TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Titik lelahku part2


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Jangan pernah berfikir untuk melakukan kejahatan lagi, aku tidak akan membiarkan kamu kali ini." tatap tajam Davin.


"Aku benar-benar telah menyesalinya mas! Maafkan aku, izinkan aku menebus semua kesalahanku." ujar Vania, lalu berlutut dihadapan Davin.


"Izinkan aku bertemu dengan anak-anakku mas."


"izinkan aku menebus kelalaianku karena telah memgabaikan mereka." isak Vania dikaki Davin.


"Apa aku akan percaya?" Davin menyingkirkan tangan Vania dari kakinya.


"Aku tidak akan tertipu dengan wajah polosmu! Kamu fikir dengan menutup penampilan kamu seperti ini aku bisa memaafkan kamu."


"Jangan harap Vania! Pergi kamu dari sini." usir Davin.


"Mas, aku akan melakukan apapun asal kamu memaafkan aku mas, aku sadar kesalahan aku begitu besar, tapi aku benar-benar menyesalinya mas." Vania masih berlutut meskipun Davin mendorong tubuhnya.


"Davin kembali mendorong tubuh Vania lalu meninggalkan wanita itu didepan pintu gerbang.


"Mas ... aku mohon izinkan aku bertemu dengan daffa daffi mas, aku sangat merindukan mereka." Isak Vania meskipun dia tahu Davin tidak mendengarkan ucapannya karena pria itu telah menghilang dibalik pintu.


Aku akan tetap berusaha meminta maaf kepada kalian semua walaupun seribu kata maafku tidak bisa menebus semua kesalahanku.


Meskipun kamu pernah menyiksaku dengan merusak sebelah wajah ini, itu belum setimpal dengan perbuatanku selama ini, aku telah menghancurkan kebahagiaan kamu dengan Nadira, wajar jika kamu sangat membenciku dan kesalahanku benar-benar tak termaafkan.


Tapi aku tahu mas dari hati kecilmu kamu memiliki hati yang tulus bahkan kamu membebaskan aku setelah menjalani masa hukuman yang seharusnya masih aku jalani hingga saat ini.


Vania memutuskan akan tetap disini, dan berharap bisa melihat kedua putranya.


Menunggu beberapa saat, sebuah mobil berhenti tepat didepannya, sepertinya mobil tersebut akan masuk.


Seseorang keluar dari mobil dan menghampiri Vania.


"Ma ... Mama!" ujar Vania sambil menyalami mantan mertuanya.


"Vania ..." mama Davin terkejut saat melihat mantan menantunya setelah sekian lama tidak mendengar kabarnya.


"Iya ma, ini aku Vania." ujar Vania lalu langsung memeluk mantan mama mertuanya, mengingat hubungan mereka selama ini baik-baik saja, mama Davin menganggap dirinya seperti putrinya sendiri selama ini.


"Masuk nak." ujar mama Davin melepaskan pelukan Vania lalu mengajak wanita itu masuk.

__ADS_1


"Tapi ma!" ucap Vania takut, karena takut akan diusir kembali oleh Davin.


"Kenapa nak?" kening mama mengkerut.


"Ma-mas Davin?" ucap Vania terbata.


"Davin ...?" ulang mama lagi, ternyata davin sudah kembali, gumam mama.


"Mas Davin tidak mengizinkan aku masuk." ujar Vania.


"Tidak apa-apa nak, biar mama yang berbicara dengan Davin nanti, kamu pasti sangat merindukan anak-anakmu kan?" mama menarik tangan Vania.


"Kamu duduk disini, mama panggilkan anak-anak." pinta mama lalu meninggalkan Vania.


Ada rasa bahagia yang Vania rasakan saat ini, akhirnya sebentar lagi dia akan bertemu dengan kedua anaknya.


"Mama ..." panggil kedua bocah laki-laki tersebut dan berlari kearah Vania.


"Sa-sayang, anak-anak mama." tangis Vania pecah saat melihat kedua putranya, Vania langsung berlari dan berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan kedua putranya, tepatnya dengan tubuh Daffi karena tubuh Daffa sudah cukup tinggi.


"ini mama nak, mama sangat merindukan kalian, ma-maafkan mama sayang karena baru bisa menemui kalian sekarang." ujar Vania sambil memeluk kedua buah hatinya.


"Mama jangan pergi lagi ya?" pinta Daffi.


"Iya sayang, mama tidak akan kemana-mana." ujar Vania sambil mengusap airmatanya.


"Daffa, Daffi ... Kalian masuk!" ujar Davin mendekat.


"Tidak mau pa, kkami merindukan mama." tangis Daffi.


"Sayang ... Dengerin apa yang dikatakan papa, mama janji tidak akan kemana-mana?"


"Tapi ma ..." ucapan Daffa terhenti karena Vania meletakkan telunjuknya dibibir putranya.


"Nanti main sama mama lagi." bujuk Vania.


"iya ma, mam janji dulu." Daffa mengangkat jati kelingkingnya, lalu Vania menautkan kelingking mereka.


Setelah itu kedua putranya masuk kekamar dan meninggalkan Vania dan Davin.


"Jangan pernah kamu menghasut mereka lagi, dan sebaiknya kamu pergi dari sini." bentak Davin.

__ADS_1


"Aku tidak ada niat seperti itu mas, dan aku kesini benar-benar tulus ingin meminta maaf dan ingin bertemu dengan putra-putraku." ujar Vania tertunduk.


"Sekarang sudah bertemukan? Pergi kamu, siapa yang mengizinkan kamu masuk, hah."Davin menarik paksa tangan Vania.


"Davin ... Apa yang kamu lakukan, kamu menyakiti Vania." ujar mama lalu melepaskan tangan Davin dari pergelangan Vania.


"Mama yang mengizinkan dia masuk." balas mama.


"Mama lupa? Atau mama perlu diingatkan lagi tentang kejahatan-kejahatan yang telah dia perbuat?" gigi Davin gemeratuk menahan amarah.


"Nak ... Jika Vania telah menyesalinya kenapa kita tidak memberikan kesempatan untuk dia berubah, tidak ada manusia yang sempurna, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan." mama mengingatkan.


"Tidak semudah itu ma, Dia sudah menyakiti banyak orang, terutama Nadira."


"Dan karena dia juga hubunganku dengan Nadira tidak bisa diperbaiki lagi."


"Aku tidak akan pernah memaafkan wanita ini, tidak akan pernah." teriak Davin.


"pergi kamu, karena kamu aku kehilangan cintaku, kehilangan wanita yang sangat berarti dihidupku." wajah Davin memerah menatap kearah Vania, luka yang dia sembunyikan terbuka kembali saat berhadapan dengan wanita ini.


"nak ... Jangan seperti ini, lupakan Nadira dia sudah bahagia, jangan siksa dirimu seperti ini." isak mama, dia ikut terluka saat melihat putra semata wayangnya terluka begitu dalam karena kehilangan sosok wanita yang sangat dia cintai.


"Aku mohon ma, pinta dia pergi, melihatnya hanya akan membuatku semakin sakit, aku sudah berusaha melepaskan masa laluku meskipun itu sangat mustahil karena sampai kapanpun aku tidak akan bisa melupakan Nadira."


"Tapi karena kehadirannya membangkitkan kembali kenangan masalaluku."


"Aku mohon Vania, jangan pernah muncul dihadapanku lagi, aku mohon mengertilah." lalu Davin melangkah gontai meniggalkan Vania yang terisak disisi mamanya.


"Maafkan Davin nak, mama yakin suatu hari nanti dia akan memaafkan kamu."


"Jika kamu ingin menemui anak-anakmu, kamu hubungi saja mama, mama akan membawa mereka." ujar mama seraya mengusap pundak mantan menantunya.


"iya ma, maaf jika aku sudah membuat keributan disini." balas Vania.


"Tidak nak, jangan berkata seperti itu." balas mama.


Vania memutuskan pergi dari sana, dia merasa bersalah karena telah membuat Davin terluka kembali.


"Maafkan aku mas, aku tidak tahu jika luka yang kamu alami begitu dalam, dan salah satu penyebabnya adalah aku, jika aku tidak memanfaatkan keadaan anak kita waktu itu mungkin sekarang kamu sudah bahagia bersama Nadira," gumam Vania.


TITIK LELAHKU

__ADS_1


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2