Toxic Relationship

Toxic Relationship
My Last Request


__ADS_3

Kata yang bercetak miring adalah masa lalu.


...Happy Reading...


Clara menarik napas dalam, kini ia meremas dress dengan warna pastel yang dipakainya. Jantungnya berdetak kencang, tepat dihadapannya kini ruangan dimana ia bisa bertemu dengan sang kekasih. Namun bukan seperti ini yang ia harapkan, gadis cantik itu kembali menarik napas dalam, berusaha untuk menetralkan tubuhnya yang bergetar. Sebentar lagi ia akan kembali mengecewakan Jack.


Pintu berwarna cokelat itu terbuka, Clara menelan salivanya. Tepat dihadapannya terdapat Jack yang kini tersenyum penuh kepadanya. Clara hanya terdiam ditempat dan memandangnya, namun dengan cepat Jack berjalan kearahnya dan memeluknya dengan erat.


“Aku sangat merindukanmu Chal, aku tahu akhirnya kau akan datang.”


Clara hanya terdiam dalam pelukan Jack, gadis itu tidak menolak maupun membalasnya. Ia merasakan hatinya bergetar. Bisakah ia melakukan ini? Dengan perlahan Clara mengangkat tangannya dan membalas memeluk Jack dengan erat. Kini Clara mulai menangis, sudah begitu lama ia merindukan pelukan ini.


“Kau baik-baik saja selama ini kan, Chal? Tidak ada yang menyakitimu, kan?” Pertanyaan lembut Jack seolah menusuk hati Clara.


‘Tidak Jack, aku tidak baik-baik saja. Semua orang begitu jahat padaku.’


Clara tetap bungkam, ia tidak sanggup hanya untuk mengeluarkan beberapa kata. Kehidupan setelah ia kehilangan Jack begitu berat. Dulu ia begitu ingin bebas dari hubungannya dengan Jack, tapi sekarang ia mulai menyadari satu hal, Jack melakukannya untuk melindungi dirinya dari jahatnya dunia.


“Kau baik-baik saja Challa? Apa seseorang menyakitimu?” Jack kini merasakan tubuh Clara bergetar, saat Jack akan melepaskan pelukan mereka, dengan cepat Clara menahan pria itu.


“Tetap seperti ini, aku mohon.”


Suara Clara masih dengan airmatanya, Jack hanya terdiam dan masih memeluk gadisnya dengan erat. Ada apa sebenarnya? Mungkinkah Clara hanya rindu padanya? Tangisan Clara sungguh begitu menyakitkan baginya.


“Kau baik-baik saja Chal?” Tanya Jack untuk kesekian kalinya, Clara tetap tidak menjawab, masih dengan memeluk Jack dengan erat. Seolah menyalurkan semua tenaganya untuk pria itu.


“Maaf, maafkan aku Jack. Aku minta maaf.”


Jack hanya bisa terdiam mendengar ucapan sang kekasih. Kini ia tidak peduli lagi, ia memeluk Clara dengan erat. Clara masih menangis sesegukan, berusaha untuk menghentikan tangisannya adalah hal yang tidak mudah. Tidak bisakah ia seperti ini dengan Jack lebih lama? Tidak, ia ingin selamanya seperti ini.


Seandainya saja ia menuruti perkataan Jack untuk tetap diam dan tidak banyak tingkah, mungkinkah ia dan Jack tetap bersama? Hatinya begitu hancur saat mendengar kabar bahwa Jack kini telah diamankan polisi, itu membuat seolah hidupnya bergerak melambat.


Setelah ia merasakan kehidupan tanpa Jack disisinya, ia baru menyadari bahwa hidupnya menjadi jauh lebih berat. Clara masih ingat dengan jelas secara tiba-tiba seorang pria bernama Chris datang dalam hidupnya dan mengkhianatinya, dan juga Tiffany Boston, seorang gadis yang sudah menjadi sahabatnya selama tujuh tahun ini juga ikut mengkhianatinya diam-diam. Kini ia tidak memiliki siapapun lagi. Ia benar-benar akan menjalani hidupnya sendirian.


‘Jack, tetaplah bersamaku, dunia ini begitu kejam padaku. Tidak bisakah kau melindungiku seperti dulu?’

__ADS_1


Clara memejamkam matanya dan menarik napas dalam. Kali ini tangisannya mulai mereda, dengan cepat ia menghapus airmatanya dan melepaskan pelukan mereka. Clara memandang wajah Jack dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan baru satu hari pria itu diamankan polisi, Jack terlihat sangat pucat dan ada beberapa bekas luka diwajahnya. Pasti interogasi itu penuh dengan kekerasan.


“Aku minta maaf." Ucap Clara lagi dan mengelus pipi Jack dengan lembut. Jack tersenyum tipis menikmati lembutnya tangan Clara yang menyentuh wajahnya.


“Untuk apa Chal? Dengan kau berada disini, itu sudah lebih dari cukup.”


Clara terdiam mendengar ucapan Jack. Gadis itu kembali menarik napas dalam, berusaha menahan genangan airmatanya. Clara menatap wajah Jack dengan waktu yang lama, menatap wajah yang begitu ia rindukan beberapa minggu terakhir, wajah yang selalu melindunginya dari semua masalah yang menimpanya.


“Aku akan menikahi Chris.”


Senyuman Jack yang mengembang seketika luntur begitu saja. Kini ia menatap Clara dengan tidak percaya, ia tidak salah dengar kan? Clara kini masih mengelus lembut wajah Jack, seolah tidak ada yang terjadi.


“Tidak, tidak, tidak mungkin jika kau-"


“Aku minta maaf Jack, aku minta maaf.”


Jack kini menepis tangan Clara pada wajahnya dan menjauhkan tubuhnya dari Clara. Pria itu menatap Clara dengan pandangan tidak percaya. Apa yang ia lewatkan sampai ini semua bisa terjadi? Tidak, tidak, pasti ini semua mimpi. Ia pasti sudah gila karena interogasi yang dijalaninya, ia benar-benar sudah gila.


“Aku kesini untuk mengucapkan selamat tinggal padamu."


“Kenapa Chal? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa?"


“Kuharap kita bisa bertemu lagi di kehidupan yang baru Jack.”


Ucap Clara singkat dan mulai keluar ruangan, meninggalkan Jack yang hanya bisa memandang gadis itu dengan penuh kekecewaan. Ia memang ingin melihat Clara untuk datang menemuinya, namun bukan ucapan seperti ini yang ia harapkan keluar dari mulut gadis itu.


"Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan ini, Clara?"


Jack masih menggelengkan kepalanya, ini semua pasti tidak nyata. Ia hanya berhalusinasi, iya, ia pasti hanya berhalusinasi.


......................


Clara yang sudah diluar ruangan kini mulai membungkam mulutnya kuat, isakan tangisan kini mulai kembali keluar. Ia kini juga merasakan dadanya begitu sesak, seandainya ia bisa lebih lama didalam sana bersama Jack. Sungguh ia menyesal mengapa keluar dari ruangan itu dengan sangat cepat.


Selanjutnya Clara melepaskan sebuah earphone pada telinganya dan membuangnya begitu saja. Persetan dengan semuanya, ia sudah amat mengecewakan Jack sekarang. Mungkinkah Jack akan membencinya?

__ADS_1


“Tu... Tuan?”


“Halo Clara, kita bertemu lagi.” Clara kini menelan salivanya dan memandang Tuan Hilton yang kini tersenyum tipis padanya. Perasaan Clara mulai was-was, entah apa yang akan ia hadapi sekarang.


“Kau pasti tahu kan putraku sedang ditahan sekarang?” Tuan Hilton kini mulai mengeluarkan suara dengan suara baritone miliknya. Dengan ragu Clara mulai mengangguk pelan.


“Kau pasti tahu itu karena ulah siapa, kan?” Clara menatap Tuan Hilton dengan ragu. Sungguh, ia tidak tahu kemana arah pembicaraan pria paruh baya dihadapannya ini.


“C.. Chris?”


“Chris? Bahkan kau menyalahkan orang lain saat melakukan kesalahan?” Tuan Hilton kini tampak tertawa kecil. Kesalahan? Atau mungkinkah Tuan Hilton mengetahui mengenai kejadian Shawn?


“Tuan, aku tidak mengerti apa yang-“


“Aku memiliki dua tiket pesawat kosong menuju Perancis besok, kau dan ibumu bisa mengisinya.”


Clara terdiam, ia sekarang tahu kemana arah pembicaraan Tuan Hilton. Pria itu ingin ia menjauh dari Jack. Clara kini terdiam menatap pria paruh baya itu. Apa yang harus ia lakukan?


“Sudah bertahun-tahun berlalu dan aku tidak pernah melakukan apapun saat Jack memilihmu. Tapi, lihat sekarang. Bahkan ia cukup bodoh dengan tidak membereskan masalahnya dimasa lalu.”


Clara terdiam, bahkan pria paruh baya itu terlihat nampak tidak terkejut saat anaknya terjerat kasus pembunuhan. Baginya, Jack tidak membereskan tugasnya dengan baik. Clara menelan saliva, bisnis jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan.


“Tuan, maaf aku tidak bisa.” Ucap Clara tegas dan menatap Tuan Hilton.


“Aku tahu kau tidak menyukai kekerasan Clara, dan aku tidak meminta pendapatmu disini.”


Clara tersenyum kecut, Tuan Hilton bahkan tidak jauh berbeda dengan Jack. Sekarang ia mengerti mengapa Jack bertingkah seperti itu. Sebenarnya yang jauh ia takutkan bukan Tuan Hilton yang akan menyakitinya, tapi kini ia harus memastikan Ibunya baik-baik saja dengan tidak berurusan dengan orang semacam Tuan Hilton. Ia terlalu berkuasa, dan Clara tahu ia harus menghindarinya jika ingin dirinya dan sang Ibu baik-baik saja.


“Boleh aku meminta permintaan terakhirku padamu?” Tanya Clara pada pria paruh baya yang tampak memandangnya dengan datar.


“Tolong biarkan aku menemui Jack untuk terakhir kalinya.” Ujar Clara dengan tatapan memohon. Setidaknya ia harus mengucapkan selamat tinggal pada Jack dan memandang wajah pria itu untuk terakhir kalinya.


“Aku memiliki syarat untuk itu.” Ucap Tuan Hilton dengan sebuah senyum tipis, Clara menelan salivanya. Bahkan begitu banyak persyaratan hanya untuk permintaan sederhananya.


“Apa, Tuan?”

__ADS_1


“Buatlah Jack untuk membencimu.”


To be continue...


__ADS_2