
"eh eh ... Ma-maaf, aku tidak senga?" Vania menatap lelaki yang dia tumpahkan minumannya.
"Kenand! Maaf ya ken, aku benar-benar tidak sengaja." Vania mulai memainkan sandiwaranya.
"Ya sudah ... Tidak apa-apa!" Kenand mengibaskan jasnya yang terkena tumpahan minuman.
"Aku akan membantumu?" spontan Kenand merapatkan tubuhnya kearah Nadira, sedikit menjauhi Vania yang ingin menyentuh Jasnya.
"Tidak perlu." ucap Kenand dingin.
Vania melirik kearah Nadira lalu memalingkan wajahnya segera, "Sekali lagi aku minta maaf ya, Ken? Kalau begitu aku permisi.
"Nad, tidak apa kamu aku tinggal sebentar?" tanya Kenand, Nadira mengalihkan tatapannya dari Vania kearah Kenand.
"Tidak apa-apa, Ken! Tapi bagaimana dengan pakaianmu?" Nadira menatap pakaian Kenand yang telah basah.
"Aku akan mengambil pakaian gantiku dimobil! sebentar ya, Nad?"
Nadira memutuskan untuk duduk dimeja yang telah disediakan untuk para tamu undangan, seorang wanita meminta izin duduk satu meja dengan Nadira.
"Permisi mbak! Boleh gabung?"
"Silahkan mbak" Balas Nadira sambil tersenyum kearah wanita tersebut.
"Sendirian mbaknya?" tanya si wanita.
"Tidak! Teman saya lagi kekamar mandi." jawab Nadira.
Wanita itu hanya mangut-mangut, dia mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, lalu menawarkannya pada Nadira.
"Maaf mbak, aku tidak merokok." ucap Nadira selembut mungkin.
Entah sengaja atau tidak, wanita itu meniupkan asap rokoknya kewajah Nadira berkali-kali, Nadirra mengibaskan kedua tangannya agar asap tersebut hilang.
"Mbak, uhuk ... Uhuk." Nadira sampai terbatuk karena asap rokok tersebut.
"Mbak, bisakah mbak menjauhkan asap rokok, mbak?" Nadira memegang dadanya yang terasa sesak., ternyata Nadira paling sensitif dengan asap.
Si wanita langsung mematikan asap rokoknya saat melihat Nadira kesulitan bernapas, lalu memberikan air mineral yang ada diatas meja kearah Nadira.
Nadira langsung meneguk minuman tersebut dengan sekali tegukan.
"Ya ampun mbak, kenapa tidak bilang jika mbak tidak bisa terkena asap rokok." wanita itu membantu menggosok punggung Nadira.
"Bagaimana? Apa sudah mendingan?" Nadira mencoba mengatur nafasnya perlahan, lalu mengangguk.
"Sudah mbak." jawab Nadira.
"Maaf atas kejadian tadi ya mbak? Kalau begitu aku kesana dulu, jika mbak berkenan mbak boleh gabung bersama kami." ujar siwanita basa-basi.
"Terimakasih banyak atas tawarannya mbak, tapi aku disini saja mungkin sebentar lagi teman saya akan kembali." Nadira menolaknya secara halus.
"Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu mbak." lalu wanita itu pergi dari hadapan Nadira.
Beberapa saat Nadira merasakan ada perasaan aneh yang dia rasakan dari dalam dirinya, Nadira memijit pelipisnya yang terasa pusing.
__ADS_1
"Nad, kamu sakit?" James mendekati Nadira.
"Kepalaku cuma sedikit pusing." Nadira meremas jemarinya Kuat menahan rasa panas disekujur tubuhnya.
"Mari aku bantu! James membantu Nadira berdiri, meskipun Nadira menolak tapi tubuhnya tidak bisa berbohong, saat James menyentuhnya tubuh Nadira tegang seketika, dia menginginkan sentuhan yang lebih Nadira berusaha menahan keinginannya.
Seringaian tercetak diwajah James, kamu akan menjadi milikku mulai saat ini Nadira, gumam James.
"Jika kamu kurang enak badan, disini ada kamar kosong, kamu boleh menggunakannys untuk beristirahat. Nad?"
"Tidak usah, James! Aku disini saja, sebentar lagi Kenand pasti kembali." Nadira masih memijit pelipisnya yang terasa semakin pusing.
"Tapi kamu pucat loh? Ayo ... Biar saya antar."
James meraih jemari Nadira, lalu meremasnya pelan dan itu sukses membuat tubuh Nadira semakin panas, Nadira tidak mampu menolaknya, walaupun Nadira sudah beruasaha
"Ayo Nad." James menggandeng Nadira dan membawanya kelantai atas gedung tempat
Nadira mulai kehilangan kesadarannya, dia mengalungkan tangannya keleher James.
"Sebentar ya, Nad!" James sedikit kesusahan membuka pintu karena Nadira tidak berhenti menyentuhnya.
"Pa-panas." racau Nadira, James membawa Nadira kedalam kamar, belum sempat James menutup pintunya Nadira menarik James hingga terjatuh keatas tempat tidur.
"Kamu menginginkannya, sayang?" James membelai wajah Nadira.
emmmph ... Lenguh Nadira karena sentuhan James diwajahnya, Nadira benar-benar telah kehilangan akal sehatnya, dia tidak menyadari melakukannya dengan siapa.
Saat James akan mencium bibir Nadira, satu pukulan mendarat dibagian belakang kepala James.
Ahhhhhkh ... Teriak James merasakan sakit yang teramat dibagian lehernya
"Hei ... Ken! Kamu salah, Nadira sendiri yang memintanya." James menahan pukul Kenand.
"Kamu fikir aku bodoh, aku tahu apa yang sedang terjadi." Kenand kembali melayangkan pukulan kearah James bertubi-tubi.
"Aku tidak akan membiarkan lelaki manapun menyentuh milikku." Pukulan Kenand terhenti saat mendengar suara rintihan Nadira.
"brengsek ... apa yang sudah kamu berikan kepada Nadira, hah!" satu pukulan keras membuat James kehilangan kesadaranya.
Kenand menghampiri Nadira yang berusaha membuka pakaiannya, lalu membuka jasnya lalu memasangkannya ketubuh Nadira.
"Pa-panas!" aku tidak tahan, desah Nadira. Nadira langsung memeluk tubuh Kenand, dan menyerang bibir lelaki itu.
Kenand melepaskan pangutan bibir Nadira, lalu menggendongnya ala bridal style.
"Dit ... bereskan lelaki yang ada didalam." ternyata Kenand datang bersama asistennya.
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, kan?"
"Bapak tenang saja! Semuanya akan aku bereskan." adit meyakinkan bosnya.
"Satu lagi, kumpulkan semua bukti tentang Vania dan kirimkan ke Davin. Aku tahu wanita itu ikut andil dalam kejadian ini." perintah kenand.
Kita lihat Vania bagaimana gilanya Davin jika sudah menyangkut hal yang menyakiti Nadira, sepertinya cukup Davin saja yang memberikanmu pelajaran, seringai Kenand.
__ADS_1
Nadira meracau tidak jelas, tangannya tidak diam, dan terus saja menyentuh bagian tubuh Kenand.
Kenand berusaha menahan akal sehatnya agar tidak mengambil kesempatan dalam ketidak berdayaan Nadira.
Nadira menatap sendu kearah Kenand yang masih menggendongnya, dan melatakkannya didalam mobil.
"Ken, Kenand!" panggil Nadira, bantu aku? Ini menyakitiku, Ken." Nadira langsung ******* bibir Kenand, wajah cantik Nadira memerah menahan gejolak yang tidak tersalurkan.
"Nadira, kamu harus tahan!" Kenand melepaskan pangutan bibir Nadira, lalu menutup pintu mobil.
Kenand duduk dikursi kemudi, meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang, Nadira masih mengerayangi tubuhnya.
"Halo, za ... Kamu dimana?" Kenand menghubungi reza sahabatnya.
"Baiklah, aku segera kesana." Kenand langsung mengemudikan mobilnya, racauan Nadira semakin tidak Jelas, tangannya tidak berhenti mengerayangi tubuh Kenand.
Jika seperti ini, aku tidak bisa menahannya Nadira, Kenand menghentikan tangan Nadira yang akan menyentuh bagian sensitifnya.
Aku harus segera sampai ketempat Reza, aku pria normal jika Nadira terus seperti ini, aku yang tidak bisa menahannya.
Kenand langsung menggendong Nadira, sambil meneriaki nama Reza, dan membawa Nadira keruangan tempat praktik Reza yang berada disebelah rumahnya.
"Apa yang terjadi, Ken?" Reza menanyakan Setelah Kenand meletakkan Nadira diberangkar.
"Seseorang memberikannya obat pe**ng*ang." ujar Kenand.
"Aku akan memeriksanya." Nadira menarik tangan Reza saat dia ingin mengcek keadaan Nadira.
"Apa yang kamu lakukan, Za!" Kenand menarik Reza agar menjauhi Nadira.
Nadira mendudukkan tubuhnya lalu mengaitkan tangannya kepinggang Kenand, lalu mengusapkan wajahnya kedada bidang Kenand.
"Aku tidak melakukan apa-apa Ken, wanita itu sendiri yang menarikku." Reza mengusap kuduknya. Siapa wanita cantk yang bersama Kenand saat ini, bathin Reza.
"Apa kamu cemburu?" goda Reza.
"Bukan saatnya bercanda, Za! Kita harus melakukan sesuatu." Kenand masih menahan tangan Nadira yang tidak mau diam.
"Ini sangat panas! Nadira terus meracau tidak jelas.
"Makanya jangan cemburuan seperti itu, bagaimana aku memeriksanya jika kamu melarangku menyentuhnya."
Sepertinya mereka memberikan dosis yang tinggi Ken, sepertinya hanya itu yang bisa membantunya." Reza menatap serius kearah Kenand.
"Ma-maksud kamu itu apa, Za?" ujar Kenand
"Kamu pasti mengerti maksud ucapanku, Ken!"
"Aku tidak mungkin melakukan itu, za! Apa kata Nadira saat dia sadar nanti."
"Apa tidak ada cara lain? Aku tidak mau jika Nadira nantinya membenciku."
"Kita tidak punya banyak waktu Ken, obat itu bisa merusak syarafnya jika wanita ini tidak mendapatkan pelepasannya."
Kenand meraup kasar wajahnya.
__ADS_1
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92