TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
Dilamar


__ADS_3

Beberapa minggu setelah pertemuan mereka dengan Davin, hubungan Nadira dengan Kenand semakin dekat, Davin tidak pernah lagi mengusik Nadira seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya.


Davin hanya berhubungan dengan Nadira jika sudah menyangkut soal Davina, selebihnya Davin tidak pernah mencampuri lagi urusan Nadira terutama tentang hubungannya dengan Kenand, dan hubungan Davin dengan putrinya semakin hari semakin erat, hampir setiap hari Davin meluangkan waktunya untuk putri kesayangannya, buah cintanya dengan wanita yang sangat dia cintai.


Apakah Davin benar-benar telah mengikhlaskan Nadira? Itulah pertanyaan yang selalu muncul dibenak Kenand, bahkan Nadira sendiripun sempat meragukannya, tapi seiring berjalannya waktu Davin benar-benar membuktikan ucapannya dan itu cukup membuat Nadira dan Kenand mulai mempercayainya.


Tanpa Nadira sadari. Kenand, mamanya beserta beberapa kerabatnya berkunjung kekediaman Nadira.


"Ma, panggilkan Nadira?" pinta hendrawan papanya Nadira, lalu mempersilahkan para tamu masuk.


"Sebentar ya, Ken? Mama panggilkan Nadira dulu." Ujar tante Ismi mamanya Nadira.


"Nad, dibawah ada Kenand bersama keluarganya." Ismi mengatakannya saat sampai dikamar putrinya.


Kening Nadira mengkerut, tidak biasanya Kenand kerumah tidak mengabarinya terlebih dahulu.


"Iya ma nanti aku menyusul, mama duluan saja!" pinta Nadira karena dia ingin berganti pakaian dahulu, saat ini dia sudah memakai piyama tidurnya dan tidak mungkin menyambut mereka dengan pakaian seperti ini.


"Davina ikut mama ya?" mama langsung menggendong Davina, Nadira hanya mengangguk menyetujui permintaan mamanya.


"Main sama Daddy yuk." ajak mama.


"Iya oma ..." jawab Davina.


Setelah kepergian mamanya, Nadira langsung berganti pakaian lalu menyusul mamanya yang sudah terlebih dahulu turun.


"Nad, duduk disini!" papa menepuk kursi yang berada disampingnya.


Sebelum duduk aku menyalami mamanya Kenand beserta keluargannya lalu duduk disisi papa.


"Nad ..." panggil Indah mamanya Kenand.


"Iya tante!" Nadira menatap kearah Indah yang memanggilnya, wajah itu terlihat sangat serius kala menatapnya.


"Begini ... Maksud kedatangan kami kemari ingin melamarmu untuk anak tante, Kenand, apa kamu bersedia?" ucap tante Indah.


"Me-melamar?" ucapku gugup, aku melirik kearah Kenand yang sedang memangku Davina, kenapa dia tidak mengatakan soal lamaran ini, Kenand hanya diam dan hanya tersenyum kearahku.


"Iya, Nak! Bukankah niat baik itu tidak boleh ditunda-tunda?" aku beralih menatap tante Indah.


"Bagaimana, Nad?" apa kamu mau menjadi bagian dari keluarga kami?" tanya Indah.


"Nad, jawab dong! Kok diam? Tanya mama, aku memang cukup lama terdiam mempertimbangkan jawaban apa yang pantas aku berikan, aku beralih menatap mama, mama menganggukan kepalanya, lalu aku kembali beralih menatap tante Indah.


"Iya ... Aku bersedia tante." ucapku menatap tante indah, dia menghembuskan nafas lega.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Nak? Tante sangat bahagia mendengarnya." terlihat jelas kebahagiaan diraut wajah mamanya Kenand.


Kenand meletakkan Davina dipangkuan mamanya, lalu berlutut dikaki papanya Nadira.

__ADS_1


"Om, izinkan aku mempersunting anak perempuan, om?" ujar Kenand dikaki Hendrawan.


Hendrawan menepuk pundak Kenand,


"Silahkan nak, om tidak akan melarang niat baik kalian! Tapi satu pinta om, jangan lukai hati Nadira."


"Dan kamu pasti tahu bagaimana menderitanya Nadira dipernikahannya yang pertama?" ujar hendrawan.


"Insya allah, aku janji akan bertanggung jawab atas kehidupan Nadira dan putrinya om!"


Hendrawan mengangguk mendengar ucapan Kenand, dari awal dia sudah yakin jika cinta Kenand sangat tulus untuk Nadira putrinya.


Lalu Kenand beralih menatap Nadira, "Terimakasih sudah mau menerima lamaranku, Nad!" ujar Kenand menggenggam jemari Nadira


"Sama-sama!" Nadira menghapus bulir bening dari sudut matanya, dia masih tidak menyangka jika Kenand benar-benar serius menjalani hubungan ini, Kenand bahkan berlutut dikaki papa demi membuktikan keseriusannya.


Hendrawan hanya mampu menepuk pundak putrinya, akhirnya anak semata wayangnya bisa menemukan kebahagiaannya.


Kedua belah pihak langsung membahas kapan acara pertunangan akan dilangsungkan, sedangkan Kenand dan Nadira memilih berbincang dihalaman belakang.


"Kok dadakan?" tanya Nadira saat mereka telah duduk digazebo halaman belakang rumah Nadira.


"Surprise! kan mas sudah pernah bilang, mas tidak ingin berpacaran, maunya langsung nikah saja." Kenand menautkan jemarinya dengan Jemari Nadira.


"Terimakasih sudah mau menerimaku apa adanya, Mas!" Nadira meletakkan kepalanya dipundak Kenand.


"Kamu berhak mendapatkannya, Nad! dan aku sangat beruntung bisa mendapatkan cinta dari wanita sebaik kamu." Kenand mengusap rambut Nadira.


Sempat Nadira berfikir, kenapa pria lajang seperti Kenand bisa jatuh cinta pada wanita yang banyak memiliki kekurangan seperti dirinya, padahal diluar sana banyak wanita yang jauh lebih sempurna dibandingkan dirinya.


****


Setelah menemukan hari yang baik, kedua belah pihak memutuskan pertunangan akan diadakan satu minggu lagi, dan acaranya akan diadakan dikediaman Hendrawan sendiri.


Saat ini Nadira tengah bersama dengan Lisa sahabatnya.


"Nad, perasaan sejak tadi aku lihat kamu senyum-senyum terus?" Lisa memegang kening Nadira.


"Aku lagi bahagia!" ujar Nadira masih dengan senyumannya, lalu menunjukkan cincin yang terpasang dijari manisnya.


"Cincin? Maksudnya?" Lisa mengkerutkan keningnya.


"Aku dilamar?" ujar Nadira.


"Apa? Dilamar? sama siapa Nad?" Lisa terlonjak, akhir-akhir ini mereka memang jarang bertemu karena Lisa sibuk mengurus perceraiannya.


"Siapa lagi! Kamu tahu aku sedang menjalin hubungan dengan siapakan?" Nadira masih juga senyum-senyum, dia benar-benar tidak bisa menutupi kebahagiaannya, apalagi dihadapan Lisa.


"Kenand?" Lisa langsung membekap mulutnya.

__ADS_1


"Hem." Nadira menganggukan kepalanya.


"Ihh ... Kok aku baru tahunya sekarang sih!" Lisa cemberut.


"Semuanya tidak direncanakan, Lis! Semalam Kenand memboyong mama beserta keluarganya kerumahku."


"Akupun sama terkejutnya seperti kamu! Kenand tidak pernah bercerita jika dia akan melamarku."


"Dan kamu tahu, tante Indah mamanya Kenand yang langsung melamarku untuk anaknya." tutur Nadira.


"Mm ... So sweet, kamu benar-benar beruntung mendapatkan lelaki sebaik Kenand, dan apalagi calon mertua kamu juga mendukung hubungan kalian."


"Selamat ya, Nad! Akhirnya kalian bisa bersama, aku sangat mendukung hubungan kalian berdua." Lisa memeluk sahabatnya.


"Dan pertunangannya akan diadakan satu minggu lagi, sebulan kemudian baru akan digelar pernikahannya."


"Kamu harus selalu mendampingiku, loh! Bagaimana jika kamu nginap saja dirumahku." pinta Nadira.


"Buat sahabatku apa sih yang enggak! Tapi, Nad ... gercep juga tuh sih Kenand, langsung melamar, tidak ingin pacaran dulu gitu?" tanya Lisa.


"Katanya tidak ingin berpacaran, pacarannya setelah menikah saja!"


"Terus Davin, apa dia sudah tahu?" Lisa menatap kearah Nadira.


"Belum! bagaimana pulang nanti kita mampir kerumahnya?" ajak Nadira.


"Boleh sih! Tapi kamu yakin Nad, kalau Davin benar-benar sudah merelakan kamu? Kok aku kurang yakin ya."


"Apa sebaiknya tidak usah mengundangnya?" timpal Lisa.


"Aku yakin kok, buktinya sampai saat ini mas Davin tidak pernah lagi mengusik kehidupanku, dia terlihat biasa saja saat melihatku bersama Kenand." Nadira menjelaskan, agar Lisa tidak mengkhawatirkannya lagi.


"Kalau tidak mengundangnya, aku jadi tidak enak dengannya, pasti mas Davin mengira aku masih belum bisa memaafkannya." balas Nadira.


"Mudah-mudahan Davin benar-benar ikhlas melepaskanmu." jawab Lisa, walaupun dia masih meragukan Davin.


Saat ini Nadira sudah berada dikediaman Davin, rumah yang pernah Nadira tempati saat masih menjadi istri Davin dulu.


"Nad, tumben kemari?" tanya Davin dari arah belakang mereka, sontak membuat Lisa dan Nadira menoleh kebelakang.


"Masuk dulu?" pinta Davin.


"Tidak usah mas, kami cuma sebentar kok." Nadira mengambil sesuatu dari dalam tas yang dijinjingnya, lalu mengulurkannya kearah Davin.


Tangan Davin gemetar saat sebuah undangan yang bertuliskan nama Kenand dan Nadira tersebut telah berada diatas telapak tangannya.


"Selamat ya, Nad?" ujar Davin yang tetap berusaha tenang dihadapan Nadira.


TITIK LELAHKU

__ADS_1


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2