Toxic Relationship

Toxic Relationship
Stairs


__ADS_3

...Happy Reading...


Clara kini bersandar pada tangga. Ia mengacak rambutnya frustasi. ia sedang tidak dibawah halusinasi atau delusi kan? Benda yang tadi dilihatnya memang benar-benar menunjukkan garis dua kan? Clara menutup wajahnya. Kepalanya semakin sakit sekarang.


Beberapa minggu lalu ia berdebat dengan Jack masalah pernikahan dan kini ia mengandung anak Jack? Memang, ia akui akhir-akhir ini ia dan Jack beberapa kali melakukan hal diluar batas mereka. Tapi mengapa sampai seperti ini? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia akan mengatakan masalah ini pada Jack? Dan apa yang akan Jack lakukan padanya jika ia mengetahui anak yang sedang dikandungnya?


Jack amat sensitif belakangan ini. Semenjak kehadiran Dean, Jack jauh lebih keras dan kasar. Sifat overnya begitu sering muncul. Dan ia tidak ingin kembali memperpanjang masalah dengan pria itu.


“Clara?”


Clara tersentak saat sebuah suara kini memasuki telinganya. Clara berbalik, dan ia semakin tersentak melihat seorang gadis dengan rambut sebahu kini menatapnya dengan senyuman tipis.


“Apa kau ingin kopi?”


Mary kini menatapnya dengan senyuman tipis dan menyodorkan segelas kopi, sedangkan Clara masih memandang gadis itu tidak percaya. Bagaimana bisa Mary memasuki kantornya? Walaupun kantornya tidak ada penjagaan ketat, tapi ia cukup tahu jika tidak bisa sembarang orang masuk ke kantornya.


“Apa kau ingin kopi?”


Mary kini kembali bertanya dan menyodorkan kopinya lagi. Melihat Clara yang begitu terkejut menatapnya membuat gadis itu tersenyum sinis. Clara kini menerimanya dengan canggung. Ia masih mengingat dengan jelas beberapa hari lalu Mary yang menyiramnya dengan segelas kopi hangat sebelum Dean mengusirnya. Dan Clara tidak ingin kejadian itu terulang lagi, dan lebih baik ia mengambilnya.


“Kurasa kau sangat bahagia karena Jack menyebutmu sebagai tunangannya.”

__ADS_1


Ucap Mary sinis. Clara mengingat dengan jelas saat kemarin Jack memperkenalkannya kepada Mary sebagai tunangannya. Sebenarnya ia juga tidak tahu maksud Jack mengucapkan hal itu, tapi Jack bahkan tidak ingin menikahinya. Dan bahkan ia sendiri tidak yakin hubungan Jack dengan Mary hanya sebatas partner bisnis.


“Cukup Mary, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.”


Clara kini berjalan menjauh, namun dengan cepat Mary menarik tangan Clara dan mendorongnya, membuat gelas kopi yang dipegang Clara kini kembali membasahi kemeja kerjanya. Clara yang mendapat perlakuan kasar itu hanya menatap Mary tidak percaya. Bahkan tubuhnya hampir terjatuh dari tangga jika ia tidak refleks mengenggam pegangan tangga.


“Apa kau sudah gila Mary?!” Clara kini meninggikan nada bicaranya. Mary yang mendengarnya hanya tersenyum miring dan mulai tertawa.


“Aku hanya ingin memperingatimu untuk terakhir kalinya Clara." Clara hanya menarik napas dalam. Ia sudah begitu pening dengan masalahnya, dan sekarang mengapa Mary malah membuat kepalanya semakin sakit.


“Lalu kau ingin aku bagaimana?”


Mendengar ucapan Clara yang datar, kini Mary mengepalkan tangannya kuat. Ia rasa Clara sudah mulai santai dengan peringatannya kali ini. Setelah enam tahun ia menunggu hubungan Clara dengan Jack berakhir, dan kini bisa-bisanya Clara bertanya seperti itu padanya.


“Minta itu pada Jack. Jika Jack memutuskanku, aku akan dengan senang hati menerimanya. Tapi sayangnya tidak akan pernah Mary, Jack terlalu mencintaiku.”


Dada Mary kini sudah naik turun, amarahnya sudah diambang batas. Apa Clara menjadi begitu percaya diri karena Jack memperkenalkannya sebagai tunangan pria itu? Mary kini mulai mengayunkan tangannya, namun dengan cepat Clara kini menahannya. Entah sudah berapa kali tamparan yang Mary berikan padanya, tapi sekarang ia akan melawan. Ia akan melawan semua orang yang terus menyakitinya, ia tidak ingin terus diinjak-injak. Bahkan dengan orang yang dicintainya.


Ia sebenarnya begitu menyayangi Mary, ia sudah menganggap Mary sebagai saudaranya bukan sekedar sahabatnya. Tapi perlakuan Mary padanya membuatnya berani melawan. Dari tamparan hingga disiram kopi panas, itu semua sudah diberikan Mary padanya. Tapi sekarang ia tidak akan diam saja seperti orang bodoh.


“Cukup dengan sikapmu, sekarang pergi dari kantorku!”

__ADS_1


Mary tersentak kala Clara kini menghempaskan tangannya dan menatapnya dingin. Mengapa Clara menjadi berubah seperti ini? Ia bukan lagi gadis lemah yang diam saja saat dirinya menyakiti gadis itu. Mengapa Clara berani melawannya?


“Kau tidak tahu siapa aku Clara! Aku berkuasa dimanapun aku mau!”


Tatapan tajam kini dilayangkan Mary pada Clara, sedangkan Clara masih menatap gadis itu dingin. Apa Mary memang tipe suka pencari masalah? Tidak bisakah ia pergi begitu saja?


“Jika kau memang Mary si paling berkuasa, mengapa menginginkan sesuatu yang bukan milikmu?” Clara kini tersenyum sinis. Mary menatap Clara tidak percaya.


“Jack milikku. Mengapa kau menginginkannya? Kau tidak bisa mendapatkannya?”


Mary mengepalkan kedua tangannya kuat. Tatapan dan ucapan meremehkan Clara menurutnya sudah diluar batas. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang berani merendahkannya seperti ini.


“Aku minta maaf Clara, tapi kau benar-benar sudah keterlaluan.”


Clara hanya menatap Mary dengan pandangan bingung sebelum sebuah tangan kini mendorongnya. Mary tersenyum puas ketika melihat tubuh Clara mulai terguling di anak tangga satu persatu. Ini adalah akibat Clara yang begitu angkuh padanya. Bahkan jika bukan karena dirinya dulu, Clara sudah banyak menerima Bullying di sekolah. Dan bisa-bisanya gadis itu tidak tahu terimakasih.


Clara merasakan sekujur tubuhnya kini sakit, bahkan mulai mati rasa ketika ia sudah mencapai anak tangga terbawah. Sayup-sayup Clara mulai mendengar tawa Mary dan langkah gadis itu yang mendekat. Sebelum Mary mencapai tubuhnya dengan sekuat tenaga Clara mulai merogoh ponselnya disaku kemeja miliknya. Ini adalah tangga darurat, pasti akan sedikit orang yang melewatinya dan menemukannya. Terlebih ia juga tidak tahu apa yang akan selanjutnya Mary lakukan padanya.


Saat panggilannya mulai tersambung pada Tiffany, dengan cepat Mary menendangnya, membuat ponsel Clara kini terpental menjauhi tubuhnya. Dengan perlahan Mary kini berjongkok, dan menatap Clara yang sudah tergeletak tidak berdaya.


“Aku sebenarnya tidak ingin melakukan sejauh ini padamu Clara, tapi kau malah membuatku kesal.” Mary tersenyum lebar, dan mulai berjalan keluar tangga darurat.

__ADS_1


'Nak, apa kau baik-baik saja disana?' Tangan Clara kini mengelus lembut perut ratanya sebelum ia mulai kehilangan kesadaran.


To be continue...


__ADS_2