
Disebuah hotel bintang lima saat ini dua pasang anak manusia tengah melakukan pergumulan panas.
"Kamu benar-benar candu untukku Vania."
"Benarkah?" senyum yang penuh arti tercetak dibibir Vania.
Laki-laki ini bisa kumanfaatkan untuk ajang balas dendamku. Bathin Vania.
"Kamu bisa menikmatinya kapanpun kamu mau." ujarku sambil membelai dada bidang laki-laki yang berdarah campuran inggris indo itu.
"Really?" ujarku pria yang bernama james tersebut.
"ya ... Aku milikmu."
Apakah kamu bersedia berhenti dari pekerjaanmu? dan mulai sekarang kamu hanya akan menjadi milikku seorang."
"Tentu james, tapi kamu harus membantuku."
"Apapun itu cantik." James membelai wajahku.
Aku sudah menyelidiki laki-laki bernama james ini, dia adalah salah satu pengusaha ternama dinegaranya. Jika aku bersamanya kehidupanku akan terjamin dan dia bisa kumanfaatkan untuk balas dendamku.
James sering bolak-balik indo-inggris karena dia memiliki cabang perusahaan disini, dia pasti akan memakai jasaku saat tengah berada diindonesia.
"Janji?" Aku menatap manja menatap kemanik james.
"Tentu honey, kamu menginginkan apa dariku?" Tangan james mulai meraba setiap inci tubuhku.
Aku menggigit bibir bawahku menahan gejolak yang telah menjalar disekujur tubuh.
"eh, euhm ... Lenguhan kecil lolos dari bibirku.
Entah pria ini hanya menyukai tubuhku atau benar-benar menyukaiku, aku tidak ingin memikirkannya.
"Yang terpenting bagiku saat ini aku telah memiliki seseorang pendukung dibelakangku untuk pembalasanku nanti.
James pria hiperseks memiliki gaya bercinta yang sedikit lebih kasar, Sebenarnya aku tidak menyukai gaya bercinta seperti ini tapi demi dendamku aku akan melakukan segala cara.
Entah berapakali kami melakukannya, james tidak akan berhenti sebelum dia benar-benar terpuaskan.
"Lalu apa yang kamu inginkan sekarang honey?"
Setelah pergumulan kami yang kesekian kalinya, kami masih berada dibalik selimut yang menutupi seluruh bagian tubuh tanpa sehelai benangpun.
"Aku ingin membalaskan dendamku terhadap mantan suamiku dan istrinya."
"Kamu ingin dendam yang seperti apa?"
"Menghancurkan usahanya? Atau rumah tangga mereka?"
"Tidak ... Rumah tangga mereka sudah hancur."
"Lalu ... Apakah usahanya?" james menatapku.
Aku tidak mungkin menghancurkan perusahaan mas Davin, bagaimana nasib kedua putraku nanti jika perusahaan mas Davin hancur.
Aku tidak ingin putraku hidup dengan serba kekurangan.
"Tidak ... Aku hanya ingin kamu membuatnya bergantungan dengan obat-obatan terlarang."
Aku tau mas Davin sangat mencintai Nadira, jika Davin telah bergantungan dengan obat-obatan, mas Davin pasti akan kesulitan mengontrol emosinya, dan dengan menggunakan tangannya aku bisa membalaskan dendamku terhadap Nadira.
"Hanya itu?" James menautkan alisnya.
"Untuk sekarang cukup itu saja."
"Kamu tunggu, dan tinggal terima beres saja."
James membawaku kedalam pelukannya, aku tersenyum licik, selangkah lagi dendamku akan terbalas.
"Mulai dari sekarang kamu adalah wanitaku, jangan berikan tubuh indah ini kepada laki-laki manapun." ucap James disela pelukannya.
"Tentu sayang ... Aku hanya milikmu."
"dan minggu depan kamu harus menemaniku keluar kota." James ******* bibirku sebentar lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi.
***
"Ma, pa ... Nadira berangkat." Kenand menjemputku setelah urusan pekerjaannya selesai.
"Iya sayang ... Jaga kesehatanmu dan juga kandunganmu." Mama memelukku.
Aku mencium punggung tangan kedua oranggtuaku, sebenarnya aku sangat berharap saat persalinan nanti aku melahirkan dikota ini didampingi kedua orangtuaku.
Tapi demi kebaikan semua orang aku memilih keluar dari tanah kelahiranku, dan aku sudah memutuskan akan membuka lembaran baru bersama anakku kelak dikota yang baru.
"Om titip Nadira ya Ken?" ujar papanya Nadira.
"Aku akan menjaganya Om, Tante."
"Kita berangkat sekarang Nad?" Aku menatap kearah Nadira.
"Iya Ken."
"Ma, pa ... Nadira pamit."
Aku bersama papanya Nadira mengantarkan Mereka sampai memasuki mobil dan meninggalkan perkarang rumah.
flashback ...
"Om, tante ... Aku ingin membicarakan hal penting."
Waktu itu aku masih ingat, sebelum Kenand membawa Nadira keluar dari kota ini.
Aku dan suamiku mempersilahkan bos dari putriku ini duduk."
"Bicara apa nak? Ujar papanya Nadira.
Kenand menarik nafas dalam-dalam, sebelum dia berucap.
"A-aku mencintai Nadira."
"Maaf ... Jika aku lancang telah mencintai putri kalian yang jelas-jelas telah mempunyai suami."
"Jadi kamu tahu jika Nadira sudah memiliki suami?" Ujar papanya Nadira kala itu.
"Aku sudah mengetahui semuanya om, dan aku juga tahu masalah yang tengah dihadapi Nadira saat ini."
Aku sangat terkejut saat Kenand mengatakan perasaannya terhadap putriku.
"Apa kamu tidak malu dengan masalalu putri tante, orang-orang pasti sudah memberi cap pelakor pada Nadira."
"Tante aku tahu Nadira wanita yang baik, dia mengorbankan kebahagiaannya demi wanita lain."
"Dan gelar pelakor yang diberikan orang-orang itu bukan keinginan Nadira, dia yang korban disini."
Aku tidak peduli dengan omongan orang tante, yang aku tahu Nadira bukan seperti itu."
"Kenapa kamu bisa mencintai putriku? Aku masih penasaran dengan bos dari Nadira, dia sudah tahu jika Nadira sudah memiliki suami tapi kenapa dia masih berani mencintai putriku.
"Untuk mencintai seseorang kita tidak harus memiliki alasankan tante?"
"Rasa itu bisa tumbuh dengan sendirinya."
Pria ini sangat bijak dan tenang saat menjawab pertanyaanku.
"Apakah Nadira tahu? Ujarku.
"Tidak ... Nadira belum mengetahuinya."
"Aku baru mengatakannya pada kalian."
"Dan aku berharap Om dan Tante merahasiakannya dari Nadira."
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah seharusnya kamu mengatakannya langsung."
"Karena sekarang bukan waktu yang tepat untukku mengatakannya."
"Nadira masih berstatuskan istri orang, Dan aku tahu jika Nadira sangat mencintai suaminya."
"ini hanya sebatas sebagai pengakuanku saja terhadap kalian jika aku mencintai putri kalian."
"Aku akan mengejar Nadira jika mereka benar-benar telah resmi berpisah."
"Om, tante ... Izinkan aku membawa Nadira pergi jauh dari kota ini."
"Saat Nadira dirumah sakit dia meminta bantuanku untuk menjauhi suaminya."
Lama kami terdiam, apa harus putriku pergi demi untuk menjauhi suaminya, sedangkan kami berada disini, bukan kami tidak ingin mengikuti Nadira pergi tapi perusahaan papanya Nadira pasti akan terbengkalai jika kami juga ikut pindah.
"Apa tidak ada cara lain selain pergi jauh dari kota ini? Ujarku.
"Ini jalan yang tepat tante agar Davin tidak mengganggu Nadira lagi."
"Apa kami bisa mempercayakan Nadira padamu?" papa menautkan alisnya.
"Aku berjanji akan menjaga Nadira, aku tidak mungkin menyakiti wanita yang aku cintai."
Mulai saat itu kami percaya jika Kenand bisa melindun,gi Nadira, dan kami berharap jika Kenad benar-benar tulus mencintai Nadira.
...****************...
"Kamu tidak apa-apa Nad?"
Sedari tadi Nadira tidak banyak bicara, pasti masalah tadi mengganggu ketenangannya.
"Aku tidak apa-apa Ken."
"Ken ... Bolehkah aku tahu tentang kalian?"
Aku menautkan alisku menatap Nadira ... Maksudmu?"
"Tentang kamu dan mas Davin." ujar Nadira.
Aku kembali fokus menatap jalanan didepan.
Cukup lama aku menimbang antara bercerita atau tidak, jika aku bercerita apakah Nadira akan membenciku? Aku khawatir dia mengira jika aku memanfaatkannya untuk membalaskan dendamku terhadap Davin.
Tapi akhirnya aku memutuskan untuk bercerita, aku sudah siapa menerima konsekuensinya.
Sebelum bercerita aku menghembuskan nafas dengan sekali hembusan, Lalu menatap kemanik Nadira yang sedari tadi menatapku.
"Apapun yang aku ceritakan, aku mohon jangan membenciku?"
Keningku mengkerut ...
"Apakah ada hubungannya denganku?"
"Tidak ... masalahku dengan Davin tidak ada kaitannya denganmu."
"Lalu?" aku semakin penasaran.
"Nanti kamu bisa menilainya sendir."
"Jadi ... Bisakah kamu menceritakannya?"
"Baiklah ... Sebenarnya dulu aku dan Davin berteman baik, kami bersahabat dari kecil."
"Benarkah? Tapi kenapa kalian seperti bermusuhan sekarang?"
"Semuanya terjadi setelah kematian adikku."
"Ke-matian?" aku terkejut saat Kenand mengatakannya.
"Iya ... Adikku telah meninggal." Aku memijit pelipisku, jika sudah menyangkut nama adikku perasaan sedih bercampur marah menjadi satu.
"Dia seusia denganmu Nad."
"Maaf Ken, pembahasan ini pasti membuatmu sedih." Aku tertunduk, kehilangan orang yang sangat kita sayangi benar-benar membuat kita hancur aku sedang merasakannya.
Apalagi kenand kehilangan orang yang dia sayangi untuk selama-lamanya.
"Kamu tida perlu merasa bersalah Nad, sekarang aku tengah berdamai dengan masalaluku."
"Jadi apa yang terjadi sebelum kepergian adikmu?"
"Adikku dinda mencintai Davin, tapi Davin hanya menganggap Dinda seperti adiknya sendiri."
"Perhatian Davin disalah artikan oleh adikku, semakin hari dia semakin berani menunjukan perasaannya puncaknya saat Davin menikahi Vania."
"Jadi kamu mengenali mbak Vania?"
"Iya ... Hanya sebatas tahu jika dia istrinya Davin, kami tidak mengenal wanita itu termasuk Davin sendiri."
"Kamu pasti tahukan Nad pernikahan mereka terjadi karena sebuah tanggung jawab."
Aku meghela nafas, "benar ... mas Davin tidak pernah mencintai mbak Vania, tapi mereka bisa bertahan selama itu, tapi sejak aku hadir ditengah-tengah mereka, pernikahan yang mereka bangun sejak lama hancur berantakan."
"Kamu jangan selalu menyalahkan dirimu sendiri Nad, kamu sudah banyak mengorbankan kebahagiaanmu untuk mereka."
"Dan ingat kamu juga korban dari kebohongan Davin dan Vania, dan termasuk keluarga Davin yang ikut serta membohongimu."
"Jadib setelah mereka menikah apa yang terjadi?" aku mengalihkan pembicaraan, tidak seharusnya aku membahas masalah pribadku dengan Kenand.
"Dinda tahu jika Davin menikahi Vania bukan karena cinta, jadi dia mencoba mengatakan perasaannya terhadap Davin sekali lagi."
"Davin tetap berpegang dengan ucapannya, dia tidak bisa menerima Dinda, selamanya Dinda akan tetap menjadi adik kecilnya."
"Dan setelah penolakan itu Dinda menjadi depresi dia lebih sering menyendiri dan mengurung diri dikamar, padahal dia tipe wanita yang periang."
"Tidak ingin hal tersebut berlarut-larut dan membuat mamaku bersedih, aku mencoba berbicara langsung dengan Davin, setidaknya dia memberi kesempatan untuk dinda sampai adikku pulih."
"Tapi Davin tetap tidak mau, dengan alasan jika dia menemukan cintanya kelak dinda akan terluka."
"Menurutku itu bukan alasan yang tepat, karena sampai saat itu dia juga belum menemukan wanita yang ia cintai."
"Aku sampai memohon demi persahabatan kami, dia adikku satu-satunya aku sangat menyayang adikku aku meminta agar dia mau membantu kesembuhan dinda tapi Davin tetap bersikukuh dengan ucapannya."
"Sampai akhirnya Dinda mengakhiri hidupnya sendiri, mamaku sangat terpukul dwngan kejadian itu, tspi mama bisa berdamai dengan masalalunya dengan memaafkan Davin, tapi tidak denganku."
"Sejak saat itu hubunganku dengan Davin mulai merenggang, aku yang terlebih dahulu menjauhinya, karena aku tidak bisa melupakan keegoisan Davin.
Aku sampai menutup mulut dengan telapak tanganku, sebesar itukah cinta adiknya Kenand terhadap mas Davin sampai dia memilih mengakhiri hidupnya.
"Kamu pasti mengira jika aku memanfaatkanmu untuk membalaskan dendamku terhadap Davinkan Nad?"
Aku tersenyum menatap Kenand.
"Walaupun kamu memanfaatkanku untuk hal itu, aku tidak masalah Ken."
"Dengan adanya dendammu aku bisa menjauh dari mas Davin."
"Apakah kamu tidak marah karena aku telah memanfaatkanmu?"
"Tidak ... Untuk apa aku marah, dan masalahku juga telah berlalu.
"Tapi kamu juga tidak bisa memaksa mas Davin untuk menerima Dinda, apalagi Dinda sudah seperti adiknya sendiri."
"Kamu membelanya?" Aku cemburu, kenapa Nadira masih membela davin.
"Aku tidak membelanya Ken, bagaimana jika kamu diminta menikahi wanita yang tidak kamu cintai, apa kamu bersedia?"
"Mungkin cara penolakan mas Davin waktu itu yang salah, jadi membuat kalian salah paham."
"Kenapa tidak berdamai saja dengan masalalumu?"
"Adikmu pasti akan tenang disana."
__ADS_1
"Aku memang sedang berusaha melupakannya Nad, tapi sepertinya itu tidak akan megembalikan persahabatan kami."
"Kamu lihat api kemarahan dimata Davin, dia sangat membenciku sekarang."
"Aku harap masalah kalian segera terselaikan."
"Walaupun Davin tidak ingin berdamai denganku, tidak masalah Nad, mungkin persahabatan kami sebatas itu saja."
"Nadira ..."
"Hm ... Aku melihat kearah Kenand yang menjeda ucapannya.
"Apakah kamu akan kembali padanya?" Aku tidak bisa menahan diriku, aku harus tahu kearah mana aku akan membawa cintaku.
"Tidak ken, aku tidak akan kembali pada mas Davin lagi."
"Jika aku kembali, berarti aku memang benar-benar menjadi wanita perusak rumah tangga orang lain."
Lengkungan tipis tercetak dibibirku, Nadira tidak menyadarinya, aku akan menunggumu nad. Bathinku.
Cukup lama kami terdiam, tidak ada yang memulai pembicaraan, kami larut dalam fikiran kami masing-masing.
"Nad ... " tidak ada ada sahutan.
Ternyata Nadira tertidur, aku menepikan mobilku. Pasti kamu sangat kelelahan.
Aku membenari posisi tidur Nadira, kutidurkan kepalanya dipundakku.
Aku mengusap pelan pucuk kepalanya. Davin benar-benar beruntung mendapatkan wanita sebaik kamu Nadira, mendapatkan cinta yang tulus darimu.
Lalu aku kembali melajukan mobilku dengan pelan. Sepanjang perjalanan fikiran ku tertuju tentang Nadira yang sama sekali tidak marah mendengar tentangku yang memanfaatkannya, terbuat dari apa sebenarnya hati kamu Nad.
Sebenarnya aku hanya ingin melihat reaksi Nadira jika aku mengatakan kalau aku hanya memanfaatkannya untuk balas dendam, aku benar-benar mau memanfaatkannya.
Tapi diluar dugaan reaksi Nadira biasa saja, aku fikir dia akan membenciku tapi dia memilih tidak melakukannya. Nadira memang pantas untukku perjuangkan.
Saat sampai dilobby apartemen aku tidak membangunkan Nadira, aku tetap membiarkannya tertidur dipundakku. menatap wajah yang mampu memporak porandakan hatiku.
Saat membuka mata aku terkejut kenapa aku bisa tertidur dipundak Kenand.
"Ma-maf Ken, kenapa kamu membiarkanku tidur dipundakmu?" aku membenarkan posisi dudukku, astaga kenapa aku bisa tertidur dipundak Kenand. Gumamku.
"Kamu pasti repot sambil menyetir." Aku benar-benar malu mengingat posisiku tadi.
"A-aku tidak tega membangunkanmu Nad." ucapku terbata. hampir saja aku ketahuan, aku memegang dadaku yang detaknya tidak beraturan lagi.
"Aku tu-turun duluan ya Ken." aku langsung membuka pintu mobil, dan berlari kecil kearah lift. Kenand berjalan dibelakangku.
Saat didalam lift kami tidak berbicara sama sekali, kenapa keadaannya jadi tegang seperti ini.
Saat pintu lift terbuka aku langsung berjalan kearah kamar aprtemenku, Kenand masih setia mengekorku dari belakang tanpa mau berjalan disisiku.
Aku menatap kearang belakangku.
"Ken, aku masuk dulu." ujarku, aku berbalik dan langsung masuk detelah membuka pintu apartemenku.
Aku masih menatap punggung Nadira hingga menghilang dibalik pintu.
Aku melangkah gontai memasuki apartemenku, membaringkan tubuhku dikasur. Hari ini sangat melelahkan, aku tersenyum saat mengingat wajah Nadira yang bersemu saat dimobil tadi, akupun sama.
Tanpa membersihkan tubuhku, aku langsung tertidur.
Sedangkan Nadira tidak bisa memejamkan matanya, bagaimana bisa aku bertemu Kenand besok.
Jam menunjukan pukul setengah sembilan malam, jadi apa yang akan aku lakukan sekarang.
Kesendirian inilah yang akan membuatku mengingat tentang mas Davin, aku memang belum bisa melupakanmu mas.
Aku membuka galeri ponselku, lalu melihat foto-fotoku bersama mas Davin, jika seperti ini terus kapan aku bisa melupakanmu, aku bermonolog sendiri.
Aku menandai semua foto, lalu menekankan tombol hapus, hanya menunggu beberapa detik semua fotoku bersama mas Davin terhapus dari ponselku.
Aku akan mencoba melupakanmu mas, tidak ada cara lagi untuk kita kembali.
Aku mencari kontak Lisa diponselku, aku merindukan sahabatku.
tut .. Tut ... Aku melakukan panggilan videocall, aku menatap wajah sahabatku saat panggilanku diangkat.
"Assalamualaikum Lis." Aku duduk menghadap ponsel yang aku senderkan dibantal, agar kami lebih leluasa berkomunikasi.
"Wa'alaikumsalam." sahut lisa diseberang sana.
"Kamubapa kabar Nad?" ujar Lisa.
"Aku baik, kabar kamu gimana?"
"Aku juga baik, aku rindu kamu Nad?"
"Makanya kamu main kesini, kamu tahukan aku tuh tidak bisa sembarangan kembali kesana."
"Iya ... Kamu tenang saja, aku akan kesana saat kelahiran anakmu nanti." Aku menatap perut Nadira yang sudah membuncit.
"iihh ... Masih beberapa bulan lagi Lis."
"Apakah sudah tau jenis kelaminnya keponakanku?"
"Sudah dong, tapi kalau untuk tantenya dirahasiakan biar nanti jadi kejutan saat lahir." aku tersenyum kearah sahabatku.
"Idih ... Enggak adil banget deh, aku kan penasaran banget."
"Pokoknya tetap akan aku rahasiakan!"
"Ya deh ... Nunggu dedeknya lahir saja kalau begitu."
Aku menepuk keningku, aku lupa menanyakan perihal baju yang tempo hari aku ambil bersama Kenand."
"Nad ... Apakah bajunya sudah kamu tiduri? aku baru ingat menanyakannya."
"Tidak ada bahasa yang lebi bagus dari meniduri Lis? Jika dekat sudah aku pelintir tu mulut."
Hehehe ... Emang ada yang salah."
"Terserah deh, jika terus meladeni ucapan ngawurmu tidak akan cukup waktu semalaman." ujar Nadira.
"benar juga ya ... aku nyengir menatap kelayar ponselku
"Dan kamu ngidamnya benar-benar bikin kami berdua jantungan."
"Bukan keinginanku, tapi permintaan keponakanmu Lis." Aku mengelus perutku yang membuncit.
"Alasan ... Mana ada dedeknya bisa ngomong mintak yang aneh-aneh seperti itu."
"Kamu tidak percaya, coba tanya tu sama Kenand kalau aku bohong."
"Kenapa tanya Kenand?" aku menaik turunkan alisku.
"Makanya tanya kalau kamu penasaran."
"Iya, iya ... Nanti aku tanya."
"Ya sudah ... Aku mengantuk, kamu tidur sana. Ibu hamil kok tidurnya malam-malam begini."
"Baiklah ibu peri, aku akan segera tidur."
"See you Lisa ... Aku melambaikan kedua tanganku kearah layar ponselku.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Nad." ujar Lisa.
Aku benar-benar sudah mengantuk, setelah mengakhiri panggilan aku langsung membaringkan tubuhku.
TITIK LELAHKU
__ADS_1
BY :MIKHAYLA92