TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Davin masuk perangkap Vania


__ADS_3

"Apakah lelaki itu sering datang kesini?" ujar James pada salah satu waiter yang bekerja diclub ini.


"Hampir setiap malam tuan." ujar waiter tersebut.


"Kamu mau uang?" James melirik kearah pria itu.


"Siapa yang tidak mau uang tuan!"


"Apa yang harus aku lakukan, pasti ada yang tuan inginkan dariku bukan?" ucap waiter tersebut.


James mengeluarkan plastik kecil dari saku celananya lalu menyerahkanya kepada pria tersebut.


"Kamu harus membuat pria itu bergantungan dengan benda itu!" aku menunjuk kearah mantan suami Vania yang sepertinya sudah mabuk berat.


"Bisa saja tuan, tapi itu tidak mudah."


James mengeluarkan amplop coklat lalu melemparkannya kearah pria yang menjadi lawan bicaranya sedari tadi.


"Sepertinya itu lebih dari cukup untuk satu kali pekerjaan yang aku minta.


"Ingat ... Kamu harus membuatnya sampai benar-benar bergantungan dengan benda tersebut."


"Aku akan membayarmu berkali-kali lipat jika kamu berhasil melakukannya."


"sangat cukup tuan, serahkan semuanya padaku." lalu waiter tersebut meninggalka James.


Seringiaian tercetak dibibir James, apa kamu senang Vania.


Disisi lain bar Davin masih setia dengan minumannya, dari mulutnya terucap nama Nadira.


"Kembalilah Nad, apa kamu tidak merindukan mas?" kenand berucap didalam mabuknya.


"Tuan ... Apa kamu ingin mencoba benda ini, setelah memakainya aku pastikan tuan akan tenang." ujar waiter yang berdiri dimeja yang berada didepan Davin.


"Kamu benar, aku butuh ketenangan, minuman saja tidak mampu menghilanhkan kesedihanku." ucap Davin yang benar-benar sudah mabuk.


"Untuk anda aku berikan secara cuma-cuma, jika tuan membutuhkannya, tuan biasa mencariku kesini."


"Baiklah ... tuangkan lagi minuman untukku." ucap Davin.


"Nadira sayang, kembalilah ... Mas benar-benar tidak bisa hidup tanpamu." Davin terus saja meracau menyebut tentang Nadira, akhirnya dia ambruk dimeja karena sudah terlalu banyak minum.


Waiter tersebut menghampiri James yang duduk tidak terlalu jauh dari Davin.


"Beres tuan." ucap waiter tersebut.


"Kerja bagus, kamu harus ingat apa yang akan kamu lakukan seterusnya." ujar James.


"Tenang saja tuan, pasti akan aku kerjakan."

__ADS_1


"Baiklah kamu boleh pergi."


"Oke ... Senang bekerja sama dengan tuan." lalu pria itu meninggalkan James.


James menghampiri Davin sesaat kemudian lalu pergi meninggalkan Davin yang tergeletak tidak sadarkan diri."


****


Sudah terhitung beberapa hari aku dirumah sakit, akhirnya hari ini aku sudah diperbolehkan pulang.


"Ken, ini bukan jalan menuju apartemen kita?" aku melihat jalan yang belum pernah aku tempuh.


Aku satu mobil dengan Kenand, sedangkan mama dan papa bersama Lisa.


Bayiku sudah terlebih dahulu diantar bersama dokter yang disewa khusus oleh Kenand untuk merawatnya.


"Aku akan membawamu kesuatu tempat yang akan kamu tinggali nanti." ujar Kenand.


"Jadi kita tidak akan balik lagi ke apartemen?" aku melirik kearah Kenand.


"Iya Nad, tempat tinggal barumu paasti akan membuatmu nyaman."


Aku memnghela nafas, apa lagi yang akan dilakukan Kenand kali ini untukku. Aku tidak mengatakan apapun lagi lalu menyandarkan kepalaku kesandaran jok mobil.


Tentang perasaan Kenand aku telah mengetahui semuanya, setelah Lisa mengatakan jika kedua orangtuaku lebih dulu mengetahuinya, aku meminta mereka menjelaskan semuanya.


Ternyata Kenand menemui orangtuaku secara langsung, dia mengatakan jika dia mencintaiku dan akan menungguku sampai aku bisa membuka hatiku kembali.


Tapi bagaimana bisa aku menerima Lelaki yang sama sekali tidak aku cintai, jika aku menerimanya aku yakin tidak hanya Kenand yang terluka, tapi aku juga.


Sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Kenand, aku benar-benar belum bisa membuka hatiku kembali.


"Kenand pria yang sangat baik, tidak pantas untuknya menunggu wanita sepertiku.


Sepertinya aku harus memberikan pengertian kepada Kenad, agar dia berhenti menungguku. Dia harus menemukan kebahagiaannya sendiri.


Aku membuka mata saat Kenand menghentikan mobilnya disebuah rumah.


"Kita sudah sampai Nad." Kenand keluar dari mobil lalu mengeluarkan kursi roda dari bagasi mobil, dia menghampiriku lalu membukakan pintu mobil.


Kenand mengangkat tubuhku lalu meletakanku perlahan diatas kursi roda.


Sejak mengetahui perasaan Kenand terhadapku, aku sedikit canggung dihadapannya apalagi dengan posisiku yang berada digendongannya.


"Terimakasih, Ken." ujarku saat aku sudah berada dikursi roda.


Lisa dan orangtuaku juga keluar dari mobil lalu mendekat kearah kami.


"Apa kamu suka rumahnya, Nad?" ujar Kenand sambil mendorong kursi rodaku menuju rumah yang dia tunjukan.

__ADS_1


"Suka ... Rumahnya indah sekali."


"Ini rumah siapa Ken?" ujar Nadira.


"Rumahku, kamu boleh tinggal disini sesuka hatimu."


Aku memang sengaja membeli rumah-rumah ini sebelum Nadira keluar dari rumah sakit, aku memilih rumah minimalis satu lantai supaya nadira tidak perlu naik turun tangga.


Dan ini persetujuan dari orangtua Nadira, sebelumnya orangtua Nadiralah yang ingin membelikan rumah ini, tapi aku memohon dengan mereka biar aku saja yang membelinya.


Aku ingin menunjukan keseriuanku terhadap putri mereka, akhirnya mereka menyetujuinya setelah melalui proses perdebatan.


"Lalu ... Kamu akan kembali ke apartemen?" ujar Nadira.


"Tidak ... aku akan tinggal disana." Kenand menunjuk kearah rumah yang berada tepat disampimg rumah yang akan aku tinggali.


"Lihat Nad, ada danau dibelakang sana." Lisa menunjuk kearah danau yang tidak jauh dari rumah ini.


"Inikan rumah impian kamu, Na."


"Kamu ingat waktu itu kamu bilang ingin memiliki rumah yang didekat danau?"


"Iya ... aku ingat, Lis,." Aku tersenyum kearah Lisa.


Mama mengusap pucuk kepalaku, "semoga kamu bisa memulai membuka lembaran baru disini Nak?" ujar mama.


"Berbahagialah mulai dari sekarang." papa ikut mengusap kepalaku, aku bersyukur memiliki orang-orang baik disekitarku, tapi bagaimana dengan Kenand apakah dia akan kecewa saat aku mengatakan aku tidak bisa bersamanya, atau dia akan menjauh dariku.


"Apa kamu ingin langsung kekamar bayimu, Nad?" ujar Kenand saat kami sampai didalam rumah.


Kenand mendorongku kearah kamar putriku, Saat sampai aku sangat kagum dengan kamar putriku.


"Waaaahh ... Indah sekali, Ken, aku menatap setiap sudut ruangan kamar putriku, kulihat Davina tertidur didalam incubator.


Saat aku turun dari kursi roda, kepalaku sedikit pusing, Kenand langsung menyambutku saat tubuhku hampir terjatuh kelantai.


"Nadira ...!" Aku menangkap tubuh Nadira, lama kami saling menatap hingga suara Lisa dan orangtua Nadira menghentikan tatapan itu.


"Ka-kamu tidak apa-apa nad?" ucapku terbata dengan degup jantung yang berpacu sangat cepat.


"Ti-tidak ... Aku tidak apa-apa!" Aku mengalihkan pandanganku saat Kenand menatap kearahku.


Untung saja mereka tidak melihatnya.


TITIK LELAHKU


BY : MiKHAYLA92


Hallo kakak-kakakku, salam kenal dari author ya ... Semoga terhibur dengan ceritanya.

__ADS_1


Dan jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komen kalian dikolom komentar😘❤


Semangatin author, biar bisa up terus😘😘


__ADS_2