
Satu tahun kemudian ...
Pagi ini aku tergesa-gesa berangkat kekantor, Adit menghubungiku melalui pesan singkat, katanya urgent sekali, saat aku menghubungi ponselnya, nomor yang dituju sedang sibuk.
Aku sedikit berlari menuruni anak tangga.
"Pagi, mommy?" sapa putriku saat aku menemuinya dimeja makan, Davina sedang menikmati susu coklat kesukaannya.
"Pagi, sayang! Maaf ya mommy buru-buru." ucapku mencium kening Davina yang sudah menginjak usia dua tahun.
"Ma, pa! Nadira berangkat ya?"
"Assalamualaikum?"
"wa'alaikumsalam." jawab mereka berbarengan, Nadira berlari keluar rumah, dan dia bertepatan dengan Davibn didepan rumah.
"Kamu mau kekantor, Nad? Bukankah ini terlalu pagi?" tanya Davin.
"Urgent, mas! Aku berangkat ya?" balas Nadira yang langsung berlari kearah mobilnya.
Sejak kejujuranku tentang perasaanku yang telah jatuh cinta terhadap Kenand, mas Davin tidak pernah mengungkit masalah itu lagi, dia seperti menganggap masalah itu tidak pernah ada.
Sampai saat ini dia bersikap biasa saja terhadapku, dia juga tidak pernah memintaku untuk kembali bersamanya, boleh dibilang hidupku sudah jauh cukup tenang sekarang.
Ya ... Walaupun hati ini masih memikirkan Kenand, mungkin saja lelaki itu sudah melupakanku, atau mungkin dia sudah memiliki pasangan sekarang.
Tapi hati ini masih saja setia menanti kepulangannya, sampai saat ini belum ada lelaki manapun yang mampu menggetarkan hati ini.
Aku meminta satpam kantor memarkirkan mobilku, dan sedikit berlari menuju lobby. Disana sudah ada Adit yang menanti kehadiranku.
"Kamu bener-bener bikin aku senam jantung ya?" Nadira menatap tajam kearah Adit.
Hubunganku dengan Adit juga semakin akrab, jika tidak dijam kantor kami seperti teman biasa, tidak ada yang namanya panggilan formal, kami selalu memanggil dengan sebutan nama.
"Lalu apanya yang urgent?" aku melihat tidak terjadi apa-apa dikantor.
Adit nyengir kearahku, "Sebenarnya tidak yang Urgent sih? Tapi kita harus menjemput pemimpin baru kita dibandara."
"Pemimpin yang baru?" tanyaku balik.
"Iya ..." balas Adit.
Wajahku langsung murung, itu artinya tidak ada harapanku untuk bertemu Kenand lagi.
"Kok murung?" Adit menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak ada! Kenapa aku harus ikut menjemputnya?"
"Ya ... Mana aku tahu, Nad!" timpal Adit.
"Manja sekali! Kenapa tidak sekalian saja dia mengajak penghuni kantor menjemputnya sekalian." gerutu Nadira.
Adit hanya tersenyum menanggapi sikap cerewet Nadira, jika bukan wanita incaran Kenand mungkin sejak lama aku sudah mengejarmu, Nad? Bathin Adit.
"Sudah ... Menggerutunya nanti saja saat didepan bos baru kita." ledek Adit.
__ADS_1
"itu namanya cari mati aku, Dit!". Bisa langsung dipecat secara tidak terhormat aku?" Nadira memanyunkan bibirnya.
Adit tertawa mendengar celotehan Nadira.
"Ini pak kunci mobilnya?" ujar satpam yang mengambil mobil kantor diparkiran dan menyerahkan kunci mobil ke Adit.
"Terimakasih pak?" balas adit, satpam itu tersenyum menatap kearah kami.
"Masuk, Nad!" pinta Adit yang membukakan pintu mobil untuk Nadira.
Aku menuruti ucapan Adit, dan adit langsung mengendarai mobilnya kearah bandara.
"Kamu sudah lihat tampang bos baru kita?" tanya Nadira.
"Sudah dong!" jawab Adit.
"Terus bagaimana bentukkannya?"
"Pria lajang, tapi sangat angkuh dan terkesan dingin dengan semua orang." jelas Adit.
"Jadi bos kita yang sekarang masih lajang juga?" Nadira melirik kearah Adit.
"Dengar-dengar sih iya."
"Tidak jauh beda dong dari Kenand!" timpal Nadira.
"Lebih parah yang ini, Nad! Tampangnya lebih menyeramkan." Adit mengerjai Nadira.
"Nanti jika kamu jadi sekretarisnya, kamu harus siapin mental kamu loh, kamu harus memiliki mental baja."
"Kok aku? Bukankah aku sekretaris kamu sekarang?" Nadira menatap tanya kearah Adit.
"Jadi kita kembali keposisi awal nih?"
"Sepertinya begitu." ujar Adit.
"Aku takut loh, dit! Apa bener seseram itu." Nadira mengusap kuduknya.
"memangnya kamu fikir dia hantu."
"Ya ... Bisa jadi lebih serem dari hantukan." balas Nadira.
30 menit perjalanan akhirnya kami sampai diparkiran, kami berjalan kearah ruang tunggu.
"Dit, ini sudah lima belas menit loh kita menunggu?" ujar Nadira melirik arloji dipergelangannya.
"Bener juga ya, Nad! Tadi katanya kita diminta menunggu disini."
"Coba aku cek ponsel dulu ya?"
"Tidak ada pesan apapun, Nad! Kita tunggu sebentar lagi." ajak Adit.
"Belum ketemu saja sudah bikin kesal!" gerutu Nadira.
Ponsel Adit berdering, "Aku angkat telpon dulu ya, Nad?" yang dibalas dengan anggukan oleh Nadira.
__ADS_1
"Hallo, iya pak?"
"Kalian dimana?" ujar orang yang berada diujung telpon.
"Dibandara, pak! Jawab Adit.
"Aku sudah dikantor, kamu balik lagi." orang tersebut langsung mematikan sambungan telpon sepihak.
Jika bukan bosku, sudah kubikin perkedel tu orang, gerutu Adit
"Kamu kenapa Dit? Kok kesel gitu?" kening Nadira mengkerut.
"Bosnya sudah dikantor!"
"Apa? Yang benar saja, kita sudah hampir satu jam loh dit menunggunya."
"ihhh ... apes banget aku hari ini." kesal Nadira.
"Bukan kamu saja, aku juga sama!" ujar Adit.
Akhirnya kami kembali lagi kekantor, dengan hati yang masih sangat-sangat dongkol.
"Niat banget tuh bos ngerjain kita!"
"Tau ah, pusing!" timpal Adit.
Dan akhirnya kami sampai dilobby kantor, aku dan Adit jalan beriringan menuju ruangan kami.
"Nadira, tolong bantu aku sebentar ya? Pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan nih." ujar Aldo yang masih sibuk dengan komputernya.
Nadira bangkit dari duduknya, berjalan kearah meja Adit.
"Apa yang harus aku tolong?" tanya Nadira.
"Tolong antarkan berkas ini keruangan DIRUT ya?" Pinta Adit.
"Keruangan bos baru kita, dit?" mendengarnya saja langsung membuat nyali Nadira ciut.
"Iya ... Memangnya kenapa?" Adit menatap sekilas kearah Nadira, lalu kembali menatap layar komputer.
"Aku takut, dit! Kamu tadikan bilang kalau bos kita itu menyeramkan." ucap Nadira polos.
"Aku bercanda, Nad! Dia tidak seburuk itu." Adit memijit pelipisnya, terjebak dengn ucapannya sendiri, niat hati ingin mengerjai Nadira.
"Please ... Bantu aku ya, Nad?" Adit menampilkan wajah memohonnya.
"Ya sudah, cuma ngantar doang, kan?" Nadira akhirnya mengikuti permintaan Adit.
Saat sampai didepan pintu ruangan Direktur perusahaan ini, Nadira membenahi pakaian dan rambutnya, lalu mnghembuskan nafasnya perlahan.
Tok ... Tok ...
Setelah mendengar sahutan dari dalam Nadira baru masuk, dan alangkah terkejutnya Nadira saat melihat pemandangan yang ada didepan matanya.
"Maaf ..."
__ADS_1
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92