
...Happy Reading...
“Jack, apa kau baik-baik saja?”
Clara kini menatap sang kekasih dengan khawatir. Baru beberapa jam lalu ia kembali dari Perancis namun dengan tiba-tiba Jack mengajaknya untuk mencari gaun pernikahan untuknya. Sedangkan baru tiga minggu yang lalu pria itu menginginkan pernikahan mereka ditunda karena Tuan Hilton yang masih terbaring di rumah sakit. Clara kini menatap khawatir wajah Jack yang tampak pucat dan lelah, seolah ia begitu kurang tidur dan makan.
Baru tiga minggu ia meninggalkan pria ini untuk mengurus beberapa dokumen di Perancis, tapi tubuh Jack seolah berubah drastis. Tubuhnya tampak begitu kurus dan berantakan. Ia terlihat tidak merawat dirinya dengan baik selama tiga minggu ini. Clara menatap Jack dengan prihatin, semenjak Tuan Hilton jatuh koma, hampir semua waktu pria itu diberikan pada Hilton Group.
“Ya, baik.” Ujaran singkat Jack kini membuat Clara memandangnya, terlihat begitu jelas jika Jack tidak berniat berbincang dengannya.
Clara terdiam sesaat dengan meremas tangannya, hampir tiga minggu ini Jack selalu mengabaikan panggilan teleponnya selama ia berada di Perancis. Seolah ia memang terlalu menganggu waktu pria itu. Diam-diam Clara menatap kearah wajah kekasihnya itu, Jack seolah begitu penuh tekanan atau hal semacamnya.
“Jack, kau tahu. Jika memang harus menunda pernikahan, aku masih bisa menunggu.”
“Dan kau akan meninggalkanku?!”
Suara meninggi Jack secara tiba-tiba membuat Clara tersentak. Clara menelan salivanya dan menatap pria itu dengan penuh kebingungan. Jack yang merasakan Clara menatapnya kini berdecak kesal dan menatap wanita itu dengan pandangan bersalah.
“Maaf, maaf Chal. Aku hanya... begitu banyak hal yang kupikirkan belakangan ini.”
Ujar Jack dengan tatapan bersalahnya, Clara tetap terdiam dan tidak menjawab. Ibunya dan Katelyn, putrinya kini sudah tinggal di rumah pemberian Jack, dan Bakery miliknya yang berada di Perancis harus tutup karena ia memutuskan untuk membantu merawat Tuan Hilton disini.
Itu semua ia lakukan untuk Jack, Jack jauh lebih percaya jika Tuan Hilton di tunggu olehnya ataupun Nyonya Turner – mantan Ibu tiri keluarga Hilton, dibandingkan dengan orang lain. Dan ia memahami itu, situasi mendesak yang bahkan ia tidak sanggup untuk menolaknya.
“Bukankah sebaiknya kita istirahat saja? Aku juga sedikit lelah karena perjalanan.”
Tanya Clara lembut dan menatap kekasihnya itu. Jack kini menatapnya dan menggeleng. Perkataan Judy beberapa hari lalu seolah selalu menjadi pikirannya akhir – akhir ini.
"Sampai kapan Jack? Apa menurutmu Clara tidak akan pergi sampai itu semua terjadi?”
__ADS_1
Memikirkan Clara yang akan meninggalkannya membuatnya sangat tidak tenang, bahkan istirahatnya semakin terganggu karena itu. Dan sebelum itu terjadi, ia harus mengikat Clara di sisinya, mengikat wanita itu dengan sebuah pernikahan.
“Maaf Chal, tapi waktu kita tidak banyak.” Ujar Jack dan mulai menyalakan mesin mobilnya dan mengemudi menuju butik yang sudah ia pesan sebelumnya.
“Tidak banyak? Maksudmu?” Clara menatap Jack dengan bingung. Apa ia ketinggalan informasi sewaktu di Paris? Jack kini terdiam sejenak sebelum menatap Clara sekilas melalui ujung matanya.
“Aku sudah menyiapkan semuanya, seminggu lagi kita akan segera menikah, Chal.”
Clara kini menatap Jack dengan tidak percaya. Apa Jack baru saja bilang seminggu lagi? Jack kini tidak bergeming kala merasakan Clara menatapnya.
Selama hampir tiga minggu Clara di Paris, ia sudah menyiapkan semuanya. Dari berbagai dokumen hingga gedung pernikahan. Kecuali beberapa hal yang memang Clara harus hadir, seperti gaun pernikahan ataupun beberapa berkas yang harus ditanda tangani olehnya.
“Jack? Kau... Kau serius?”
......................
Awalnya pemilik butik menolak dengan jarak waktu yang begitu singkat, tapi akhirnya mereka menyetujui setelah tawaran harga yang Jack berikan. Bahkan Clara sendiri pun begitu terkejut, harga yang Jack tawarkan hampir setengah harga dari sewa gedung pernikahan mereka nanti. Jack memang begitu niat melakukan ini semua.
“Baiklah, Tuan Hilton. Saya tunggu kedatangan anda tiga hari lagi untuk fitting gaun, senang memiliki pelanggan seperti anda.”
Ujar wanita si pemilik butik, wanita dengan rambut blonde dengan tinggi semampai itu tersenyum kepada Jack dan juga Clara. Akhirnya setelah begitu banyak perbincangan mereka mengenai desain gaun telah selesai. Jack memiliki selera fashion yang begitu tinggi, berbanding terbalik dengan dirinya yang bahkan dapat memakai apapun yang dimilikinya.
“Kuharap hasilnya tidak mengecewakan Mrs. Grace.”
Ujaran Jack kini membuat Clara tersentak menatapnya. Mrs Grace, wanita pemilik butik itu juga tampak terkejut mendengar ucapan Jack, namun dengan cepat ia ikut tersenyum.
“Akan saya usahakan yang terbaik Tuan.”
Mrs. Grace kini memberikan black card milik Jack setelah pembayaran uang muka. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Jack dan Clara keluar butik dengan perasaan Clara yang begitu tidak enak hati. Bagaimana tidak, setelah dua jam beberapa pelayan butik membantunya berganti – ganti gaun, namun Jack malah memesan custom made yang bahkan dengan jarak waktu yang terbilang tidak masuk akal.
__ADS_1
“Apa gaun itu tidak terlalu berlebihan Jack?” Hampir dua jam lamanya Clara menahan untuk menanyakan hal ini didalam sana. Jack hanya tersenyum tipis menatapnya.
“Aku ingin memberikan hal terbaik untukmu di pernikahan kita.”
Ujaran singkat Jack seketika membuat wajah Clara memanas. Jack bukan tipikal pria yang suka menggombal, semua ucapan pria itu memang selalu tulus dari hatinya. Itulah mengapa ia sangat menyukai pria itu.
“Bisa kau menungguku sebentar? Aku ingin ke toilet.”
Jack tampak tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Clara dan menatap gadis itu yang sudah pergi meninggalkannya menuju toilet. Jack kini mengeluarkan ponselnya, puluhan panggilan tidak terjawab dari asisten pribadinya memenuhi layar ponsel. Jack berdecak kesal, ia lupa jika satu jam lalu seharusnya ia mengikuti rapat penting dengan kliennya.
Ia masih belum bisa memanage waktu dengan baik, ia benar-benar tidak menyangka memilih gaun pernikahan membutuhkan waktu selama ini, bahkan hampir tiga jam lamanya. Jack menatap Clara yang masih tidak kunjung keluar. Namun sebuah deringan ponsel membuatnya tersentak. Jack menatap layar ponselnya dengan bingung saat sebuah panggilan kini kembali masuk.
“Judy?” Jack kini menekan ponselnya dan mendekatkan pada telinganya.
“Jack, Ayah, Ayah telah sadar.”
Lima kata dari Judy kini membuat jantung Jack berpacu dengan cepat. Tanpa basa-basi ia mulai berlari keluar butik menuju mobil miliknya, dan dengan kecepatan tinggi ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana sang Ayah dirawat.
Di dalam butik Clara yang melihatnya hanya tersenyum kecut, melihat bagaimana Jack yang seolah benar-benar melupakan dirinya. Ini bukan pertama kalinya Jack mengabaikannya, setelah begitu banyak yang ia lakukan untuk pria itu, namun seolah Jack malah semakin jauh untuk ia jangkau. Kini ia mulai meragukan keputusannya, apa pernikahan memang pilihan yang terbaik?
To be continue...
My Note :
Mohon maaf jika author lamaaa banget ngilang. Untuk next Chapternya author usahain secepatnya yaa. Dan author mau bilang terimakasih banyak yang masih nunggu kelanjutan Novel ini.
So, see you next Chapter~
Bye~
__ADS_1