TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
kegilaan Davin


__ADS_3

"Nadira ... "


Mas Davin terus meneriaki namaku, karena jarak kami terbilang sangat jauh dan karena keramaian mas Davin kesulitan untuk mengejarku.


Aku berlari ditengah keramaian, tidak ingin mas Davin menemukanku. aku tidak menyangka mas Davin akan melihatku disini sesempit itukah kota ini.


Dari jarak seperti ini aku bisa mendengarkan teriakan mas Davin, hatiku sangat pilu mendengar setiap kata yang terucap dari lisannya. aku sama sepertimu mas hanya bisa merindukan tapi tidak bisa memilikimu, tidak semudah itu kita bisa membuka lembaran baru mas, aku tidak bisa membangun kebahagiaanku diatas penderitaan wanita lain.


Aku terus melangkahkan kaki ini keluar dari mall dengan perasaan gusar, lalu sebuah tangan kekar meraih pergelangan tanganku.


Detak jantungku semakin tidak karuan, apakah mas Davin menemukanku?


Aku terus meronta agar tanganku terlepas dari genggamannya.


"Nadira ... Ini aku!"


Aku sangat mengenal suara tersebut, aku membalikan tubuhku, perasaanku sedikit lega.


"Kenand ...aku ingin pulang." setetes air jatuh dipipiku.


Aku memeluk Nadira, kurasakan tubuhnya bergetar, entah apa yang tengah dirasakannya saat ini.


"mari kita pulang." aku mengajak Nadira kemobil.


Tadi saat aku kembali ketoilet, aku tak menemeukan Nadira hanya ada tasnya yang kutemukan diatas meja.


Tatapanku tertuju pada seseorang diantara kerumunan orang banyak, pria itu menjadi pusat perhatian banyak orang.


Davin ... Aku sangat mengenali suara itu. Davin meneriaki nama Nadira, sudah kupastikan dia pasti sudah melihat Nadira, lalu dimanakah Nadira sekarang?


Aku memutari pandanganku kesekeliling mall, lalu dari pintu keluar mall aku melihat Nadira berlari tergesa-gesa.


Saat sampai ... Aku meraih tangan Nadira mungkin dia mengira aku adalah Davin dia terus meronta minta dilepaskan.


Sepertinya Nadira sedikit lega saat mengetahui itu adalah aku.


Inilah yang aku takutkan membawa Nadira ketempat seperti ini, takut Davin menemukan Nadira. hal yang paling aku takutkan saat mereka bertemu, Nadira akan berubah fikiran dan kembali pada suaminya.


Mungkin ini terdengat jahat, aku menginginkan pernikahan mereka berakhir.


Tidak ada pembicaraan sama sekali saat kami dalam perjalanan pulang, kami lebih memilih diam, aku juga tidak menanyakan apa yang tengah terjadi, aku ingin membiarkan Nadira tenang terlebih dahulu.


Hingga Nadira yang memulai percakapan.


"Kehawatiran kamu benar Ken, kenapa dari awal aku tidak mendengarkan ucapanmu."


ujar Nadira.


"Mungkin ini hanya kebetulan saja Nad."


"Tidak ... Aku terlalu berani menampakan wajahku ditengah keramaian seperti ini tanpa memikirkan jika mas Davin bisa saja menemukanku."


"Sudah ... Jangan terlalu difikirkan."


"Sekarang kita kemana?"


"Aku ingin kerumah orangtuaku, aku merindukan mereka."


"Sebenarnya mereka sering mengunjungiku untuk melihat keadaanku dan kandunganku. tapi karena aku sudah berada dikota ini kenapa tidak sekalian saja aku kembali kerumah.


sedangkan dimall Davin seperti orang gila mencari Nadira keseluruh mall.


Aku menghubungi ibuku untuk menemani kedua putraku, aku menitipkan mereka kepada pegawai mall sebelum ibuku datangaku, entah mereka setuju atau tidak aku tidak mempedulikan hal itu, aku langsung pergi dan aku yakin Nadira belum pergi jauh dari sini.


"Nadira ... mas tau kamu disini, kembalilah Nad, mas telah menceraikan Vania."


"Kita bisa membuka lembaran baru setelah ini."


"Kamu tahu Nad, rindu ini menyiksaku!" ucapku prustasi.


Rasanya seluruh mall ini telah kutelusuri tapi nihil tak kutemukan Nadira dimanapun.


Aku seperti orang linglung disini, berteriak memanggil nama Nadira tanpa kuhiraukan kerumunan orang menatapku.


Sebuah tamparan mendarat dipipiku.


"Sadar Davin ... Disini tidak ada Nadira."


"Tadi aku benar-benar melihatnya bu."


"Kamu boleh menyesali semua kesalahanmu, tapi kamu jangan kehilangan akal sehatmu."


"Kamu tidak kasihan dengan ibu? Dengan putra-putramu?"

__ADS_1


"Sudah cukup kamu mengabaikan kami."


"Jika Nadira tidak mau kembali, lepaskan dia."


"Itu artinya dia tidak bahagia bersamamu." dadaku naik turun, Davin benar-benar sudah keterlaluan, aku takut anakku akan kehilangan kewarasannya.


"Jika aku bisa melepaskannya, dari dulu mungkin sudah aku lepaskan bu."


"Tapi aku benar-benar tidak bisa, kenapa ibu tidak mengerti." tubuhku merosot, aku menangis menutupi wajahku dengan telapak tanganku.


Aku ikut menangis melihat penderitaan putraku, aku juga tidak bisa memaksa Nadira untuk kembali. kesalahan ini murni berasal dari kami yang telah menutupi semua tentang kebenarannya.


"Aku tidak bisa seperti ini terus bu, aku akan mencari Nadira." aku berdiri lalu meninggalkan ibu yang terus meneriaki namaku.


Aku mengendari mobilku dengan kecepatan tinggi, satu tujuanku adalah kerumah orangtua Nadira.


Saat sampai disana aku melihat Kenand bersama kedua mertuaku, darahku mendidih saat melihat kedekatan mereka.


Aku mendekat kearahnya sebuah tonjokan kulayangkan.


"Sudah kuduga kamulah yang telah menyembunyikan Nadira!"


Aku tidak sempat menghindar saat Davin melayangkan sebuah tonjokan diwajahku, kami tidak menyadari kehadirannya, beruntung Nadira sudah berada dikamarnya.


"Kamu apa-apan Davin." mama membentakku.


"Nak, kamu tidak apa-apa? Darah segar keluar dari sudut bibir kenand.


"Tidak apa-apa tante."


"Tapi kamu terluka." ujar papanya Nadira.


"Hanya luka kecil om." aku membersihkan darah disudut bibirku.


"Apa-apaan mama bilang ... Kalian bekerjasama menyembunyikan Nadira dariku." kenapa mereka sangat baik terhadap Kenand, emosiku sudah berada diubun-ubun ditambah dengan kedekatan Kenand dengan orangtua Nadira.


"Jika memang benar, kenapa? Dia putriku!"


"Nadira istriku ma, dia sudah menjadi tanggung jawabku, seharusnya mama jangan mencampuri urusan rumah tangga kami."


"Itu dulu ...tidak untuk sekarang."


"Jika kalian hanya bertengkar biasa mama tidak akan ikut campur."


"Tapi Nadira masih istriku sekarang."


"Sebentar lagi tidak."


"Apa maksud mama, Kami tidak akan berpisah, sampai kapanpun."


"Kembalikan Nadira kepadaku ma."


"Tidak akan pernah ... mama tidak akan membiarkan Nadira jatuh ketangan laki-laki sepertimu untuk yang kedua kalinya."


"Sudah ma, masuklah ... Biarkan saja Davin menyesali perbuatanya ." ucap papanya Nadira.


"Tidak ... Kalian tidak bisa memperlakukanku seperti ini." aku berteriak saat mereka meninggalkanku.


"Ini semua pasti ulahmu kan Ken, pasti kamu yang telah meracuni fikiran mereka."


"Kamu benar-benar brengsek."


Kenand menagkis pukulanku, lalu sedikit mendorong tubuhku sampai aku terhuyung kebelakang.


"Aku tidak ingin mengotori tanganku hanya untuk memukul laki-laki egois sepertimu, semoga saja dengan kejadian ini kamu bisa menurunkan egomu Davin."


"Kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusanku Kenand."


"Apa kamu jatuh cinta pada istriku?"


Aku tidak menjawab pertanyaan Davin, lalu menyusul orangtua Nadira kedalam.


Davin terus saja menggedor-gedor pintu rumah Nadira, tapi kami tetap tidak menghiraukannya. Aku yakin pasti Nadira mendengar semuanya.


Aku menatap kearah kamar Nadira yang berada dilantai atas yang arahnya menghadap langsug kehalaman rumah, samar aku seperti melihat Nadira.


"Sayang ... mas tahu kamu disana."


"Apa yang harus mas lakukan untuk menebus semua kesalahan mas."


"Mas mohon jangan siksa mas seperti ini."


Aku menangis dibalik jendela, tadi aku sempat keluar kamar dan berdiri dibalkon menyaksikan ketegangan diantara mereka.

__ADS_1


Saat mas Davin menyadari keberadaanku, aku langsung masuk kekamar, aku masih menatapnya dibalik tirai jendela kamar.


Penampilan mas Davin benar-benar sangat berantakan. aku tau kamu terluka mas, dan aku menyadari ada cinta yang tulus untukku dihatimu.


Aku bisa saja memaafkan kesalahanmu, tapi jalan untuk kita kembali memang benar-benar sudah tidak ada lagi. Kecuali jika tuhan menghendakinya.


Tidak ada yang bisa dilakukan mas perpisahan adalah jalan satu-satunya, jika kita kembali bersama pasti akan ada yang terluka, walaupun mas menceraikan mbak Vania, dia pasti akan menganggap jika kita berbahagia diatas penderitaannya.


Aku menutup tirai jendela, lalu melangkah keluar kamar, berjalan mendekati orangtuaku yang sedang berbincang bersama kenand.


Aku membawa kotak obat ditanganku, aku tahu Kenand terluka, dia selalu melindungiku disaat seperti ini.


"Aku duduk tepat disamping Kenand."


"Biarku obati." aku tidak banyak berbicara saat mengobati luka disudut bibir Kenand.


"Terimakasih Nad." ujar Kenand setelah aku membersihkan lukanya


"Seharusnya aku yang berterimakasih, kamu sudah terlalu banyak membantuku."


"Tidak masalah." ucapku. Dan jangan ditanya bagaimana kondisi jantungku saat jarak kami sedekat ini. Aku bisa menatap wajah cantik itu dari dekat.


Aku menatap kearah orangtuaku.


"Pa, ma ... Sepertinya kami akan pergi hari ini juga."


"Papa sama mama tadi lihat mas Davin kan? Dia sudah berani mendebat."


"Aku takut dia akan hilang kendali dan menyakiti kalian."


"dia tidak akan menyerah."


"Kami tidak akan menahanmu nak, mama yakin Kenand bisa menjagamu."


Aku menautkan alisku, sebenarnya aku ingin menanyakan perihal ini dari kemarin, kenapa mama sama papa sangat percaya dengan Kenand untuk menjagaku.


Dan beberapa kali saat orangtuaku mengunjungiku, mereka terlihat sangat akrab tidak ada kecanggungan sama sekali.


Tapi pertanyaan ini kuurungkan, mengingat kejadian beberapa saat lalu pasti menjadi beban fikiran orangtuaku.


"om sama tante tenang saja, selagi Nadira disampingku Davin tidak akan bisa menemuinya."


Aku menghembuskan nafas berat, masalahku semakin rumit, dan orang-orang disekitarku ikut terlibat. Bagaimana caraku membalas budi Kenand suatu hari nanti dia sudah banyak membantuku.


"Nad ... Lebih baik kamu beristirahat sebentar dulu, Jika kalian melanjutkan perjalanan sekarang mama takut kamu dan kandunganmu kenapa-kenapa."


"Iya sudah ma ... Aku akan beristirahat sebentar." aku juga merasa lelah.


"Ken aku kekamar dulu, apakah kamu ingin beristirahat disini? Ujarku.


"Tidak Nad, ada pekerjaan yang ingin aku selesaikan dahulu."


"Maaf ya Ken, seharusnya aku menemanimu menemui beberapa klien lagi, tapi karena masalah ini kamu jadi repot sendirian." aku tertunduk.


"Tidak apa-apa Nad, aku bisa mengatasinya."


"Kalau begitu om, tante, aku permisi."


"Iya nak." ujar orangtuanya Nadira.


"Nad ... Setelah pekerjaannya selesai kita akan langsung kembali." aku menatap Nadira.


"Baiklah ... Kamu hati-hati."


setelah Kenand pergi, aku kembali kekamar.


"Ma, pa ... Aku kekamar dulu!"


"Beristirahatlah nak." mama membelai pipiku, lalu aku beranjak menuju kamar.


Setelah kepergian Nadira.


"Mama harap Kenand benar-benar tulus mencintaimu Nadira pa, dan semoga anak kita bisa menemukan kebahagiaannya bersama Kenand."


"Papa akan cari tahu tentang kehidupan Kenand lebih detail lagi ma, papa tidak ingin hal serupa terjadi lagi."


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYA92


Maaf ya kak belum bisa crazy up, tapi babnya aku perpanjang loh.. Semangatin terus authornya dong ... Biar bisa up tiap hari.


Dan jangan lupa mampir juga dikaryaku yang satu lagi ya kak ... "TERJEBAK DITUBUH ISTRI YANG TERABAIKAN"

__ADS_1


Happy reading 😘😘


__ADS_2