TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Titik lelahku part2


__ADS_3

"Mas, sarapan dulu?" pinta Vania yang melihat Davin menuruni anak tangga, dimeja makan kedua putranya sudah sarapan terlebih dahulu, terlihat jelas kebahagiaan terpancar diwajah kedua putranya.


"Papa buru-buru, kalian diantar mama saja ya?" ucap Davin menghampiri kedua putranya lalu menciumi pucuk kepala mereka satu persatu lalu langsung meninggalkan mereka dan mengacuhkan ucapan Vania seolah-olah wanita itu tidak ada disana.


"Sebentar mama antar papa kedepan dulu ya, nak?" ujar Vania lalu berlari kecil menyusul Davin yang sudah terlebih dahulu melangkah.


"Mas ..." panggil Vania sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami suaminya.


"Tidak usah berlagak sok manis kamu! Jika tidak ada anak-anak kita hanya orang asing." ujar Davin menyingkirkan tangan Vania secara kasar.


"Maaf, mas! A-aku hanya ..." ucap Vania terputus dia berusaha menahan tangisnya karena ucapan kasar yang terlontar dari mulut suaminya.


"hanya apa? kamu mau membenarkan tindakan kamu karena telah berbuat kebaikan?"


"Aku tidak akan luluh dengan kamu berbuat seperti ini." timpal Davin dengan mendorong sedikit bahu Vania lalu berlalu meninggalkan Vania tanpa sedikitpun rasa bersalah.


Vania masih mematung dan pasti secara perlahan isakan langsung keluar dari bibirnya, sesak ... Itu yang Vania rasakan saat ini, apakah berbuat kebaikan sesulit ini? Bathin Vania memegang dadanya yang terasa sesak.


"Mama ... Kita berangkat sekarang?" tanya Raffa yang sudah berdiri dibelakangnya, Vania langsung menghapus airmatanya, dia tidak ingin anak-anaknya melihatnya dalam keadaan seperti ini.


"I-iya, mama ambil tas dan kunci mobil dulu." Vania membalikkan tubuhnya menatap kedua putranya dia memasang senyuman agar kedua putranya tidak curiga.


Sedangkan dikantor, Davin masih merasa kesal dengan kejadian yang telah dia lewati pagi ini.


"Dia fikir dengan melayaniku seperti itu aku akan percaya? Cuiih ... Perse*an dengan semua itu, ini masih belum seberapa Vania, masih banyak kejutan-kejutan yang aku persiapkan untuk kamu, seringai Davin sambil melonggarkan dasinya padahal ini masih pagi tapi Davin sudah merasa kepanasan.


Tok ... Tok, suara ketukan mengalihkan tatapan Davin, tanpa mengalihkan tatapannya, Davin menatap Lisa yang tengah melangkah masuk keruangannya.

__ADS_1


"Pagi pak? pukul sepuluh nanti kita ada pertemuan dengan salah satu investor." ujar Lisa sambil meletakkan beberapa berkas dihadapan Davin.


"Ah ... I-iya!" ujar Davin gugup, ada getaran aneh yang dia rasakan saat bersama wanita ini.


"Bapak sakit?" kening Lisa bertaut.


"Tidak ... Aku baik-baik saja." balas Davin dan langsung menyambar berkas yang diletakkan Lisa barusan.


"Bapak yakin? Ini masih pagi tapi bapak sudah berkeringat?" tanya Lisa yang masih khawatir dengan kondisi Davin.


"Aku baik-baik saja, Lis!" ujar Davin.


"Apa semuanya sudah siap?" Davin mengalihkan pembicaraan.


"Sudah pak." jawab Lisa lalu permisi keluar Dari ruangan Davin.


Dijam makan siang ...


"Sendirian?" tanya Davin saat melihat Lisa duduk sendirian disalah satu resto yang tidak jauh dari kantor.


"Eh ... Ba-bapak?" ujar Lisa sedikit terkejut saat melihat Davin sudah berdiri disampingnya.


"Boleh gabung?" tanya Davin, dan hanya dibalas dengan anggukan oleh Lisa.


"Kamu lagi nungguin seseorang?" tanya Davin, saat melihat wanita yang sedang berada didepannya melirik arloji dipergelangannya.


Belum sempat Lisa menjawab seseorang mengusap pucuk kepalanya dari belakang, wanita itu sudah tahu siapa pelakunya lalu menarik tangan pria itu untuk duduk disebelahnya.

__ADS_1


Tatapan keterkejutan berusaha Davin sembunyikan melihat kedekatan sahabatnya dengan wanita yang telah dia kagumi beberapa waktu ini.


"Maaf menunggu lama?" ujar Reza setelah menduduki bokongnya disisi Lisa yang berhadapan langsung dengan Davin Davin.


Sebenarnya Reza sedikit terkejut saat melihat Davin bersama Lisa, tapi dia mencoba berfikiran positif.


"Tidaka apa-apa?" jawab Lisa tersenyum karena melihat rasa bersalah dari wajah kekasihnya.


"Hai Vin? Apa kabar?" ucap Reza hanya sekedar basa-basi, karena sekarang dia sudah dihinggapi rasa cemburu.


"Baik ... Apa kalian memiliki hubungan?" tanya Davin to the point.


"Ah ... Iya! Kami sepasang kekasih, dan sebentar lagi kami akan menyusul kamu kepelaminam?" ujar Reza sambil menggenggam jemari Lisa.


Reza seolah menunjukkan siapa pemilik gadis yang berada disampingnya saat ini, kecemburuan telah bersemayam dihatinya.


"Hah ... Se-selamat ya?" ujar Davin terbata, apa aku terlambat lagi kali ini? Sesal Davin.


"Iya ... Terimakasih, Dav? balas Reza menang.


Lisa hanya bisa geleng kepala melihat tingkah protektif Reza, padahal dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Davin tapi Reza sudah mewaspadai.


"Kalau begitu aku tinggal dulu." ujar Davin yang langsung pamit karena tidak tahan lagi merasakan gejolak didadanya.


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92

__ADS_1


__ADS_2