TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
ketidakberdayaan Davin


__ADS_3

"Selamat ya, Nad?" ucap Davin dengan suara bergetar.


"Jangan lupa datang ya , mas?" pinta Nadira.


"Kalau begitu kami permisi!" ujar Nadira pamit yang hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Davin.


Setelah kepergian Nadira dan Lisa, Davin melangkah gontai masuk kedalam rumahnya, kehadiran Nadira kerumah ini membuka kembali kenangannya bersama wanita itu.


Davin duduk disisi ranjang, menatap setiap sudut kamar yang terdapat foto Nadira, bulir-bulir bening berjatuhan, Davin tidak pernah menyangka jika dia benar-benar akan kehilangan wanita yang telah menjadi cinta pertamanya, bahkan sampai saat ini perasaan itu tidak berkurang sedikitpun untuk Nadira.


"Secepat itu kamu melupakan mas, Nad?"


"Kenapa tidak ada yang mau mengerti, perasaan ini benar-benar tulus, aku sangat mencinta Nadira! Kenapa tidak ada yang mau mendukungku."


Davin memukul dadanya sendiri, sesak ... Dada ini sungguh sesak, jika bisa, ambil saja nyawaku tuhan! Tidak sanggup rasanya melihat wanita yang sangat aku cinta bersanding dengan lelaki lain, Davin terlihat sangat kacau dan prustasi.


Davin melangkah menuju mini bar yang terletak didapur, jika sedang kacau seperti ini hanya minumanlah yang mampu menenangkannya, semenjak kepergian Nadira dari rumah ini Davin menyulap mini bar didapurnya menjadi seperti bar sungguhan.


Berbagai macam minuman tertata disana, minuman dengan kadar alkohol rendah sampai kadar alkohol yang tinggi terpajang disana, dan jika meminumnya menurut Davin beban dipundaknya seakan lenyap seketika.


Davin meneguk minuman itu langsung dari botolnya, dan entah sudah berapa banyak yang telah dia konsumsi sehingga membuat penglihatannya berputar-putar.


Berjalan sempoyongan menuju kamarnya dengan botol minuman yang masih berada ditangannya, Davin meraih ponselnya lalu menekan tombol hijau.


"Hallo, Vin?" ujar seseorang diseberang sana.


"Nad, jangan tinggalkan mas! Jangan menikah, tetaplah seperti ini, mas tidak mengapa jika kamu tidak ingin kembali, tapi mas mohon jangan menikah." racau Davin.


"Vin, kamu mabuk?" ujar orang tersebut.


"Tidak ... Aku tidak mabuk, Nadiraku tidak menyukai pria pemabuk! Benarkan Nad?" Davin masih saja terus meracau.


"Nad, jika kamu tetap menikah aku akan mati, aku tidak bisa melihatmu bersanding dengan pria lain." ancam Davin.


Praaanggg ...

__ADS_1


Suara pecahan botol, dan membuat seseorang yang berada diujung telpon berteriak.


"Kamu gila, Vin! Jangan lakukan hal konyol seperti itu."


"Aku memang sudah gila, semenjak kamu pergi dari kehidupanku semenjak itu pula semangatku untuk menjalani kehidupan ini redup! sudah aku katakan kamu adalah tempat untukku kembali." suara Davin terdengar lirih.


"Katakan Nad, kamu tidak akan menikahkan, jika kamu masih tetap ingin melanjutkan pernikahan kalian, kamu akan mendengar kabar kematianku." Davin semakin meracau.


"Iya, aku akan batalkan, kamu tenang ya? Tunggu aku akan segera kesana." ujar orang tersebut.


Tak ada lagi jawaban dari Davin, dan membuat orang tersebut mengkhawatirkan pria itu.


Dan ternyata orang yang dihubungi oleh Davin adalah Lisa sahabat dari mantan istrinya, Dengan kecepatan tinggi Lisa mengendarai mobilnya menuju kediaman Davin.


Lisa juga terkejut saat Davin menghubunginya, tidak biasanya lelaki itu melakukan komunikasi dengannya, dan benar saja peria itu mengira nomornya adalah nomor Nadira.


Bukankah sore tadi Davin terlihat baik-baik saja, tapi kenapa sekarang dia terdengar sangat rapuh, gumam Lisa.


20 menit kemudian Lisa sampai ditempat yang dia kunjungi sore tadi bersama Nadira, dan untung saja pintunya tidak terkunci jadi Lisa bisa langsung masuk.


Gelap ... hanya cahaya dari luar yang masuk melalui ventilasi, aku mencari saklar lampu lalu menghidupkannya.


Aku mencari keberadaan pria itu, semoga saja apa yang dia ucapkan ditelpon tadi tidak benar-benar terjadi.


Karena dilantai bawah aku tidak menemukan keberadaannya, aku menuju lantai dua, langkahku tertuju kearah kamar karena lampu dikamat tersebut menyala.


"Ataga, Davin!" aku terlonjak saat melihat darah mengalir ditelapak tangan pria itu.


Aku melihat seksama luka ditangannya, aku menghembus nafas lega, untung saja Davin tidak memotong urat nadinya, sepertinya luka ini dia dapatkan dari pecahan botol.


Lisa menatap pecahan botol yang berserakan dilantai terdapat noda darah disana, lalu gegas Lisa mencari kotak obat, setelah menemukannya dia langsung membersihkan luka tersebut, entah karena merasakan perih karena antibiotik yang Lisa oleskan Davin meringis lalu perlahan membuka matanya.


Lelaki itu langsung memeluk tubuh Lisa, tangisannya seketika pecah, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Vin, ini aku, Lisa!" Davin mengendurkan pelukannya lalu menatap kearah Lisa dengan mengucek matanya beberapa kali dan benar saja yang berada didepannya bukan Nadira.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa disini, Lis?" ujar Davin sambil memegang kepalanya, efek minuman yang dia konsumsi membuat kepalanya sangat pusing, Lisa mengulurkan botol air mineral kearah Davin, lelaki itu meneguknya hingga tandas.


"Bukankah kamu yang menghubungiku? Kemarikan tanganmu." pinta Lisa.


"Tidak usah, aku obati sendiri saja!" tolak Davin.


"Dan kapan aku menghubungimu?" Davin memijit pelipisnya yang semakin berdenyut.


"Cek dulu ponselmu! Biar aku obati." Lisa menarik paksa tangan pria itu.


Davin meraih ponselnya diatas ranjang, membiarkan Lisa mengobati lukanya, dan benar saja nama Lisa tertera disana.


"Sorry!" ucap Davin singkat.


"No problem! Untung saja kamu menghubungiku, jika kamu menghubungi Nadira kamu bisa saja akan menghancurkan kebahagiaan Nadira sekali lagi." ujar Lisa.


Davin hanya mematung, tidak berniat menjawab pertanyaanku sama sekali.


Setelah selesai mengobati luka dan membalutkan perban ditangan Davin, Lisa bangkit dan meminta Davin kekamar mandi, untuk mengguyur tubuhnya dengan air.


Sementara dia menuju dapur membuatkan air jahe, entah itu bisa mengobati orang mabuk atau tidak aku tidak tahu, aku hanya men-search nya di mbah google, dan itu yang aku temukan.


Dan untung saja aku menemukan bahan yang aku cari, aku ingat Nadira menanam rempah-rempah masakan dibelakang rumahnya.


Lisa mengetuk pintu kamar, Davin mempersilahkannya masuk, Davin sudah terlihat lebih segar sekarang.


"Diminum!" pinta Lisa.


Davin langsung meraih minuman yang disuguhkan Lisa tanpa banyak bertanya.


"Lebih baik kamu beristirahat! Besok kita perlu membahas masalah ini." ujar Lisa, sebenarnya dia ingin membicarakannya sekarang juga, ini tidak bisa dibiarkan, jika sampai Nadira tahu Davin ingin mengakhiri hidupnya, Nadira pasti akan terluka lagi, dan kebahagiaannya akan dipertaruhkan kembali, tapi melihat kondisi Davin yang seperti ini membuatnya sedikit iba.


"Terimakasih!" ucap Davin.


Lisa hanya mengangguk, lalu pamit pulang.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2