TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
memutuskan untuk kembali


__ADS_3

Tiga bulan kemudian ...


Tepat hari ini usia Davina genap tiga bulan, aku tidak membutuhkan dokter khusus lagi untuk merawatnya karena pertumbuhan Davina sangat cepat, badannya sudah mulai berisi.


Aku sudah memutuskan akan membawanya kembali ketempat asalku. Mama dan papa sudah kembali kerumahnya dua bulan yang lalu, dan setiap akhir pekan mereka akan mengunjungi kami.


Aku duduk termenung digazebo yang terletak dibelakang rumah tepat mengarah kearah danau, aku memejamkan mataku menikmati segarnya udara dipinggiran danau.


Semenjak kehadiran Davina, luka yang mas Davin goreskan perlahan-lahan mulai pulih. Aku tidak pernah lagi menangis diam-diam, dan mungkin karena kesibukan mengurus Davina perlahan aku sudah mulai melupakan kesedihan dimasalaluku, tapi satu yang masih belum bisa aku lupakan cintaku terhadap mas Davin masih tetap setia bertahta dihatiku.


"Ya tuhan ... Jika memang mas Davin bukan jodohku lagi, aku mohon hilangkan rasa ini, aku juga ingin bahagia, aku ingin menjalani hidupku seperti pasangan-pasangan yang lain yang bisa membangun kebahagiaan keluarga kecilnya, bathinku.


Menikah sekali dalam seumur hidup adalah impianku, pastinya bai setiap wanita, tapi takdir berkata lain. Pernikahanku tidak bertahan lama.


Perlahan aku membuka mata ini, pertama yang kulihat didepanku saat membuka mata bukan hamparan danau seperti yang kulihat sebelum aku menutup mata tadi, tapi Kenand lah yang berdiri tepat dihadapanku dengan Davina berada digendongannya.


Lama aku menatapnya, lelaki ini yang selalu ada disaat keterpurukanku, apa pantas aku mengecewakannya, aku tidak pernah menyalahkan sebuah perasaan pastinya perasaan itu tumbuh dengan sendirinya, begitupun dengan perasaan Kenand terhadapku.


Kenand sangat menyayangi Davina, dia menjadikan dirinya sebagai ayah pengganti untuk putriku. aku tersenyum melihat pemandangan didepan mataku, aku sangat terharu dengan pengorbanan Kenand selama ini hingga satu tetes airmata lolos dipipiku.


Jika aku membuka hatiku untuknya apakah aku bisa menemukan kebahagiaanku bersamanya.


"Nad ... Nadira!" Kenand mengibaskan jarinya tepat didepan wajahku.


"Eh ... I-iya, kenapa?" ucapku gugup, aku menghapus airmataku.


"Tidak, Kamu kenapa disini pagi-pagi begini? Lalu kamu menangis?" ujar Kenand, lalu meletakan Davina dipangkuannya.


"Aku tidak menangis, aku hanya terharu!"


"Akhirnya Davina bisa merasakan sosok ayah berada disampingnya."


Kamu tahu Ken ... dulu aku berfikir jika nanti saat putriku lahir dia tidak bisa merasakan kasih sayang dari ayahnya."


"Tapi kamu berdiri dibarisan paling depan saat dia lahir, kamu menjadikan dirimu sebagai ayah untuknya."


"Aku tidak tahu harus dengan cara apa membalas kebaikanmu."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu merasa berhutang budi denganku Nad, aku tulus membantu kalian." ujar Kenand.


"Udaranya masih sangat dingin." Kenand memasangkan jaketnya ditubuhku, aku melirik kearahnya sejenak kami saling menatap, ada perasaan tenang saat aku menatap mata itu. Setelah itu aku kembali mengalihkan tatapan kedepan.


"Terimakasih, ken." ujarku.


hmmm ... Ucap Kenand sembari menganggukan kepalanya.


"Nad, apa kamu benar-benar akan kembali kekota itu?" tanya Kenand.


"iya ... Sudah waktunya aku kembali, aku tidak ingin memperlambat proses perceraianku."


Aku tidak mungkin selamanya bersembunyi dari mas Davin, jika kami sudah berpisah aku bebas melangkahkan kakiku kemanapun ia ingin pergi, tidak bersembunyi seperti ini.


"baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu." ujar Kenand.


Aku menatap kearah putriku yang masih berada dipangkuan Kenand, Davinamengeliatkan badannya.


"Apa kamu juga kedinginan cantik, Daddy akan memelukmu." Kenand menaruh Davina dilengannya lalu membawa putriku kedalam dekapannya.


Aku tersenyum melihat interaksi Kenand dengan putriku, ternyata masih ada lelaki sebaik kami Ken.


"Sebentar Lagi, Aku sudah memasukan barang-barangmu kemobil." ujar Kenand.


"Kita masuk Nad, disini sangat dingin apa kamu tidak kedinginan sejak tadi berada disini?" Kenand menatapku.


"Dingin sih ... Tapi aku sangat menyukai tempat ini, jauh dari keramaian." aku menatap Kenand yang semakin mengeratkan dekapan Davina ketubuhnya.


"Ya sudah ... mari kita kedalam, biar aku yang mengendong Davina." aku mengulurkan tanganku kearah Kenand.


"Tidak perlu, biar aku saja yang menggendongnya." Kenand menarik tanganku lalu mengalungkan sebelah tangannya dibahuku dan sebelah tangannya lagi menggendong Davina.


Ada perasaan aneh menjalar disekujur tubuhku saat posisi kami seperti ini, tapi kenapa Kenand biasa saja dia seperti tidak terganggu dengan posisi ini.


Saat sampai didalam kamar Davina, Kenand baru melepaskan tangannya dibahuku lalu meletakan Davina dengan hati-hati ketempat tidue.


"Kamu bersiaplah Nad, biar Davina aku yang menjaganya." Kenand memintaku bersiap karena sebentar lagi kami akan meninggalkan kota ini, sebenarnya aku sudah nyaman tinggal disini, tapi mengingat urusan perceraianku dengan mas Davin aku memutuskan untuk kembali.

__ADS_1


"Baiklah ... Aku titip Davina." Aku meletakan jaket Kenand disampingnya lalu aku keluar dari kamar putriku dan masuk kedalam kamarku yang berdampingan dengan kamar Davina.


Setelah kepergian Nadira, aku menatap wajah Davina, benar yang dibilang kebanyakan orang anak perempuan lebih mirip dengan ayahnya daripada dengan ibunya.


Davina benar-benar copy-an dari Davin. Davin versi wanita. semakin bertambah usianya semakin bertambah kemiripan mereka berdua.


Tapi kasih sayangku tulus untuknya, bukan karena aku mencintai ibunya saja yang mebuatku menyayanginya tapi karena persahabatanku dengan Davin, aku merasa memiliki tanggung jawab terhadapnya.


Aku juga memikirkan saat kami berada didekat danau tadi, kenapa Nadira menangis, apa dia menangis karena sebentar lagi dia akan berpisah dari suaminya.


Aku sadar, sampai saat ini Nadira masih belum bisa melupakan Davin, lalu bagaimana dengan aku apa aku bisa membuka hati Nadira untukku.


Aku tersentak saat pintu kamar terbuka, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku saat melihat Nadira melangkahkan kakinya kearahku.


Setelah melahirkan Kecantikan Nadira seperti bertambah berkali-kali lipat menurutku, untung saja Nadira tidak menyadari jika aku menatapnya seperti itu.


"Ken, kita berangkat sekarang?" Nadira berjalan kesisi tempat tidur Davina lalu menggendongnya.


"I-iya Nad, kita berangkat sekarang." ucapku terbata.


Aku berjalan disisi Kenand sambil mengendong Davina, Kenand membukakan pintu untukku.


"Awas ... Hati-hati Nad." Kenand memegang pucuk kepalaku agar tidak membentur mobil.


Perhatian kecil seperti ini ternyata mampu membuatku tersentuh, debaran-debaran yang sudah lama tidak pernah aku rasakan muncul kembali.


"Te-terimakasih Ken." Aku sangat gugup mendapatkan perlakuan seperti ini, entah kenapa akhir-akhir ini Kenand mampu menyita perhatianku.


"Iya ... Sama-sama, Nad." Lalu Aku menyusul masuk kemobil dan duduk dibalik kemudi.


Aku menghela nafas saat melihat Nadira kesulitan memasang seat belt.


"Kenapa tidak mengatakannya?" Lalu aku membantu Nadira memasangkannya, aku bisa menatap wajah Kenand dari jarak dekat seperti saat ini.


"Selesai." ucapan Kenand mengejutkanku.


"Eh ... Ta-tadi aku fikir bisa melakukannya." aku memalingkan wajahku kearah lain, astaga apa Kenand memang sengaja melakukannya atau aku yang akhir-akhir ini memang gampang baperan.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2