TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Titik lelahku part2


__ADS_3

"Sudah kuduga, mama akan bertindak seperti ini." gumam Davin dari balkon saat melihat mama dan kedua putranya keluar dari mobil dan disusul oleh Vania dibelakangnya.


Davin sudah menduga jika Vania akan melakukan semua ini, makanya dari awal dia sudah mengikuti dan mencari tahu apa motif dari wanita yang sangat dia benci ini, tapi sampai saat ini Davin masih juga belum mengetahui apa motif kembalinya Vania.


Seringaian tercetak dibibir Davin, entah apa yang ada difikiran pria itu saat ini lalu Davin memutuskan untuk duduk diruang tamu untuk menyambut kedatangan mereka.


"Ka-kamu sudah pulang nak?" tanya mama sedikit gugup saat melihat Davin sedang duduk diruang tamu lalu melirik arloji dipergelangan, dan seharusnya Davin belum pulang di jam segini.


"Apa kalian bersenang-senang?" tanya Davin, tatapannya menatap lekat kearah Vania dan membuat nyali wanita itu menciut.


"Nak ... Dengarkan mama?" pinta mama, dia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan putranya saat berhadapan langsung dengan Vania.


"Jangan marahi Vania karena mama yang mengajaknya." timpal mama.


"Ma ... Apa mama lihat aku memarahinya sekarang?" tanya Davin dengan menaikan sebelah alisnya.


"Lanjutkan, aku kembali kekamar dahulu." ucap Davin tersenyum lalu mengusap pundak mamanya dan membuat wanita paruh baya itu bernafas lega, berbeda dengan Vania tubuhnya bergetar saat Davin melintasinya pria itu menampilkan seringaian yang sangat menakutkan untuknya.


"Ma ... A-aku pergi saja!" ujar Vania saat Davin telah benar-benar meninggalkan mereka.


"Heii nak ... Kamu dengarkan Davin tidak melarangmu untuk bertemu dengan putra kalian?" jawab mama polos.


"Ta-tapi ma ...?" ucap Vania terhenti, dia tidak mungkin menyampaikan apa yang tengah dia fikirkan saat ini, takutnya nanti akan membuat mama salah paham.


"Tapi apa nak? Kamu tenang saja, Davin tidak akan berbuat yang macam-macam terhadap kamu." ujar mama menenangkan sambil mengusap pundak mantan menantunya.


"I-iya ma." hanya itu yang mampu Vania balas lalu dia langsung meminta izin untuk menyusul kedua putranya kekamar.


Dari balik tembok Davin masih tetap dengan seringaiannya, sepertinya pria ini memiliki rencanana besar untuk Vania.


"Jika tidak bisa menggunakan cara kasar, aku akan menggunakan cara halus untuk menghadapi perempuan ular sepertimu, gumam Davin.


Lalu Davin melenggang masuk kedalam kamarnya, dia melangkah kearah sudut ranjang lalu duduk dipinggiran, matanya tertuju kearah figura diatas nakas lalu Davin meraihnya.

__ADS_1


"Hingga saat ini aku masih belum bisa menghilangkan semua kenangan tentang kamu dari hidupku," ujar Davin mengusap fotonya bersama Nadira.


"Aku tahu ini dosa, tapi aku hanya manusia biasa, aku juga ingin melupakan segalanya tapi itu sangat sulit, katakan ... Katakan Nadira, bagaimana caranya? Ujar Davin bemonolog sendiri.


Davin membawa foto tersebut kedalam pelukannya dan mencoba membaringkan tubuhnya, jika sudah menyangkut soal Nadira, hati dan perasaannya pasti sangat rapuh.


Dan sejak kepulangannya Davin masih belum berani untuk menemui Davina putrinya rasanya dia masih belum sanggup untuk bertemu Nadira apalagi menyaksikan kebahagiaan wanita yang teramat dia cintai bersama pria lain.


Tidak butuh waktu lama akhirnya Davin terlelap.


Malam hari ...


"Kamu suka tempatnya?" tanya Reza saat mereka tengah berada disalah satu Resto.


Lisa langsung mengangguk lalu matanya menelisik setiap sudut resto.


"Kok sepi?" tanya Lisa dengan kening mengkerut, Lisa benar-benar dibuat bingung dengan kondisi resto mewah yang tengah dia kunjungi saat ini.


"A-apa?" tanya Lisa sedikit terkejut, lalu tatapannya beradu dengan Reza yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.


"Ka-kamu kenapa sampai melakukan ini?" tanya Lisa gugup, sambil memalingkan tatapannya.


"Aku hanya ingin makan malam romantis kita tidak terganggu, dan hanya kita berdua yang menikmatinya." balas Reza masih dengan posisi yang sama menatap kagum wanita cantik yang berada dihadapannya.


"Ta-tapi, tidak harus menyewanya! Ini pasti sangat mahal, gerutu Lisa.


Dan sukses membuat Reza tertawa, wanita dihadapannya saat ini benar-benar polos,


Lisa tidak tahu saja jika dialah pemilik resto mewah ini.


Reza meraih jemari Lisa lalu menggenggamnya, dan menatap dalam kemanik wanita yang duduk berhadapan dengannya.


"Demi wanita yang sangat berarti dihidupku, aku akan melakukan apapun demi kebahagiaannya." ujar Reza yang membuat dada Lisa berdebar dengan begitu cepat.

__ADS_1


"Ma-maksud kamu?" tanya Lisa gugup.


"Apa kamu masih tidak mengerti apa tujuanku mendekatimu selama ini, Lis?" tanya Reza sambil tetap menatap lekat wajah Lisa.


"A-aku?" ucap Lisa terhenti, sebagai wanita dewasa dia pasti mengerti apa tujuan Reza selama ini, hanya saja Lisa masih ragu, karena selama ini memang mereka tidak memiliki hubungan apa-apa seperti pasangan pada umumnya, seperti saat sang pria menembak sigadis lalu gadis itu menerimanya dan mereka berpacaran.


"Apa kamu ingin aku menembakmu?" goda Reza yang membuat pipi Lisa merona seperti udang rebus.


"A-aku tidak mengatakannya!" jawab Lisa, apa dia ketahuan sedang memikirkan hal tersebut.


"Aku tidak akan melakukannya, bagiku suatu hubungan tidak harus diawali dengan hal semacam itu, kita pria dan wanita dewasa pasti kita tahu apa tujuan dari kedekatan kita selama ini."


"Dan berpacaran hanya akan menghabiskan waktu." Reza menjeda kalimatnya lalu meraih sesuatu dari saku baju kemeja yang dipakainya.


"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Reza sambil membuka sebuah kotak yang terdapat sebuah cincin berpermata didalamnya.


Lisa membekap mulutnya dia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan dari Reza seperti saat ini.


"Lis ...?" panggil Reza tidak sabar mendengar jawaban dari wanita tersebut karena Lisa sejak tadi bungkam.


"I-iya ..." hanya itu kata yang keluat dari bibir wanita itu.


"Serius ...?" tanya Reza dia tidak menyangka diusianya yang tidak muda lagi dia menemukan pasangan yang benar-benar sesuai keinginannya.


Lisa hanya mampu menganggukan kepalanya tanpa bisa mengatakan apapun lagi.


"Terimakasih sudah mau menerimaku, Lis!" jawab Reza terharu sambil memasangkan cincin dijari manis Lisa.


"Terimakasih juga sudah mau menerima kekuranganku, Za!" jawab Lisa, dia tersenyum menatap cincin yang tersemat dijarinya.


Saat mereka menikmati makan malam, ponsel Lisa berdering.


"Davin? kenapa dia menelpon Lisa malam-malam begini?" gerutu Reza, sepertinya pria ini tengah cemburu.

__ADS_1


__ADS_2