TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
pesan dari seseorang 2


__ADS_3

"Selamat ulang tahun putri, Daddy?" notifikasi kembali masuk keponselku.


"Kenand!" desah Nadira sambil membekap mulutnya, hanya Kenand yang memanggil dirinya Daddy.


Nadira mencari-cari sosok Kenand ditengah keramaian, tapi nihil tidak ia temukan pria itu. Rindu yang sempat Nadira tahan sekarang tak terbendung lagi.


"Ken ... Kamu dimana?" aku terus menyusuri dibalik keramaian, hingga sebuah tepukan dipundak menghentikan langkahku, apakah itu kamu, Ken? bathin Nadira.


Saat berbalik senyuman yang tercipta dibibirku langsung pudar, ternyata mas Davin.


"Nad, kamu mencari seseorang?" tanya Davin.


"aaa ... I-iya! Tapi sepertinya aku salah lihat." ucapku terbata.


"Sebentar ya mas, aku ingin menghubungi seseorang?" Nadira sedikit menjauh dari Davin.


Apakah sepenting itu orang yang ingin kamu hubungi, Nadira! Sampai-sampai kamu menjauh dariku." Davin menarik nafas dalam, aku semakin tidak mengenali Nadiraku yang dahulu, gumam Davin.


Sedangkan Nadira masih sibuk dengan ponselnya, beberapa kali kuulang menghubungi nomor tersebut tapi nomornya sudah tidak aktif lagi.


Apa kamu ingin memberikan harapan palsu untukku, Ken? Aku fikir kamu benar-benar sudah kembali, tapi ternyata ini semua hanya harapan semu.


"Mari kita kembali, mas?" aku mengajak mas Davin kembali ketempat acara, aku menghembuskan nafas sebelum melangkahkan kaki ini, aku tidak ingin terlihat lesu dihadapan semua orang.


"Tapi ...?" sejenak aku kembali memikirkannya, bukankah pakaian ini sudah ada sebelumnya dikamarku, kemungkinan Mama yang megetahui siapa pemberinya, apa mama juga tahu dimana keberadaan Kenand?


Setelah acaranya selesai nanti aku akan menanyakannya secara langsung dengan mama, aku harap bisa menemukan keberadaan pria yang telah memporak porandakan hati ini.


Setelah dia meminta untuk diberikan kesempatan untuk memperjuangkan cintaku, dengan seenaknya dia berhenti ditengah jalan disaat dia sudah mulai mengikat hati ini, gemes Nadira.


Beberapa rangkaian acara sudah dilaksanakan, terlihat Davin selalu mencuri pandang kearah Nadira yang tengah berbicara dengan Lisa, wanita ini semakin hari semakin bertambah kecantikannya, dan aku sangat-sangat bersyukur Nadira sudah tidak membenci diriku lagi.


Maaf, Nad! Jika untuk melupakan kamu, sepertinya aku tidak bisa, sampai titik darah penghabisanpun aku tidak akan menyerah, cintaku begitu besar untukmu, aku tidak akan berhenti untuk memperjuangkannya, bathin Davin.


"Pa, papa ... Celoteh Davina mengalihkan tatapanku dari Nadira, ternyata putriku sedang mengulurkan tangannya, untunglah Davina tidak pilih-pilih orang, dengan omanya pun yang baru pertama kali bertemu dia langsung mau.

__ADS_1


Sedangkan Nadira masih mengobrol dengan Lisa, dia ikut merasakan sakit saat melihat sahabatnya dihianati oleh suaminya, kami mengalami nasib yang sama.


Aku menepuk pundak Lisa, "Semuanya pasti berlalu, kamu pasti kuat?" ujar Nadira.


"Itu sudah pasti, Nad! sesedih apapun, aku tidak akan mempertahanankan seorang penghianat."


"Lelaki macam itu harus dibasmi dari muka bumi, apa mereka tidak merasa bersalah sedikitpun saat menduakan pasangannya."


"Dan lebih parahnya, suamiku lebih memilih gundiknya, dia sudah mentalakku secara agama, dan sebentar lagi kami akan resmi bercerai secara hukum." Ucap Lisa dengan tatapan kosong.


"Sudah ... mulai sekarang lupakan kesedihan itu, kita berdua sama, korban dari kebohongan laki-laki, tapi bagaimanapun hidup terus berjalan dan kita berhak untuk bahagia." ungkap Nadira menyemangati.


"Itu tentu, sayang! Kamu tahu aku seperti apakan? Aku paling anti dengan yang namanya perselingkuhan, tidak ada kata maaf untuk sang penghianat." geram Lisa.


"Dan kalau aku jadi kamu, mungkin sampai detik ini aku tidak akan memaafkan Davin yang telah sengaja membohongi pasangannya dengan dalil tidak ingin kamu menolak cintanya." Ungkap Lisa, dia benar-benar salut dengan hati wanita yang berada disampingnya saat ini.


"Semuanya sudah berlalu, Lis! Aku tidak mungkin membenci mas Davin seumur hidupku, dia ayah dari putriku, jika aku membencinya bagaimana kami bisa merawat Davina bersama-sama." Nadira menjelaskan.


Lisa hanya mengangguk mendengar penjelasan Nadira.


"Jadi bagaimana dengan Kenand? Apa kamu sudah menemukan keberadaannya?"


"Menurut kamu, mamaku mengetahui keberadaannya, tidak?" tanyaku menatap Lisa.


"Kita tidak bisa menebaknya, Nad! lebih baik kamu tanyakan langsung." pinta Lisa.


***


Ditempat lain...


Kenand masih menatap layar ponselnya setelah mengirimkan pesan singkat kenomor Nadira dia langsung membuang sim-card dari ponselnya.


Seharusnya aku berada ditengah-tengah mereka, aku sangat merindukan Nadira dan putrinya, apalagi aku orang pertama yang menyambut kedatangan Davina kedunia ini, akulah orang pertama yang mengumandangkan iqamah ditelingnya, Davina sudah seperti anak bagiku.


Kenand masih ingat beberapa hari yang lalu memesan baju untuk Nadira dan putrinya lalu mengirimkannya kealamat rumah Nadira, hanya Adit yang mengetahui hal itu.

__ADS_1


Melalui Adit, Kenand bisa melihat dan mendengar kabar Nadira, tidak ada seharipun ia lewatkan untuk mendapatkan kabar tentang wanita idamannya itu.


Dan lebih mengejutkan lagi, Kenand menempatkan orangnya ditengah meriahnya pesta tanpa orang-orang ketahui


Live yang diadakan oleh orangnya Kenand, membuatnya bisa melihat senyuman Nadira disepanjang pesta dirayakan walaupun hatinya sedikit terusik dengan Kehadiran Davin disana.


Tentang Davin, waktu Nadira dijebak oleh Vania dan James, benar ... Memang aku yang menghubungi Davin waktu itu, semalaman aku memikirkan ucapan Reza, akhirnya hatiku tergerak untuk menjauh dari kehidupan Nadira.


Aku tidak ingin menjadi orang yang egois lagi, aku melepaskan Nadira untuk menyelesaikan masalahnya dengan Davin, sekarang aku bisa merasakan ketenangan walaupun rindu dengan sosok wanita yang sangat aku cintai menyiksaku.


Lamunanku tersentak, kala seseorang membuka pintu ruangan, ternyata Adele.


Wanita bernama Adele ini sahabat waktu aku berkuliah dinegara ini dan sekarang dia menjadi sekretarisku diperusahaan yang baru saja resmi aku buka.


"Ken, kamu memikirkannya, lagi?" ujar Adele melangkah kearahku menatap hamparan gedung-gedung yang menjulang tinggi.


"Lalu apalagi? Tiada hari tanpaku memikirkannya!" balas Kenand.


"Kembalilah ... Kejar kembali cinta kamu? jika berkorban menyiksamu maka perjuangkanlah." Adele menepuk pundak sahabatnya.


Kenand hanya bisa menggelengkan kepalanya, Adele tidak tahu serumit apa hubungan yang akan dia perjuangkan, antara memilih orang yang dia cintai atau sahabat kecilnya.


"Hubungan kami sangat rumit, Adele! aku akan kembali setelah memastikan perasaan Nadira benar-benar tidak ada lagi untuk mantan suaminya."


"Dan jika Nadira memiliki cinta yang sama denganku agar kami bisa sama-sama memperjuangkannya! aku tidak ingin memaksanya bersamaku jika hatinya masih terpaut dengan lelaki lain." ungkap Kenand.


"Apakah sebelum kamu pergi dari kehidupannya kamu menanyakan bagaimana perasaannya terhadap kamu?" timpal Adele.


"Aku tidak sempat menanyakannya, aku hanya melihat dari masalalu Nadira yang begitu mencintai suaminya dan pastinya akan sulit untuk Nadira melupakan cinta pertamanya itu."


"Tap, Ken! alasan itu tidak bisa menjamin, bagaimana jika dia memiliki perasaan yang sama dengn kamu? Apa kamu tidak akan pernah menyesalinya?"


"Lalu bagaimana kamu akan memastikan perasaan Nadira, jika kamu masih tetap bertahan disini? Cinta butuh perjuangan, ken? Dia tidak akan menghampiri kamu dengan sendirinya?"


"Kamu terlalu gegabah dan sangat pengecut, Ken." Ucapan Adele membuat bibir ini bungkam, apa benar tindakan yang aku lakukan kali ini salah.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2