TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Karma untuk Davin


__ADS_3

Semenjak kejadian penculikan Nadira yang aku lakukan, semua orang menjauhiku, bahkan kedua orangtuaku enggan berbicara.


Dan aku baru mengetahuinya, ternyata pernikahan Nadira ditunda dan akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.


Nadira memegang ucapannya, dia tidak mengizinkanku bertemu putriku, bahkan mereka menyewa beberapa bodyguard untuk menjaga Davina, jangankan untuk masuk kerumah, mendekati pagar rumah saja para bodyguard tersebut sudah menghalangiku sepertinya mereka telah menandai wajahku.


Seperti hari ini, aku mencoba kembali untuk yang kesekian kalinya tapi aku tidak langsung mendekati rumah Nadira, hanya melihat dari kejauhan saja, mungkin saja putriku sedang bermain dihalaman rumah, hari ini aku benar-benar merindukan Davina.


Dan benar saja dari kejauhan aku melihat Nadira sedang mendorong sepeda Davina, mereka tertawa bahagia sedangkan aku disini menderita seorang diri, tidak ada yang menemani bahkan mama papa juga melarangku bertemu dengan kedua putraku, aku benar-benar sendirian sekarang.


Aku mencoba mendekat kearah gerbang, untung saja tidak ada bodyguard disini jadi aku bebas menatap putriku dari jarak yang lumayan dekat, ingin sekali aku berlari kearahnya memeluk putri yang sangat aku rindukan beberapa minggu ini.


Tak terasa air mata ini[ jatuh begitu saja, penyesalanku datang telambat, andai saja aku tidak melakukan tindakan bodoh seperti itu mungkin saat ini aku sudah berada disana sekarang, aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang telah Nadira berikan, karena keegoisan dan obsesiku untuk memiliki Nadira aku kehilangan semua orang, terutama Davina.


"Papa ..." teriak Davina, aku tersentak mendengar teriakan putriku yang memanggil namaku.


Aku terisak saat Nadira ingin membawa Davina kedalam, sebenci itu Nadira melihatku sampai-sampai tagisan Davina tidak mampu meluluhkan hatinya, Davina pasti juga sama sepertiku yang sangat merindukannya.


"Mommy ... Mau papa." Davina menangis tersedu, Sekeras itukah hatimu Nad, gumam Davin.


"Sayang ... Kita kedalam saja ya nak? Nanti mommy telpon daddy, biar mainnya sama daddy saja." bujuk Nadira.


"Enggak ... Mau papa!" Davina memberontak, hingga pegangan tangan Nadira terlepas.


Davina berlari kearahku, aku hanya bisa memegang pipinya disela-sela pagar.


"Gendong pa! Adek pengen gendong." rengek Davina, aku menatap Nadira yang terpaku tidak jauh dari kami, tatapan memohon agar kali ini dia mengizinkan aku untuk memeluk putriku.

__ADS_1


Helaan nafas keluar dari mulut Nadira, dia melangkah kearah pos penjaga, sesaat kemudian satpam yang menjaga rumahnya segera berlari kearah pintu gerbang.


Aku langsung berlari kearah putriku, membawanya kedalam dekapanku lalu mengendongnya, kulepaskan rindu yang selama ini terpendam.


"Lima belas menit mas, setelah itu kamu harus membujuk Davina supaya tidak menangis lagi saat kamu tinggal nanti." ucap Nadira dingin.


"Terimakasih sudah mengizinkan aku bertemu dengan putri kita." ucap Davin.


Tanpa menjawab, Nadira langsung beranjak, sangat terlihat api kebencian dari tatapan Nadira, berbicarapun dia enggan menatap kearahku, Nadira memilih duduk diteras rumah sambil menatap kearahku yang tengah melepas rindu dengan putriku, aku memanfaatkan waktu lima belas menit yang diberikan oleh Nadira untuk bermain sepuasnya dengan putriku.


"Maaf mas, waktumu habis! Aku harap kamu tidak kemari lagi setelah ini." ucap Nadira ketus, lalu langsung mengendong Davina.


"Nad ... beri mas waktu sebentar lagi, mas belum puas bermain dengan putri kita." mohon Davin.


"Jangan melewati batasan mas, aku sudah berbaik hati mengizinkan kamu menginjakkan kaki di halaman rumah kami, jika Davina tidak menagis saat melihatmu, aku tidak akan mempertemukan kalian." balas Nadira.


"Nad, aku minta maaf! sekarang aku baru sadar ternyata keegoisanku selama ini hanya akan menghancurkan kebahagiaanku sendiri."


"Aku menyesal Nad, aku benar-benar menyesal." sesal Davin."


"Berdiri mas, jangan pernah membuat Davina berfikir yang bukan-bukan tentang kita, walaupun usianya masih terbilang belum mengerti tentang situasi seperti ini."


Davin langsung berdiri dan terpaksa menampilkan senyumnya dihadapan putrinya yang seperti kebingungan menatap kearahnya lalu berganti menatap kearah Nadira.


"Ada apa sayang?" senyum Nadira, yang hanya dibalas dengan gelengan oleh putriku.


"Jangan harap aku akan mempercayaimu kali ini ya, mas? Kamu sudah membohongi kami semua, apa kamu fikir aku akan langsung percaya dengan kamu mengatakan kamu telah menyesalinya?"

__ADS_1


"Tidak mas ... Aku tidak akan segampang itu mempercayai kamu." ucap Nadira tegas.


"Aku mengerti jika kamu tidak gampang mempercayaiku lagi Nad, kesalahanku sudah begitu besar, aku telah merusak hari bahagiamu, tapi aku bersumpah atas nama Allah jika aku benar-benar telah menyesalinya." sumpah Davin.


"Buktikan, jika hanya dengan ucapan aku tidak akan pernah mempercayai kamu lagi, mas! Cukup sudah kamu mempermainkan kepercayaan kami selama ini."


"Sekarang pulanglah mas, jangan pernah kemari lagi sebelum kamu benar-benar bisa membuktikan jika kamu memang telah menyesalinya." timpal Nadira.


"Aku janji Nad, akan aku buktikan jika memang telah menyesali semuanya, aku fikir dengan menghancurkan pernikahanmu aku bisa bahagia, ternyata tindakanku malah membuatku kehilangan orang-orang terkasihku." aku beralih menatap putriku setelah tidak ada jawaban lagi yang terucap dari bibir Nadira.


"Sayang ... Papa pulang dulu ya nak? Besok papa pasti balik lagi." bujuk Davin kepada putrinya.


"Janji ya pa?" Davina mengacungkan jari kelingkingnya.


"Papa janji nak, kamu baik-baik ya sama mommy." lalu menautkan jari kelingking kami, berusaha menampilkan senyum terbaikku agar putriku percaya.


"Papa pulang ya nak!" aku mencium pucuk kepala Davina, Nadira mengalihkan tatapannya kearah lain, sakit sekali hati ini saat Nadira memperlakukanku sedingin ini.


"Assalamualaikum putri papa?" aku mengelus pipi putriku.


"Wa'alaikumsalam papa." Davina melambaikan tangannya, dan aku membalasnya lalu langsung berbalik meninggalkan mereka, airmata ini tidak bisa lagi kubendung.


Aku sungguh menyesalinya Nad! Dan akan aku terima jika semua yang terjadi dihidupku kali ini adalah karma dati perbuatanku sendiri.


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92

__ADS_1


__ADS_2