
"Saya terima nikah dan kawinnya Vania binti handoko dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai."
"Sah ...?" ucap sang penghulu.
"Sah ..." jawab para tamu undangan serentak
Kali ini Davin menikahi Vania secara hukum hanya untuk ambisinya balas dendam terhadap wanita itu Davin mengelabui semua orang.
Awalnya Vania sempat menolak karena dia tahu Davin tidak pernah mencintainya dihati pria itu hanya ada satu nama yaitu Nadira, wanita itu selalu menempati posisi teratas dihati Davin dan tidak akan tergantikan sampai kapanpun.
Dan Vania juga tidak mengerti apa tujuan Davin menikahinya, karena Davin menggunakan anak-anak agar Vania mau menerima lamarannya, akhirnya Vania memutuskan untuk kembali bersama Davin meskipun kemungkinan besar pernikahan ini akan menimbulkan luka diantara mereka.
Tapi demi kebahagiaan anak-anak Vania akan berusaha menjalani rumah tangga ini dengan ikhlas, dan pernikahan ini pasti sudah menjadi rencananya allah.
Beberapa rangkaian setelah ijab kabul dilakukan sekarang mereka tengah menyambut para tamu undangan diatas pelaminan.
"Selamat ya mas ... Mbak?" ujar Nadira menyalami kedua mempelai.
"Iya ... Makasih sudah mau hadir ya Nad?" balas Vania sambil menerima uluran tangan Nadira.
"Mas ..." panggil Nadira sekali lagi, karena sedari tadi Davin hanya diam terpaku menatap kearahnya.
"I-iya ..." jawab Davin tersentak dari lamunannya karena mendapatkan tepukan dibahu.
"Terimakasih sudah hadir, Nad." balas Davin, dia berusaha menutupi kesedihannya saat berhadapan dengan wanita yang sangat dia cintai.
"Ehm ... Selamat ya, Dav?" Kenand langsung melepaskan tangan Nadira sebab Davin tidak berniat melepaskan genggamannya sedari tadi.
"Ah ... I-iya ..." ujar Davin kikuk sambil memegang tengkuknya.
"Davina dimana, nad?" tanya Davin mengalihkan pembicaraan untuk menghilangkan rasa geroginya.
__ADS_1
"Disana mas, bersama oma dan opanya." tunjuk Nadira kearah kedua orangtuannya.
"Biar mas yang jemput!" ujar Kenand menghentikan langkah istrinya yang akan menjemput Davina.
"Terimakasih ya mas?" balas Nadira.
"Papa ..." panggil Davina saat mereka sudah sampai dipelaminan, Davin langsung mengambil alih menggendong putrinya.
"Maaf, papa baru bisa melihat kamu sekarang, nak?" ujar Davin sambil mencium kedua pipi anaknya, meskipun putrinya tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan.
"Papa, tante ini mamanya dedek juga ya? Mommy bilang Dedek punya dua mommy." tanya Davina polos.
"I-iya sayang." jawab Davi terpaksa.
"Sudah ya nak, main sama papanya nanti ya?" pinta Nadira kepada putrinya.
Akhirnya mereka meninggakan pelaminan, membiarkan pasangan itu menyambut para tamu undangan yang ingin memberikan ucapan selamat.
Satu hari setelah acara resepsi, Davin langsung membawa kedua putranya dan Vania kerumah mereka dahulu.
"Tinggal lah disini sebentar lagi nak?" pinta kedua orangtua Davin.
"Rumah ini pasti akan terasa sepi?" timpal mama karena dia sudah terbiasa dengan kedua cucunya tinggal bersamanya.
"Tidak bisa ma, mama tahu sendirikan kantorku lebih dekat dengan rumah kami." dan itu hanya alasan Davin saja, dia hanya tidak ingin kedua orangtuanya tahu apa tujuannya menikahi Vania.
"Baiklah, sering-sering berkunjung." ujar mama akhirnya dia tidak mungkin menahan mereka lagi.
"Kalau begitu kami permisi, ma, pa." adavin menyalami kedua orangtuanya lalu disusul oleh Vania dan anak-anak.
"Assalamualaikum?" ujar Davin.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."
Diperjalanan tidak ada pembicaraan apapun diantara Davin dan Vania hanya celotehan kedua anaknya saja yang terdengar.
Dan akhirnya mereka sudah sampai dirumah yang pernah mereka tempati bersama dahulu, sebenarnya rumah ini sudah Davin berikan kepada Vania saat mereka berpisah.
Tapi Vania mengembalikan rumah itu kembali setelah dia keluar dari pesantren dan memutuskan untuk tinggal dirumah orangtuanya saja.
Vania masih mengekor dibelakang suaminya yang naik kelantai atad menuju kamar utama, setelah anak-anak diminta kekamarnya yang berada dilantsi bawah.
Tiba-tiba Davin menghentikan langkahnya dan membuat Vania menabrak punggung lebar suaminya, Davin berbalik menatap tajam kearah Vania.
"Kamu mengikutiku?" kening pria itu mengkerut.
"Kamar kamu disana, ingat jangan sampai anak-anak tahu jika kita pisah kamar." ancam Davin dan menunjuk salah satu kamar.
"Dan jangan pernah berharap lebih dengan pernikahan ini, wanita jahat seperti kamu tidak berhak bahagia." kecam Davin dan langsung menutup pintu kamat dengan kasar.
Vania terperanjat dengan suara pintu yang ditutup dengan kasar oleh suaminya, sesaat tubuhnya merosot kelantai, Vania berusaha menahan isak tangisnya agar tak didengar oleh suaminya.
"sebenci itukah kamu terhadapku, mas? Bahkan beribu kata maaf dan penyesalanku tidak bisa kamu terima," gumam Vania memegang dadanya yang semakin sesak.
Apa tujuan kamu menikahiku hanya untuk balas dendam karena perbuatanku terdahulu? Jika benar maka lakukanlah, aku memang berhak mendapatkan hukuman yang setimpal asalkan kamu tidak memisahkan aku dari anak-anak itu sudah cukup untukku.
Vania bangkit lalu memutuskan masuk kesalah satu kamar, seharusnya ini adalah hari yang paling bahagia untuk pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan.
Tapi itu tidak berlaku untuk Vania, yang Vania rasakan hanyalah tatapan kebencian dimata suaminya.
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92
__ADS_1