lisa.
"Lalu apa sebenarnya yang terjadi Ken? Kenapa bayi Nadira bisa terlahir prematur?" tanya papa Nadira.
"Ceritanya panjang om, intinya tadi saat kami selesai beristirahat dicafe depan perusahaan, saat akan menyebrang Nadira hampi ketabrak mobil."
"beruntung Nadira tidak kenapa-kenapa, aku belum tahu apa penyebab Nadira pendarahan dokter belum menjelaskan."
"A-apa Nadira hampir ketabrak?" ujar mama Nadira.
"Maaf tante, aku lalai menjaganya?"
"Tidak Ken, kamu tidak salah, musibah tidak dapat kita hindari."
Hingga pintu ruangan operasi terbuka, kami segera berdiri berjalan kearah dokter yang baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan putri sanya dokter?"
"Semuanya baik-baik saja bu, kita hanya perlu menunggu pasien bangun." ucap sang dokter.
"Syukur alhamdulillah." ujar papa Nadira.
Akhirnya kami bisa bernafas lega, Nadira dipindahkan keruangan inap.
Setelah Nadira dipindahkan, orangtua Nadira dan Lisa memintaku untuk menjaganya sementara mereka ingin melihat bayi Nadira.
Ada perasaan bahagia saat melewati masalah ini, sebentar lagi perjuangan cintaku akan dimulai, entah aku akan berhasil memenangkannya atau gagal.
Aku menautkan jemariku kesela-sela jemari Nadira, aku menatap wajah cantik itu. Tidak kuduga aku bisa jatuh cinta lagi, lalu aku mengecup jemari itu sangat lama, jika kamu sadar aku pasti tidak akan berani melakukannya.
Ceklek ... Pintu ruangan terbuka, ternyata mereka telah kembali buru-buru aku melepaskan genggaman tanganku dari tangan Nadira.
Mereka mendekat kearahku yang duduk tepat disisi ranjang.
"Masih belum siuman Ken?" ucap Mama Nadira.
"Belum tante."
"Kamu pasti lelah sejak tadi mengurus Nadira? Biarkan kami yang menjaganya, kamu beristirahatlah Ken." papanya Nadira memintaku untuk beristirahat.
Sebenarnya aku masih sanggup menjaga Nadira, aku ingin saat dia siuman nanti dia melihatku masih tetap berada disampingnya.
"Aku masih ingin disini tante."
Papa Nadira menepuk pundakku, "Kamu butuh istirahat Ken, jika Nadira siuman kami akan mengabari segera."
Aku bangkit dari kursi, "Baiklah om, aku permisi dulu."
"Lis ... Aku ingin membicarakan sesuatu?"
Kami berdua melangkah keluar ruangan setelah berpamitan dengan orangtua Nadira.
Aku mengajak Lisa kekantin rumah sakit.
"Apa ada hal penting yang ingin kamu katakan Ken? Lisa menatapku penuh tanya.
"Ada ... soal pelaku yang ingin menabrak Nadira."
Aku mengangguk, "Dan kamu tahu pelakunya?"
"Siapa?" aku sangat penasaran, Nadira tidak pernah berselisih dengan orang selama ini, kecuali ...
"Apakah istri pertama Davin?"
"Kamu benar Lis, Vania yang melakukannya."
"Astaga ... kenapa wanita itu masih dendam, Nadirakan sudah melepaskan Davin."
"Tapi kenapa dia bisa ada dikota ini Ken?"
"Entahlah Lis, Aku juga kaget saat mengetahui jika dia pelakunya."
"Kita tidak bisa membiarkan ini begitu saja Ken, sepertinya wanita ini sangat dendam dengan Nadira."
"Kamu benar Lis, Vania memang benar-benar dendam terhadap Nadira karena Davin telah menceraikannya dan dia menganggap Nadiralah penyebabnya."
"Apa ... Davin menceraikan wanita itu?" aku sanga terkejut mendengarnya.
"Davin benar-benar pria brengsek, dulu alasannya tidak menceraikan Vania karena anaknya sakit."
"Tapi buktinya sekarang anaknya belum sembuh dia tetap menceraikan istrinya."
"Kok kamu tahu jika Davin menceraikan istri pertamanya?" keningku mengkerut.
"Karena aku mengenali mereka."
"Oh ... " Kenapa bisa kebetulan seperti ini, mereka saling mengenali, tapi kenapa Kenand mau membantu Nadira untuk menjauhi Davin."
Sudahlah, bukan urusanku juga. Lebih baik aku memikirkan Nadira.
"Ken ... bagaimana jika nanti wanita itu menyakiti Nadira lagi, tindakan kriminal saja berani dia lakukan."
"Makanya aku membicarakan ini sama kamu."
"Dan jangan sampai orangtuanya Nadira tahu, mereka sudah cukup menderita dengan masalah yang dihadapi Nadira saat ini."
"Baiklah, aku juga tidak ingin menambah beban fikiran mereka, jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Aku sudah punya rencana, tapi aku butuh bantuanmu."
"Tunggu Nadira keluar dari rumah sakit, Aku akan kembali kesana."
"Baiklah ... Jika sudah menyangkut Nadira aku pasti akan siap membantu." ujar Lisa.
"Kita kembali kedalam Lis, apakah Nadira sudah siuman?"
Lisa mengangguk menyetujui.
Saat kami sampai ternyata Nadira sudah siuman, aku sedikit tenang sekarang melihat kondisi Nadira baik-baik saja.
Aku dan lisa melangkah mendekat kearah Nadira.
"Syukurlah kamu baik-baik saja Nad." Lisa duduk disisi ranjang lalu menggenggam tanganku.
"Iya Lis, ini berkat Kenand." aku menatap Kenand yang berdiri disebelah Lisa.
"Terimakasih ya Ken, kamu sudah membantuku untuk yang kesekian kalinya."
"Iya Nad ... Om sama tante kemana?" aku tidak menemukan mereka disini.
"Aku meminta mereka membawa anakku kesini."
"Mama bilang kamu sudah melihatnya? Ada binar bahagia terpancar dimata Nadira.
"Dia sangat cantik, sama seperti ibunya." Aku tersenyum kearah Nadira.
"Benarkah ... Tapi apa dia harus dirawat lama disini?" aku sangat sedih jika hal itu terjadi.
"Tidak perlu Nad, aku akan menyewa dokter khusus untuk merawatnya dirumah."
"Kenapa kamu begitu peduli padaku Ken?"
"Entahlah ... Dari awal hatiku sudah tergerak untuk membantumu, mungkin aku melihat kesedihan adikku didirimu Nad."
__ADS_1
Saat kami tengah berbincang suster masuk sambil mendorong incubator disusul mama dan papanya Nadira.
"Suster, apakah aku boleh menggendongnya?" ujar Nadira.
"Bisa buk, sebentar." suster mengeluarkan sang bayi dari incubator lalu memberikannya kepada Nadira.
Aku menyambut buah cintaku bersama mas Davin, kenapa dia sangat mirip dengan papanya, airmataku lolos dari tempatnya.
Apa kamu mau menyiksa mommy nak? Pasti akan sulit untuk mommy melupakan papamu jika setiap hari mommy melihat wajahmu.
"Sayang ... Kamu kok nangis." mama menghapus airmataku.
"Tidak apa-apa ma, aku terlalu bahagia akhirnya aku menjadi seorang ibu." mama mengusap pundakku.
"Nad ... Masya allah Dia cantik sekali!" ujar Lisa.
"Pasti cantiklah, menuruni gen opanya?" timpal papa Nadira.
Kami yang tengah berada diruangan ini tertawa mendengar candaan papa Nadira.
"Halo sayang ... kamu kok cantiknya melebihi mommy nya sih, ada yang punya saingan nih sekarang." Aku menghibur Nadira, aku tahu Nadira pasti sedih. Lihat saja wajah bayinya sangat mirip dengan Davin.
"Jangan menggodaku" aku melirik tajam kearah Lisa.
"Kamu lihat sayang, mommy kamu takut punya saingan."
"Lisa ..." aku mencubit pinggang Lisa.
"Sudah-sudah, kalian kalau sudah ketemu pasti saling menjahili seperti ini."
"Ken, kamu tidak jadi pulang?" aku lihat Kenand masih memakai pakaian yang sama.
"Be-belum tante." aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Aku menggeleng melihat tingkah Kenand, dari sini aku bisa menilai bahwa Kenand memang lelaki yang baik.
Aku menatap Kenad, benar ... Baju yang Kenand pakai masih sama dengan baju yang dia pakai saat dikantor pagi tadi, dan sekarang sudah malam.
"Ken, kamu jangan terlalu baik terhadapku, aku tidak tau akan membayarnya dengan cara apa?" aku merasa bersalah, sudah terlalu banyak aku merepotkannya.
"Nanti biar aku saja yang minta bayarannya, ingat ... Kamu tidak boleh menolaknya." ujar Kenand.
"Tentu ... Aku tidak akan menolaknya."
"Bilang saja jika kamu membutuhkan sesuatu." Kenand menanggapi ucapanku dengan senyuman.
Aku meminta suster meletakkan bayiku kedalam incubator.
"Sayang ..." mama mengusap pucuk kepalaku.
"Apakah kamu sudah memiliki nama untuk putrimu?"
Aku terdiam sejenak, aku masih ingat saat awal-awal kami menikah. Aku dan mas Davin sering membahas soal anak.
"Sayang ... Jika kita punya anak nanti nama apa yang akan kamu berikan?" ujarku kepada mas Davin kala itu.
"Mas ingin anak kita nanti ada gabungan antara nama kamu dan nama mas, karena kehadirannya adalah sebagai bukti cinta kita."
"Lalu namanya siapa mas?"
"Jika laki-laki akan mas beri namanya Vindra."
"Jika perempuan?" aku menatap kemanik mas Davin.
"Jika perempuan mas akan berikan nama Davina."
"Nama yang indah!" ucapku tersenyum menatap wajah tampan suamiku.
"Tentu ... Seindah kamu! Mas Davin mencuil pucuk hidungku.
Sebuah tepukan membuyarkan lamunanku.
"Ditanya nama kok melamun." ternyata tepukan itu berasal dari lisa.
"Na-namanya Davina."
Davina pratama, Lis." ucapku terbata.
Aku tetap memberikan nama papanya dibelakang nama putriku, bagaimanapun mas Davin tetap papa kandungnya.
"Nama yang indah Nad." aku melirik kearah Kenand, ekspresinya berubah seketika.
"Om, tante, aku pulang dulu ya? Besok aku akan kembali lagi." ujar Kenand.
"Sudah seharusnya kamu pulang Ken, kamu pasti sangat lelah." ucap papanya Nadira.
"iya om, kalau begitu aku permisi." sebelum mendekat kearah Nadira aku juga berpamitan dengan Lisa.
"hai cantik ... Om Kenand pulang dulu ya? Besok om pasti kembali kesini lagi." saat aku tiba didekat Nadira dan bayinya yang sedang berada diincubator, aku menatap bayi Nadira yang tengah tertidur.
"Nad, aku pulang dulu."
"Iya ... Kamu hati-hati Ken." Aku mengangguk mengiyakan.
Aku berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit, aku masih memikirkan perihal yang terjadi saat didalam ruangan tadi.
Tidak seharusnya aku cemburu dengan nama tersebut. Nadira memberikan nama Davin dibelakang nama putrinya, memang sudah seharusnya seperti itu, Davin adalah ayah kandungnya.
"Tapi tetap saja rasanya ada yang membakar dada ini, Aku membanting stir meluapkan rasa kekesalanku.
***
Setelah kembali Vania langsung mengurung diri dikamarnya, mondar-mandir sambil menggigit ujung kukunya.
"Bagaimana jika Kenand melihatku? Aku tidak ingin hal ini akan menjadi penghalang balas dendamku.
Tapi kenapa mereka bisa ada dikota yang sama, apakah mereka saling mengenali? Aku berperang dengan fikiranku sendiri.
Lebih baik aku membersihkan tubuhku dahulu, aku melirik jam diatas nakas, sebentar lagi james akan sampai dia menghubungiku saat diperjalanan tadi, lalu gegas aku beranjak kekamar mandi.
Aku mengambil pakaian dinas yang diminta james belikan siang tadi, lalu memakainya. Aku menatap pantulanku dicermin
Miris sekali nasibmu Vania, rela menjual tubuhmu demi sebuah dendam.
Ceklek ... Bunyi pintu terbuka.
Aku melihat James berjalan kearahku.
"Kamu terlihat cantik dengan pakaian itu." ujar james.
Aku hanya menanggapi dengan senyuman, James memelukku, lalu berbisik manja ditelinga."
"Aku ingin memakanmu." membuat bulu kudukku merinding seketika.
Malam ini kami melakukannya lagi, tanpa mengingat jika kami telah melakukan dosa yang sangat besar.
Jangan lupakan jejak-jejak yang ditinggalkan james ditubuhku, dia akan puas jika telah menggunakan kekerasan saat melakukannya.
Aku tertidur dipelukan James, setelah penyatuan kami.
"James, bisakah kita kembali hari ini?" aku duduk didepan meja rias setelah keluar dari kamar mandi, aku menatap James dari pantulan cermin, dia masih betah didalam selimut yang membalut tubuhnya.
"Kenapa? Apakah kamu tidak ingin menikmati suasana dikota ini?" James mengkerutkan keningnya.
"Aku kurang suka pemandangan disini."
"Ya sudah kalau kamu menginginkan itu, kita akan kembali soren nanti."
"Aku akan bersiap-siap, pagi ini aku ada janji dengan salah satu rekan bisnisku."
"Aku akan membawamu, ingat ... Kamu harus menjaga sikapmu karena ini adalah tamu yang sangat penting untukku."
James mengecup sekilas bibirku saat akan beranjak kekamar mandi.
James mengajakku kesebuah restoran ternama dikota ini, dia akan bertemu rekan bisnisnya disini.
Beberapa saat kami sampai, seseorang yang sangat aku kenal mendekat, james memintaku berdiri untuk menyambut tamu yang sangat penting yang dikatakan James semalam.
Apakah dunia ini benar-benar sempit, kenapa aku harus bertemu dengannya.
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92
Buat pembaca setiaku, jangan lupa Like, vote, dan tinggalkan jejak komen kalian ya, Biar author lebih semangat lagi up nya.
__ADS_1
Happy reading😘😘