Toxic Relationship

Toxic Relationship
Mistake


__ADS_3

...Happy Reading ...


Suara kicauan burung kini mengalun dengan lembut, diselingi sinar mentari yang mulai meninggi, menandakan awal dari hari yang cerah. Seorang gadis mengerjapkan matanya pelan, tidurnya semalam benar-benar begitu nyenyak, bahkan kini sinar mentari seolah menganggu istirahatnya yang damai.


Clara merasakan tubuhnya mengigil kedinginan, dengan masih membiasakan matanya dengan sinar matahari, ia mengerjapkan mata. Kepalanya kembali pening, secara tiba-tiba rasa mual menyerangnya.


Huek!


Lagi dan lagi paginya telah disuguhi mual, dan hanya saliva yang keluar. Clara mengelus perutnya lembut namun ia harus tersentak saat menatap sekitar ruangan. Dimana ia sekarang? Ini bukan di kamarnya. Clara menatap tubuhnya sejenak, ia semakin terkejut ketika ditubuhnya hanya mengenakan bra dan juga pants pendek.


Clara merasakan jantungnya berdetak kencang, apa yang ia lakukan semalam? Dan bagaimana bisa ia berada di Hotel? Dengan perlahan Clara mulai berjalan menuju meja rias. Tangan Clara kini bergetar ketika memegang lehernya yang begitu banyak bercak merah yang keunguan. Siapa? Siapa yang melakukan ini?


“Astaga, Dean!”


Ingatannya mengenai kejadian semalam seketika melintas dipikirannya. Sejauh mana mereka bermain? Clara mengacak rambutnya frustasi. Beberapa tahun belakangan ini ia berusaha untuk tidak berteman dengan alkohol. Lebih tepatnya sejak kejadian Shawn, ia berusaha menjauhi dirinya dengan alkohol. Namun ia kembali hilang kendali, bahkan ia sedikit lupa. Seolah beberapa memorinya hilang begitu saja.


Clara berbalik, ia dapat melihat gaun yang dipakainya semalam tergeletak begitu saja dibawah lantai. Clara duduk di kursi meja rias dan kembali menyentuh lehernya. Sekarang ia harus memutar otak untuk menutupi tanda ini.


......................


Gadis itu tidak henti-hentinya meremas gaun yang dipakainya dengan khawatir. Cincin yang sudah ia pakai hampir enam tahun ini telah hilang entah kemana. Hampir tiga jam full ia mencari di kamar hotelnya, namun hasilnya nihil. Dan ia memutuskan untuk pulang, dan berharap mendapat panggilan dari pegawai hotel yang menemukan cincinnya.


Clara menatap arloji yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir jam dua belas siang, bahkan ia belum mengisi perutnya dengan apapun dari tadi pagi. Rasa khawatir akan kehilangan cincin itu jauh lebih besar dari pada rasa laparnya, cincin yang sudah ia jaga, cincin pemberian Jack saat menyatakan perasaan padanya.


Langkah Clara seketika terhenti, beberapa meter dari tempatnya berdiri terdapat Jack yang bersandar pada mobil sedan miliknya. Seketika jantung Clara berdetak kencang, dengan refleks ia menaikkan syal yang menutupi lehernya, berharap Jack tidak akan curiga.


Dan sejak kapan Jack tahu mengenai alamat rumah barunya? Dan juga dengan acara tadi malam. Bukankah Jack sudah memperjelas hubungan mereka, seharusnya ia tidak perlu setakut ini, bahkan Jack berciuman dengan wanita lain tepat dihadapannya dan juga rekan kerjanya.

__ADS_1


Mengingat kejadian kemarin malam Clara mengepalkan tangannya kuat, Jack tidak punya hak lagi dengan dirinya. Dan Jack tidak berhak lagi untuk mengatur hidupnya.


“Dari mana saja kau semalam?”


Nyali Clara yang tadinya berapi-api kini seketika menciut setelah mendengar suara dingin Jack yang menusuk telinganya. Clara menelan salivanya dan menunduk dalam.


“Aku.. Kurasa itu bukan urusanmu lagi Jack.”


Clara bicara dengan tenang, namun Jack sangat tahu bahwa gadis itu berusaha keras untuk menutupi kegugupannya.


“Kau bersama Dean?”


Clara tersentak, melihat reaksi Clara, Jack hanya tersenyum sinis. Pria itu seketika mengepalkan tangannya kuat. Apa Clara telah tidur dengan pria bernama Dean itu?


“Lalu, kenapa? Bukankah memang hubungan kita telah usai.”


“Dimana cincin pemberianku?!”


Clara memejamkam mata ketika mendengar teriakan Jack. Jantung gadis itu semakin berdetak kencang, ia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya kali ini.


“Aku... Aku menghilangkannya. Ma... Maaf.”


Ucap Clara gugup, gadis itu menundukkan kepalanya dalam, bahkan ia tidak sanggup menatap mata Jack yang penuh amarah.


“Buka syal itu.”


Kekhawatiran yang Clara rasakan benar-benar terjadi, ucapan dingin Jack seketika kembali menusuk telinganya dengan begitu tajam. Clara tetap tidak bergeming, ia tidak tahu apa yang akan Jack lakukan jika ia menurutinya. Melihat Clara yang diam saja, rahang Jack seketika mengeras. Emosinya sudah mencapai puncaknya.

__ADS_1


“Kau tidak ingin aku membukanya dengan paksa kan Clara Villegas!”


Suara Jack semakin meninggi, Clara mulai terisak. Ketakutannya mengalahkan segalanya, ia benar-benar sangat takut sekarang. Bahkan untuk pertama kalinya ia begitu takut dengan Jack, bahkan pria itu belum menyakitinya.


“Maaf, aku minta maaf Jack. Aku minta maaf.”


Dengan amarah yang tidak dapat ia tahan, Jack kini menurunkan syal yang Clara kenakan. Dada Jack kini naik turun ketika melihat bercak kemerahan yang cukup banyak pada leher putih Clara. Jack menyeringai dan menatap Clara dengan tajam.


“Dean.yang.melakukannya?”


Tanya Jack dengan penuh penekanan, seolah isakan Clara tidak mempan baginya. Setelah tiga tahun dari kejadian itu ia menjaga Clara, bisa-bisanya pria lain membuat tanda di tubuh gadisnya.


“Maaf, Jack. Aku minta ma-“


“Jawab!”


“Jack, aku... aku-“


“Kubilang jawab!!”


“Iya! Dean yang melakukannya!”


Jack menggemeretakkan giginya kuat, rahangnya seketika mengencang, kepalan tangannya terkepal erat bahkan sampai memerah. Clara menatap pria itu penuh ketakutan. Monster seperti apa yang akan ia hadapi sekarang?


“Dean, pria itu. Aku akan membuatnya menyesal melakukan ini padamu.”


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2