TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
terharu


__ADS_3

Kenapa harus bertemu Kenand dan Nadira disini, fellingku tidak salah mereka pasti memang memiliki hubungan.


Aku melirik kearah James, dia tidak mengalihkan pandangannya dari Nadira sedikitpun, aku benar-benar kesal.


Apa yang membuat para lelaki ini tertarik dengan Nadira, aku juga tidak kalah cantik darinya.


Belum hilang kekesalanku, datang lagi seorang pria yang jauh lebih muda dari James ataupun kenand.


Aku hanya menjadi pendengar perbincangan mereka.


"Hai ken ... Ternyata kamu hadir juga." mereka berjabat tangan saat sampai dimeja kami.


"Tentu ... Karena pengantinnya rekan kerja yang sangat penting diperusahaanku.


"Siapa yang tidak kenal dengan bapak Kenand pengusaha sukses nomor satu ditanah air." ujar pria tersebut.


"Kamu terlalu berlebihan." balas Kenand.


"Perkenalkan, dia James, rekan bisnisku dari inggris." aku memperkenalkan mereka, lalu mereka saling memperkenalkan diri, lalu sean mengalihkan pandangannya kearah Nadira.


"Hai nona ... Kita bertemu lagi." ujar pria itu sambil mengulurkan tanganya kearah Nadira.


Nadira menerima uluran tangan pria tersebut.


"Nadira, kan? Apa kamu masih ingat denganku?" pria itu menatap kearah Nadira.


Lama aku memikirkan, sepertinya aku memang pernah bertemu dengannya tapi dimana?


"Kita bertemu di TEMARAM RESTO."


"Mungkin sekitar satu tahun yang lalu, apa masih ingat?"


"ah ... Iya, aku ingat!"


"Sean, kan?" ujarku tersenyum kearahnya, aku ingat saat aku meminjamkan ponselku dengan sean, Kenand menganggap diriku bodoh.


"Benar ... Ternyata kamu masih mengingat namaku." Sean tersenyum kearahku.


Ekhm ...


Kami semua melirik kearah Kenand.


"Nad ... Sepertinya kita harus mengucapkan selamat dengan pengantinnya." Kenand menautkan jemari kami.


"Iy-iya ..." Ucapku terbata, ada apa dengannya, Kenand terlihat kesal. bukankah mengucapkannya bisa nanti saja saat akan pulang.


"Kami pamit kesana dulu ya." ujar Kenand pamit dengan rekan-rekan bisnisnya.


"Sampai ketemu dilain waktu ya, Nad?" uja Sean.


Aku hanya tersenyum, sekilas menatap mbak vania yang hanya diam saja sedari tadi.


"Sampai jumpa cantik." ujar James tersenyum kearahku, aku hanya membalas dengan senyuman, lalu segera Kenand menarikku.


Hal seperti ini yang aku takutkan saat membawa Nadira keacara rekan kerjaku, disini terlalu banyak pria hidung belang.

__ADS_1


"Jangan tersenyum seperti itu dengan mereka, apa kamu ingin menggoda para lelaki itu?" Kenand berbisik ketelingaku.


"A-apa? Aku tidak menggoda mereka." aku melotot kearah Kenand.


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu tadi saat didekat mereka? Kenand menatapku.


Aku balik menatapnya, "Jadi aku harus apa?"


"Apa aku harus cemberut dihadapan mereka?"


"Pokoknya kamu tidak boleh tersenyum seperti itu." ucapa Kenand menuntut.


Sedari awal aku sudah memperhatikan James yang tidak pernah memalingkan tatapannya dari Nadira, sedangkan Sean dari awal aku sudah mengetahui ketertarikannya terhadap Nadira, setiap kali ada pertemuan dengannya aku tidak pernah lagi mengajak Nadira bersamaku.


Aku tidak bisa menguasai kecemburuanku, dadaku bergemuruh ingin rasanya aku mengatakan jika Nadira itu miliku, tapi aku tidak memiliki hak untuk mengatakannya. Untuk bilang aku mencintaimu saja aku tidak memiliki keberanian.


"Ya sudah ... Aku tidak akan seperti itu lagi." ucapku mengakhiri perdebatan kami.


"Oh, iya Ken ... Apa mbak Vania kekasih lelaki yang bernama James tadi?" aku mengalihkan pembicaraan, tidak ingin mendebat akhirnya aku mempertanyakan perihal yang tidak perlu aku bahas, sebenarnya hubungan mbak Vania dengan lelaki itu bukan urusanku.


"Entahlah ... kemarin saat aku temu janji dengan James, Vania juga ikut bersamanya."


"Kapan?" Kami memilih untuk duduk terlebih dahulu sebelum mengucapkan selamat dengan pemilik acara ini.


"Sebelum kita kembali kekota ini." ujar Kenand.


"Nad, sebentar ya ... Kamu tunggu disini?"


Aku mengerutkan keningku, Kenand naik keatas panggung, entah apa yang dikatakan oleh Kenand tapi MC itu melihat kearahku.


Aku menautkan alisku, semua mata tamu menatap kearahku.


Kenand selalu saja membuat aku jantungan seperti ini, entah dengan sikap, perlakuan ataupun tindakan dia mampu membuatku baperan.


Lalu alunan musik mengalun, aku sedikit terharu mendengar lagu yang dibawakan Kenand, apakah itu ungkapan perasaannya untukku?


Ternyata pria dingin yang aku kenal bisa seromantis ini, mungkin untuk cinta aku belum mencintai Kenand, tapi dia mampu membuatku merasa aman dan nyaman saat didekatnya.


Duhai engkau, sang Belahan Jiwa


Namamu terukir dalam pusara


Di setiap langkah, ku s'lalu berdoa


Semoga kita bersama


Duhai engkau, tambatan hatiku


Labuhkanlah cintamu di hidupku


Ku ingin kau tahu, betapa merindu


Hiduplah engkau denganku


Dengarkanlah ...

__ADS_1


Di sepanjang malam aku berdoa


Bersujud dan lalu aku meminta


Semoga kita bersama


Dengarkanlah ...


Di sepanjang malam aku berdoa


Cintaku untukmu s'lalu terjaga


Dan aku pasti setia


Aku menghapus airmataku yang menetes tanpa aku minta, aku benar-benar terharu, sebesar itukah cintanya untukku.


Saat Kenand menyelesaikan lagunya tepuk tangan dari para tamu menggema diruangan.


Kenand turun dari panggung, lalu berjalan kearahku.


"Bagaimana lagunya? Apa kamu suka Nad?" Kenand menatapku dengan mata yang berbinar.


"Apakah lagu itu ungkapan sesuatu." aku menatap netra Kenand.


"Menurutmu?" Kenand menatap intens kearahku.


"Entahlah." aku mengalihkan tatapanku, aku benar-benar canggung dengan tatapan itu.


Aku mulai menyadari Kenand sudah mulai bisa membuka hatiku, walaupun cintaku masih besar untuk mas Davin.


Apakah Kenand mampu merebut keseluruhan hatiku, sampai saat ini Kenand mampu membuat hatiku luluh dengan tindakan-tindakan yang dilakukannya.


****


Nadira benar-benar beruntung mendapatkan cinta yang tulus seperti itu, dulu mas Davin juga begitu. Dia sangat mencintai Nadira.


Sekarang lepas dari mas Davin, Nadira juga mendapatkan lelaki yang sempurna seperti Kenand.


Ini tidak adil tuhan, apakah aku tidak berhak mendapatkan cinta seperti yang Nadira dapatkan?


Rasa benci, iri, dan dendam menjadi satu didalam diriku, aku tidak akan membiarkanmu bahagia Nadira.


Kamulah yang menyebabkan aku kehilangan cintaku, jika kamu tidak hadir ditengah-tengah pernikahanku dengan mas davin mungkin rumah tangga kami masih bertahan hingga saat ini. Ujar Vania.


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


Dukung terus karyaku ya kak, mana nih pendukung Kenand dan Nadira.


Ikuti terus ceritanya ya ...


Jangan lupa Like, vote dan tinggalkan komentar kalianā¤


Happy reading kakak-kakakku😘

__ADS_1


__ADS_2