TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
pertemuan dengan mas Davin


__ADS_3

Aku mendatangi kantor pengadilan, hari ini sidang mediasi akan dilaksanakan.


Aku datang bersama Lisa sahabatku, sebenarnya Kenand juga ingin menemaniku, tapi aku meminta Kenand tidak ikut untuk menghindari perselisihan dengan mas Davin.


Aku bertatap muka dengan mas davin saat diruang persidangan. Tidak kupungkiri debaran ini masih ada saat menatap mata itu, suami yang kurindukan.


Mediasi berjalan alot, mas Davin masih tetap dengan keputusannya tidak ingin bercerai, hakim belum bisa memutuskan dan akan diadakan mediasi lanjutan dua minggu lagi.


"Nad, bisakah kita bicara sebentar?" mas Davin memanggilku saat keluar dari ruang sidang.


Aku berbalik menatap kearah mas Davin, lalu menatap kearah Lisa.


"Lis, sebentar ya?"


"Iya, aku menunggu dimobil." ujar Lisa


Kami memilih duduk dibangku yang berada dihalaman kantor tersebut.


"Kamu apa kabar, Nad?" mas Davin menatapku.


"Baik!" Aku sedikit kaku saat didekat mas Davin.


"Nad, apa kamu tidak ingin mempertahankan rumahtangga kita."


"Mas, aku tidak akan Merubah keputusanku."


"Aku mohon jangan mempersulit jalannya persidangan!" aku menatap kemanik lelaki yang sangat kurindukan, jujur aku kasihan melihat keadaan mas Davin sekarang, seperti orang yang tak terurua.


"Kita sama terlukanya mas, tapi jika untuk kembali aku benar-benar tidak bisa." aku mengalihkan pandanganku kedepan.


Aku mendengar helaan nafas mas Davin, entah hanya perasaanku saja, mas Davin sedikit berubah sekarang, dia bisa mengendalikan emosinya tidak seperti waktu dirumah orangtuaku saat itu.


"Mas tidak akan memaksamu, tapi mas mohon tolong pertimbangkan lagi."


Aku hanya diam, tidak menjawab permintaan mas Davin.


"Dimana anak kita, Nad?" aku menatap dalam kemanik mas Davin.


"Anak ..."


"Iya anak kita! Maaf, mas baru mengetahuinya." ujar mas Davin.


Aku masih diam, aku tidak mau jika nanti anak menjadi alasan mas Davin untuk tidak menyetujui gugatan perceraianku.


"Tidak ada anak mas." aku menundukkan pandanganku.


"Ma-maksud kamu Nad?" mas Davin meletaka tangannya dibahuku.


Kamu harus kuat Nad, kamu harus meyakinkan mas Davin agar tidak curiga, setelah kalian bercerai baru kamu boleh menceritakan yang sebenarnya tentang davina dengan mas Davin. Bathinku.

__ADS_1


"Memangnya kenapa mas? Memang tidak ada anak diantara kita." Aku berusaha meyakinkan mas Davin.


"Kamu jangan bohong Nad, aku tahu waktu itu kamu hamil." ujar mas Davin.


"Iya ... Dulu aku memang hamil, ta-tapi aku keguguran mas." Aku memegang dadaku, ya allah maafkan aku karena telah berbohong seperti ini.


"Tidak mungkin, itu tidak mungkinkan, Nad?" Aku mengusap kasar wajahku, karena kebohonganku aku mengorbankan calon anakku, pasti saat itu Nadira sangat tertekan dengan masalah yang tengah kami hadapi.


"Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini mas."


"Maafkan mas ya Nad, ini semua terjadi karena kebohongan mas." Aku menatap sendu kearah mas Davin.


Maafkan aku mas, jika telah tiba saatnya aku akan menceritakan tentang putri kita. Aku berusaha menahan tangisku, gumamku.


"tidak ... Mas tidak salah, mungkin tuhan belum mempercayakan kita untuk memiliki anak."


"Jadi berhenti menyalahkan diri mas." ujarku.


"Maaf ya mas, jika tidak adalagi yang ingin mas bicarakan aku pamit."


"Lisa pasti sudah lama menungguku." Aku bangkit dari dudukku.


"Satu pintaku, aku mohon jangan halangi proses perceraian kita." langkahku terhenti saat mas Davin memanggilku.


"Nad, aku punya satu permintaan?" aku berbalik menatap mas Davin.


"Apa? Katakanlah mas."


Aku merentangkan kedua tanganku, mas Davin menghamburkan dirinya kepelukanku.


Aku tidak mampu membendung tangisku lagi, maaf mas, maafkan aku yang tidak bisa mempertahankan rumah tangga kita lagi, bathinku.


Soal cinta, hanya aku dan tuhan yang tahu, setelah perceraian kita nanti aku harap mas bisa menemukan kebahagiaan mas dengan wanita yang benar-benar tulus mencintai mas, dan aku berharap tidak ada kebohongan lagi nantinya.


Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri akan mengubur rasa ini dalam-dalam.


Begitupun dengan mas Davin dia terisak dipelukanku.


"Mas sangat merindukanmu Nad, mas benar-benar merindukanmu." ucap mas Davin disela isakannya.


Aku juga mas, rindu ini sangat menyiksa, tapi aku hanya mampu mengucapkannya didalam hati.


***


Tanpa Nadira sadari, tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada hati seseorang yang terluka.


Aku kira kamu sudah mulai membuka hatimu untukku Nad, ternyata aku salah cintamu terlalu besar untuk Davin.


Sebenarnya Nadira memintaku untuk tidak pergi, tapi tanpa sepengetahuannya aku menyusul mereka.

__ADS_1


Rasa cemburuku memenuhi fikiranku, aku tidak bisa membayangkan jika nanti Nadira bertemu dengan Davin. Apa Nadira akan merubah keputusannya?


"Lis, apa aku pantas memperjuangkan cintaku?" aku menatap Lisa, kami bertemu saat Lisa keluar dari ruang sidang.


Aku tidak melihat Nadira, dan Lisa bilang Davin ingin berbicara denganya. ada rasa cemburu saat mendengarnya.


Aku dan Lisa berjalan kearah mereka, berdiri tidak jauh dari posisi Davin dan Nadira, sepertinya mereka tidak menyadari kehadiran aku dan Lisa disini.


"Kamu lihat cinta Nadira untuk Davin sangat besar, apa aku bisa membuka hatinya untukku?"


"Ken, apa kamu mau menyerah?" Lisa menautkan alisnya.


"Jika benar itu artinya cintamu tidak begitu besar untuk Nadira, kalau aku jadi kamu sebesar apapun cinta Nadira terhadap Davin, aku akan tetap memperjuangkan cintaku." ujar Lisa.


"Kamu harus tahu satu hal, Nadira tidak akan kembali dengan suaminya walau sebesar apapun cintanya untuk Davin."


"Aku pasti akan memperjuangkan cintaku, Lis!" Aku hanya sedikit tidak percaya diri. Aku takut Nadira tidak mau memberikan kesempatan untukku.


"Jika belum mencobanya, bagaimana kamu tahu jika Nadira tidak mau."


"Berfikir positif saja Ken, Kamu harus membuktikan jika kamu bisa membahagiakan Nadira, dan kamu harus bisa menggeser nama Davin dari hati Nadira." Ujar Lisa menyemangatiku.


"Aku pasti akan membuktikannya Lis, aku berjanji pada diriku sendiri aku akan membuat Nadira jatuh cinta padaku."


"Terimakasih ya Lis atas masukannya?"


"Iya Ken, bagaimana kalau kita kemobil saja."


"Baiklah Lis." Aku menatap kearah Nadira sebelum aku meninggalkan mereka ...


Aku melepaskan pelukan mas Davin, sekilas aku melirik kearah Kenand dan Lisa yang melangkah pergi menjauhi kami.


Maafkan aku Ken, jika aku membuatmu terluka. Aku menatap mas Davin.


"Kamu harus berbahagia setelah ini, Mas!"


"Apakah aku bisa." aku menatap netra yang sangat kurindukan.


"Kamu harus bisa mas, bukalah lembaran baru." Aku hanya terdiam, Nadira benar-benar telah mengunci hatinya untukku.


Aku tidak akan menyerah Nad, jika dengan paksaan tidak bisa maka akan aku lakukan dengan cara halus seperti ini.


"Aku pergi, mas." Aku mencium punggung tangan mas Davin.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." ujar mas Davin.


Aku menatap punggung wanita yang menjsdi cinta pertamaku, kamu adalah jantungku Nad, tanpamu apakah jantung ini masih sanggup berdetak.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2