
Setelah dari pertemuannya dengan pasangan yang baru dia ketahui Davin memutuskan pulang karena tidak memiliki semangat lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Disaat yang bersamaan Vania juga baru sampai setelah mengantar kedua putranya kerumah omanya.
"Kamu sudah pulang, mas?" Vania langsung menyalami dan mengambil tas yang berada ditangan suaminya.
Dengan cepat Davin langsung menarik tangannya melihat Vania membuat emosinya semakin bertambah.
"Biar aku yang bawa tasnya kedalam, mas?" jawab Vania, Davin langsung melemparkan tas kerjanya kehadapan Vania, untung saja Vania bisa menangkapnya kalau tidak pasti ucapan sumpah serapah yang akan keluar dari mulut suaminya.
Hanya elusan didadanya yang bisa Vania lakukan, dia akan menerima setiap perlakuan Davin dengn ikhlas, Vania akan menganggap semua ini tebusan untuk kesalaham-kesalahan yang telah dia perbuat dahulu.
Menyusul Davin dari belakang yang melangkah terlebih dahulu menuju kamarnya.
"Mas ... Ta-tasnya?" tanya Vania gugup karena tidak berani memasuki kamar suami.
Davin tuli tidak mendengarkan ucapan Vania sedikitpun dia langsung menuju kamar mandi untuk mendinginkan otaknya yang terasa memdidih karena baru mengetahui hubungan wanita yang sudah menjadi incarannya apalagi pria yang bersama wanita itu tidak lain sahabatnya sendiri.
Vania meletakkan tas kerja Davin diatas nakas dan tentunya setelah suaminya sudah berada dikamar mandi.
Dadanya begitu nyeri saat melihat disetiap sudut kamar pria yang sudah menjadi suaminya saat ini terpampang jelas foto-foto Nadira, padahal sekarang wanita itu sudah menjadi mantan istrinya.
Tidak dipungkiri hati Vania benar-benar sakit menyaksikan semua ini dan tidak bisa dia pungkiri juga rasa untuk suaminya masih bersemayam dihatinya, sedikitpun cinta untuk suaminya tidak pernah pudar.
"Ya allah, luluhkanlah hati mas Davin, kuatkanlah hati hamba menjalani rumah tangga ini. ini benar-benar sakit, sampai saat ini mas Davin masih belum bisa melupakan Nadira dari hatinya."
Vania menyeka sudut matanya yang berembut, tidak ingin Davin memergokinya sedang berada dikamarnya, lalu Vania memutuskan keluar dari kamar menuju dapur.
Meskipun Davin tidak pernah menyentuh makanan yang dimasaknya tapi Vania tulus melakukannya sebagai bukti baktinya terhadap suaminya dengan harapan suatu saat suaminya bisa menerima keberadaannya.
Satu jam berkutat dengan bahan makanan membuat makanan kesukaan suaminya dan harapan Davin mau memakan masakannya kali ini.
Anak-anaknya menginap dirumah omanya malam ini, karena besok weekend dan mereka ingin liburan bersama oma opanya.
__ADS_1
Setelah menata semua masakan dimeja Vania memutuskan membersihkan diri lalu melangkah menuju kamar Davin mengajak suaminya makan bersama.
"Mas ..." panggil Vania hati-hati, beberapa detik tidak ada jawaban sama sekali.
Vania kembali memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar sekali lagi sampai seseorang muncuk dengan membuka pintu secara kasar.
"Kamu tuli ... Berhenti mengusik kehidupanku." bentak Davin kekesalannya semakin bertambah saat menatap wajah wanita yang sangat dibencinya selama ini.
"Maafkan aku mas, sejak siang tadi mas belum makan apa-apa, jadi aku memutuskan untuk memanggil kamu , mas." ucap Vania terisak.
"Makanya punya telinga itu gunakan dengan benar."
"Sudah berapa kali aku bilang jika tidak ada anak-anak kita hanya orang asing." Davin mencekal kuat tangan Vania dia benar-benar geram dengan wanita yang ada dihadapannya saat ini lalu mendorongnya dengan kasar.
Sampai dimeja makan satu kali tarikan semua masakan yang sudah Vania hidangkan berserakan dilantai, Vania menutup kedua telinganya tangisannya langsung pecah.
"Jika sekali lagi kamu mencampuri urusanku, aku tidak segan-segan menyakiti kamu lebih dari ini."
"Sudah beruntung aku masih menampungmu yang sebatang kara disini dan tidak memisahkan kamu dari anak-anak."
Sejak Vania kembali, Davin tidak memakai jasa asisten rumah tangga, semuanya dikerjakan oleh Vania dan dia juga tidak memberikan nafkah lahir maupun bathin untuk Vania.
Semua kebutuhan rumah tangga dan anak-anaknya semua sudah disiapkan olehnya, urusan Vania Davin tidak tahu menahu dimana dan dari mana wanita itu mendapatkan uang untuk kebutuhan pribadinya.
Hiks ...
"Kamu harus kuat Vania, jangan karena masalah sepele seperti ini kamu mundur, jangan sampai Davin memisahkan kamu dari anak-anakmu lagi," gumam Vania menguatkan hatinya sendiri.
Dengan sabar Vania membersihkan pecahan dan makanan yang telah dihancurkan oleh suaminya, dia melupakan perutnya yang sejak tadi belum diisi sedari tadi dengan harapan agar suaminya mau makan bersama dengannya nanti.
***
Hari ini Nadira dan Kenand mengantar putrinya kerumah papanya, memang hari weekend seperti ini Davina sering menghabiskan waktu bersama papa dan kedua kakaknya, mereka disambut oleh Vania.
__ADS_1
"Masuk Nad, Ken?" ujar Vania dengan suara parau.
"Kamu sakit, Mbak?" tanya Nadira, dia melihat Vania terlihat pucat.
"Enggak kok Nad, semalam kurang tidur saja." ujar Vania memaksakan tersenyum dihadapan Nadira.
"Syukurlah ... Tapi kok sepi ya mbak?" tanya Nadira saat melihat sekeliling rumah Vania.
"Ah ... Iya! Anak-anak menginap ditempat omanya, dan mas Davin sedang keluar sebentar." ujar Vania berbohong, dia tidak ingin masalah rumah tangganya diketahui oleh banyak orang.
"Mbak, aku titip Davina boleh? Mas Davin perginya enggak lamakan?" Tanya Nadira hati-hati karena takut merepotkan Vania.
"Boleh ... Mas Davin enggak lama kok, biar mbak yang jaga Davina." jawab Vania.
"Maaf merepotkan ya, mbak?" balas Nadira sungkan.
"Tidak apa-apa kok, Nad! lagian sebentar lagi papanya pasti pulang." jawab Vania.
Untung saja Davina mengerti dengan ucapan Nadira, dia mengatakan jika sebentar lagi papanya akan kembali jadi dia tidak rewel dan merepotkan Vania.
"Sayang ... Kamu yakin menitipkan putri kita?"
"Kenapa tidak kita tunggu saja sampai davin kembali?" ujar Kenand yang begitu mengkhawatirkan putrinya.
"Mas ... Mbak Vania itu sudah berubah, dan sudah seharusnya Davina mengakrabkan diri dengan mama sambungnya tersebut." jelas Nadira.
"Aku yakin mbak Vania tidak akan menyakiti Davina! Yuk berangkat, nanti telat lagi kontrolnya." Nadira mengusap pundak suaminya.
"Kamu ya ... tidak bisa berfikiran buruk sedikiiit saja, bagaimana jika Vania masih dendam terhadap kamu?" balas Kenand mencuil pucuk hidung istrinya.
"Kita tidak boleh seudzon mas, aku yakin mbak Vania benar-benar sudah bertaubat." ujar Nadira yakin.
"Mas memang tidak bisa membantah." balas kenand mengalah lalu menghidupkan mesin mobilnya meninggalkan perkarangan rumah Davin.
__ADS_1
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92