
Sekembalinya dari perayaan ulang tahun putriku Davina, aku mengantar mama dan kedua putraku pulang, setelah itu aku memutar arah menuju suatu tempat yang belum sempat aku kunjungi.
Sepanjang perjalanan senyuman tiada henti terbit dibibir ini, kebahagiaanku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, bertemu putri kecilku sebuah anugerah terindah yang tuhan berikan.
Dan aku semakin bertekad untuk membuat ibu dari putriku kembali, memperbaiki rumah tangga kami seperti dahulu, dan yang pasti demi Davina, anakku bisa memiliki orangtua yang lengkap kembali.
Menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Davin sampai ketempat tujuannya. Seseorang datang menghampiri Davin setelah dia keluar dari mobil.
"Malam, bos?" ujar pria bertubuh tegap tersebut.
"Dimana wanita itu?" Davin melirik sekilas kearah pria itu.
"Masih ditempat kemarin, bos!"
"Besok lakukan apa yang telah aku perintahkan, semua bukti sudah lengkap bukan?" ucap Davin dingin.
"Semua bukti sudah tersedia bos! Dan kami akan membawanya besok."
Saat sampai ditempat wanita itu ditahan, sebuah ruangan sempit seperti sebuah penjara menyambut kedatangan Davin.
Derap langkah mengalihkan tatapan wanita yang tengah terduduk sambil memeluk lututnya disudut ruangan.
"Mas Davin! Mas, keluarkan aku dari sini, mas? Teriak Vania.
Seringaian jahat tercetak dibibir Davin, lalu dia melangkah mendekat kearah ruangan yang menyerupai penjara, dan berdiri tidak jauh dari jeruji besi tersebut dengan melipat kesua tangannya didada.
"Bagaimana rumah baru kamu, Vania? Apa kamu menyukainya?" Davin mengambil sebatang rokok, menghisapnya lalu meniupnya kearah wajah Vania.
Wanita itu sampai terbatuk, lalu menatap tajam kearah Davin.
"Nikmati waktumu disini senikmat mungkin! karena Mulai besok kamu akan berada ditempat yang sepadan dengan perbuatan kamu." Davin tersenyum licik.
"Tempat a-apa maksud kamu, mas?" ucap Vania terbata.
Davin mendekati jeruji besi tersebut, lalu mendekatkan bibirnya kearah Vania.
"Penjara yang sesungguhnya." Davin tertawa mengejek.
"Brengsek kamu Davin!" dengan cepat Vania menyelipkan tangannya kesela jeruji mencengkram kuat leher Davin, saat pria tegap itu ingin membantu, Davin langsung memberikan kode melalui matanya, pria itu langsung mundur.
"Setelah kamu merusak wajahku, sekarang kamu akan melemparkan aku kepenjara?" Vania mengeratkan cengkramannya, tapi Davin terlihat biasa-biasa saja, tanpa merasakan sakit sedikitpun.
Ya ... Waktu itu Davin merusak wajah cantik Vania, dan hukuman itu sepertinya belum cukup untuk membalas kejahatan yang dilakukan oleh wanita itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bunuh saja aku sekalian, Davin?" teriak Vania, wanita ini terlihat prustasi.
Hahahaaaa .... Tawa Davin menggema, sambil melepaskan cengkraman tangan Vania yang tidak seberapa itu baginya dengan sekali tarikan cengkraman itu langsung terlepas.
"Membunuhmu sangat mudah untukku, tapi aku tidak akan melakukannya!"
"Hukuman itu terlalu ringan, kamu hanya merasakan sakit detik itu saja setelah itu kamu tidak merasakan apa-apa lagi."
"Bukan ... Bukan itu tujuanku, aku ingin kamu menderita seumur hidup, sampai kamu ingin mengakhiri hidupmu tapi kamu tidak bisa melakukannya."
"Jahat kamu Davin, aku tidak mau dipenjara! Lepaskan aku, lepaskan aku!" Vania memukul mukul besi yang berada didepannya, melihat Davin ingin meninggalkan ruangan sempit tersebut.
"Ah ... Aku melupakan sesuatu." Davin berbalik lalu menatap kearah Vania.
"Sepertinya kasusmu bukan itu saja! Davin menjeda ucapannya.
"Aku akan melaporkan kamu atas kasus penyalahgunaan Obat-obatan terlarang."
"Aku tidak memakai obat-obatan, Davin! Bentak Vania.
"Benar ... Kamu tidak memakainya, tapi kamu memberikannya pada orang lain."
"Apakah benar, Vania?" Davin mencengkram kedua pipi Vania.
"Ti-tidak ... Aku tidak pernah melakukan itu!" Vania berusaha melepaskan cengkraman tangan Davin.
"Jangan kamu fikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan dibelakangku, kamu bersama lelaki yang bernama James itu ingin menjebakku, bukan?" tekan Davin.
"Ka-kamu salah paham, Davin! A-aku tidak pernah melakukannya."
"Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan kamu, Vania! saat ini aku hanya ingin mengingatkan kamu tentang perbuatan-perbuatan yang telah kamu lakukan." Davin melepaskan cengkramannya.
"Lepaskan aku, Davin!"Vania berteriak-teriak, suaranya menggema didala ruangan sempit tersebut, dia benar-benar panik sekarang.
"Jangan penjarakan aku, mas!" tubuh Vania merosot kelantai.
Davin meninggalkan ruangan tersebut, pria yang bersamanya sedari tadi mengikutinya dari belakang.
"Apa keberadaan pria bernama James itu sudah ditemukan?" tanya Davin setelah mereka tiba diluar.
"Belum, bos! Sepertinya seseorang telah menemukannya terlebih dahulu." jawab pria tersebut.
"Kami menemukan beberapa bukti, jika ada beberapa orang yang membawanya dari gedung tempat acara itu diadakan."
__ADS_1
"Selidiki terus siapa yang membawa pria itu?"
ujar Davin lalu masuk kedalam mobilnya.
"Apa Kenand berada dibelakang semua ini? gumam Davin, aku sangat yakin Kenand ikut andil dalam kasus ini, jika orang lain aku pasti sudah menemukan pria yang bernama James tersebut, hanya persembunyian Kenand yang sangat sulit untukku melacaknya, karena pria itu memiliki kekuasaan didunia gelap.
Davin mengingat kembali masalalunya bersama Kenand dan Reza, mereka bertiga tidak hanya sukses didunia bisnis tapi juga sukses didunia gelap, tapi tindakan keriminal yang mereka lakukan hanya akan merugikan orang-orang yang sudah kami targetkan.
Dunia mafia yang dipimpin Kenand tersebut merambah kemancanegara, beberapa pebisnis ternama dari beberapa negara memakai jasa kami untuk melumpuhkan lawannya, tentunya kami tidak asal-asal pilih klien, kami hanya akan membantu pihak yang benar-benar bersih.
Tapi dunia itu sekarang sudah kami tinggalkan setelah kesalahpahaman terjadi antara aku dan Kenand, kami memilih jalan masing-masing, dan hubungan kami semakin merenggang saat Kenand ikut campur dalam urusan rumah tanggaku bersama Nadira.
Davin menghela nafas, lalu melajukan mobilnya kembali kerumahnya saat bersama dengan Nadira dulu.
Saat sampai dirumah, Davin mengitari setiap sudut ruangan, rumah yang sudah jarang dia kunjungi, setelah kepergian Nadira Davin sering menghabiskan waktu dan diluar rumah dan akan kembali kerumah orangtuanya.
Sepertinya aku akan kembali lagi kerumah ini, aku membawa Nadira bersama putri kecil kami kembali.
****
"Ma ... Biarkan Davina tidur dikamarku!" aku menghentikan langkah mama yang akan membawa putriku kekamarnya.
"Dan aku ingin menanyakan sesuatu dengan mama?" mama menatap serius kearahku.
"Ya sudah, mari kita kekamar kamu." jawab mama sambil menaiki tangga menuju kamarku, aku berjalan disisi kanan mama.
Setelah mama meletakan Davina, mama menatap kearahku.
"Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya mama.
"Soal gaun yang kami pakai?"
"Apa mama yang memesannya?" selidik Nadira.
"Bukankah kamu sendiri yang memesannya?" tanya mama balik.
"Mama hanya menerima paketannya saja, lalu meletakkan langsung diatas tempat tidur kamu! Memangnya bukan kamu yang pesan?" mama mengerutkan keningnya.
"Bukan ma! Awalnya aku juga mengira mama yang memesankannya untukku dan Davina." ujar Nadira.
Itu artinya mama tidak tahu keberadaan Kenand, Nadira terduduk, harapannya untuk menemukan Kenand gagal, satu airmata lolos dikedua pipi Nadira.
"Sayang kamu kenapa nangis?"
__ADS_1
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92