TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Vania menjadi sasaran kegilaan Davin


__ADS_3

Davin mendorong kasar tubuh Vania sampai membentur pintu mobil.


"Berani-beraninya kamu mendekatiku seperti ini, Vania!" Davin mencengkram kuat pipi Vania.


Vania berusaha memberontak.


"Sa-sakit mas." Vania beruasaha melepaskan cengkraman tangan Davin.


"Kamu sudah berani bertindak lebih jauhkan, maka kamu harus bisa menahan rasa sakitnya." Seringai Davin.


"Ah ... Bagaimana jika kita bermain-main sebentar?" Davin mengeluarkan pisau kecil dari laci dashboard mobilnya.


"Ma-mas, ka-kamu mau apa?" Vania mulai diserang rasa panik, dia berusaha membuka pintu mobil, tapi naas pintunya sudah terkunci otomatis.


"Bukannya kita akan bermain-Main."


"Bagaimana jika kita bermain-main dengan wajah cantikmu, Vania?" Davin memainkan pisau kecil itu diwajah Vania lalu menelusuri setiap jengkal wajahnya.


"Ma-mas ... Jangan mas! Ka-kamu bisa melukaiku." ucap Vania terbata.


"Diam ... ! Jika kamu bergerak pisau ini akan menggores wajahmu."


"Ma-mas! Tubuh Vania bergetar hebat, Davin tidak menghiraukan ketakutan Vania, airmatanya jatuh semakin deras.


Davin menarik rambut panjang Vania, sampai wanita itu mendongakkan wajahnya, Davin sedikit menggores pipi Vania dengan pisau kecil yang berada ditangannya.


"Maaaasss ...! Sakit, mas." Teriak Vania, dia merasakan perih diwajahnya.


"Ini belum seberapa Vania! Luka yang aku rasakan lebih sakit dari ini."


Davin semakin mengeratkan tarikan dirambut Vania.


"Kamu gila, mas! Kamu ditinggalkan oleh Nadira akibat ulahmu sendiri."


"Kamu sendiri yang membohonginya."


Hahahaaaa ... Suara tawa Davin menggema didalam mobil.


"Benar ... Akulah penyebabnya."


"Tapi kamu yang menambahkan minyak tanah kedalam kobaran api, hingga api tersebut membakar semuanya."


"Semuanya, Vaniaaa ...!


Emosi davin tidak terkendali lagi, tubuh Vania semakin bergetar menahan rasa takut.


"Ma-mas lepaskan aku, mas!" Vania menangis ketakutan melihat kilatan kemarahan dimata Davin yang terlihat memerah.


Yang dikatakan James benar, mas Davin akan menggila jika ada pemicunya, tapi kenapa aku yang menjadi sasaran amukan mas Davin.


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah mendekatiku seperti ini! jika kamu tidak ingin aku melakukan tindakan yang jauh lebih gila lagi dari ini."

__ADS_1


Davin semakin menekankan pisau kewajah Vania, lalu menariknya kembali, darah segar mengalir dipipi Vania akibat goresan pisau yang Davin lakukan.


Vania langsung memegang pipinya yang terasa perih, darah menempel ditelapak tangannya.


Aku membekap mulutku, takut mas Davin semakin bertindak lebih, dia benar-benar menyakitiku.


"Keluaaaarrr ..." Teriak mas Davin.


Vania tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dia langsung membuka pintu mobil, dan gegas keluar, karena terburu-buru Vania tersandung kakinya sendiri hingga membuatnya tersungkur disisi mobil Davin.


Vania menatap mobil Davin melaju dengan kencang meninggalkannya yang masih dengan posisi tersungkurnya.


James melangkah kearah Vania lalu berjongkok disisinya.


"Sudah kuduga kamu pasti akan gagal." ujar James seraya membantu Vania berdiri.


Aku melirik tajam kearah James, "Jika kamu sudah menduganya, kenapa kamu memintaku untuk menemuinya." Vania menatap kesal kearah James.


"Bukankah kamu ingin melihat kegilaan Davin?" ucap James dengan santainya.


"Iya, aku memang ingin melihatnya! Tapi bukan aku sendiri yang menjadi umpannya."


"Lalu, kenapa dengan wajahmu?" James menyentuh luka diwajah Vania.


"A- aawhh ... Jangan menyentuhnya!" Vania menarik tangan James dari wajahnya yang terasa perih.


"Davin yang melakukannya, dia mengancamku akan melakukan hal yang jauh lebih gila dari ini." ungkap Vania.


"Ya ... Enggak lah! Aku tidak akan menyerah."


"Bagus! Aku sangat menyukai ambisimu, Vania." seringai James.


"Bantu aku cari klinik, James! Lukaku rasanya semakin perih."


****


Sekarang Davin tengah berada tidak jauh dari halaman rumah Nadira, setelah pertemuannya dengan Vania.


Berani sekali wanita rubah itu mendekatiku setelah apa yang telah dia lakukan, jika bukan karena dia yang mencelakai Nadira waktu itu mungkin aku masih bisa membujuk Nadira agar tetap disisiku.


Davin menyenderkan kepalanya disandaran mobil, memijit pelipisnya yang terasa sedikit pusing lalu mencoba memejamkan matanya untuk meredam rasa pusing di kepalanya.


Setelah dirasa cukup mendingan, Davin mengambil ponselnya dari balik saku celana. lama davin menatap kelayar, lebih tepatnya menatap foto profil diponsel tersebut.


Dahulu kita sangat bahagia, Nad! Tapi sekarang semua kebahagiaan itu sirna dalam sekejab, belum puas rasanya menikmati kebahagiaan bersama orang yang aku cintai, badai datang menerpa akibat kebohonganku sendiri.


Airmataku menetes dilayar ponsel tepat diatas foto Nadira, aku menepuk dadaku yang terasa semakin sesak.


Lalu aku membuka aplikasi yang berwarna hijau, lalu mengirimkan pesan kenomor Nadira.


"Mas berada diluar halaman rumahmu, Nad?" isi pesan yang aku kirim.

__ADS_1


Cukup lama aku menerima balasan, lalu aku melihat tulisan mengetik diponselku.


"Ngapain? Jangan sampai orangtuaku melihatmu, mas." balas Nadira.


"Jika tidak ingin mas membuat kegaduhan didalam rumahmu, temui mas sekarang!" balasku dengan sedikit memaksa.


"Kamu apa-apaan, mas! Aku tidak mau." Gigiku gemeratuk membaca balasan pesan Nadira.


"Kalau begitu, jangan salahkan mas masuk kesana." lama aku menunggu, akhirnya senyum terukir diwajahku saat melihat isi balasan Nadira. Aku keluar dari dalam mobil menunggu wanita yang sangat aku rindukan menemuiku.


Sedangkan Nadira masih mengintip dibalik tirai kamarnya, Nadira bisa melihat dengan jelas Davin tengah berada di ujung pagar rumahnya karena kamar Nadira yang berada dilantai dua.


Apa yang akan aku katakan kepada orangtuaku. jika mereka bertemu dengan mas Davin takutnya mereka akan bersitegang, terutama mama, dia sangat membenci mas Davin.


Aku menggigit ujung kukuku, apa ini saatnya aku mengatakan soal Davina? Sudah semestinya mas Davin mengetahui tentang anaknya.


Akhirnya aku memutuskan untuk menemui mas Davin, aku mencari alasan yang tepat agar mama dan papa tidak curiga.


Saat akan menuruni tangga, aku melihat mama dan papa tengah bermain dengan Davina, aku berjalan mendekati mereka.


"Ma, Aku titip Davina ya?" aku duduk lesehan didekat mereka.


"Memangnya mau kemana malam-malam begini, Nad?" ujar mama.


"Cuma kekonter diujung jalan sana kok ma, paket ponselku habis!"


"Ya sudah, kalau cuma kesana habis itu langsung pulang." mama menatapku.


"Ma, anakmu itu sudah besar! jangan terlalu cemas berlebihan, papa menegur mama yang sangat protektif terhadapku.


"Mama hanya tidak ingin Nadira bertemu dengan Davin pa?"


Deghhh ...


Ucapan mama langsung mengenaiku, bathin seorang ibu memang tidak pernah salah.


"Davin tidak mungkin berani menemui anak kita kesini, ma? Sudah ... Jangan terlalu mencemaskan Nadira."


"Iya ... Iya pa! Mamakan cuma khawatir."


"Kalau begitu, aku pergi sebentar ya ma." Nadira mencium pipi Davina yang semakin hari semakin gembul saja.


"Mommy pergi sebentar ya, sayang?" Mommy janji akan mempertemukan kalian secepatnya.


Aku mengendarai motor matikku untuk meyakini orangtuaku.


Maafkan Nadira, ma, pa ... Bukannya ingin membohongi kalian, aku hanya tidak ingin mas Davin membuat keributan disini, dan itu akan menambah beban fikiran orangtuaku, apalagi mama, pasti mama akan sedih lagi. bathin Nadira.


Aku melihat mas Davin berdiri disisi mobilnya, aku menghentikan motorku tepat disampingnya.


TITIK LELAHKU

__ADS_1


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2