TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Pesan dari seseorang


__ADS_3

Mas Davin mengantarku dan Davina sampai kedepan rumah, dia hanya mencium putrinya dan langsung pergi.


Pastinya dia tengah marah terhadapku, kali ini aku tidak akan mengorbankan kebahagiaanku lagi, dulu aku selalu mengorbankan kebahagiaanku demi orang lain.


Jika hanya demi Davina, kami bisa merawatnya bersama-sama, aku tidak akan melarang mas Davin kapanpun dia ingin menemui putrinya, walaupun mama menentangnya.


"Maafkan aku, mas! Kenand telah mengalihkan duniaku, jika rasa itu masih ada mungkin aku bisa memikirkannya."


"Meskipun aku tidak yakin jika Kenand akan kembali, dan apakah dia masih memiliki rasa yang sama terhadapku." bathin Nadira.


Setelah mobil mas Davin menghilang aku membawa Davina masuk kedalam rumah.


Mama menungguku diambang pintu, menatap penuh tanya kearahku, dia mengambil alih menggendong Davina.


"Apa Davin memintamu untuk kembali?" tebak mama, begitulah mamaku sejak penghianatan mas Davin mama menjadi protektif terhadapku.


"Mama jangan khawatir, aku tidak kembali." aku mengusap pundak mama untuk menenangkannya.


"Jangan sering-sering bertemu dengannya? Mama takut dia akan menyakitimu?" terlihat kecemasan diraut mama.


"Iya ma ... Tapi jangan halangi mas Davin untuk bertemu dengan putrinya?" aku menampilkan wajah memohon, agar mama mengizinkan.


"Tidak ... Mama tidak akan menghalanginya! Papa kamu benar Davina sepertinya sangat merindukan papanya." ujar mama tersenyum kearahku.


"Terimakasih ya ma?" aku bisa lega sekarang.


"Iya sayang!" mama mengelus pundakku.


"Dimana papa dan Sean, ma? Sedari tadi aku tidak melihatnya?" aku mengedarkan pandangan kesetiap sudut ruangan.


"Mereka sedang ditaman belakang! Mari kita susul kesana." ajak mama.


Ternyata mereka tengah mempersiapkan pesta perayaan ulang tahun Davina yang kesatu tahun.


"Kalian curang ya? Kenapa tidak memberitahukanku?" aku merajuk dihadapan mereka.


"Kejutan! Timpal Sean.


"Iya deh ... jadi acaranya akan diadakan kapan nih?" tanya Nadira.


"Sore Nad, undangan anak-nak dari teman dan karyawan kantor, papa sudah meminta orang kantor untuk menyebarkannya?"


"Mama juga sudah mengundang teman-teman mama untuk membawa anak dan cucu mereka." timpal mama.


"Aku juga dong! Sahut Sean yang tidak mau kalah.


"Semua karyawan kantorku dan tempat kamu bekerja sudah aku undang tanpa terkecuali."


"waaahhh ... Terimakasih banyak!" Nadira menghapus airmata disudut matanya karena saking bahagia.


"Berbahagialah, nak?" ujar papa memelukku, mama juga ikut menghambur kepelukan kami.


"Kenapa aku yang sedih?" gumam Sean menghapus sudut matanya.


"Sean kemari?" mama melambaikan tangannya, lalu membawanya bergabung, kami semua berpelukan.

__ADS_1


Aku merasakan memiliki keluarga disini, sangat berbeda dengan keluargaku sendiri, biarlah aku tidak mendapatkan cinta Nadira asalkan aku bisa memiliki mereka semua, bathin Sean.


"Sudah ... Kok mewek semua sih?" Nadira melepaskan pelukannya.


"Ma ... Sepertinya Davina sudah tidur?" aku mengulurkan tanganku untuk membawanya kekamar.


"Biar mama saja, Nad! kamu tidak ingin menghubungi teman-teman kamu?" tanya mama.


"Iya, ma! Lisa saja belum aku hubungi?"


Aku mengirimkan pesan ke Lisa, lalu menghubungi mas Davin.


Beberapa kali aku menghubungi mas Davin, tapi tidak diangkat, aku memutuskan untuk mengiriminya pesan saja, mungkin dia masih marah soal kejujuranku saat dimobil tadi.


Saat tengah mengetik, panggilan masuk dari nomor mas Davin.


"Assalamualaikum, mas?" salam Nadira.


"wa'alaikumsalam!" jawab mas Davin diseberang sana.


"Iya, Nad? Ada apa?" jawab mas Davin lesuh.


dari cara bicaranya aku tahu jika dia masih marah.


"Mas, Nanti sore perayaan ulang tahun Davina?"


"Dimana, Nad?" ujar Davin antusias.


"Dirumah! Ajak mama sama kakak-kakaknya juga sekalian ya, mas? jawab Nadira.


"Sama-sama, mas! Jadi mas belum memberitahukan mama soal Davina?" tanya Nadira.


"Belum, mas masih memikirkan soal kita?" ujar Davin lirih yang masih didengar oleh Nadira.


"Oh ... Ya sudah! Kalau begitu telponnya aku matikan ya, mas?" tidak ingin pembicaraan berlarut-larut akhirnya Nadira mengakhiri panggilan.


"Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikumsalam." jawab mas Davin.


Setelah sambungan telpon terputus, aku meminta izin dengan papa dan Sean kembali kekamar, saat sampai atensiku teralihkan dengan benda yang tergeletak diatas tempat tidur.


Senyum tercetak dibibirku, melihat baju couple untukku dan Dan Davina diatas tempat tidur.


Pasti mama, gumamku. Aku mengambil long dress berwarna biru itu, baju berwarna sama dengan tema frozen diulang tahun putriku.


Sebenarnya mamanya sih yang menyukai cerita dongeng itu, dan hampir disetiap sudut kamar Nadira berwarna biru.


"Cantik sekali ... Nadira menatap kagum baju yang berada ditangannya, mama paling the best deh pokoknya, senyum Nadira.


Saat keluar dari kamar mandi aku melihat mama sedang berbicara dengan seseorang sambil menggendong Davina, sepertinya seorang perias.


"Nad, biar mama yang urus Davina?" mama menghampiriku.


"Dandan secantik mungkin ya, dek?" ujar mama kepada tukang rias sepertinya lebih tua dariku.

__ADS_1


"Sipp ... Mbaknya tidak didandanpun sudah cantik begini." puji wanita itu.


"Mbak bisa ajah!" Nadira tersenyum menanggapi ucapan dari sang wanita.


beberapa saat ...


"Selesai!" ucap wanita tersebut.


"Makasih ya mbak."


"Cantik banget?" kagum wanita itu.


Mama menghampiriku, aku menatap putriku yang memakai pakaian yang sama sepertiku, dengan mahkota dikepalanya.


Semenjak bisa berjalan Davina jarang sekali mau digendong, padahal jalannya belum begitu lancar.


"Sebentar lagi acaranya akan dimulai." ujar mama sambil menggandeng tangan kecil Davina, aku juga ikut menggandeng tangan putriku yang sebelahnya.


Kami bertiga menuju taman belakang, dimana perayaan diadakan, tamu undangan sudah berdatangan.


"Pa, pa, papa ... celoteh Davina, sambil melangkah kearah depan, dan ternyata mas Davin tengah menatap kearahnya.


Diusianya yang baru satu tahun Davina sudah bisa mengingat wajah papanya, padahal mereka baru bertemu satu kali.


Mas Davin membawanya kedalam gendongan, sepertinya Davina sangat menyukai mas Davin, dia sangat betah didalam gendongan papanya.


"Jadi dia cucu perempuan mama?" ujar mamanya mas Davin, mama menghapus sudut matanya.


"Maafkan mama ya, Nad?" mama mengenggam tanganku.


"iya ma! Aku juga minta maaf atas perbuatanku dengan menyembunyikan Davina?" Nadira mengelus punggung tangan mantan mertuanya.


"Sudah ... Inikan hari bahagia kita? tidak seharusnya bersedih." timpal papa, entah sejak kapan papa sudah berdiri didekat kami.


Aku mengalihkan tatapanku kearah mas Davin, "Kakak-kakaknya tidak ikut mas?"


"Disana?" aku mengikuti arah telunjuk mas Davin.


Mas Davin memanggil kedua putranya, mereka berlari kecil kearah kami.


"Salim dulu!" ujar Davin kepada kedua putranya.


"Nah ... Dan ini Davina, adik perempuan kalian." ujar Davin menurunkan Davina berdiri diantara kedua putranya.


Davina tertawa menatap kedua kakak lelakinya, "Jadi ini adiknya raffa sama raffi, pa?" putra sulung Davin kebingungan.


"Iya ... Davina juga anak papa sama seperti kalian! Nanti jika sudah besar kalian pasti akan mengerti." Davin menjelaskan sebaik mungkin.


Untunglah kedua putra mas Davin tidak terlalu banyak bicara, mereka terlihat asyik bercanda dengan adiknya, Nadira tersenyum melihat keakraban yang tercipta diantara mereka.


Getaran diponselku mengalihkan pandanganku, sebuah notifikasi dari nomor yang tidak dikenal, saat aku membukanya, keningku mengkerut.


"Kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian itu? Apa kamu menyukainya?" isi pesan yang nomor tersebut kirim.


TITIK LELAHKU

__ADS_1


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2