TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
ikuti permainannya


__ADS_3

Flashback ...


Dua minggu menjelang hari pernikahan.


Aku mengantar Davina kerumah mas Davin karena mama tengah sibuk mengurus pernikahanku dan aku akan pergi bersama Kenand untuk fitting baju dan akan mengurus beberapa hal seperti undangan dan masih banyak yang lainnya.


Ditakutkan jika membawa Davina dia akan rewel karena pastinya kami akan pergi lumayan lama, kebetulan hari ini hari minggu dan tentunya papanya Davina tidak akan kekantor.


"Mas tunggu dimobil saja, biar aku yang mengantar Davina." pintaku dengan Kenand saat kami sampai dikediaman mas Davin.


"Ya sudah! Kiss Daddy dulu." Kenand menunjuk pipinya.


"muuaach." Davina memcium pipi kanan dan kiri Kenand, lalu menyalaminya


Kulihat pintu depan rumah mas davin sedikit terbuka, dan ada sebuah motor terparkir didepannya, beberapa kali mengucapkan salam tidak ada sahutan sama sekali, akhirnya aku memutuskan untuk masuk.


Saat langkah ini sampai diruang tamu, aku mendengar mas Davin berbicara dengan seseorang dan tengah menyebut namaku.


Aku menghentikan langkahku memilih bersembunyi dibalik tembok, feelingku mengatakan ada yang tidak beres disini, untung saja Davina enteng tidak bersuara sedikitpun karena aku memberikan permen ketangannya.


Aku syok dengan membekap mulut ini saat tahu rencana mas Davin yang ingin membatalkan pernikahan kami, tapi dia tidak menjelaskan secara mendetail, jadi apa yang akan dilakukannya untuk membatalkan pernikahan kami aku tidak tahu.


Benar dugaanku selama ini, mas Davin tidak akan berubah secepat itu dia masih sama lelaki egois yang hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri, tanganku terkepal menahan emosi.


Aku memutuskan kembali kemobil dengan Davina masih digendonganku.


"Sayang ... Kok balik lagi?" tanya Kenand saat aku masuk kemobil.


"Tidak jadi mas ... Ada yang ingin aku sampaikan?" ucapku menghadap kearah Kenand.


"Ada apa Nad! Kok kamu terlihat cemas?" kening Kenand mengkerut.


"Kita cari tempat sarapan dulu mas! Kamu pasti juga belum makan, kan?" pintaku.


"Tadi katanya ada yang ingin disampaikan?" tanya Kenand balik.


"Iya ... Tapi kita cari tempat duduk yang lebih nyaman dulu, sepertinya pembahasannya akan panjang." balasku.

__ADS_1


"Terus Davina tidak jadi dititipkan?" tanya Kenand.


Aku terdiam beberapa detik dan akhirnya tetap akan menitipkan Davina, tapi aku menghubungi mas Davin terlebih dahulu.


"Assalamualaikum, mas?" ucapku saat panggilanku terhubung.


"Wa'alaikumsalam, ,Nad!" jawab mas Davin diseberang sana.


"Aku didepan rumah kamu sekarang, mau titip Davina." balasku


"Oh ... Iya sebentar, Nad! Tunggu ya?" sambungan telpon langsung dimatikan.


"Sayang kamu keringetan?" Kenand menghapus keringat didahi Nadira.


"Ada apa? Kamu sakit?" terlihat kecemasan diraut Kenand.


"Tidak mas, aku tidak sakit! Nanti kita bahas ya mas, setelah dari sini." ujar Nadira.


Ketukan dipintu mengalihkanku yang saat ini memang sedang menatap kearah Kenand.


Aku membuka pintu mobil, mas Davin langsung meraih Davina dari tanganku.


Mas Davin hanya menganggukan kepalanya tanda menyetujui permintaanku, Semenjak aku bertunangan mas Davin terkesan bersikap seperti orang asing dia tidak akan berbicara jika tidak menyangkut Davina, dulu aku berfikir mungkin begitulah cara mas Davin untuk mengikhlaskanku, tapi ternyata dibalik sikapnya seperti itu dia memiliki rencana yang besar untuk menghancurkan pernikahanku.


"Mommy pergi sebentar ya, sayang! adek main sama papa dulu." aku mencium pucuk kepala Davina.


"Iya Mommy! Dada ..." ujar putri kecilku.


"Dada sayang ... Assalamualaikum?" salamku, aku melambaikan tanganku kearah Davina, lalu kembali masuk kedalam mobil.


"Wa'alaikumsalam, my!" balas Davina.


Mobil kami meninggalkan halaman rumah mas Davin, Kenand menghentikan mobilnya saat sampai disebuah restoran.


Memesan beberapa makanan, karena memang kami belum makan saat berangkat tadi.


"Nad ... Boleh katakan sekarang? aku penasaran." pinta Kenand, saat kami tenga menunggu pesanan.

__ADS_1


"Mas, tadi dirumah mas Davin aku mendengar perbincangan mas Davin dengan seseorang." ucapku langsung to the point.


"Maksudnya?" alis Kenand bertaut.


"Kamu sama curiganya nggak mas! waktu itu saat mas Davin berkata telah mengikhlaskan aku, padahal beberapa hari sebelumnya dia masih memohon agar aku kembali lagi bersamanya."


"Bukankah itu terlalu cepat?" tanya Nadira.


"Iya ... Kamu juga curiga Nad? mas juga terkejut saat dia Davin mengatakan telah mengikhlaskan kamu, padahal beberapa hari sebelumnya dia meminta mas agar melepaskan kamu! Dengan alasan demi Davina." Jelas kenand.


"Dan kecurgaan kita benar mas! Mas davin merencanakan hal besar untuk menggagalkan pernikahan kita." timpal Nadira.


"Rencana? Kamu tahu sesuatu?" tanya Kenand.


"Iya mas, tadi aku tidak sengaja mendengar, tapi dia tidak mengatakan rencana seperti apa yang akan dilakukannya."


"Apa pernikahannya kita tunda saja mas? Undangan juga belum disebarkan." saran Nadira.


"Sepertinya kita harus bersandiwara, Nad! Pernikahannya akan kita tunda, kita harus merundingkan dengan keluarga masing-masing."


"Kita ikuti saja permainan Davin, biarlah dia mengira pernikahan kita akan tetap berlangsung."


"Kita harus memberikan efek jera untuknya kali ini agar Davin tidak akan mengulangi kesalahannya lagi."


"Dan agar setelah ini Davin bisa intropeksi diri." Kenand menggenggam tangan Nadira, memberikan kekukatan agar wanita itu tenang.


"Semuanya akan baik-baik saja!" terlihat jelas kecemasan diraut Nadira.


"Iya mas ... Aku hanya takut mas davin bertindak diluar batasan yang tidak kita ketahui." cemas Nadira, tidak dipungkiri ada rada takut meghinggapi hati Nadira saat ini.


"Kamu cukup bersandiwara saja, jangan buat Davin curiga, selain itu biar mas yang urus."


"Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa." Kenand membawa Nadira kepelukannya.


Sepertinya aku harus mengirimkan beberapa orang untuk mengintai pergerakan Davin, dan mengutus beberapa orang lagi untuk menjaga Nadira, dan pastinya harus tanpa sepengetahuan Nadira, gumam Kenand.


"Aku percaya sama kamu, mas!" balas Nadira.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2