TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Melepaskan


__ADS_3

Gigiku gemeratuk menahan amarah, entah siapa yang mengirimnya, divideo tersebut terlihat Vania dengan seorang laki-laki dan seorang wanita.


Aku tidak bisa mendengar perbincangan mereka, dan setelahnya wanita itu mendekati meja tempat Nadira duduk.


Detik berikutnya setelah kepergian wanita itu, pria yang bersama Vania tadi menghampiri Nadira, Kenapa Nadira seperti kehilangan kesadarannya, apa jangan-jangan?


Aku akan mencincang-cincang tubuh kamu Vania jika terjadi sesuatu dengan Nadira, teriak Davin.


Videonya hanya sebatas itu saja, tidak ada kelanjutan kemana laki-laki itu membawa Nadira, dan itu membuat dadaku bergemuruh menahan Amarahku.


Ternyata wanita itu tidak takut dengan ancamanku waktu itu, dia fikir ucapanku kemarin hanya main-main.


Sepertinya aku harus melakukan hal yang lebih kejam dari yang kemarin, Nadira adalah nyawaku tidak akan aku biarkan orang yang ingin menyentuhnya hidup tenang, bathin Davin.


Aku berlari menuju mobilku, aku harus memastikan keadaan Nadira, tidak peduli sekuat apa orangtuanya menghalangiku.


"Maafkan mas, Nadira? Jika mas tidak membawamu kekehidupan mas waktu itu mas yakin hidupmu akan tenang mungkin saat ini kamu sudah bahagia.


Dan kamu tidak akan disakiti oleh Vania seperti sekarang. aku baru menyadarinya betapa egoisnya aku waktu itu hanya mementingkan perasaanku saja.


Melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, tidak butuh waktu lama aku sudah sampai dikediaman orangtua Nadira.


tok, tok, tok ...


Aku menarik nafas perlahan, lalu mengetuk pintu rumah Nadira, beberapa kali ketukan, akhirnya pintu tersebut terbuka.


"Assalamualaikum, pa?"


"Wa'alaikumsalam!" papa Nadira tidak seramah dahulu lagi terhadapku.


"Apa yang membawa kamu kemari, Vin?" papa menutup pintunya, dia tidak mempersilahkan aku untuk masuk.


Aku mengikuti langkah papa kearah kursi yang terletak diteras rumah.


"Duduklah." perintah papa.


"Bisakah aku bertemu Nadira, pa?" Aku menatap penuh harap kearah mantan papa mertuaku.


"Kamu tahu sekarang pukul berapa, Vin?"


Aku melirik arloji dipergelanganku, jam menunjukkan pukul 1:30 malam.


"Apakah jam segini waktu yang tepat untuk berkunjung?" Alis papa terangkat.


"Maaf pa? Aku hanya mengkhawatirkan Nadira!" Aku bingung, apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya tentang hal yang menimpa Nadira.

__ADS_1


"Nadira sudah tidur! tidak ada yang perlu kamu khawatirkan." jawab papa tegas.


Syukurlah ... Sepertiya tidak terjadi sesuatu hal yang buruk dengan Nadira, gumam Davin.


"Kamu boleh pergi, Vin." aku menyadari papanya Nadira sangat terganggu dengan kehadiranku.


"Maaf sudah mengganggu waktumu, pa?" Davin membungkukkan tubuhnya.


"Assalamualaikum?"


"Wa'alaikumsalam." aku pergi dari rumah Nadira setelah berpamitan dengan papanya.


Lama aku terduduk didalam mobil, menyenderkan kepala kesandaran kursi, sepertinya aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Nad, apa kamu tahu saat aku menutup mataku kerinduan dan penyesalan hadir bersamaan, rindu akan kebersamaan kita dan menyesal karena telah menyakitimu dengan kebohonganku.


Airmata mengucur dikedua pipiku, menangis adalah cara mataku berbicara ketika mulut terbungkam tidak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati ini.


Aku menghapus airmataku, aku tidak boleh berlarut-larut dalam keterpurukan seperti ini, aku harus membuktikan dengan Nadira jika aku benar-benar menyesal dan ingin kembali memperbaiki semuanya.


Aku memutuskan kembali kerumah mamaku, aku akan menggunakan anak-anak untuk memancing Vania agar dia keluar, pasti sekarang dia tengah bersembunyi sekarang.


Kamu fikir bisa lari dariku Vania, kali ini aku tidak akan melepaskanmu, akan aku buat kamu hidup menderita dan ingin mengakhiri hidupmu sendiri.


Vania menginap disalah satu kontrakan kecil, jika tidak ditempat seperti ini pasti Davin atau Kenand akan menemukannya.


Bagaimana ini, tubuh Vania bergetar dia menggigit ujung kukunya, apa aku akan bernasib sama dengan James.


Tidak ... Vania menggelengkan kepalanya dengan cepat, aku tidak mau, kenand benar-benar pria kejam, dia tidak memberikan kesempatan untuk James melawannya.


Aku menyaksikan orang suruhan Kenand menghajar James tanpa ampun, niat ingin melihat kehancuran Nadira, tapi aku malah menemukan James terkapar tidak berdaya dilantai.


Mereka menyeret James dan membawanya entah kemana, untung mereka tidak melihatku, jadi aku bisa melarikan diri dan disinilah aku sekarang.


Aaaahhhh ... teriak Vania prustasi.


"Aku sangat membenci kamu, Nadira!"


Tubuh Vania merosot kelantai, dia menjambak rambutnya sendiri, kenapa semua orang berpihak padamu Nadira, kenapa tidak ada yang tulus mencintaiku seperti mereka yang tulus mencintai kamu.


Ayah ... Apa aku harus menyusulmu? Aku tidak punya siapa-siapa lagi, mas Davin tidak mau bertanggung jawab lagi atas hidupku, dan dia juga menjauhkanku dari anak-anak.


Hhahaaa ...


Vania tertawa, setelah itu menangis lagi, kenapa takdirku seperti ini, yah! tuhan tidak adil terhadapku, aku juga ingin takdirku seperti Nadira, dicintai oleh banyak orang.

__ADS_1


Sementara ditempat Nadira saat ini dia tengah terbangun dari tidurnya, dia menatap sekeliling kamar.


Apa Lisa sudah pulang ya? Aku turun dari tempat tidur, kerongkonganku terasa kering.


Dapurnya dimana ya? Aku keluar dari kamar, saat melewati ruang tamu aku melihat Kenand tertidur disana, sepertinya dia kedinginan.


Aku kembali kekamar mengambil selimut dan perlahan melangkah kembali kearah Kenand lalu menyelimuti tubuhnya.


Kamu pasti sangat lelah! Aku berjongkok disamping Kenand, aku masih tidak percaya pria sebaik dan setampan Kenand bisa jatuh cinta terhadap wanita sepertiku.


Aku menatap wajah tampan Kenand yang tengah tertidur, ada ketenangan saat menatap wajah itu, tanganku perlahan bergerak ingin mengusap pucuk kepala itu.


Tapi aku urung kembali, ada ngelanyar aneh didadaku saat mata ini menatap Kenand, perasaan yang sama saat pertama kali aku melihat mas Davin.


Aku memutuskan untuk pergi dapur yang menjadi tujuan awalku, berdiri dari jongkokku tiba-tiba Kenand menarik tanganku, karena tubuhku belum seimbang akhirnya aku terjatuh tepat diatas tubuh Kenand.


Mata kami bertemu, bisa kurasakan debaran didada Kenand yang begitu kencang, dan aku yakin Kenand juga merasakan hal yang dadaku juga tidak beda jauh dengan debaran yang Kenand rasakan.


Aku mengalihkan tatapanku, saat akan turun dari tubuhnya Kenand menahan tubuh ini.


"Biarkan seperti ini sejenak, Nad?" ujar Kenand, aku mengeratkan pelukanku ketubuh Nadira.


Maaf, Nad! Aku menyia-nyiakan kesempatan yang telah kamu berikan. Dan maaf, jika aku berhenti memperjuangkan cintaku. Bathin Kenand.


Aku memejamkan mata ini merasakan kehangatan tubuh Nadira, dan mencium aroma harum tubuhnya, kamu akan selalu menjadi wanita pujaan hatiku, Nad. walaupun ragamu tidak bisa kumiliki. Aku berusaha menahan airmata ini agar tidak jatuh dihadapan Nadira.


Hmm ...


Aku membiarkan tubuh ini dalam dekapan Kenand ada rasa damai saat tubuh ini berada didalam pelukannya.


Lama kami dengan posisi ini akhirnya Kenand melepaskan pelukannya, lalu aku bangkit dari atas tubuhnya.


Kenand menyelipkan rambutku kebelakang telinga, dia mengusap pipi ini, perlakuan Kenand hari ini sangat berbeda, dan tatapannya seperti ingin mengatakan sesuatu tapi aku tidak bisa membacanya.


"Ken ... Apa ada yang ingin kamu katakan?" akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulut ini.


Kenand menatapku dalam, apa sebenarnya yang Kenand fikirkan saat ini.


"Aku harap kamu bahagia, Nad!" ujar Kenand mengelus lembut pipiku.


"Maksudnya?" Keningku mengkerut, aku tidak mengerti kemana arah pembicaraan Kenand.


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92

__ADS_1


__ADS_2