
Lisa melirik sekilas kearahku, lalu meraih ponselnya, aku masih menunggu apa yang akan dikatakan Davin malam-malam begini.
Rasanya ingin aku rebut ponsel dari tangan Lisa, tapi mengingat tidak ada alasan yang tepat aku urung melakukannya.
"Iya ... Ada apa ya pak?" tanya Lisa saat panggilan tersebut dia angkat.
"Maaf pak aku tidak bisa." balas Lisa, senyum tersungging dibibirku, entah apa yang dikatakan Davin tapi mendengar Lisa menolak seperti itu ada rasa bangga tersendiri bagiku.
"Baiklah pak." ujar Lisa lalu meletakkan kembali ponselnya ketempat semula.
Aku masih diam memandangi Lisa, sepertinya Lisa langsung mengerti dengan tatapanku.
"Davin mengajak bertemu?" Lisa langsung menjawabnya tanpa kutanya terlebih dahulu.
Lalu?" tanyaku balik.
"Bukankah kamu mendengar sendiri apa jawaban dariku tadi." balas Lisa mendelikkan matanya kearahku.
"Aku hanya ingin mendengarkannya langsung dari mulut kamu." pinta Reza.
"Aku menolaknya demi kamu! Puas?" Lisa benar-benar dibuat jengkel oleh sikap Reza.
"Sangat puas ... dan terimakasih sudah mau tetap memilih bersamaku malam ini." jawab Reza penuh kemenangan.
"Iya ..." ujar Lisa melunak.
"Dan sepertinya setelah ini kamu harus jaga jarak dengan Davin." timpal Reza.
"Kenapa? Dan sepertinya tidak bisa karena aku bekerja dikantornya." kening Lisa mengkerut, dan baginya sikap Reza kali ini sangat berlebihan.
"Aku tidak ingin Davin merebutmu dariku." jawab Reza dan Lisa langsung terbahak mendengar alasan yang diberikan oleh Reza karena menurutnya itu tidak masuk akal, mana mungkin Davin akan jatuh cinta kepadanya.
__ADS_1
Lisa hanya geleng kepala menanggapi sikap posesif yang ditunjukkan oleh Reza.
"Davin tidak mungkin merebutku dari kamu, yang bener saja! Kamu mikirnya terlalu jauh." Lisa meraih jemari Reza lalu menggenggamnya.
"Dan yang penting aku tidak akan pernah berpaling." ujar Lisa menatap pria yang baru beberapa saat lalu menjadi pasangannya.
"Akan aku pegang ucapanmu." balas Reza sambil mempererat genggaman tangan Lisa.
***
Sementara ditempat Davin, dia langsung membanting ponselnya karena mendapatkan penolakan dari Lisa saat dia mengajak wanita itu bertemu.
Entah kenapa semenjak Lisa bekerja dikantornya Davin merasa nyaman berbincang dengan wanita itu, padahal dia terkesan dingin saat berhadapan dengan Lisa tapi wanita itu mampu menarik perhatiannya, dan Davin seperti melihat sosok Nadira didiri Lisa.
Cukup lama dia berdiam dikamar, akhirnya Davin memutuskan untuk segera melancarkan aksinya.
"Ma ... panggil Davin, dia menatap kesekeliling tidak dia lihat lagi Vania.
"Dia sudah kemabali?" tanya Davin.
"Anak-anak dimana?" tanya Davin.
"Istirahat dikamar." balas mama menatap heran kearah putranya.
"Ada yang ingin aku bicarakan?" ujar Davin lalu duduk disebelah mamanya.
"Bicaralah." ujar mama mengkerutkan keningnya.
"Aku ingin menikah." balas Davin dan mampu membuat wanita paruh baya itu terlonjak kaget.
"Menikah? Dengan siapa nak?" tanya mama, selama ini dia tidak pernah mendengar putranya memnjalani hubungan dengan wanita manapun.
__ADS_1
"Vania!" ujar Davin singkat.
"Kamu jangan bercanda nak." ujar mama tidak percaya.
"Memangnya aku terlihat bercanda?" Davin menatap lekat mamanya.
"Tapi kamu sudah mentalak tiga Vania." balas mama.
"Dia sudah pernah menikah ma, dan sudah bercerai jadi apa salahnya kami menikah lagi." bujuk Davin
beberapa hari semenjak kemunculan Vania, Davin sudah meminta oang suruhannya dan dia mendapatkan sedikit informasi tentang Cania.
"Tidak ... Mama tidak setuju, kamu hanya akan melukainya." tolak mama langsung.
"Mama tenang saja, aku sudah memikirkannya dan aku tidak akan menyakitinya, bukankah ini yang terbaik untuk anak-anak?" balas Davin kemudian.
Cukup lama mama terdiam, mempertimbangkan ucapan putranya, dan ada benarnya cucu-cucunya akan kembali merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Nanti akan mama dan papa bicarakan dengan Vania, tapi ingat jangan pernah mempermainkan pernikahan kalian terutama mempermainkan Vania." kecam mama.
"Aku tidak akan melakukannya ma." ujar Davin meyakinkan.
"Baiklah, jika itu keputusan kamu." ujar mama menyetujui, walaupun hati kecilnya tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh putranya.
"Terimakasih ma?" balas Davin langsung memeluk mamanya.
Tanpa wanita itu sadari, Davin menyeringai karena sebentar lagi misinya akan terlaksana.
Selamat menikmati kehidupan kamu yang baru setelah ini Vania, akan aku buat hidupmu seperti dineraka.
Sama sepertiku, hanya raga yang tetap hidup hingga saat ini, tapi jiwa ini telah lama mati, setelah kamu merenggut kebahagiaanku bersama wanita yang sangat aku cintai.
__ADS_1
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92