
"Nadira ...!" mas Davin seperti terkejut saat melihatku.
Aku sama terkejutnya dengan mas Davin, untung saja mama dan Davina sudah terlebih dahulu keluar, aku sedikit lega.
Ternyata keputusanku untuk berpisah dari mas Davin sudah tepat, kulihat ada mbak Vania dan kedua putranya disisi mas Davin
Ada rasa sedih menjalar disanubari, seharusnya Davina juga berhak merasakan momen seperti itu, karena keegoisanku aku menyembunyikannya dari mas Davin.
"Ma-mas Davin!" ucapku terbata, aku masih merasakan gugup.
"Nad, ini tidak seperti yang kamu fikirkan?" mas Davin mencoba menjelaskan.
"Memangnya aku memikirkan apa mas?" keningku mengkerut.
"Aku dan Vania tidak memiliki hubungan apa-apa lagi." ungkap mas.
Aku tersenyum menanggapi ucapan mas Davin, "mas ... Sebaiknya kalian perbaiki lagi hubungan kalian."
"Mereka membutuhkan orangtua yang lengkap, apa kamu tidak kasihan dengan mereka?" ujarku menatap kearah putra mas Davin.
"Vania ... Kamu bawa anak-anak dulu, aku ingin bicara berdua dengan Nadira." Davin meminta mbak Vania meninggalkan kami.
"Tidak usah pergi mbak, sepertinya tidak ada hal yang perlu kami bicarakan." aku menahan mbak Vania saat dia akan pergi membawa anak-anaknya.
Dasar wanita munafik, kamu pasti bahagia melihatku sekarangkan? Bathin Vania.
"Nad ... Mas memang perlu bicara!" mas Davin menatap kemanikku, jika seperti ini mama akan menyusulku kemari.
"Tante ini siapa pa?" Anak pertama mas Davin mempertanyakan siapa aku.
"perkenalkan, tante temannya papa kalian!" Nadira mengulurkan tangannya kearah Raffa putraku.
Mereka menyambut uluran tangan Nadira, "Jadi tante juga temannya mama dong!" aku melirik kearah mbak Vania, dia mengalihkan tatapannya.
"I-iya ... tante juga temannya mama kalian." mbak Vania menatapku sinis.
"Mas, aku bawa anak-anak bermain dulu." Mbak Vania membawa kedua putranya.
"Papa tidak ikut ma?" Ujar Raffi.
"Sayang ... Nanti papa menyusul! Kalian main sama mama dulu ya?"
"Baiklah ... Tapi papa janjikan akan menyusul?" Raffa seperti tidak yakin dengan ucapanku.
"Papa janji akan menyusul kalian." aku meyakinkan putraku.
"Ayo, sayang!" mbak Vania menggandeng kedua putranya meninggalkan kami.
Sebentar mas, aku ingin menghubungi seseorang dulu. Aku meraih ponselku lalu mengetik sesuatu di aplikasi yang berwarna hijau di ponselku.
"Ma, tunggu dimobil saja, aku tidak sengaja bertemu dengan mas Davin disini, aku takut mas Davin melihat Davina."
Tanpa menunggu balasan aku kembali memasukan ponselku kedalam tas.
Mas Davin membawaku kecafe tempat yang biasa kami kunjungi saat masih bersama dulu, terlalu banyak kenangan kami disini.
"Nad, mas mohon kamu jangan salahpaham dengan apa yang kamu lihat tadi?" mas Davin masih berusaha menjelaskan kejadian barusan.
__ADS_1
"Mas ... kamu tidak usah sungkan seperti itu, akan lebih baik jika kalian kembali bersama seperti dulu."
"Mas tidak bisa, Nad! Sampai detik ini namamu masih menduduki posisi pertama dihati mas."
"Mas ... Berhentilah mengharapkanku, aku tidak akan kembali lagi." aku menatap intens kearah mas Davin.
"Soal jodoh, kita tidak ada yang tahu, Nad!"
"Jika sekarang kita berpisah, mungkin besok kita masih bejodoh."
"Untuk saat ini mas akan melepaskanmu karena pernikahan kita didasari oleh kebohongan mas sendiri."
"Tapi setelah kita berpisah, mas ingin ini menjadi awal yang baru untuk mas, mas ingin memperjuangkan cinta mas tanpa adanya kebohongan-kebohongan lagi."
"Sangat menyentuh sekali mas, tapi maaf! Aku tidak akan membuka hatiku lagi untukmu, mas. sudah cukup penderitaanku selama ini." aku melipat kedua tanganku didada.
"Mas anggap itu sebagai tantangan agar kamu bisa mencintai mas lagi." ucapku dengan tenang.
"kalau soal itu ya terserah mas, tapi ingat ... Jangan pernah memaksaku."
"Aku harus pergi mas." aku beranjak dari dudukku.
"Nad, tidak bisakah kita mengobrol lebih lama? Mas masih ingin menatapmu, sudah sangat lama menahan rindu ini." Mas Davin menahan langkahku.
"Maaf mas, aku buru-buru." aku langsung saja meninggalkan mas Davin.
Jangan menangis Nadira, kamu pasti kuat, biarkan mas Davin kembali dengan keluarganya.
Nadira ... Kenapa kamu menjaga jarak dengan mas sekarang, mas tidak akan menahanmu jika kamu mengiginkan perpisahan ini, mas hanya minta izinkan mas memperjuangkan lagi cinta mas. Bathin Davin.
Aku menemui mama dan Davina dimobil.
"Tidak ada ma, mas Davin hanya menanyakan tentang kabarku saja."
"Jangan terlalu dekat dengannya, mama tidak suka ya Nad!"
"iya ... Iya ma, aku tidak akan, aku akan menjaga jarak dengannya." aku mengusap pundak mamaku, Aku menatap putriku yang sedang berada digendongan mama.
Maafin mama ya sayang, sampai sekarang mama masih belum bisa mempertemukan kalian, Davina tersenyum sambil mengoceh kearahku.
****
Setelah menidurkan Davina, aku membaringkan tubuh disebelahnya. Suara dering ponselku mengalihkan perhatianku.
Nomor baru? Aku membuka profil di aplikasi yang berwarna hijau tersebut, keningku mengkerut saat melihat foto dilayar ponselku.
Sean ... Kenapa dia menelponku lalu darimana dia mendapatkan nomor pribadiku, selama ini aku tidak pernah memberikan nomor ponselku kesembarang orang.
Apa Kenand yang memberikannya, tapi untuk apa? Aku menerka-nerka sendiri.
Ponselku berdering lagi, dengan nomor yang sama, dari pada penasaran mendingan aku angkat saja.
"Assalamualikum."
"wa'alaikumsalam." balas seseorang yang berada diujung telpon.
"Nad, maaf jika mengganggumu? Ini aku sean!"
__ADS_1
"Sean ...? iya, tidak apa-apa!"
"kalau boleh tahu kamu dapat nmr aku dari mana?" dari pada penasaran mendingan aku bertanya langsung.
"Ah ... I-itu, maaf jika aku lancang waktu itu." ucapa sean terbata.
"Maksudnya?" aku menautkan alisku.
"Sebenarnya aku sudah lama menyimpan nomormu, kamu masih ingat dipertemuan pertama kita? saat itu aku meminjam ponsel milikmu."
Ya ... Aku ingat, dan Kenand mengatakan aku bodoh, sekarang aku baru mengerti apa yang dimaksud Kenand waktu itu.
"Jadi kamu mengambil nomor ponselku waktu itu?"
"I-iya, maaf ya Nad?" sesal sean.
"Tidak apa-apa, kenapa tidak memintanya langsung?"
"Aku ti-tidak berani, Nad." ujar sean polos.
Apaan nih, kenapa dia bertingkah seperti anak-anak, aku membekap mulutku takut tawaku menyinggung sean.
"Kenapa begitu? Memangnya aku semenakutkan itu?"
"Bukan ... aku takut jika wanita secantik kamu tidak sudi berkenalan dengan pria sepertiku.!"
"Kamu terlalu berlebihan, Sean! Aku bukan tipe wanita sombong seperti itu."
"Selagi niat kalian baik ingin berteman denganku tidak ada alasan untukku menolaknya."
"jika niatku ingin lebih dari kata berteman, bagaimana?"
"Eh ... Ka-kalau itu aku tidak tahu!" ucapku canggung.
"Aku hanya bercanda, Nad! Terimakasih sudah mau berteman denganku?" ujar sean.
"iya ... "
"Bolehkah aku berkunjung kerumahmu, Nad?"
"Maksudku nanti, apakah boleh kapan-kapan aku berkunjung." Sean membenarkan ucapannya.
"Silahkan, nanti aku kirim alamat rumahku."
"benarkah, Nad?" Jika bukan sedang berbicara dengan Nadira aku sudah berteriak kegirangan sekarang.
"benar ... Memangnya kenapa?" kenapa Sean aneh sekali.
"Tidak ada Nad, kalau begitu telponnya saya matikan dulu ya."
"Assalamualaikum Nadira?"
"Wa'alaikumsalam."
Ternyata berbicara dengan orang yang seumuran denganku lebih asik ketimbang dengan orang yang jauh lebih tua dariku, bawaannya pakai perasaan terus.
Aku bergumam sendiri.
__ADS_1
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92