TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Kenand dilanda dilema


__ADS_3

"Kita harus melakukan cara yang lain, za! Aku tidak ingin Nadira berfikir aku mengambil kesempatan dalam kesempitan saat dia sadar nanti." Jelas Kenand


"Kita coba, Ken! Tapi kita tidak punya waktu banyak, jika ini tidak berhasil kamu harus melakukan apa yang aku katakan tadi."


"Kita bawa kedalam rumah saja, Ken." Reza memintaku membawa Nadira, kekamar mandi yang berada dikamar tamu rumah Reza.


Sekarang keadaan Nadira jauh lebih baik, kami merendam tubuhnya didalam dibathub, aku mengikuti intruksi yang diperintahkan Reza, syukurlah kami bisa mengatasi Nadira, meskipun butuh ekstra kesabaran dalam mengatasi birahinya.


"Dirumahmu ada siapa saja, za?" Kenand bingung siapa yang akan menggantikan pakaian Nadira.


"Sebentar ya, Ken! Aku panggilin bibik dulu." ujar Reza, dia langsung mengerti maksud dari ucapan Kenand.


Aku bersama Reza keluar dari kamar saat bibik membantu Nadira mengganti pakaiannya, dan Reza meminta bibik memberikan obat pereda nyeri dan minum banyak air putih kepada Nadira.


Tadi aku menyempatkan diri menelpon Adit asistenku meminta dia untuk membawa pakaian untuk Nadira.


"Sebaiknya aku hubungi Lisa saja, Za! Aku tidak mungkin membawa Nadira pulang dalam keadaan seperti ini." Reza membalas ucapan Kenand dengan anggukan kepala.


Tutt ...


"iya ... Halo, Ken." jawab Lisa dari seberang sana.


"Lis, aku butuh bantuanmu? Ini soal Nadira." Kenand menjelaskan apa yang tengah dialami Nadira, lalu mengirim alamat tempat mereka berada saat ini.


"Jadi wanita itu mantan istrinya Davin?" tanya Reza setelah Kenand memasukan kembali ponselnya kesaku celana.


Kenand mengambil sebatang rokok lalu menghisapnya.


"Iya!" balas Kenand.


"Apa kamu bahagia telah merebut istri dari sahabatmu sendiri?" Reza tidak menyangka jika Kenand bisa melakukan tindakan seanarkis ini.


Kenand tertunduk, awalnya Kenand memang menginginkan kehancuran Davin, tapi sekarang dia baru menyadari dia tidak bahagia dengan pembalasan dendamnya.


Tapi untuk mundurpun sudah terlambat, hatinya telah terikat dengan wanita yang bernama Nadira, dia tidak mampu jika harus kehilangan wanita itu.


Sekarang yang bisa dia lakukan mengikuti takdir yang dituliskan pencipta untuknya, jika tidak ada campur tangan sang pencipta, dia mana bisa sampai ditahap ini, tahap dimana Nadira memberikannya kesempatan untuk memperjuangkan cintanya.


"Dari awal aku tidak pernah berniat merebut Nadira dari Davin, hubungan mereka memang sudah retak sebelum Nadira bertemu denganku."


"Dan aku membantunya karena aku mengingat perbuatan Davin terhadap Dinda adikku."


"Apakah salahku jika perasaan ini tumbuh dengan sendirinya, Za?"


"Dan selama Nadira masih berstatuskan istri Davin, aku tidak pernah mengatakan perasaanku yang sebenarnya."

__ADS_1


"Dan sekarang, apakah Nadira sudah mengetahui bagaimana perasaanmu terhadapnya?" ujar Reza.


"Aku baru mengatakannya kemarin, dan Nadira memberikanku kesempatan untuk membuatnya jatuh cinta terhadapku."


"Aku rasa ini tidak benar, Ken?"


"Kenapa kamu tidak melepaskannya saja? Mereka mungkin saja masih saling mencintai?"


"Davin pasti sangat hancur kehilangan istri yang sangat dia cintai."


"Dan Davin juga sudah menceraikan Vania, setiap manusia memiliki kesalahan, sekarang Davin telah menyadari kesalahannya."


"Jika kamu melepaskan Nadira, dan membiarkan mereka bersatu kembali, aku yakin kamu akan menemukan ketenanganmu sendiri, Ken?"


"Jangan sampai kesalahan kamu yang sekarang menghantuimu seumur hidup."


"Terlebih ada anak diantara mereka, jika Davin tahu anaknya masih hidup, dan mereka masih saling mencintai, itu hanya akan melukaimu."


"Fikirkan apa yang aku katakan." Reza menepuk pundak Kenand.


"Jika kalian berjodoh, suatu saat kalian pasti akan dipertemukan lagi! Jangan mengikuti ego dan ambisimu, sekarang masih belum terlambat untukmu melepaskan Nadira."


Kenand terdiam mendengar penuturan Reza, lelaki itu selalu dewasa dalam memberi nasihat untukku.


Kenand menyugar kasar rambutnya, apakah aku harus berhenti untuk mengejar cintamu Nad? Bathin Kenand.


"Aku ingin cek keadaan Nadira dulu kedalam, Za." Kenand melihat bibik keluar dari kamar.


"Baiklah ... Kalau begitu aku kembali kekamar dulu Ken, aku lelah sekali." Eeza bangun dari tempat duduk.


kalian menginap saja." Reza membalikan tubuhnya sebentar lalu melanjutkan kembali langkahnya.


Kenand membalas ucapan Reza dengan anggukan lalu melangkah kekamar yang ditempati Nadira.


Saat melihat Kenand menghampirinya ditempat tidur, Nadira mendudukkan tubuhnya lalu bersandar dikepala Ranjang.


"Bagaimana, Nad? apa ada yang sakit?" nampak jelas kecemasan diraut Kenand.


"Sedikit pusing." balas Nadira yang memeganh pelipisnya.


"Terimakasih atas bantuanmu, Ken?"


"Kamu mengingatnya?" alis kenand mengkerut, tadi dia belum menanyakannya dengan Reza soal ini.


Nadira mengangguk, "Sebenarnya aku ingat beberapa hal, tapi aku tidak mampu menolak gejolak panas yang berasal dari tubuhku." ungkap Nadira.

__ADS_1


"Aku pastikan James menyesal karena telah menjebakmu." api kemarahan terpancar dari urat-urat tangannya yang terlihat timbul, Kenand menggnggam kuat jemarinya.


"Maksud kamu, James?" Nadira membekap mulutnya tidak percaya, Nadira tidak terlalu mengenal lelaki itu.


"Lelaki itu terobsesi memiliki kamu, Nad! Maaf jika kemarin aku membiarkan kamu sendirian dipesta."


"Dan dia merencanakan semuannya dengan Vania." Nadira menggeleng tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Kenapa mbak Vania tidak berhenti mengusik kehidupanku, padahal aku sudah melepaskan mas Davin."


"Cara seperti apa yang kamu inginkan untuk menghukum mereka, Nad?" Kenand menarik kursi dan duduk disisi tempat tidur.


"Aku akan menghukum mereka sesuai keinginanmu."


"Tidak perlu, Ken! Aku tidak ingin mbak Vania semakin membenciku."


"Biarlah tuhan yang membalas perbuatan mereka." aku tidak ingin kamu terlibat dalam masalahku terus menerus, Ken! gumam Nadira.


"Tapi James ingin melecehkan kamu, Nad? Apa kamu akan diam saja?" kesal Kenand, kenapa Nadira jadi lemah seperti ini.


"Jika kita biarkan, James akan kembali mengulang perbuatannya, aku tidak ingin itu terjadi lagi ya, Nad!" tegas kenand.


"Tapi Ken, aku ..." Kenand meletakkan jari telunjuknya dibibirku.


"Biarkan aku yang mengurusnya, jangan kamu fikirkan, oke!" Aku menatap Kenand dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa kamu menangis?" Kenand menghapus airmata yang tidak mampu kutahan.


"Kapan semua ini akan berakhir, padahal aku sudah melepaskan mas Davin, aku fikir dengan bercerai dari mas Davin, mbak Vania tidak akan mengusik hidupku lagi." Nadira terisak.


Kenand menarik Nadira kedalam pelukannya, tidak ada ucapan yang keluat dari bibirnya, ternyata kamu masih sangat rapuh Nad! Aku fikir kamu telah bangkit dari keterpurukanmu, ternyata kamu hanya berusaha menyembunyikan kesedihanmu, bathin Kenand.


Apa aku sanggup melepaskanmu dalam keadaan seperti ini, Nad?.


"Sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat!" Kenand melepaskan pelukannya, lalu kami menoleh kearah sumber suara, dan ternyata Lisa sahabat Nadira.


happy reading pembaca setiaku❤


jangan lupa dikomenin dong, dan beri like, vote nya. Biar author lebih semangat lagi menulis ceritanya.


Love you semuanya😘😘


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92

__ADS_1


__ADS_2