TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
perpisahan dengan sahabat


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian ...


"Lis ... Kenapa tidak netap disini saja?" tanya Nadira.


"Mama memintaku ikut bersamanya Nad! sebenarnya aku juga tidak ingin jauh dari kalian, apalagi Davina, aku sangat menyayanginya." tutur Lisa sambil menghela nafasnya.


"Kasian mamaku Nad, dia sangat terpukul dengan perceraianku, hanya dengan cara mengikuti keinginannya aku baru bisa tenang." timpal Lisa.


"Kenapa sejauh itu Lis, kalau dinegara yang samakan kita masih bisa bertemu?" mata Nadira sudah berkaca-kaca.


"Nenekku disana Nad, kamu tahu mamaku sangat trauma dengan yang namanya perselingkuhan, makanya dia tidak ingin lagi tinggal disini."


"Kita masih bisa Video call kan, kamu tenang saja aku tidak akan melupakan kalian."


"Jangan sedih gitu dong?" ujar Lisa menghapus sudut matanya.


"Iya ... Maaf? Habisnya aku nggak pernah kefikiran akan berpisah dengan kamu." balas Nadira langsung menghambur kepelukan sahabatnya.


"Sayang ... Kamu kenapa?" tanya Kenand yang baru saja pulang dari kantor, dia terlihat cemas saat melihat istrinya menangis sesegukan.


Nadira mendongakkan wajahnya menatap kearah Kenand lalu mengusap airmatanya dan melepaskan pelukannya dari tubuh Lisa.


"Tidak apa-apa mas, aku hanya sedih karena Lisa akan pindah dari negara ini." jawab Nadira.


"Memangnya kamu mau pindah kemana Lis?" tanya Kenand lalu bergabung duduk bersama mereka.


"Kenegara tetangga Ken, kebetulan nenekku orang sana." jawab Lisa.


Kenand mengangguk kecil, lalu menatap kearah istrinya yang terlihat sangat sedih.


"Sayang ... kalau kamu rindu dengan sahabatmu kita akan mengunjunginya kapanpun kamu ingin kesana."


"Atau kamu ingin ikut pindah kesana juga?" tanya Kenand.


"Apaan sih mas, kita tidak mungkin ikut pindah, kalau Lisa kan memang berasal dari sana, lah kita mau ikut siapa?" ujar Nadira.


"Mas serius, untuk istri tercinta mas ini apa sih yang enggak." balas Kenand polos.


"Ya enggak harus pindah juga kali mas, kalau pindah kota mendingan, lah ini kenegara lain loh." Nadira geleng-geleng kepala melihat kepolosan suaminya.

__ADS_1


"Benar yang dikatakan Nadira, Ken! Kamu ini ada-ada saja." balas Lisa.


"Tapi aku tidak ingin Nadira sedih Lis, apalagi melihat dia menangis seperti ini." timpal Kenand.


"Mas ... aku tidak kenapa-kenapa, wajarkan kalau aku nangis karena tidak bisa main setiap hari lagi bersama Lisa." Nadira beranjak duduk disebelah suaminya.


"Mas cuma khawatir." balas Kenand mengusap pucuk kepala Nadira.


"Jadi kapan kamu akan berangkat?" Tanya Kenand.


"Besok, pukul 10 pagi." jawab Lisa.


"Ya sudah, besok kami jemput kamu kerumah, biar kami yang mengantar kebandara."


"Tidak usah Ken! Tolak Lisa karena tidak ingin merepotkan mereka.


"Lis ... Jangan menolaknya?" pinta Nadira.


"Baiklah ... Aku tidak akan bisa menolak jika sudah ditatap dengan tatapan memohon seperti ini."


"Kalau begitu aku pamit dulu, belum berberes soalnya." pamit Lisa.


"Hati-hati ya Lis." Nadira mengantar Lisa sampai kedepan yang dibalas dengan anggukan oleh Lisa.


"iya mas ... Sebentar aku ambil tas dulu." Nadira berlari kecil masuk kedalam rumah.


Setelah menikah Kenand membawa Nadira langsung kerumah yang telah ia siapkan sebagai kado untuk Nadira, rumah minimalis dua lantai yang berada dipinggir danau, rumah yang menjadi impian Nadira selama ini, walaupun jarak dari kantor dan dari rumah orangtua mereka terbilang cukup jauh dari sini tapi demi impian Nadira, Kenand mewujudkannya.


"Ayo mas." ajak Nadira saat sampai didepan lalu langsung mengunci pintu rumah.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil, Kenand langsung membukakan pintu mobil untuk Nadira.


Melakukan perjalanan yang lumayan cukup jauh, akhirnya mereka sampai dirumah orangtua Davin.


"Assalamualaikum?" salam Nadira.


"Wa'alaikumsalam." jawab ibu Davin dari dalam rumah.


"Mommy ..." teriak Davina yang menyusul omanya dari belakang, Nadira tersenyum saat melihat Davina, Kenand langsung menggendong putrinya.

__ADS_1


"Masuk dulu nak." pinta ibunya Davin.


"Iya buk." balas Nadira.


Cukup lama mereka berbincang-bincang kecil akhirnya Nadira dan Kenand pamit, dan kembali membawa Davina pulang kerumah.


"My, tadi adek telponan sama papa." ujar Davina saat mereka sampai didalam mobil, Nadira melirik Kenand sekilas lalu kembali menatap Davina.


"Oh ya ... Terus tadi adek ngomong apa?" tanya Nadira.


Tadi adek nangis ingin dekat papa, tapi papa bilang besok papa akan datang." Davina mewek.


"Jadi adek enggak jadi nangis." timpal Davina.


"Anak mommy pintar ya, mungkin papa lagi sibuk, kalau pekerjaan papa sudah selesai nanti pasti papa akan pulang." bujuk Nadira.


"Iya my ... Adekkan sudah besar, jadi enggak boleh cengeng." jawab Davina dengan senyuman merekah diwajahnya.


"Sekarang mainnya sama Daddy dulu ya?" Kenand mendudukan Davina dipangkuannya dan memghidupkan mesin mobilnya lalu melajukan mobil meninggalkan rumah kediaman orangtua Davin.


Seperti inilah Kenand, dia selalu bisa membujuk Davina, dia membuat Davina tidak merasakan kehilangan sosok seorang ayah, Kenand selalu menjadi ayah siaga untuk putriku.


Aku hanya tersenyum melihat tawa mereka berdua, Davina seperti lupa jika barusan dia tengah sedih karena merindukan papanya, Kenand mampu mengendalikannya.


****


Hampir seminggu Lisa berada di negri Jiran ini, dia memutuskan mencari pekerjaan karena merasa bosan hanya berdiam diri dirumah.


Mendapatkan informasi melalui media sosial sekarang tibalah dia didepan sebuah gedung perusahaan.


"DAVINA COMPANY" kening Lisa mengkerut, kok nama perusahaannya kek nama anaknya Nadira ya, bathin Lisa.


Mungkin hanya kebetulan saja, aku tidak pernah mendengar jika Nadira membuka perusahaan disini, Lisa bermonolog sendiri.


Aku bergabung dengan para pelamar lainnya, menunggu antrian untuk interview karena sudah ada beberapa orang yang datang terlebih dahulu.


Menunggu beberapa menit, akhirnya namaku dipanggil, aku memasuki ruangan tersebut dan aku langsung membekap mulut ini.


"Daviiiin." ujarku kaget.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2