TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Vania masuk kedalam jebakan


__ADS_3

Jemariku masih sibuk berselancar dilayar ponsel, mengetik beberapa pesan lagi lalu mengirimnya. Sedangkan Davina sudah tidur sejak tadi.


Dan pesanku masih centang abu-abu padahal ponsel Kenand sedang online, beberapa pertanyaan mulai bersarang dibenakku.


"Apa kamu sedang menghindariku, Ken? fikiran positifku sedari tadi mulai berubah menjadi fikiran negatif.


Ini tidak seperti biasanya, Kenand tidak pernah mengabaikanku seperti saat ini, akhirnya aku memutuskan mengistirahatkan tubuhku disebelah putriku.


Aku kembali mengecek ponselku setelah bangun dari tidurku, pesanku sudah centang biru, tapi tidak ada balasan dari Kenand sama sekali.


Aku memberondong Kenand dengan banyak pertanyaan, tapi pesanku sama sekali tidak Kenand balas, aku coba menghubunginya tapi tetap tidak dia angkat.


Apa aku susul kekantor saja? aku tidak ingin dihantui rasa penasaran, apa yag membuat Kenand menghindariku seperti ini.


Dan aku memutuskan untuk menemui Kenand dikantor, membawa Davina bersamaku karena tidak ada yang menjaganya.


Saat sampai dilobby kantor, adit asisten Kenand menghampiriku.


"Buk Nadira!" sapa Adit.


"Ibu mau menemui pak Kenand?"


"Iya, pak Adit ... Pak Kenandnya ada?" balas Nadira.


"Pak Kenand sedang sibuk buk, tidak bisa diganggu untuk saat ini."


"aahhh ...jadi begitu! titip pesan kalau aku mencarinya, ya pak?"


"Baiklah buk ... Kalau begitu aku permisi." izin Adit pamit dari hadapanku.


Aku tahu kamu tidak sibuk? Kamu sedang menghindariku kan? Apa cuma sebatas ini kamu memperjuangkan cintaku, Ken? Ternyata cinta kamu tidak sebesar yang aku bayangkan.


Apa kali ini aku salah lagi menaruh hati ini? Bathin Nadira, lalu melangkahkan kaki keluar dari lobby.


Tidak jauh dari tempat Nadira, Kenand memperhatikannya. Ingin rasanya kaki ini melangkah kearah Nadira dan Davina merengkuh mereka kedalam pelukanku.


Rasa ini menyiksaku, tapi harus aku tahan. Aku tidak mungkin mengingkari ucapanku, apa aku harus pergi jauh, Nad? Agar aku bisa melupakan rindu ini, dan kamu bisa kembali memperbaiki hubungan kalian setidaknya demi memberikan keluarga yang lengkap untuk Davina.


Lalu Kenand kembali kedalam ruangannya, menatap kearah meja kerja Nadira, setelah ini aku pasti akan sangat merindukan kamu, Nadira! cintaku tidak akan pudar untukmu, namamu akan selalu terukir disanubari.


Maafkan aku Nadira, bukannya aku berniat mengabaikan kamu, aku hanya takut, takut tidak bisa berhenti, dan kembali mengulang kesalahanku dimasa lalu, menghancurkan kehidupan sahabatku sendiri.


Aku juga baru menyadari, ternyata selama ini aku terlalu egois, aku sering mengatakan Davin pria yang sangat egois hanya mementingkan perasaan dia sendiri, akupun juga sama. Jadi apa bedanya kami berdua.

__ADS_1


Kenand memijit kepalanya yang berdenyut, kenapa jalan cintaku tidak pernah mulus, aku sudah berhenti sebelum memperjuangkannya.


Sedangkan Nadira kembali lagi kerumah bersama putrinya.


Aku meletakkan Davina ketempat tidurnya, gelisah bercampur kecewa menjadi satu, Aku kecewa dengan sikap pengecut Kenand dan gelisah takut Kenand benar-benar menghilang.


****


Vania melemparkan ponselnya setelah membaca kabar berita tentang keluarga Davin pratama, mereka mengumumkan keberadaan cucu dari keluarga Pratama kepublik.


Vania tersenyum, akhirnya keluarga Pratama mengatakan tentang keberadaan cucu mereka, setelah hampir dua belas tahun mereka menyembunyikannya anak-anakku.


Lalu bagaimana bisa aku menemui putraku yang tengah kritis dirumah sakit, mas Davin pasti tidak akan melepaskan aku kali ini.


Tapi bagaimanapun Raffa putraku darah dagingku, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya, raffa memiliki golongan darah yang langkah dan pastinya mereka tengah kesulitan mencari pendonornya, dan hanya aku yang bisa menolong putraku, karena kami memiliki golongan darah yang sama.


Vania tidak menghiraukan lagi apa yang akan terjadi dengan nasibnya nanti, yang ada difikirannya saat ini hanya Raffa putra sulungnya.


Dengan memakai jasa ojek online, akhirnya Vania sampai dirumah sakit, vania melakukan penyamaran dengan memakai jeans dan dan hoodie yang tutup kepalanya dia pasangkan dikepalanya lalu memakai masker untuk menutupi wajahnya.


Setelah mendapatkan nomor Kamar putranya, dengan hati-hati Vania melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat putranya dirawat.


Dan saat dia sampai tidak dia temukan putranya disana, yang ada hanya ruangan kosong.


Apa ini akal-akalan mas Davin? Vania langsung panik, dia telah masuk kedalam jebakan Davin.


Saat Vania akan membuka pintu ruangan ternyata pintu tersebut telah terkunci, Vania berusaha menggedor-gedor tapi tidak ada yang mendengarnya sama sekali.


"Kita bertemu lagi, Vania?" Vania membalikkan tubuhnya menatap Davin yang tengah duduk disofa dengan menumpu sebelah kaki kanannya diatas kaki kiri.


Aura yang terpancar dari wajah Davin membuat tubuh Vania bergetar, dia masih sangat jelas bagaimana Davin memperlakukannya terakhir kali.


"Mas, dimana Raffa?" Vania mencoba untuk tenang.


"Tentunya putra kita sedang dirumah, sayang! Apa kamu ingin menemuinya?" senyum licik tercetak dibibir Davin.


"Mas, kamu jangan macam-macam sama aku?" Vania memundurkan tubuhnya saat Davin mulai bergerak kearahnya.


"Memangnya apa yang akan mas lakukan Vania? Apa kamu membuat kesalahan lagi?" Davin menghentikan langkahnya saat tubuh Vania membentur tembok.


"A-aku tidak melakukan apa-apa, mas? Biarkan aku pergi." Vania memelas.


"Benarkah? Tapi kenapa kamu begitu takut saat melihat, mas?"

__ADS_1


"Ti-tidak ada, mas! Aku mohon biarkan aku pergi." air mata Vania sudah berlinang.


Hhahaahaa ...


Tawa Davin menggema dipenjuru ruangan, dan itu mampu membuat tubuh Vania semakin bergetar hebat.


"Kamu fikir aku akan melepaskan kamu kali ini, Vania?" Davin menjambak rambut panjang Vania.


"Tidak akan! setelah apa yang kamu lakukan terhadap Nadira."


"Ma-mas, sa-sakit!" rintihan Vania bagaikan sebuah lagu ditelinga Davin.


"Jadi kamu takut, Vania?" tawa Davin.


"Tapi kenapa kamu tidak pernah memikirkannya sebelum kamu ingin melukai Nadira?"


"Aku, Davin pratama ... Akan selalu ada dibelakang Nadira! Jadi siapapun yang ingin melukainya akan berurusan denganku."


"Paham kamu!" Davin mendorong tubuh Vania hingga membentur tembok.


"Sebaiknya aku jebloskan saja kamu kepenjara."


"eiits ... Tapi sebelumnya aku ingin bermain-main dulu dengan mantan istriku." Davin menyeringai jahat.


"Ja-jangan, mas! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Vania berlutut dikaki Davin.


"Kenapa sekarang kamu jadi penakut Vania? Bukankah selama ini kamu sangat berani?" ejek Davin.


"Tolong biarkan aku pergi mas, aku janji akan pergi sejauh mugkin dari kehidupan kalian."


"Kamu fikir aku akan percaya?"


"Aku akan melakukan apapun yang kamu pinta mas, tapi aku mohon jangan sakiti aku, jangan jebloskan aku kepenjara." tangis Vania pecah.


"Apapun?" Davin berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Vania yang masih berlutut dikakinya.


"Iya mas, apapun asalkan kamu tidak memenjarakan aku!"


"Tapi sayang aku tidak tertarik! Dan sepertinya kamu tidak pernah jerah dan mengulangi untuk menyakiti Nadira lagi dan lagi."


"Untuk kali ini aku tidak akan melepaskan kamu, Vania! Tidak akan.


Aaaaaaah ... Jangan maaaassss! Teriak Vania.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2