Toxic Relationship

Toxic Relationship
Bad Day


__ADS_3

...Happy Reading ...


Clara menatap Tiffany, Judy dan Anne yang terlihat begitu bahagia. Setelah mereka bermain dengan puas di taman bermain Parco Tutti Insieme, kini mereka mulai menyantap pizza terbaik di Italia, restoran Rosamunda’s. Begitu kurang rasanya jika ke Italy dan tidak mencicipi pizza dan lasagna.


Senyuman Clara mengembang. Jack benar, jika ada kehadiran mereka bertiga semua serasa tidak membosankan. Bahkan ia sudah menjejakkan kaki di negara kelahiran pengarang terkenal, Marco polo ini sudah hari ketiga. Semuanya benar-benar terasa liburan sekarang. Kebosanan yang sering ia alami di Hotel seolah tidak terasa sama sekali. Terlebih bagaimana Tiffany yang suka mencairkan suasana dan Anne membalasnya ucapan Tiffany dengan begitu polos. Ia seperti berada ditengah sebuah keluarga.


“Mommy, aku tidak ingin pulang.”


Mereka berlima yang sedang menunggu pesanan kini tertawa mendengar ucapan Anne, putri kecil Judy yang spesial. Jack yang melihatnya ikut tersenyum, ia rasa memang sudah lama sekali ia tidak liburan bersama Anne, keponakan tercintanya itu. Bahkan dengan Clara yang nyatanya hampir setiap hari mereka bertemu.


Memang, jika bukan karena kehadiran Anne, Judy maupun Tiffany, Clara seolah hanya menemaninya di Hotel. Ia hampir tidak pernah liburan saat menjalani pekerjaan bisnis di luar negri. Ia hanya bekerja, lalu pulang ke negaranya tanpa melakukan apapun. Dan mungkin karena itulah membuat Clara seolah muak, ia hanya terkurung di Hotel karena keterbatasan bahasa. Tidak seperti dirinya, Clara hanya mengetahui bahasa negara tempat mereka tinggal.


“Besok kita harus pulang Ann, nanti jika Uncle ada beberapa pekerjaan di luar negri lagi. Uncle akan mengajak Ann, bagaimana?” Jack mengelus rambut pendek Anne yang sebatas bahu, gadis kecil itu tersenyum dengan mata berbinar.


“Uncle janji?”


“Tentu, Sayang.”


“Yeayy!!”


Clara, Jack, maupun Tiffany tertawa menatap tingkah lucu Anne. Sedangkan Judy menatap gadis kecilnya dengan mata berkaca-kaca, begitu banyak masalah yang ia lalui bersama Anne, dan ia begitu bahagia menatap senyuman Anne yang mengembang, membuatnya ingin menangis karena bahagia.


“Aku harus ke toilet.”


Tanpa mengucapkan apapun lagi Judy kini bangun dari kursinya dan berjalan cepat kearah pojok ruangan yang tertulis ‘Toilet Wanita’. Setelah memasuki bilik toilet kini air mata Judy seolah sudah tidak tertahan. Ia menangis dengan menutup mulutnya, berusaha tidak menimbulkan isakan. Menangis dalam diam adalah hal yang sering ia lakukan saat Anne sedang berada disisinya.


Ia masih begitu ingat empat tahun yang lalu, saat Anne yang spesial sedang berusia tiga tahun, mantan suaminya yang memaki dirinya karena melahirkan Anne. Bahkan ia menuduhnya telah melakukan hal terlarang dengan pria lain dan sering memukulnya. Saat pria itu bahkan sering berganti-ganti wanita setiap malam.


Dulu ia menyesal, menyesal mengapa melahirkan Anne, seorang anak yang memiliki down sindrom. Bahkan ia hampir menenggelamkan Anne di bathub, menenggelamkan seorang anak yang tidak bersalah. Bahkan Anne tidak pernah memilih untuk dilahirkan dengan keadaan seperti itu, tapi seolah mantan suaminya menyalahkan gadis kecil tidak bersalah itu. Dan itu sangat membuatnya begitu depresi.

__ADS_1


“Kak, kau didalam?”


Judy tersentak ketika mendengar suara ketukan pada bilik kamar mandinya. Itu adalah suara Clara, mereka semua pasti khawatir padanya. Kini Judy membuka keran dan membasuh wajahnya, walaupun ia tahu kemungkinan itu tidak akan berhasil menutupi wajah sembabnya.


“Kak, kau baik-baik saja?”


Ketukan kedua terdengar, Judy kini merapikan pakaiannya dan membuka pintu bilik. Ia dapat melihat Clara yang kini menatapnya dengan pandangan khawatir.


“Kak, apa kau-“


“Maaf, aku sakit perut. Apa makanan sudah diantar?”


Judy kini mengalihkan pembicaraan. Ia kini tersenyum, dan Clara cukup mengerti jika Judy tidak ingin membahasnya lebih jauh.


“Ya, makanan sudah diantar. Aku takut kau kehabisan nanti.”


Ketika kedua gadis itu keluar dari pintu toilet seorang pria dan wanita kini berdiri tepat dihadapan mereka berdua. Clara hanya menatap pria dan wanita itu dengan bingung, sedangkan Judy terlihat begitu terkejut, terlebih menatap pria dihadapannya. Judy meremas tangannya kuat. Khawatir, gelisah, gugup kini menjadi satu dalam tubuh Judy dan Clara melihat dengan sangat jelas perubahan ekspresi Judy yang begitu signifikan.


“Ka.. Kau?”


Dari sekian banyak hari, mengapa harus hari ini? Saat ia berusaha untuk menikmati liburannya dengan Anne. Sedangkan Clara hanya menatap Judy yang tergagap dan sangat terkejut. Sebenarnya pria dihadapannya ini terlihat begitu familiar baginya, tapi ia lupa pernah melihat pria ini dimana.


“Wow, sekarang kita bertemu di Italy, Judy. Kutebak, pasti dari rasa kasihan adik kayamu itu ya?”


Clara menatap pria itu dengan bingung. Adik kaya? Rasa kasihan? Siapa pria ini begitu berani bicara sarkas kepada Judy? Bahkan ia juga mengenal Jack, adik satu-satunya yang Judy miliki.


“Dan dimana anak cacatmu itu?”


Seketika Clara tersentak, ia menatap Judy yang hanya melihatnya dengan pandangan sedih, seolah sedang menahan tangisannya untuk keluar. Mengapa Judy mematung seperti ini? Judy adalah wanita pemberani dengan ego tinggi, seharusnya ia tidak tinggal diam saat harga dirinya dan juga Anne dijatuhkan seperti ini.

__ADS_1


“Anak cacat yang berasal dari Ibu pelacur.”


Plak!


Satu tamparan keras itu kini dilayangkan Clara, ia benar-benar muak dengan pria ini. Judy dan seorang gadis disebelah pria itu seolah menatapnya tidak percaya. Dada Clara kini naik turun, emosinya memuncak. Beberapa pengunjung resto kini menatap perkelahian itu.


“Pria brengsek dengan mulut sampah sepertimu seharusnya diam.” Clara menatap pria itu dengan tajam.


“Kau! Wanita gila!”


Buk!


Satu pukulan keras itu kini dilayangkan pria itu pada Clara, membuatnya jatuh terduduk di lantai. Clara memegang pipi kirinya, ia merasakan mulutnya kini penuh darah. Pukulan pria itu begitu kuat.


“Chal, chal kau baik-baik saja?” Judy kini memegang pundak Clara, sampai sebuah pukulan mengenai tepat di rahang pria itu membuat pria itu kini tersungkur ke lantai.


Jack, kini mengambil posisi diatas tubuh pria itu dan memukulnya bertubi-tubi. Mengabaikan teriakan beberapa pelanggan disana, sedangkan gadis yang bersama pria itu sudah melarikan diri entah kemana, ia pasti tidak ingin terlibat dengan ini semua.


“Bajingan brengsek! Aku akan membunuhmu!”


Dua orang pelayan resto kini mendekati mereka, berusaha menahan pukulan Jack pada pria itu. Namun hasilnya nihil, kekuatan Jack seolah tidak sebanding dengan kedua pelayan itu. Clara kini berdiri dan berusaha menahan Jack, Jack seolah benar-benar ingin membunuhnya, sedangkan wajah pria itu kini sudah penuh luka lebam dan darah.


“Jack, cukup Jack, Jack.” Ucapan Clara seolah tidak didengar Jack, pukulan itu tidak berhenti, seolah semakin keras. Jantung Clara kini berdetak, ia takut pria itu benar-benar akan tewas dan Jack pasti akan terkena kasus pidana, dan ini bahkan bukan di negaranya.


“Jack, kubilang cukup Jack!”


Teriakan nyaring Clara itu seolah menembus telinga Jack. Kini ia menghentikan pukulannya dan menatap pria itu yang bahkan kini sudah tidak jelas wajahnya. Selain karena lebam, wajah pria itu seolah sudah dilapisi oleh darahnya. Napas Jack menggebu, ia menatap pria itu dengan pandangan nanar. Sudah lama ia tidak berjumpa oleh pria ini, dan bahkan sekali berjumpa ia nyaris membunuhnya. Pria ini adalah Leo, mantan suami Judy.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2