TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Kejujuran Nadira


__ADS_3

Aku melihat tatapan tidak bersahabat mama layangkan kearah mas Davin yang tengah menggendong Davina.


Sebenarnya aku sudah meminta mas davin tidak ikut bergabung bersama kami, mama sangat membenci mas Davin.


Tapi mas Davin tidak mau mendengarkanku, dia akan Menanggung resikonya apapun yang terjadi, dia akan menerima apapun yang akan mamaku katakan asalkan dia bisa menghabiskan waktunya bersama Davina.


"Apa-apaan ini Nadira! Kenapa dia bisa ada disini?" mama menatap tidak suka kearah mas Davin, berbeda dengan papaku yang bersikap netral, sedangkan Sean hanya bingung menatap kami.


"Ma ... Jangan ribut disini? Malu dilihat orang banyak." papaku menenangkan, kalau sudah melihat mas Davin mama pasti kesulitan menahan emosinya, tapi begitulah cara mamaku menunjukkan cintanya kepada putri semata wayangnya.


"Benar kata papa! Kita bicarakan nanti dirumah." timpal Nadira.


"Berikan cucuku!" mama ingin mengambil alih menggendong Davina, tapi papa langsung menghentikannya.


"Biarkan Davina bersama papanya."


"Mama tidak lihat, cucu kita pasti merindukan sosok papanya." aku menatap Davina yang menidurkan kepalanya dipundak mas Davin, terlihat jelas jika Davina sangat merindukan papanya.


"Tapi pa ...?" ucapan mama terhenti ketika papa menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, tapi jangan kamu bawa pergi cucuku." mama menjauhkan diri dari kami, papa mengikuti kemana arah langkah mama.


Sekarang tinggal kami berempat, Sean masih bengong ditempat duduknya.


"Dia papanya, Davina!" aku memperkenalkan Sean yang terlihat kebingungan dengan mas Davin.


"Sean." ujar sean mengulurkan tangannya.


"Davin ..." mereka berdua berjabat tangan.


Jadi lelaki ini papanya Davina, kenapa mereka sampai berpisah, padahal dari tatapan pria ini dia masih sangat mencintai Nadira? Lalu kenapa Kenand bisa seakrab itu dengan Nadira dan keluarganya.


Kisah mereka benar-benar menbagongkan, eits salah membingungkan, gumam Sean.


"Mas jika lelah memangkunya, lebih baik letakkan diatas stroller, Davina juga sudah tidur." pinta Nadira.


"Tidak usah, Nad! mas masih sanggup, dan mas masih belum puas menatapnya." mas Davin mempererat tubuh Davina kepelukannya.


"Maaf ... pak Davin jangan tersinggung dengan pertanyaanku, ya? Aku masih bingung kenapa pak Davin bilang belum puas menatap Davina? Jadi ini pertama kalinya kalian bertemu?" kening Sean mengkerut.


Mas Davin hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Sean.


"Benar ... Ini pertama kalinya kami bertemu." balas mas Davin.

__ADS_1


"Jadi kalian sudah berpisah sebelum Davina lahir?" tanya Sean lagi, mas Davin hanya mengangguk.


Setelah beberapa waktu berbincang papa dan mama menghampiri kami.


"Nad ... Kita pulang?" ajak mama yang masih bersikap dingin.


"Ma ... Izinkan aku yang mengantar mereka pulang?" pinta mas Davin.


"Tidak perlu, Nadira biar pulang bersama kami."


"Sini sayang gendong oma!" kebetulan Davina memang sudah bangun.


Diluar dugaan Davina tidak mau digendong omanya, tangan mungilnya masih memeluk tubuh mas Davin.


"Ma ... Jangan dipaksa, biarkan Davin yang mengantar mereka pulang."


"Ayo Sean antar om sama tante pulang." ajak papa, mama cemberut melihat cucu kesayangannya bergelayut manja dengan papanya yang baru sekali dijumpainya.


"padahal mama yang merawatnya, kenapa sekali bertemu Davin dia langsung nempel!" gerutu mama, kami hanya tersenyum melihat sikap peotektif mama terhadap cucunya.


"Ingat Davin, langsung antar kerumah!" setelah mengatakan itu mama langsung pergi dari hadapan kami.


Mas Davin membukakan pintu mobil, lalu mendudukan Davina dipangkuanku.


Kontak bathin Davina sangat kuat terhadap mas Davin, anak satu tahun itu sudah mengenali mas Davin sebagai papanya.


"Terimakasih ya, Nad?" mas Davin melirik kearahku sebentar lalu kembali menatap lurus kedepan.


"Untuk?" aku mengalihkan pandanganku kearah mas Davin.


"Semuanya! terimakasih karena sudah memberikan mas kesempatan untuk merawat putri kita bersama-sama."


"Maaf jika mas terlambat mengetahui keberadaannya."


"Seharusnya aku yang minta maaf, mas! dari awalaku yang tidak memberitahukan keberadaan Davina." Nadira benar-benar menyesal telah memisahkan mereka selama satu tahun, karena terluka dan kecewa atas kebohongan mas Davin aku sampai membawa Davina kedalam masalahku.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Nad! Semuanya terjadi karena kebohongan mas dimasa lalu."


"Andai mas jujur lebih awal, mungkin kalian tidak akan pergi dari kehidupan mas, dan kita bertiga bisa bahagia hingga saat ini." sesal Davin.


"Mungkin memang jodoh kita hanya sampai disana, mas?" Nadira mengalihkan tatapannya kearah jendela.


"Kenapa kamu tidak memikirkannya lagi, Nad! Kita bisa memulai semuanya dari awal, setidaknya demi memberikan orangtua yang lengkap untuk putri kita." mas Davin meraih jemariku membawa kedalam genggamannya.

__ADS_1


"Maaf mas! Tapi aku tidak bisa." aku menarik kembali tanganku.


"Kenapa, Nad?" mas Davin menepikan mobilnya lalu menatapku dengan kening mengkerut.


"Apa kamu tidak memikirkan Davina, pasti dia membutuhkan Orangtua yang lengkap disetiap pertumbuhannya." mas Davin meraih kedua pipiku.


"Mas mohon ... Mari kita mulai dari awal lagi, beri mas kesempatan untuk membahagiakan kalian?" mohon Davin.


"Maaf, mas! Aku benar-benar tidak bisa."


"kita bisa merawat Davina bersama-sama tanpa adanya ikatan pernikahan, aku membebaskan mas menemui Davina kapanpun." Nadira meraih jemari Davin yang berada dipipinya.


"Beri mas alasan, kenapa kamu tidak ingin kembali? Bukankah kita saling mencintai?" mas Davin menatap kedalam mataku.


Tatapan itu masih sama, yang berubah itu aku, cintaku tidak sebesar dulu lagi ada nama lain yang telah mengisi hati ini.


"Karena rasa itu sudah tidak sama lagi, mas! Aku hanya menganggapmu sebagai ayah dari anakku, tidak lebih."


"Secepat itu kamu melupakan cinta kita, Nad?" dada ini seperti ditikam seribu belati, aku tidak menyangka Nadira melupakan cintanya untukku.


"Aku juga tidak tahu mas, entah sejak kapan rasa itu menghilang, tapi disaat bersama kamu getaran itu tidak kurasakan lagi." Nadira tertunduk, dia harus mengatakannya sekarang dan tidak ingin memberikan Davin harapan palsu.


"Sudahlah ... Nanti saja kita bahas." mas Davin melepaskan genggamanku, lalu kembali melajukan mobilnya.


"Mas ... Kita harus membahasnya sekarang?" pinta Nadira.


"Tidak, Nad! Mungkin kamu sedang tersesat! Mas Sangat yakin cintai itu pasti masih ada untuk mas." kugelengkan kepalaku dengan cepat, pasti ada yag salah, Nadiraku tidak mungkin melupakan cintanya.


"Aku tidak tersesat, mas! Ucapan Nadira sedikit meninggi.


"Kenyataanya memang seperti itu? aku sudah tidak mencintaimu lagi, Mas?"


"Tidak ... Mas tidak percaya Nadira! Kamu pasti masih kecewa atas kebohongan mas dimasa lalukan, makanya kamu berkata seperti itu."


"Mas, aku mohon mengertilah!" aku tidak tahu lagi dengn cara apalagi mengatakannya, mas Davin tetap tidak percaya jika aku memang sudah tdak mencintainya lagi.


"Kita bahas nanti saja, Nad! Sepertinya kamu harus memikirkannya dengan kepala dingin." Nadira memijit pelipisnya, keegoisannya masih belum berubah.


"Aku mencintai orang lain, mas?" ungkap Nadira.


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92

__ADS_1


__ADS_2