TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Nadira menyadarinya


__ADS_3

"Ken, kenapa kamu membawa barang sebanyak ini?"


"Ini tidak akan terpakai semuanya?" ujar Nadira.


"Aku tidak tahu apa saja yang kalian butuhkan, jadi aku minta pegawai tokoh untuk membungkus semuanya."


Kami hanya bisa menggelengkan kepala.


Kenapa kalian pada ribut?" mama dan papa menghampiri kami, mereka baru saja sampai.


"Om sama tante lihat apa yang dibawa Kenand?" aku menunjukan semua barang yang dibawa olehnya


"Dan itu baru sebagian." ujar lisa.


"Ken, Kamu mau buka tokoh pakaian bayi?" mama geleng-geleng kepala melihat tingkah Kenand.


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Maaf tante, apa perlu aku kembalikan lagi ketokohnya?" ucap Kenand polos.


"Jangan ... Kasihan pemilik tokohnya." Nadira menimpali, aku melotot kearah Kenand.


"Aku hanya bercanda, Nad?" Kenapa Nadira menatapku seperti itu, gumamku.


"Ken, bantu jagain Nadira ya? Aku ingin mengajak om sama tante makan."


"Kalian belum makankan tante?" Aku menarik mama dan papa Nadira keluar, sepertinya kami harus memberikan waktu untuk Kenand agar lebih dekat dengan Nadira.


"Tunggu dulu Lis, tante sudah ma ..." aku membekap mulut mama Nadira.


"Sudah mau makan kan tante?" aku mengedipkan mataku.


"Ah ... Iya tante mau makan, iyakan pa? tadi waktu menuju kemari kita belum sempat makan." untung saja tante mengerti dengan isyarat yang aku berikan.


"Iya ... Papa sudah lapar!"


"Ken, papa titip Nadiraya?" ujar papanya Nadira.


"Iya om, aku akan menjaga Nadira." ujar Kenand.


"Kamu sudah makan, ken? Jika belum kamu boleh ikut mereka, aku tidak apa-apa sendiri sebentar lagi juga akan ada suster yang akan kesini." Nadira menatapku.


"Aku sudah makan Nad! sebelum aku kerumah sakit." Meskipun aku belum makan, aku tidak akan membiarkan kamu sendirian. Bathin Kenand.


"Ya sudah ... Kami tinggal dulu ya?" ujar mamanya Nadira.


Tidak lama kepergian mereka ,suster datang dengan mendorong incubator.


"Waktunya pemberian asi buk?" suster mendorong incubator sang bayi mendekat kearah Nadira.


Aku meninggalkan mereka keluar ruangan, memberikan privasi untuk Nadira dan bayinya.


Jelang beberapa saat suster keluar, suster bejalan kearahku.


"Maaf pak, buk Nadira meminta anda masuk." setelah menyampaikan pesan dari Nadira suster itu langsung pamit.

__ADS_1


Aku melangkah mendekati mereka, baby Davina telah diletakan kembali kedalam incubator.


Aku menarik kursi dan duduk tepat disisi incubator, menatap wajah kecil yang terlelap dalam tidurnya, lucu sekali.


"Nad, bolehkah dia memanggilku Daddy?" aku masih betah menatap putri dari sahabatku ini.


"Kenapa harus panggilan itu Ken?" keningku mengkerut.


"Apa tidak boleh?" Aku menatap kemanik Nadira.


"Apakah pantas? Kamu memberikan panggilan itu dengan anak yang bukan darah dagingmu, Ken?"


"Jangan terlalu banyak membantuku, aku takut terlalu bergantungan denganmu nantinya." ujar Nadira.


"Memangnya apa yang tidak pantas Nad?"


"Aku tidak ingin jika ia tumbuh besar nanti dia mempertanyakan ayahnya." untuk sekarang dia memang bukan darah dagingku, tapi nanti aku akan menjadikan dia anak sambungku, aku akan mengejar cinta ibunya sampai dia mau membuka hatinya untukku, bathinku.


"Jadi biarkan dia membiasakan diri sedari kecil dekat denganku."


"Maukah kamu jujur tentang satu hal padaku?" aku menatap Kearah Kenand, saat terjadi kecelakaan kemarin sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran aku melihat kepanikan Kenand terhadapku.


Aku mulai menyadari, Kenand tidak mungkin melakukan semua ini demi rasa kemanusiaannya saja, dan aku menangkap gelagat aneh dari orangtuaku dan Lisa saat akan meninggalkan kami berdua tadi.


Apa mereka tahu jika Kenand berusaha mendekatiku?


"Jujur soal apa Nad?" ujar Kenand.


Aku menatap kemanik Kenand. Apakah pantas untukku bertanya tentang apakah dia mencintaiku? Bagaimana jika iya, dan aku tidak bisa membalasnya. Aku akan membuat lelaki sebaik Kenand terluka.


Saat ini aku belum bisa menerima orang baru dikehidupanku, lukaku terlalu dalam, sangat sulit untuk disembuhkan. Aku memang terlihat bahagia didepan semua orang.


Aku mengalihkan tatapanku ...


"Nad, kenapa kamu diam?" Kenand masih menatap kearahku.


Aku menghembuskan nafas kasar.


"Apakah kamu tidak lelah membantuku?" Aku mengalihkan pertanyaanku.


"Nad, kenapa kamu bertanya seperti itu, apa aku terlihat terpaksa membantumu selama ini?"


"Tidak ... Aku bisa melihat ketulusan darimu."


"Dan satu lagi ... aku mengizinkan putriku memanggilmu Daddy."


"Benarkah Nad?" senyum kebahagiaan terpancar diwajahnya, lalu Kenand berbalik menatap kearah putriku, aku masih menatap punggung lelaki yang selalu membantuku disaat keterpurukanku, Kenapa lelaki sebaik Kenand bisa menyukai wanita sepertiku, wanita yang sudah jelas telah menghancurkan kebahagiaan orang lain apakah pantas mendapatkan perlakuan sebaik ini.


Setetes air mataku jatuh, lalu buru-buru aku menghapusnya, Aku tidak ingin Kenand melihatnya.


"Mulai dari sekarang kamu harus memanggil om dengan panggilan Daddy." ujar Kenand.


"Dan Daddy akan jadi Daddy terbaik untukmu." Kenand meletakan tangannya diincubator.


Pandangan kami teralihkan saat seseorang membuka pintu.

__ADS_1


"Waah ... Ternyata disini ada baby Davina ya?" Ujar lisa menghampiri kami.


"Mama dan papa dimana Lis? Aku menatap kearah pintu.


"Mereka menemui dokter, ingin bertanya tentang keadaanmu."


"Oh ... " cuma itu yang bisa aku jawab.


"Nad, Lis ... aku keluar sebentar ya?" Kenand berdiri dari duduknya.


"iya Ken." ujar kami serentak.


Setelah Kenand meninggalkan ruangan Lisa duduk dipinggir tempat dudukku.


"Bagaimana keadaanmu?" lisa menggenggam jariku.


"Sudah baikan." aku tersenyum kearah Lisa.


"Lis ... Sejak kapan kalian mengetahui tentang Kenand?"


Kening Lisa mengkerut, "Tentang Kenand?"


"Iya ... Tentang Kenand yang sedang berusaha mendekatiku."


"Kamu tahu darimana Nad jika Kenand berusaha mendekatimu?"


"Lis, siapapun bisa melihat itu, dari awal aku memang menganggap pertolongannya memang demi rasa kemanusiaannya saja, tapi semakin kesini Kenand sudah mulai menunjukan perasaannya."


"Aku takut Lis?" ujarku.


"Apa yang kamu takutkan, Nad?" Lisa memegang bahuku.


"Aku takut menyakiti lelaki sebaik dia."


"Saat ini aku belum bisa membuka hatiku untuk lelaki manapun, kamu tahukan sebesar apa cintaku untuk mas Davin."


Aku memeluk sahabatku, airmataku jatuh tak bisa kuhentikan.


"Mulai dari sekarang berusaha lah untuk melupakan Davin, jika kamu tidak mencoba kapan kamu akan menemukan kebahagiaanmu Nad?"


"Aku sedang mengusahakannya Nad, tapi kamu lihat wajah itu? Aku menunjuk kearah bayiku, dia selalu mengingatkanku tentang mas Davin."


"Lalu bagaimana? Apa kamu ingin seperti ini terus, atau kamu ingin kembali bersama dengan Davin lagi."


"Jika benar kamu ingin kembali kamu harus siap menerima segala konsekuensinya."


"Nad, ini jalan hidupmu, aku tidak akan melarangmu jika kamu mau pergi atau kembali bersama Davin. hidupmu kamu yang menjalaninya, aku yakin kamu pasti tau mana yang terbaik untukmu."


"Aku tidak akan kembali lagi dengan mas Davin Lis, luka yang mas Davin torehkan sudah terlalu dalam."


"Setelah iddah melahirkanku selesai aku akan melayangkan gugatan cerai kepengadilan terhadap mas Davin.


"Kalau begitu, belajarlah membuka hatimu untuk Kenand." ujar lisa.


"Jadi kamu benar-benar sudah tahu jika Kenand ingin mendekatiku?" Aku melepaskan pelukanku menatap kemanik Lisa.

__ADS_1


"iya ... tapi orangtuamu yang lebih dulu mengetahuinya."


"A-apa!" kenapa bisa orangtuaku mengetahuinya.


__ADS_2