
"Kamu beneran mau masuk kantor hari ini, Nad?" ujar Kenand saat sampai dirumah Nadira.
"Iya Ken! Sudah terlalu lama aku cuti dari pekerjaanku."
"Sebenarnya jika kamu masih ingin ambil cuti lagi aku tidak masalah, Nad." Kenand menatapku.
"Tidak Ken, kamu pasti kerepotan mengatur jadwal kerjamu, biasanyakan aku yang melakukannya."
"Ya sudah ... Kalau itu keinginanmu."
"Kita berangkat sekarang, Ken? Sebentar aku pamit sama mama dulu." Nadira menyusul mamanya yang sedang menjaga Davina.
"Barengan saja Nad, aku juga ingin melihat Davina." Nadira hanya menganggukan kepalanya.
"Anak daddy habis mandi ya?" Kenand langsung menggendong Davina yang tertawa menatap kearahnya, dia mengulurkan tangan kecilnya.
"Ken, nanti kita terlambat jika kamu bermain terus bersama Davina." tegur Nadira.
"Habis Davina lucu banget, Nad! kita bawa kekantor saja ya, Nad?"
"Tidak bisa dong Ken, masak kita bawa bayi kekantor."
"Bagaimana kita kekantornya besok saja, aku tidak ingin berpisah dari sigembul Davina." Kenand mencium seluruh pipi Davina, sampai tertawa lucu.
Nadira dan mamanya hanya bisa geleng kepala mendengar ucapan Kenand.
"Sudah, Ken ... Nanti kalian beneran telat loh." Ujar mama lalu mengambil alih menggendong Davina.
"Iya tante ... Kalau begitu kami kekantor dulu ya?" Kenand mencium punggung tanagan mama Nadira, lalu disusul oleh Nadira yang juga menyalami mamanya.
"Pelan-pelan saja bawa mobilnya, Ken." ujar mama mengingatkan Kenand.
"Iya tante ... Daddy sama mommy kekantor dulu ya sayang." Kenand mencium pipi Davina.
"Dada sayang ..." mommy kerja dulu ya!" Nadira menciumi seluruh wajah putrinya."
"Assalamualaikum?" ucap mereka serentak.
"Wa'alaikum salam." jawab mama Nadira.
Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai dilobby kantor.
Adit asisten pribadi Kenand menghampiri,
"Pak ... bapak James ingin bertemu dengan anda." ujar Adit.
Lelaki itu selalu saja datang tanpa memberitahu dahulu, bagaimana jika dia melihat Nadira nanti.
"Lalu dimana dia sekarang?" balas Kenand.
"Saya memintanya menunggunya diruangan Anda, pak!"
"Baiklah, kamu boleh pergi."
"Iya pak." Adit melangkah menuju ruangan kerjanya.
Aku tidak punya alasan untuk melarang Nadira ikut keruangan, pasti Nadira akan mempertanyakannya nanti.
__ADS_1
Saat sampai diruangan kerjaku, aku melihat James yang tengah duduk disofa didalam ruanganku.
"Pagi pak Kenand." sapa James.
"Hai cantik." James menatap Nadira tanpa berkedip.
Nadira hanya membalas sapaan James dengan senyuman, dan itu sukses membuat Kenand terbakar api cemburu.
"Nad, tolong buatkan minuman untukku, dan pak James." Kenand berusaha bersikap biasa saja.
"Baik pak." Nadira berjalan kearah tempat pembuatan kopi yang masih berada diruangan ini.
"Maaf pak Kenand, aku pasti mengganggu jam kerjamu." Ujar James.
"Tidak apa-apa! tapi ada keperluan apa kamu kemari, James?" Kenand menautkan alisnya sepertinya kami tidak memiliki janji.
"Sepertinya kita tidak ada janji!" Kemand langsung menanyakan tujuan James datang kemari.
"Ah ... Benar pak Kenand, kita memang tidak memiliki janji."
"Tujuan saya datang kemari ingin memberikan undangan ini secara langsung kepada anda." James mengulurkan sebuah undangan kearah Kenand, yang ternyata undangan perayaan ulangtahun perusahaan milik James.
Pembicaraan mereka terhenti saat Nadira datang dengan membawa dua cangkir kopi.
"Ini kopinya pak!" Nadira meletakkannya dihadapan Kenand dan James.
"Kalau begitu aku kembali kemeja kerjaku dulu." langkah Nadira terhenti dengan suara James yang memanggilnya.
"Nadira tunggu sebentar!" Nadira membalikan tubuhnya, menatap kearah James.
"Iya, ada apa ya pak?"
Nadira membacanya sebentar, "Insyaallah pak, jika tidak ada halangan aku pasti datang." balas Nadira.
"Kalau begitu aku kembali kemeja kerjaku dulu, permisi."
Kenand menatap Interaksi antara dua orang tersebut, ada yang membakar rasanya didalam dada Kenand, setelah itu James kembali duduk.
"Pak Kenand, kalau begitu aku permisi dulu, maaf sudah mengganggu jam kerjamu."
"Jangan lupa hadir ... acaranya akan diadakan nanti malam." ujar James sambil menyalami Kenand.
"Baiklah, akan aku usahakan hadir." Saat akan melangkah keluar James menghampiri Nadira dan itu membuat langkah Kenand yang akan menuju meja kerjanya terhenti.
"Nad, aku permisi dulu! Aku sangat berharap kamu bisa menghadiri acaranya." Ujat James.
"Iya, nanti akan aku usahakan untuk hadir."
"Iya sudah kalau begitu aku permisi." Nadira hanya membalasnya dengan anggukan.
"Kamu yakin ingin pergi, Nad?" Kenand menghampiri Nadira.
"Memangnya kenapa, pak?" Nadira menautkan alisnya.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan lelaki seperti itu."
"Aku tidak dekat-dekat dengannya, Ken!" Nadira semakin bingung dengan ucapan Kenand yang terdengar sedikit kesal.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa menilai mana orang-orang yang menyukaimu?"
Kening Nadira mengkerut, "Aku tidak pernah memikirkannya, ken!" memang selama ini aku tidak pernah menghiraukam itu semua, menurutku mereka masih wajar-wajar saja saat berbicara denganku. Bathin Nadira.
"Mulai sekarang kamu harus menjaga jarak dengan lelaki yang bernama James itu, dia itu lelaki penjahat wanita."
"Ah ... Satu lagi, Sean ... Kamu juga tidak boleh terlalu dekat dengan Sean."
"Apa Sean juga penjahat wanita, Ken?" selidik Nadira. Bilang saja kamu cemburu, ejek Nadira yang hanya mampu mengatakannya didalam hati.
"ya ... Bisa jadikan! Kamu lanjutkan lagi pekerjaanmu, setelah makan siang nanti temani aku kesuatu tempat ya, Nad?"
"Kemana?" Nadira melirik kearah Kenand.
"Rahasia." Kenand langsung meninggalkan meja kerja Nadira. Nadira hanya mengedikan bahunya, lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
****
Kenand membawa Nadira kesuatu tempat setelah kembali dari kantor.
menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai ketujuan.
"Nad, bisakah kamu menutup matamu?"
"Aku punya kejutan untukmu?" Nadira menatap Kemand penuh tanya.
"Untukku Ken?"
"Iya ... Bisakah kamu menutupnya?" Nadira mengangguk mengiyakan.
Kenand menutup mata Nadira dengan kain berwarna merah saat mereka keluar dari dalam mobil, lalu menuntun Nadira berjalan.
Setelah sampai ditempat tujuan, Kenand menarik kursi dan menuntun Nadira duduk disana, lalu dia melepaskan ikatan yang menutup mata Nadira sejak tadi.
"Bagaimana ... Kamu suka, Nad?" Kenand duduk dihadapan Nadira.
Nadira berdecak kagum saat melihat pemandangan yang disuguhkan didepan matanya.
Hamparan pantai nan luas terpampang jelas dibawah sana, karena sekarang mereka tengah berada diketinggian, Nadira menelisik setiap sudut tempat ini.
"Kenapa tidak ada orang disini, Ken?" sedari tadi Nadira tidak melihat satupun tamu yang berkunjung ketempat ini.
"Karena aku telah menyewa tempat ini." Kenand meraih kedua tanganku.
"Eh ... spontan Nadira menarik tangannya. aku terkejut dengan perlakukan Kenand, tapi dengan cepat Kenand menahan tangan Nadira.
"Aku ingin mengatakan sesuatu Nad?" Kenand menatap kearah manik Nadira.
"A-apa?" Nadira sedikit gugup.
"A-aku sudah lama menahannya Nad, dan aku sudah tidak bisa menahannya lagi." Kenand juga sama gugupnya.
"Maksud kamu apa, Ken?" Nadira tahu kemana arah pembicaraan Kenand, tapi dia ingin meyakinkan.
"A-aku mencintaimu, Nadira!" ucap Kenand menatap intens kenetra Nadira yang juga sedang menatapnya.
TITIK LELAHKU
__ADS_1
BY : MIKHAYLA92